Lembaga Pemasyarakatan Cipinang terlihat berbeda dari dalam. Dindingnya tinggi dan dingin, dengan cat yang terkelupas di sudut-sudut. Alika mengisi formulir kunjungan dengan tangan yang ia paksa tenang, mencantumkan dirinya sebagai "calon penasihat hukum." Itu setengah bohong. Belum ada surat kuasa. Belum ada apa pun, kecuali rasa penasaran yang tidak bisa ia padamkan selama tiga hari terakhir.
Ia menunggu di ruang besuk yang berbau disinfektan, di antara meja-meja plastik dan kaca pembatas yang sudah buram. Lalu seorang petugas membawa masuk seorang pria.
Bima Satria lebih kecil dari bayangannya. Tujuh tahun penjara telah memahat tubuhnya menjadi kurus dan keras. Rambutnya dicukur pendek, dan ada garis-garis lelah di sekitar matanya yang membuatnya tampak lebih tua dari tiga puluh tahun. Tapi mata itu sendiri jernih, dan menatap Alika dengan kewaspadaan seseorang yang sudah terlalu sering dikecewakan oleh harapan.
"Saya tidak kenal Anda," kata Bima, duduk di seberang kaca. Suaranya datar.
"Nama saya Alika Pramesti. Saya pengacara." Ia meletakkan tangannya di meja. "Saya menemukan berkas perkara Anda."
Sesuatu mengeras di rahang Bima. "Dari firma Wibawa?"
"Ya."
Bima tertawa, pendek dan pahit, tanpa sedikit pun humor. "Mereka mengirim Anda untuk apa? Memastikan saya tetap diam? Saya sudah diam tujuh tahun. Tidak perlu pengingat."
"Tidak ada yang mengirim saya." Alika menatapnya lurus. "Saya datang sendiri. Dan saya melanggar setengah aturan firma untuk bisa duduk di sini."
Itu menahan Bima. Ia memicingkan mata, menimbang, mencari jebakan dalam kata-kata Alika seperti orang yang sudah belajar bahwa setiap kebaikan punya harga.
"Saksi Darto," kata Alika, langsung ke inti, karena ia tahu waktu besuk terbatas dan kesabaran Bima lebih terbatas lagi. "Dalam laporan pertama, ia tidak menyebut nama Anda. Ia menggambarkan pria tinggi berjaket gelap. Tiga minggu kemudian, kesaksiannya berubah jadi menyebut Anda secara spesifik. Anda tahu soal ini?"
Untuk pertama kalinya, wajah Bima retak. Topeng datar itu pecah, dan yang muncul di baliknya bukan kemarahan, melainkan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: keterkejutan seseorang yang akhirnya mendengar kebenaran yang sudah lama ia teriakkan ke ruang kosong.
"Pengacara saya," ucap Bima perlahan, "tidak pernah mengangkat itu di persidangan. Saya bilang ke dia berkali-kali. Saya bilang, Darto itu bohong, dia tidak mungkin mengenali saya karena saya tidak ada di sana. Tapi Pak Wibawa..." Ia menelan ludah. "Pak Wibawa bilang strateginya berbeda. Bilang menyerang saksi akan membuat juri, eh, hakim, makin yakin saya bersalah. Saya percaya dia. Dia pengacara terkenal. Saya cuma anak teknik yang bahkan tidak mengerti istilah-istilahnya."
Alika merasakan dingin merayap di tengkuknya. "Ceritakan malam itu. Empat Maret 2019."
Bima menutup mata sejenak, seolah mengumpulkan kepingan ingatan yang sudah ia susun ulang ribuan kali. "Hendrawan Kusuma itu bos saya. Saya kerja di perusahaan kontraktornya, divisi teknik sipil. Malam itu dia memanggil saya ke apartemennya. Katanya ada yang mau dibicarakan soal proyek."
"Proyek apa?"
"Jembatan. Proyek pemerintah, besar, ratusan miliar. Saya menemukan sesuatu di laporan struktur. Spesifikasi baja yang dipakai tidak sesuai kontrak. Lebih murah, lebih rapuh. Kalau jembatan itu dibangun seperti itu, bisa roboh dalam lima tahun." Bima membuka mata, dan kali ini ada api di sana. "Saya lapor ke Hendrawan. Dia bilang akan mengurusnya. Tapi malam itu, saat saya datang ke apartemennya, dia sudah... pintu tidak terkunci. Dia sudah tergeletak. Darah di mana-mana. Saya panik, saya pegang pisau yang ada di dadanya, saya pikir mungkin masih bisa diselamatkan. Bodoh. Saya menyentuh segalanya. Lima menit kemudian polisi datang. Seolah mereka sudah menunggu di luar."
"Seolah mereka tahu Anda akan ada di sana," kata Alika pelan.
"Anda orang pertama yang mengatakannya seperti itu." Suara Bima nyaris berbisik.
Mereka terdiam. Di luar kaca, seorang petugas mengetuk jam tangannya. Waktu hampir habis.
"Siapa yang menggantikan proyek jembatan itu setelah Hendrawan mati?" tanya Alika cepat.
Bima menatapnya, dan untuk sekejap Alika melihat lelaki yang dulu, yang masih punya masa depan, sebelum semuanya direnggut. "Perusahaan baru ambil alih. Namanya Grup Cakrawala. Pemiliknya..." Ia menjeda. "Anda yakin mau menarik benang ini, Bu Pengacara? Karena orang terakhir yang menariknya sedang duduk di depan Anda, dan lihat di mana saya sekarang."
"Siapa pemiliknya, Bima?"
Petugas menepuk bahu Bima. Waktu habis.
Saat berdiri, Bima mencondongkan tubuh sedikit ke arah kaca dan mengucapkan satu nama, pelan, hampir tanpa suara, sebelum digiring pergi.
Nama itu menggantung di udara setelah Bima menghilang di balik pintu besi.
Alika tetap duduk, jantungnya berdebar keras, karena ia mengenal nama itu. Semua orang di negeri ini mengenal nama itu.