"Jelaskan," kata Reno. "Pelan-pelan, untuk orang yang bukan ahli hukum."
Alika menarik selembar kertas dan mulai menggambar bagan, seperti yang dulu ia lakukan di ruang kelas profesornya. "Begini. Ada dua pintu untuk membuka kembali perkara yang sudah inkracht — yang sudah berkekuatan hukum tetap seperti perkara Bima. Pintu pertama: Peninjauan Kembali. PK. Itu pintu utama, tapi pintu itu mensyaratkan permohonan dari terpidana atau ahli warisnya. Bima terpidananya, dia masih hidup, jadi akulah yang butuh surat kuasanya. Dan itulah yang mereka kunci dengan memindahkan dia ke pulau."
"Pintu yang terkunci."
"Pintu yang terkunci. Untuk sekarang." Alika menggambar pintu kedua di sebelahnya. "Tapi ada pintu lain. Bukan untuk membatalkan vonis Bima secara langsung — itu cuma bisa lewat PK. Pintu kedua ini untuk menyerang fondasi yang menahan vonis itu. Laporan pidana baru."
Ia menatap Reno. "Aku tidak butuh surat kuasa siapa pun untuk melaporkan sebuah kejahatan yang aku temukan sendiri. Siapa pun warga negara boleh melaporkan tindak pidana. Dan sekarang aku punya bukti tindak pidana yang nyata, terpisah dari perkara Bima: pemalsuan surat — visum yang dipalsukan; pemalsuan dokumen — memo strategi yang menunjukkan pembela menyabotase kliennya; memberikan keterangan palsu; dan menghalang-halangi proses peradilan. Tersangkanya jelas: Yusuf Wibawa, dan pihak-pihak yang memerintahnya."
Reno mulai memahami. "Jadi kau tidak menyerang vonis Bima dulu. Kau menyerang orang-orang yang membuat vonis itu."
"Tepat. Dan inilah indahnya." Alika mencondongkan tubuh, matanya menyala. "Begitu laporan pidana baru ini resmi tercatat — di lembaga yang tepat, bukan di kantor polisi yang sudah disusupi, tapi di jalur yang lebih tinggi dan terbuka — maka penyidikannya akan menyentuh perkara 417. Tidak bisa tidak. Untuk membuktikan visum dipalsukan, mereka harus memeriksa perkara Bima. Untuk membuktikan memo disabotase, mereka harus membuka berkas pembelaan Bima. Aku memaksa sistem melihat kembali ke perkara itu — lewat pintu samping, bukan lewat pintu PK yang mereka kunci."
"Dan kalau penyidikan itu berjalan," kata Reno lambat, "kalau jadi perkara besar yang disorot publik, mereka tak bisa lagi menyembunyikan Bima di pulau, karena dia jadi saksi kunci dalam perkara pidana baru. Cepat atau lambat pengadilan akan memerintahkan dia dihadirkan."
"Sekarang kau paham." Alika bersandar. "Pemindahan Bima ke pulau dirancang untuk memutus jalur PK. Tapi mereka tidak bisa memindahkan Bima keluar dari kenyataan bahwa dia korban dari kejahatan yang akan aku laporkan. Begitu Yusuf jadi tersangka pemalsuan, kesaksian Bima jadi tak tergantikan. Mereka sendiri yang akan terpaksa menariknya keluar dari persembunyian — atau pengadilan yang memaksa."
Tapi Alika tahu rencana itu punya satu titik lemah, dan ia tak menyembunyikannya. "Masalahnya, untuk laporan ini punya gigi, aku tidak bisa bertindak sendirian sebagai associate yang baru mengundurkan diri dan sedang difitnah. Suaraku terlalu mudah dipatahkan — mereka bisa bilang aku sakit hati, aku labil, aku mencuri arsip. Aku butuh nama. Aku butuh berdiri di atas dasar hukum yang kokoh, dengan pembela yang dihormati di sampingku, supaya laporan ini tak bisa dibuang ke tong sampah dengan alasan pelapornya tidak kredibel."
Ia menggambar satu kotak lagi di kertasnya, dan menamainya: *AHLI WARIS? / KEPENTINGAN HUKUM.*
"Dan ada satu lagi," lanjutnya. "Aku tetap ingin membuka jalur PK juga, paralel. Karena pada akhirnya hanya PK yang bisa membatalkan vonis Bima dan membebaskannya. Aku sudah membaca ulang yurisprudensi semalaman. Memang syarat utamanya tanda tangan terpidana atau ahli waris. Tapi ada ruang — sempit, jarang dipakai, tapi ada — di mana pihak yang punya kepentingan hukum jelas, demi kepentingan terpidana, bisa mengajukan permohonan, terutama bila terpidana terbukti dihalang-halangi untuk mengakses haknya sendiri."
"Dan kau punya kepentingan itu?"
Alika menatapnya, dan ada sesuatu yang dalam di suaranya. "Aku punya lebih dari kepentingan, Reno. Ayahku adalah hakim banding yang dibunuh karena menolak menutup perkara ini. Kematiannya adalah bagian dari kejahatan yang sama. Aku bukan sekadar pengacara yang kebetulan menemukan berkas. Aku ahli waris dari korban lain dalam konspirasi yang sama. Itu memberiku pijakan hukum yang tidak dimiliki orang asing mana pun."
Reno menatapnya lama. "Itu pertaruhan, Alika. Membawa kematian ayahmu ke ranah hukum berarti membuka semuanya — termasuk soal dirimu, soal motifmu. Mereka akan menyerangnya."
"Biar mereka menyerang." Alika melipat kertas bagannya dan menyimpannya. "Setiap kali mereka menyerang kenapa aku peduli, mereka memaksa orang bertanya kenapa seorang hakim mati tiga minggu setelah menolak menutup perkara seorang pemuda tak bersalah. Itu pertanyaan yang tidak mereka inginkan beredar." Ia menatap titik di peta, pulau jauh tempat Bima ditahan, lalu menatap kotak memo Pak Gunawan. "Mereka mengunci surat kuasa yang aku butuhkan. Jadi aku akan membuat surat kuasa itu tidak lagi diperlukan — dengan memaksa pengadilan sendiri yang menghadirkan Bima. Aku akan memancing mereka keluar. Aku akan membuat keributan hukum yang terlalu besar untuk mereka abaikan."
"Bagaimana caranya memancing?"
Alika tersenyum tipis. "Dengan menyalakan lampu. Dengan membuat publik mulai bertanya soal perkara 417 — sebelum aku resmi melapor, supaya saat aku melapor, sudah ada ribuan mata yang menonton." Ia menoleh pada sahabatnya, sang jurnalis. "Dan untuk menyalakan lampu, aku butuh seorang wartawan. Wartawan pertama yang berani menulis satu pertanyaan kecil yang akan membuat firma Wibawa & Rekan tak bisa tidur."