Kota kecil di kaki pegunungan itu sejuk dan tenang, jenis tempat yang tampak terlalu damai untuk menyembunyikan apa pun. Mereka tiba menjelang pagi setelah menyetir bergantian sepanjang malam, mata perih, kopi habis berkaleng-kaleng. Sekolah di foto itu tidak sulit ditemukan; satu-satunya SMA negeri di kota sekecil ini.
"Kita tidak boleh ceroboh," kata Alika, memarkir mobil agak jauh dari gerbang. "Kalau Darto disandera lewat anaknya, berarti anaknya diawasi. Kalau kita salah langkah, kita bukan menyelamatkan dia—kita membahayakan dia."
Reno mengangguk, mengeluarkan kamera lensa panjang dari tasnya, kebiasaan jurnalisnya. "Aku akan mengamati dulu. Cari tahu siapa yang mengawasi sebelum kita mendekati yang diawasi."
Mereka menunggu. Bel masuk berbunyi, anak-anak berseragam berdatangan dengan tas dan tawa, dan di tengah keramaian biasa itu, mata terlatih Reno menangkap yang ganjil. Sebuah mobil sedan abu-abu diparkir di seberang sekolah, mesin menyala, dua pria di dalamnya. Tidak menurunkan siapa-siapa. Tidak menjemput siapa-siapa. Hanya duduk, memandang gerbang, sesekali salah satunya mengangkat ponsel seperti memotret.
"Itu mereka," bisik Reno. "Mereka tidak menyekapnya di kamar gelap. Lebih jahat dari itu. Mereka membiarkan dia bersekolah, makan, tidur seperti anak normal—tapi setiap hari ada mata yang mengawasi. Anak itu mungkin tahu, mungkin tidak. Tapi ayahnya tahu. Dan selama anaknya bisa dijangkau kapan saja, Darto akan tetap diam."
Alika merasakan amarah yang dingin mengeras di dalam dirinya. Penjara tak selalu punya jeruji. Kadang penjara cukup berupa satu mobil abu-abu yang selalu ada, setiap hari, sebagai pengingat: *kami tahu di mana anakmu*. Bima dipenjara di balik tembok lapas; anak Darto dipenjara di alam terbuka, dan ia bahkan mungkin tak tahu sel macam apa yang mengurungnya. Mana yang lebih kejam, Alika tak bisa memutuskan.
Mereka mengamati selama dua hari, mencatat pola. Mobil itu datang pukul tujuh, pergi setelah anak-anak masuk, kembali pukul satu siang menjelang jam pulang. Penjaganya berganti, tapi mobilnya sama. Pada hari kedua, Reno berhasil memotret plat nomornya dengan jelas dan mengirimnya ke seorang kontaknya yang bisa menelusuri kepemilikan kendaraan.
Balasannya datang malam itu, dan membuat keduanya terdiam.
"Plat itu," kata Reno, membaca dari ponselnya, "terdaftar atas nama sebuah perusahaan jasa keamanan. Dan perusahaan jasa keamanan itu—" ia berhenti, menelan ludah, "—anak usaha dari sebuah holding yang afiliasinya bisa ditarik benang sampai ke Grup Cakrawala."
Ardian. Selalu Ardian. Bahkan mobil yang mengawasi seorang anak SMA di kota kecil tujuh jam dari ibu kota, pada akhirnya, terhubung ke nama yang sama.
"Mereka tidak menyewa preman acak," kata Alika. "Mereka memakai jaringan resmi. Perusahaan dengan izin, dengan kantor, dengan pembukuan. Itu kesombongan mereka. Mereka pikir tidak ada yang berani menarik benang sejauh ini." Ia menatap Reno. "Tapi kesombongan itu juga kelemahan mereka. Perusahaan resmi punya jejak resmi. Mobil acak tidak bisa dilacak. Mobil perusahaan bisa."
"Jadi sekarang apa? Kita tidak bisa langsung menemui anak itu—mereka akan tahu."
Alika berpikir keras. Mendekati anak itu secara langsung berarti membakar satu-satunya keunggulan mereka: lawan belum tahu Alika menemukan kota ini. Begitu Alika muncul di gerbang sekolah, mobil abu-abu itu akan melapor, dan dalam hitungan jam anak Darto bisa dipindahkan lebih jauh lagi—atau lebih buruk.
"Kita tidak menemui anaknya," kata Alika akhirnya. "Belum. Kita kumpulkan dulu bukti bahwa anak ini diawasi oleh perusahaan milik Ardian. Foto mobil, plat, pola harian, dokumen kepemilikan. Itu bukan cuma penyelamatan—itu bukti pidana. Pengawasan dengan tujuan mengancam saksi. Ketika kita menyelamatkan anak ini nanti, kita harus melakukannya dengan perlindungan hukum yang sah, bukan diam-diam seperti maling. Kalau kita menyelinap, mereka bisa bilang kita menculik. Kalau kita datang dengan perlindungan saksi resmi, merekalah penculiknya."
Reno mengangkat alis. "Perlindungan saksi resmi butuh lembaga. Butuh nama besar yang berani menandatanganinya. Kita tidak punya itu, Alika. Kita cuma kita."
Alika menatap foto Darto dan anaknya yang tergeletak di dashboard, lalu menatap lampu-lampu kota kecil yang tenang itu.
"Kalau begitu," katanya pelan, "kita cari satu nama yang berani."