Bel istirahat berbunyi, membuat semua murid yang tadinya tertunduk lesu kini bersorak bahagia. Satu persatu murid mulai meninggalkan kelas, menyisahkan beberapa murid rajin yang masih berkutat dengan buku mereka. Yola melirik ke belakang, lalu meneguk salivanya. Ia masih gugup, dengan apa nanti yang akan dibicarakan Lili?
Yola mengambil napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Setelah merasa gugupnya berkurang, Yola berdiri dan menghampiri Lili. "Li katanya mau ngomong?"
Pertanyaan Yola membuat Lili yang sedang menahan pusing di kepalanya mendongak.
"Ah heem, sini duduk."
Lili menepuk kursi di sebelahnya. Yola langsung duduk dan menatap intens Lili. Seperti ada yang tidak biasa dengan Lili, ia seperti menyembunyikan sesuatu.
Lili menyapu pandangannya ke seluruh kelas, hanya terisa Dinda yang sedang merapikan bukunya. Lili menunggu Dinda hingga selesai merapikan bukunya, dan saat hanya ada dirinya dan Yola, Lili menatap Yola. Lili menghela napas lalu tersenyum, mencoba terlihat baik-baik saja ditengah hatinya yang terkoyak.
"Yol. Lo beneran suka sama Zaki?" tanya Lili dengan hati yang terasa perih.
Harus merelakan orang yang sangat ia sayangi demi orang lain. Dan orang itu adalah sahabat yang sudah menghianatinya? sangat miris.
"Maafin gue Li. Gue bener-bener minta maaf sama lo. Gue bakal ngelakuin apapun demi nebus kesalahan gue."
Yola menatap Lili dengan pandangan penuh penyesalan. Lili menghembuskan napas perlahan. Lili tersenyum, dan seperkian detik kemudian ia menarik Yola kedalam dekapannya. Yola terkejut, tapi tak lama kemudian ia membalas pelukan Lili dengan sangat erat dan menumpahkan tangisannya di pundak Lili.
"Gue bener bener sayang sama lo Li, gue ga mau lo tinggalin gue. Gue cuma punya lo dan Nenek di dunia ini.”
Lili melepaskan pelukannya, lalu memandang Yola yang sedang sesenggukan karena tangisnya. Lili tertawa melihat ingus Yola yang keluar dari hidungnya. Ia tidak ingin membohongi dirinya sendiri, ia benar-benar merindukan Yola. Merindukan tingkah jahilnya, dan merindukan tawanya.
"Ingus lo anying."
Lili tertawa sangat kencang sambil memegangi perutnya, sedangkan Yola mengerucutkan bibirnya kesal karena di tertawakan Lili. Yola terdiam, memandang Lili yang sedang tertawa lepas karenanya. Semua masalah yang sedari pagi menumpuk di kepalanya, seakan meluap begitu saja saat melihat tawa Lili. Yola menarik Lili kedalam dekapannya lagi, ia ingin terus memeluk Lili dan tak ingin melepaskannya.
"Yol,"
Lili memanggil dengan suara lembutnya, juga usapan hangat di punggung Yola. Yola melepas pelukannya, lalu menatap Lili yang sedang memandangnya dengan senyum tipis. Yola tau pasti ada yang sedang di sembunyikan oleh Lili darinya.
"Gue tau lo bener-bener sayang sama Zaki,"
Yola menggeleng keras seolah enggan membahas masalah itu. Lili tersenyum, lalu menggenggam erat tangan Yola. Yola yang tidak bisa menebak isi pikiran Lili hanya diam dan menunggu Lili menyelesaikan kalimatnya.
"Suatu saat kalo gue udah pergi, tolong jagain Zaki. Jangan sampai dia ngelakui hal-hal yang bisa ngebahayain dirinya sendiri ya."
Yola meremas tangan Lili. Hatinya seolah tercabik-cabik saat mendengar ucapan Lili, seolah ia akan kehilangan Lili untuk selamanya.
"Lo ngomong apa sih Li? Lo ga akan kemana-mana dan Zaki akan terus sama lo. Cukup sekali aja gue ngusik kalian berdua. Itu adalah hal yang paling bodoh yang pernah gue lakuin. Gue bener-bener minta maaf."
Lili memandang lekat Yola, lalu ia tertawa sambil menepuk pundak Yola. Yola mengernyitkan dahi bingung, tak mengerti akan maksud dari perubahaan sikap Lili yang sangat tiba-tiba.
“Tapi, tolong kasih gue waktu sampai akhir pekan buat sama Zaki ya. Setelah itu, lo harus janji sama gue kalau lo akan terus ada buat Zaki. Ya?”
Lili tersenyum, bibirnya bergetar menahan air mata yang mendesak keluar. Ia menyodorkan jari kelingkingnya, meminta Yola untuk berjanji kepadanya. Namun Yola hanya terdiam, tidak tahu harus berbuat apa. Lili menarik tangan Yola dan menautkan jari mereka. Kini, Yola sudah mempunyai janji yang harus ia tepati.
"Udah ah melo melonya, pokoknya lo harus inget kata-kata gue. Yuk kantin, udah lama kita ga makan bareng."
Lili merangkul pundak Yola dan menggiringnya menuju kantin. Yola hanya diam tanpa membantah, ia tak ingin merusak suasana. Walau sebenarnya, beribu pertanyaan melayang-leyang di benaknya.
"Lili!!"
Lili dan Yola tersentak kaget saat mendengar sebuah teriakan melengking dari arah belakang. Yola dan Lili sontak menoleh, dan melotot saat melihat Rizki sedang berjalan menghampiri mereka dengan wajah yang menunjukkan ekspresi seperti sedang sakit perut.
“Li gue takut.”
Yola bersembunyi di belakang Lili. Meminta perlindungan dari amukan Rizki.
“Dah maklumin, kelamaan jomblo mangkannya serem. Hatinya angker soalnya.” Bisik Lili kepada Yola.
Namun Rizki yang sudah berada di depannya, bisa mendengar perkataan Lili dengan jelas. Rizki mencubit pipi Lili, membuat sang empunya mengaduh kesakitan. Rizki menatap lekat Lili, dengan tangan yang masih enggan melepaskan pipi Lili.
“Aduh bang lepas, Lili nangis nih kalau nggak dilepas.” Ancam Lili yang langsung membuat Rizki melepaskan tangannya dari pipi Lili.
Lili berbalik dan menatap Yola yang sedang menunduk ketakutan. Lili tahu, Yola pasti takut dengan Rizki. “Yol, pesenin gue mie ayam ya. Nanti gue nyusul. Gue mau ngomong sama bang Iki dulu.”
Yola yang mendengar permintaan Lili, hanya mengangguk tanpa berani menatap Rizki. Lalu dengan segera, Yola berlari untuk menghindari tatapan mematikan Rizki.
Lili menyilangkan tangannya di depan d**a dan menatap garang Rizki. Rizki yang tidak terima ditatap seperti itu oleh Lili, menyilangkan tangannya dan balik menatap Lili. Lili yang merasa kalah karena tatapan Rizki, menela salivanya. Lalu sebuah ide terlintas dibenaknya. Ia tahu, satu satunya kelemahan sang kakak adalah dirinya.
“Bang.”
Lili bergelanyut manja di lengan kekar Rizki. Membuat Rizki memutar bola matanya malas. Lili mendongak, menatap Rizki dengan mata melasnya. Mengeluarkan jurus andalannya untuk menghindari kemarahan Rizki.
“Sini ikut.”
Rizki menarik Lili untuk menjauhi kerumunan, dia mengajak Lili ke taman belakang sekolah yang sepi. Rizki memaksa Lili untuk duduk, lalu dia mengeluarkan obat dari sakunya. Lili menghela napas saat melihat Rizki membawa obatnya. Padahal ia sengaja tidak meminunya, tapi sepertinya Rizki menghitung setiap jumlah obatnya. Sehingga dia tahu apakah Lili sudah meminumnya atau belum.
“Minum.”
Rizki meyodorkan beberapa obat dan sebotol air minum. Lili mengerucutkan bibir kesal, dengan terpakasa ia harus menelan obat yang membuat lidahnya mati rasa itu lagi.
“Pakek acara nggak minum obat segala, gue cekokin mampus lu.” Ancam Rizki.
“Curang.” Gerutu Lili setelah menelan semua obatnya.
Rizki duduk di sebelah Lili, lalu menatp Lili dalam. Namun yang ditatap, hanya menundukkan kepala. Malas mendengarkan ocehan sang kakak.
“Lu kenapa sih dek sama Yola lagi, lo nggak,” belum sempat Rizki menyelesaikan ucapannya, Lili langsung menjawab perkataan Rizki yang belum tuntas.
“Bang, Lili tau. Tapi tolong dengerin Lili sekali ini aja.”
Lili menatap Rizki dalam, memberitahu rasa putus asanya lewat tatapan. Rizki menghela napas, lalu lebih memilih untuk diam dan mendengar semua perkataan sang adik.
“Bang, kita semua nggak tau Lili bisa bertahan sampai kapan,”
“Dek stop ngomongin hal yang kayak gitu, lu bakal terus sama kita. Abang janji bakal jagain kamu apapun keadaannya.”
Rizki menarik Lili kedalam pelukannya, mendekap erat sang adik. Berbisik lirih kepada Tuhan, bahwa Tuhan tidak boleh mengambil adiknya begitu saja.
Lili menggigit bibir bawahnya, memeluk Rizki sama eratnya. Kebohongan besar yang selalu ia mainkan adalah berlagak seolah dirinya baik-baik. Padahal ia takut setengah mati, takut akan kematian yang didepan mata. Lili mengelus pelan punggung Rizki, mencoba menenangkan sang kakak.
“Bang, Lili mohon. Biarin Lili berdamai sama semua ini. Semua udah terjadi Bang. Sampai kapan kita terus marah sama keadaan? Lili Cuma pengen pergi tanpa rasa bersalah dan sejuta kenangan manis. Jadi Lili mohon, biarin Lili buat kenangan manis sama Yola, Zaki dan lainnya sebelum kita berangkat ke Singapura.”
Rizki melepaskan pelukannya, memegang pundak sang adik dan menatap matanya. Dia bisa melihat luka yang amat dalam dari pandangan sang adik. Lili benar, dia tidak tahu sampai kapan Tuhan mengizinkan Lili tetap bersama mereka. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, dan dia hanya bisa mewujudkan keinginan sang adik. Setiap keinginan yang selalu dia turuti, karena Rizki tak tahu mana keinginan terakhir sang adik.
“Apapun asal lo seneng.”
Rizki tersenyum, lalu mengelus pipi Lili dengan ibu jarinya. Rizki menghela napas dalam, lalu berdiri dan menatap langit yang begitu cerah. Rizki berbalik, lalu menggenggam tangan sang adik, menuntunnya untuk meninggalkan taman belakang sekolah. Lili tersenyum dan merangkul lengan sang kakak. Saat mereka sudah memasuki kantin, Lili segera berlari dan menghampiri Yola yang sedari tadi menunggunya.
“Maap ya Yol lama, bang Iki nih resek.”
Yola yang menyadari keberadaan Rizki, hanya bisa menunduk. Tidak mempunyai nyali untuk menatap Rizki. Lili yang menyadari tatapan menusuk Rizki kepada Yola, langsung menyenggol lengannya membuat Rizki terlonjak kaget. Rizki berdehem lalu mengetuk pelan meja Yola.
Yola dengan rasa takutnya, memaksakan diri untuk menghadapi Rizki. Ia tahu bahwa dirinya memang bersalah, dan jika Rizki nanti akan mencaci makinya pun, ia akan mencoba menerima dengan lapang d**a. Yola meremas jarinya saat menatap mata tajam Rizki. Rizki yang sebenarnya masih menyimpan amarah untuk Yola, menghembuskan napas perlahan. Dia harus membuang jauh-jauh kemarahannya demi sang adik.
“Tolong jaga adek gue Yol, dan tolong jangan hancurin kepercayaan gue untuk kedua kalinya.”
Yola mengerjapkan mata tak percaya pada apa yang ia dengar. Yola membuka mulut, hendak bertanya apa maksud dari perkataan Rizki, namun Rizki langsung berdiri. Yola mengatupkan bibirnya lagi, ia tahu bahwa Rizki tidak ingin menjelaskan secara rinci, atau lebih tepatnya tidak ingin berbicara lebih banyak lagi kepadanya. Yola tersenyum tipis, begini saja sudah lebih dari cukup unuknya.
“Sebelumnya saya mau minta maaf atas semua kesalahan saya kak, dan saya janji bakal jagain Lili apapun keadaannya.”
Rizki membuang pandangannya, lalu melangkah meninggalkan kantin. Lili berdesis pelan, lalu melanjutkan kegiatan menyantap mie ayamnya. Yola tersenyum, menopang dagu melihat Lili makan. Ia sangat rindu pemandangan ini, pemandangan yang menampilkan bagaimaa rakusnya gadis yang bertubuh sangat mungil seperti Lili.
Lili yang merasa sedang dipandangi, melemparkan sedotan kearah Yola. Membuat Yola terlonjak kaget, namun tak lama mereka tertawa.
*
Rooftop adalah tempat paling nyaman saat ingin mendapat ketengan ditengah hiruk pikuk yang memusingkan. Saat Lili membuka pintu rooftop, semilar aingin langsung menerbangkan setiap helai rambutnya, menutupi pandangannya. Lili membenarkan rambutnya, lalu tersenyum saat menemukan apa yang sedari tadi ia cari. Lili melipat tangan di depan d**a, lalu menatap dengan seksama pemandangan di depannya.
Lili menghembuskan napas perlahan, lalu melangkah mendekat. Ia tersenyum saat melihat orang yang sangat ia rindukan berada di depannya. Sedang menutup mata menikmati hembusan angin. Lili menunduk, menatap satu persatu pahatan Tuhan yang terlihat begitu sempurna.
Hidung yang mancung, bulu mata lentik, alis tebal, bibir merah sempurna, dan rahang yang tegas. Lili tersenyum getir, saat membayangkan kepergiannya. Namun Lili menggelengkan kepala, tidak ingin bayang-bayang menakutkan itu terus menghantui dirinya. Ia akan menghabiskan sisa hari seolah harinya tidak akan pernah habis. Lili tersenyum, lalu meniup rambut bagian depan Zaki. Membuat rambut Zaki yang sudah tertata rapi sedikit berantakan.
Sang empunya terusik dari tidur siangnya. Zaki mengerutkan dahi, lalu mencoba membuka matanya yang masih berat untuk dibuka. Saat Zaki membuka mata, Lili tersenyum lebar ke arah Zaki. Membuat Zaki membeku untuk seperkian detik. Zaki benar-benar terkejut, saat melihat seseorang yang berada di mimpi berada di hadapannya. Zaki mematung, dia tidak percaya akan apa yang lihat, seolah seseorang dari mimpinya itu melompat keluar ke dunia nyata.
Lili tersenyum, lalu duduk disebelah Zaki. Lili membelalakkan mata saat menyadari sebatang rokok berada hanya beberapa centi dari pundaknya. Zaki yang masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat, mengucek mata dan memastikan sekali lagi. Ternyata apa yang dia lihat bukan halusinasi, Lili benar-benar ada di hadapannya.
Zaki berdehem, lalu memasang wajah datarnya. Berlagak seolah sangat terganggu dengan kehadiran Lili. Zaki menoleh saat mendengar Lili terbatuk, saat dia meyadari bahwa rokoknya masih menyala. Zaki dengan segera membuang dan menginjaknya, agar asapnya tidak lagi mengganggu Lili. Zaki berdiri, hendak beranjak pergi dari hadapan Lili, walau sebenarnya dia masih ingin duduk berdua bersama Lili.
“Zaki.”
Lili mencekal lengan Zaki, membuat langkahnya terhenti. Ia menarik tangan Zaki agar kembali duduk. Lili mengubah posisinya menjadi menghadap Zaki, sedangkan Zaki hanya menatapnya datar.
“Zak, aku tahu kamu bener-benar marah sama aku. Aku disini bukan buat jelasin apa-apa, karena kamu pasti nggak mau denger.”
Zaki berdecih, lalu mengalihkan pandangannya dari Lili. “Kalau udah tau mending pergi.”
Lili tersenyum getir, entah mengapa ia begitu takut. Takut tidak akan bisa mendengar suara Zaki lagi. “Zak, aku ga tahu sampai kapan aku bisa denger suara kamu. Aku juga nggak tau sampai kapan aku masih bisa lihat wajah dingin kamu.”
Kalimat Lili, entah mengapa seolah mencabik hatinya. Zaki tidak tahu pasti apa arti dari kalimat Lili. Dia sangat ingin manarik tubuh Lili kedalam dekapannya. Namun dia masih menuruti egonya, dia hanya diam dan menunggu kalimat Lili selanjutnya.
“Aku cuma minta waktu kamu sampai akhir pekan, setelah itu kamu bebas mau ngapain. Mau caci maki ataupun hina aku terserah kamu Zak. Tapi aku mohon, cuma sampai akhir pekan. Jadi Zakinya Lili yang dulu.”
Lili memandang Zaki tepat di bola mata coklatnya, matanya memanas. Lili menunduk, tidak menyangka pertahanan yang sedari tadi ia bangun akan runtuh di depan Zaki. Air mata yang ia harapkan tidak jatuh malah jatuh begitu saja di depan Zaki. Zaki merasakan sesuatu saat menatap mata Lili, sesuatu yang aneh menjalar ke dalam hatinya, seperti sengatan listrik.
Tanpa pikir panjang, Zaki menarik tubuh mungil Lili ke dalam dekapannya. Lili membeku, saat bisa mencium aroma dan kehangatan yang sangat ia rindukan. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Dengan derasnya, air mata itu mengalir berjatuhan di pundak Zaki.
Lili terisak, lalu menyembunyikan wajahnya di d**a bidang Zaki. Zaki terkekeh pelan, saat merasakan wajah Lili yang menggelitiknya.
“Sampai akhir pekan.”
Ulang Zaki untuk memperjelas semuanya. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan ini adalah hal yang benar atau salah. Namun dorongan untuk melakukan apa yang Lili minta begitu besar. Dia akhirnya mengalah, menuruti kata hatinya dan menyingkirkan egonya untuk semantara.
Dia hanya ingin, mengobati luka yang rasanya semakin membesar setiap detiknya. Zaki berharap, mungkin dengan kebersamaannya bersama Lili yang hanya dalam waktu singkat, dapat menyembuhkan sedikit lukanya.
Lili mengangkat kepalanya lalu menatap Zaki. Lili mengangguk dengan antusias, sampai membuat beberapa helai rambutnya menutupi wajah cantiknya. Zaki terkekeh, lalu menarik Lili kembali dalam pelukannya. Menghirup aroma menenangkan Lili yang amat dirindukannya. Namun entah mengapa hatinya terasa perih, seolah akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya.