Pesan pertama datang pukul tujuh pagi, dari klien lama Reno yang masih ramah. "Bro, lo lihat grup advokat nggak? Nama temen lo, Alika, lagi rame."
Alika membaca tangkapan layar itu di meja makan penginapan, kopi instan mendingin di sampingnya. Sebuah pesan beredar dari akun yang mengaku "orang dalam firma ternama": associate bernama Alika Pramesti dipecat karena kedapatan mencuri arsip klien, labil secara emosional sejak kematian ayahnya, dan kini menyebar fitnah demi mencari panggung. Di bawahnya ada foto Alika keluar dari gedung firma sambil membawa kardus—foto yang, ia ingat betul, diambil saat ia memindahkan tanaman dari mejanya, bukan mencuri apa pun.
"Mereka membalikkan ceritanya," kata Reno, mengintip dari balik bahunya. "Pintar. Sebelum publik percaya sama lo, mereka bikin publik ragu sama lo dulu."
Alika menaruh ponsel itu pelan-pelan, seolah benda kecil itu bisa pecah. Dadanya panas, tapi ia memaksa kepalanya tetap dingin. Marah adalah hal yang mereka harapkan. Marah membuat orang bicara sembarangan, dan orang yang bicara sembarangan mudah dijatuhkan.
"Yusuf tahu satu hal tentang aku," kata Alika akhirnya. "Reputasiku satu-satunya yang aku punya sekarang. Aku bukan firma. Aku bukan jenderal. Aku cuma satu pengacara muda dengan map. Kalau orang tidak percaya padaku, mapnya tidak ada artinya."
"Jadi?"
"Jadi aku tidak melawan fitnah dengan emosi. Aku melawan dengan dokumen."
Ia membuka laptop, mencari folder email yang sudah ia simpan rapi sejak pertama curiga. Surat pengunduran dirinya. Dikirim pukul enam pagi, beberapa hari sebelum semua ini meledak—lengkap dengan stempel waktu server, alamat penerima Reza dan bagian HRD firma, dan satu kalimat di tengah yang dulu ia tulis nyaris asal: *"Saya mengundurkan diri atas kehendak sendiri, dalam keadaan sehat dan sadar, terhitung sejak tanggal surat ini."*
"Mereka bilang aku dipecat," kata Alika. "Tapi tanggal surat pengunduran diriku lebih dulu daripada tanggal yang mereka klaim sebagai pemecatan. Kalau mereka memang memecatku karena mencuri, mana surat pemecatannya? Mana laporan polisi soal arsip yang katanya kucuri? Tidak ada. Karena tidak pernah ada."
Reno mulai tersenyum, menangkap arahnya. "Lo mau aku terbitkan suratnya."
"Bukan sebagai pembelaan. Sebagai fakta. Kau jurnalis. Kau tidak bilang 'Alika tidak bersalah.' Kau cukup menanyakan satu pertanyaan: kalau seorang associate benar-benar mencuri arsip klien, kenapa firma sebesar Wibawa & Rekan—yang punya tim litigasi paling galak di kota ini—tidak pernah melaporkannya? Kenapa mereka memilih menyebar bisik-bisik di grup, bukan membawanya ke meja hijau?"
Reno mengetik cepat. "Karena kalau dibawa ke meja hijau, mereka harus membuktikannya. Dan mereka tidak bisa."
"Tepat. Bisik-bisik tidak butuh bukti. Pengadilan butuh."
Mereka bekerja sepanjang pagi. Reno tidak menulis artikel pembelaan yang berapi-api; ia menulis dengan dingin, hampir membosankan, hanya menjajarkan tanggal-tanggal: tanggal surat pengunduran diri, tanggal isu pemecatan disebar, tanggal foto kardus, jadwal absensi Alika di hari foto itu diambil. Ia menamai artikelnya secara hambar—"Mengurai Sebuah Kabar di Lingkaran Advokat"—dan justru karena hambar itu, ia terbaca jujur.
Menjelang siang, satu balasan masuk ke email Alika dari nomor tak terduga. Pak Gunawan. Petugas kebersihan tua di firma, yang dulu memperingatkannya agar membiarkan berkas lama berdebu. Pesannya pendek, ditulis dengan ejaan orang yang tidak terbiasa mengetik di layar.
*"Nak Alika. Saya dengar mereka bilang Nak mencuri. Saya yang membersihkan ruang itu tiap hari. Saya tahu apa yang Nak ambil dan apa yang tidak. Kalau suatu hari Nak butuh saksi, saya di sini. Jangan dulu balas. Tunggu saya yang datang."*
Alika menatap layar lama sekali. Di tengah orang-orang yang dibeli dengan rumah tunai dan dibungkam dengan ancaman, seorang lelaki tua dengan gaji kebersihan menawarkan satu-satunya yang ia punya: matanya yang telah melihat, dan keberanian untuk mengakuinya.
"Reno," katanya pelan. "Tunda dulu satu kalimat di artikelmu. Yang soal 'tak ada saksi atas barang yang dibawa Alika'."
"Kenapa?"
Alika memutar layar ke arah temannya, memperlihatkan pesan Pak Gunawan.
"Karena ternyata," ujarnya, suaranya nyaris tak terdengar, "ada."
Tapi sebelum ia sempat lega, ponsel Reno bergetar. Wajah jurnalis itu mengeras seketika.
"Apa?"
Reno mengangkat layarnya. Sebuah berita singkat dari kontaknya di Depok. *Rumah di kompleks itu—rumah satpam Darto—kosong sejak dua hari lalu. Pintu disegel. Tetangga bilang dia dijemput tengah malam, naik mobil hitam. Tidak pamit. Tidak meninggalkan alamat.*