Bel pulang berbunyi. Membuat siswa yang tadinya lesu entah mengapa menjadi bersemangat lagi. Saat guru sudah meninggalkan kelas, semua murid berebut keluar kelas seperti berebut sembako.
Saat kelas sudah sepi, hanya menyisahkan anak-anak rajin yang masih mencacat apa yang tertera di papan, Yola mendekati Lili yang sedang memasukkan bukunya ke dalam tas. Yola menghembuskan napasnya perlahan, ia mencengkram kuat tali tasnya untuk menyalurkan rasa gugupnya.
"Li." panggil Yola membuat Lili berhenti dari aktivitasnya dan menoleh ke sumber suara. Saat mengetahui itu Yola, Lili membuang muka dan melanjutkan aktivitasnya yang tertunda tadi.
"Gue mau,"
"Minggir!" ucap seseorang memotong perkataan Yola.
Yola menoleh ke belakang dan sangat terkejut saat melihat Rizki lagi-lagi menatapnya dengan tajam.
"Lo b***k apa gimana? Gue bilang minggir!" ucap Rizki tajam membuat Yola langsung tertunduk takut. Lili menatap abangnya dan Yola bergantian, lalu menghembuskan napas pelan.
"Udahlah bang." ucap Lili membuat Yola dan Rizki menoleh. Rizki hanya diam. Lili menoleh ke Yola dan menatapnya datar.
"Mending lu pergi sekarang Yol." ucap Lili datar, Yola menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan. Sedangkan Lili langsung mengalihkan pandangannya, ia takut air matanya akan menetes di tempat umum.
"Lo nggak denger kata adek gua hah?!" bentak Rizki yang langsung membuat Yola berlalu pergi.
"Udahlah bang jangan galak-galak." ucap Lili sambil menatap Rizki.
Rizki mengangkat bahunya acuh.
"Dek gue hari ini ada latihan basket nih. Gue mau di tes. Maklum anak baru. Jadi lu pulang sendiri gapapa kan? Nanti suruh mang Ujang jemput." ucap Rizki.
Lili hanya manggut-manggut lalu mengacungkan jempolnya.
"Okeh. Lu semangat ya bang basketnya. semoga diterima." ucap Lili dengan senyum lebarnya.
"Oke deh makasih. Gua pergi dulu." pamit Rizki sambil menjitak kepala Lili lalu segera melenggang pergi sebelum mendengar teriakan Lili.
Lili menggerutu kesal sambil mengelus kepalanya, lalu ia segera bergegas meninggalkan kelas.
Yola berjalan menunduk di lorong yang sudah lumayan sepi, ia masih tidak menyangka. Semuanya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Kini semua orang yang di sayanginya menjadi membencinya.
Dugh.
Kepala Yola yang tertunduk menabrak d**a bidang seseorang. Yola mengangkat kepalanya, dan ternyata orang itu adalah Zaki. Yola menghela napas pelan, ia sedang tidak ingin melihat Zaki. Ia tidak ingin lukanya menjadi lebih dalam lagi.
Yola bergesar ke samping dan akan melewati Zaki, tapi Zaki mencekal tangannya dan langsung menariknya kedalam dekapan hangatnya. Yola terkejut, sangat terkejut. Tapi rasa hangat dari pelukan Zaki sangat nyaman, ia tidak munafik. Ia sedang butuh bahu untuk bersandar dan pelukan seseorang untuk menyembunyikan tangisnya.
Yola membalas pelukan Zaki dengan sangat erat, ia menumpahkan air matanya di d**a bidang Zaki. Mencurahkan segala rasa sakit yang tidak bisa di ungkapkan oleh kata-kata. Sedangkan Zaki, dia hanya diam. Membiarkan Yola membasahi seragamnya dengan air matanya.
Matanya menatap lurus ke depan, melihat Lili yang menatap adegan pelukan mereka dengan mata memerah menahan tangis. Satu air mata berhasil lolos dari mata indah Lili, tapi Lili segera menghapusnya. Ia berbalik, mengambil jalan lain untuk keluar dari gedung sekolah yang seolah-seolah mencekiknya tiap detik.
Zaki menghembuskan napas kasar, dadanya terasa sesak saat melihat Lili menangis. Tapi dia tidak bisa berhenti di sini, dendamnya sudah terlalu besar dan tanggung jika tidak di tuntaskan. Zaki menunduk, menatap Yola yang masih menangis di dadanya.
Sejujurnya dia tadi menarik Yola karena melihat Lili di sana. Dia hanya ingin menyiksa Lili, bukan untuk memberi Yola d**a untuk menangis. Zaki menjauhkan Yola dari dirinya secara paksa. Yola sempat terkejut, lalu segera menghapus air matanya.
Zaki menunduk lagi, menatap seragamnya yang basah karena air mata Yola. Zaki berdecak sebal, lalu melenggang pergi tanpa melirik Yola sekalipun. Yola menatap punggung Zaki yang semakin menjauh dengan nanar.
Yola berjongkok, menyembunyikan kepalanya di sana. Menumpahkan air matanya lagi, ia meremas dadanya yang terasa amat perih. Sakit rasanya, sangat sakit.
--
Lili berjalan dengen cepat melewati halaman sekolah, ia berhenti di gerbang sekolah dan menghembuskan napas berkali-kali, berharap rasa sakit yang di rasakannya sedikit berkurang dan air matanya tidak menetes di sini. Lili celingukan mencari mang Ujang. Berharap mang Ujang akan segera datang dan membawanya pulang. Ia ingin menumpahkan air matanya di kamar.
"Cewek." panggil seseorang yang membuat Lili menoleh.
Lili mengangkat alisnya heran, lalu tersenyum kecil.
"Sini pulang sama orang ganteng aja." ucapnya sambil melepas helm lalu tersenyum lebar.
Dia menepuk jok belakang sambil menaik turunkan alisnya.
Lili yang sedang sedih dan ingin segera pulang mengiyakan ajakan tersebut. Motor melaju dengan perlahan. Angin berhembus menerpa wajah dan mengibarkan rambut indah Lili. Lili memejamkan matanya dan mengehembuskan napasnya perlahan.
"Kadang gua capek,"
Lili membuka matanya karena heran dengan ucapan orang di depannya.
"Capek jadi orang ganteng." lanjutnya membuat Lili tertawa.
"Kepedean banget sih lu kak Bim." ucap Lili di sela tawanya. Lili menepuk kecil pundak Bima dengan menggelengkan kepalanya. Heran dengan kelakuan gesrek Bima. Bima tersenyum kecil di balik helm hitamnya.
"Eh lu sibuk kagak Li? Gua mau ajak lu jalan jalan. Gimana?" tanya Bima saat laju motornya terhenti, karena lampu merah.
"Sebenernya gua pengen cepet cepet pulang. Tapi kalo jalan jalan sebentar gapapalah." jawab Lili dengan senyum manisnya. Bima yang melihat dari sepion hanya memasang muka datar.
Laju motor Bima berhenti di sebuah taman yang sepi. Lili turun lalu melihat sekeliling, tidak banyak anak-anak di sana. Karena memang hari sudah sore.
Mereka tertawa, berlari, dan membuat istana mereka sendiri dengan sorot mata bahagia. Kadang Lili berpikir, ia ingin mengulang masa kecilnya. Dimana ia hanya menangis saat balonnya hilang di terbangkan angin. Beda dengan sekarang, persolannya terlalu rumit sampai ia tidak ingat kapan terakhir kali bermain balon seperti dulu.
"Cangcimen cangcimen kacangnya mahal mbak." ucap Bima dengan suara melengking membuat Lili menoleh.
Menatap Bima sebentar, lalu tertawa terbahak-bahak. Baru menyadari bahwa yang di katakan Bima tadi lucu.
"Lo duduk dulu ya, nanti gua balik lagi." Bima melenggang pergi.
Lili berjalan menuju seorang anak laki-laki yang sedang membangun istana pasir sendirian. Sedangkan temannya sudah pulang semua.
"Halo," sapa Lili dengan senyum manisnya. Anak itu awalnya sedikit ketakutan, tapi karena Lili memberinya lolipop dia tidak takut lagi dengan Lili. Benar benar polos.
"Kamu buat apa adik kecil?" Tanya Lili sambil mengusap lembut kepalanya.
"Aku lagi buat istana, supaya aku sama mama bisa tinggal di sini." ucapnya sambil tersenyum menunjukkan deretan giginya yang belum lengkap.
"Terus ayah kamu nggak diajak?"
"Ayah udah ada lumah sendili. Ayah sekalang tingal sama penyihil jahat." jawabnya sambil memanyunkan bibirnya kesal.
Lili tau maksudnya. Dan tiba-tiba ia rindu akan keluarganya yang selalu mendukung Lili apapun keadaannya. Lili mengelus lembut rambut anak itu.
"Di sini lo, gua cariin kemana-mana." Bima datang dengan dua es cream di tangannya. Lili memberikan es cream bagiannya kepada anak kecil itu.
"Ini buat pak arsitek yang udah capek buat istana yang bagus banget." ucap Lili. Anak itu membuka mulutnya lebar lebar seolah melihat unicorn.
"Makasih kakak baik!" ucapnya lalu berlari menuju mamanya yang sedang duduk di kursi taman.
Bima tersenyum melihat Lili. Es cream bagiannya dia berikan ke Lili, dan Lili memakannya dengan senyum manis semanis es cream yang ia santap sekarang.
"Masih manyun?" tanya Bima menggoda. Lili terkekeh lalu menatap Bima.
"Engga, makasih ya kak udah bawa aku ke sini," Lili berdiri. Menghembuskan napasnya seolah membuang segala bebannya.
"Sekarang ayo pulang. aku kangen ama orang rumah." ucap Lili dengan senyum yang membuat sesuatu tertancap di hati Bima.