Daftar itu pendek, dan menyusut dengan cepat.
Alika dan Reno kembali ke ibu kota dan mulai menyusun nama-nama: advokat senior dengan reputasi bersih, pengalaman PK, dan—yang paling penting—keberanian. Mereka membuat daftar sepuluh nama. Dalam tiga hari, daftar itu tinggal nol.
Yang pertama, seorang advokat litigasi terkenal, menyambut Alika ramah di kantornya yang mewah, mendengarkan paparannya dengan saksama, lalu wajahnya berubah saat Alika menyebut nama Ardian Cakra. "Maaf," katanya, mendadak melihat jam, "saya ada konflik kepentingan." Tidak ada konflik. Hanya ketakutan yang berpakaian sopan.
Yang kedua bahkan tidak mau menerima Alika; sekretarisnya menelepon membatalkan janji satu jam sebelum waktunya, tanpa alasan.
Yang ketiga, seorang pengacara hak asasi yang dulu vokal, menyimaknya sampai habis dengan mata sedih. "Dik," katanya pelan, "saya percaya pada cerita Anda. Justru karena itu saya tidak bisa. Saya punya tiga anak. Lawan Anda sudah membunuh hakim, dokter, dan pengusaha—dan menjadikan semua itu tampak seperti kecelakaan dan penyakit. Saya bukan pengecut. Saya cuma realistis. Maafkan saya."
Penolakan keempat, kelima, keenam datang lebih cepat dan lebih dingin. Pada nama ketujuh, Alika mulai mengerti bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar ketakutan biasa. Beberapa dari mereka, saat menolak, melontarkan kalimat yang nyaris sama: *"Saya sudah dengar tentang kasus ini."* Padahal Alika belum menyebarkannya luas. Itu berarti lawan sudah mendahuluinya—berkeliling memberi peringatan halus kepada lingkaran advokat, jauh sebelum Alika sempat mengetuk pintu.
"Mereka memagari aku," kata Alika malam itu, duduk di lantai penginapan dengan punggung bersandar ke tempat tidur, kelelahan menggerogoti. "Bukan cuma menakut-nakuti satu per satu. Mereka membakar ladangnya lebih dulu, supaya tidak ada yang mau menanam apa pun untukku."
Ia menatap langit-langit yang retak rambut, dan terpikir betapa rapinya cara kerja itu. Yusuf tidak perlu mengancam terang-terangan; ia cukup menelepon beberapa rekan seangkatan, menyebut sepatah dua kata di sela kopi sore, dan kabar pun menjalar sendiri di lingkaran kecil para advokat senior—bahwa siapa pun yang menyentuh Perkara 417 akan berurusan dengan Ardian Cakra. Reputasi Ardian melakukan sisa pekerjaannya. Tidak ada darah, tidak ada ancaman tertulis, hanya keheningan yang menebal di setiap pintu yang Alika ketuk.
Reno menyodorkan secangkir teh. "Masih ada tiga nama."
"Tiga nama yang kemungkinan besar juga sudah diperingatkan."
Nama kedelapan dan kesembilan menolak persis seperti yang ia takutkan. Tinggal satu nama di bagian paling bawah daftar—nama yang sengaja Alika simpan terakhir, bukan karena paling kecil harapannya, melainkan karena nama itu membawa kenangan yang ia takut sentuh.
**Hartati Soemarno.**
Advokat tua. Hampir tujuh puluh tahun. Sudah jarang sekali bersidang, lebih banyak mengajar dan menulis. Namanya pernah besar dua dekade lalu, sebelum perlahan menepi dari sorotan. Tapi bukan itu yang membuat Alika ragu. Yang membuatnya ragu adalah satu fakta kecil yang ia temukan saat menelusuri rekam jejak Bu Hartati: dalam sebuah foto lama dari acara peradilan tahun-tahun silam, Bu Hartati berdiri di samping seorang hakim muda yang tersenyum.
Hakim Pramesti. Ayahnya.
"Reno," kata Alika, suaranya berubah. "Pengacara terakhir di daftar ini... kenal ayahku."
Reno menegakkan badan. "Kawan, atau orang yang ada di pihak yang menjebak ayahmu?"
"Aku tidak tahu." Alika menatap foto lama di layar laptopnya—dua wajah dari masa ketika ia masih kecil, masa ketika ayahnya masih hidup dan dunia masih sederhana. "Tapi dari semua nama di daftar ini, dia satu-satunya yang belum menolakku. Karena dia satu-satunya yang belum aku temui."
Ia menutup laptop. Keputusan sudah terbentuk di rahangnya yang mengeras.
"Besok aku temui Bu Hartati. Kalau dia menolak juga..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu. Jika Bu Hartati menolak, maka tidak ada lagi pengacara di kota ini yang akan berdiri bersamanya, dan janjinya kepada Darto akan runtuh, dan bersama runtuhnya janji itu, runtuh pula satu-satunya jalan menuju saksi hidup pertama.
Malam itu Alika tidak tidur. Ia menyiapkan paparannya seperti menyiapkan pembelaan terakhir dalam hidupnya. Karena, dalam banyak hal, memang begitulah adanya.