Pertemuan itu diatur di sebuah restoran sepi di lantai atas sebuah gedung, di sore hari ketika tempat itu hampir kosong. Bu Hartati melarang keras. Reno bersikeras menemani. Pada akhirnya, kompromi: Reno menunggu di mobil di bawah dengan rekaman aktif, Bu Hartati memegang seluruh salinan bukti di tempat aman, dan Alika naik sendirian—tapi dengan ponsel yang merekam, dan kesepakatan bahwa jika ia tak turun dalam empat puluh menit, Reno menerbitkan segalanya.
Yang menunggunya di meja sudut bukan Yusuf Wibawa. Itu seorang pria berpakaian rapi dengan senyum bisnis yang dipoles, jenis senyum yang dipakai orang untuk menutup kontrak miliaran atau menandatangani perintah kematian. Ia memperkenalkan diri sebagai "perwakilan dari pihak yang berkepentingan." Tidak menyebut nama. Tidak perlu.
"Silakan duduk, Bu Alika," katanya. Di meja sudah tersedia teh dan, di samping cangkir Alika, sebuah amplop tebal cokelat. "Kami mengagumi kegigihan Anda. Sungguh. Tidak banyak orang muda yang sekeras kepala ini. Itu bakat yang langka."
Alika tidak menyentuh teh maupun amplop. "Langsung saja. Apa yang Anda tawarkan?"
Pria itu tersenyum lebih lebar, menghargai keterusterangan. "Praktis. Saya suka itu." Ia menggeser amplop sedikit ke arah Alika. "Di dalam ini ada sesuatu yang akan menyelesaikan semua masalah keuangan Anda untuk dua puluh tahun ke depan. Sebagai associate, Anda tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan jumlah seperti itu. Selain itu, kami siap menjembatani Anda ke firma internasional di Singapura. Karier yang gemilang. Jauh dari... kerumitan di sini." Senyumnya tidak berubah, tapi matanya mendingin. "Yang kami minta sederhana. Anda berhenti. Anda serahkan semua salinan. Anda menyatakan, dengan terhormat, bahwa setelah penelitian lebih lanjut, Anda menemukan bahwa kecurigaan Anda tidak berdasar. Tidak ada yang dipermalukan. Semua orang menang."
"Dan Bima Satria tetap di penjara seumur hidup atas pembunuhan yang tidak dia lakukan," kata Alika.
"Bima Satria," pria itu mengulang nama itu seolah membaca daftar belanja, "adalah satu nama dalam sebuah sistem yang jauh lebih besar dari Anda atau saya. Dia sudah tujuh tahun di sana. Tujuh tahun lagi, atau dua puluh, tidak mengubah apa pun bagi dunia. Tapi mengubah segalanya bagi Anda. Pikirkan ibu Anda. Pikirkan masa depan Anda." Ia mencondongkan badan sedikit. "Pikirkan ayah Anda, Bu Alika. Dia juga orang yang keras kepala. Dia juga merasa bisa melawan arus seorang diri. Anda tahu bagaimana akhirnya."
Itu—penyebutan ayahnya, ancaman yang dibungkus belasungkawa—adalah momen ketika sesuatu di dalam diri Alika, yang selama berminggu-minggu telah mengeras pelan-pelan, akhirnya membatu sepenuhnya.
Ia berdiri perlahan. Tidak menyambar amplop itu untuk melemparkannya, tidak berteriak. Ia hanya berdiri, dan menatap pria itu dengan ketenangan yang membuat senyum bisnis itu, untuk pertama kalinya, sedikit goyah.
"Ayah saya," kata Alika, suaranya rendah dan jelas, "menolak titipan seperti yang Anda letakkan di meja ini. Dia tahu apa akibatnya, dan dia tetap menolak. Selama tujuh tahun saya pikir itu membuatnya korban. Sekarang saya tahu itu membuatnya satu-satunya orang di seluruh cerita ini yang mati tanpa menjual jiwanya." Ia mendorong amplop itu kembali ke seberang meja dengan satu jari, tanpa membukanya. "Sampaikan pada pihak yang berkepentingan: saya bukan ayah saya. Saya tidak akan mati diam-diam di tikungan sepi atau di tempat tidur dengan diagnosis palsu. Karena bukti tentang Anda semua tidak lagi cuma ada di kepala saya. Bukti itu sudah tersebar ke jurnalis, ke lembaga, ke server di luar negeri. Membunuh saya tidak lagi menghapus apa pun. Membunuh saya hanya akan membuat semuanya meledak lebih cepat."
Wajah pria itu kehilangan seluruh kepura-puraan ramahnya. Yang tersisa hanya dingin telanjang. "Anda membuat kesalahan, Bu."
"Tidak," kata Alika. "Saya baru saja berhenti membuat kesalahan. Kesalahan saya selama ini adalah berpikir saya masih bisa mundur. Anda barusan membuat saya sadar—tidak ada lagi tempat untuk mundur. Jadi terima kasih."
Ia berbalik dan berjalan keluar, punggungnya tegak, jantungnya berdebar keras tapi langkahnya tidak goyah. Ia tidak menoleh, walau setiap saraf di tubuhnya menunggu sebuah tangan mencengkeram bahunya, sebuah ancaman terakhir. Tapi tidak ada. Mereka membiarkannya pergi—karena mereka tahu, sama seperti Alika tahu, bahwa percakapan itu adalah penawaran damai terakhir, dan damai itu telah ditolak.
Di dalam mobil, Reno menatapnya cemas saat ia masuk. "Bagaimana?"
Alika tidak menjawab langsung. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka folder yang sudah lama ia siapkan—berkas permohonan yang telah disusunnya bersama Bu Hartati selama berhari-hari, kini lengkap dengan tanda tangan advokat senior, kesaksian forensik dr. Yoga, laporan keaslian rekaman dari Damar, salinan visum asli, dan map menguning dua dekade dari Bu Hartati. Sebuah berkas yang, begitu didaftarkan secara resmi, tidak bisa lagi dihapus diam-diam, tidak bisa lagi dipindahkan dalam kegelapan, tidak bisa lagi disangkal sebagai bisik-bisik seorang associate labil.
"Mereka menawariku uang dan keselamatan," kata Alika akhirnya. Ia menatap Reno, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ada sesuatu seperti ketenangan di matanya—ketenangan seseorang yang telah membakar semua jembatan di belakangnya dan menemukan, secara mengejutkan, bahwa ia merasa lega.
"Lalu mereka menyebut ayahku," lanjutnya. "Dan sekarang aku yakin sepenuhnya." Ia menyalakan ponselnya, jarinya melayang di atas tombol yang akan mengirim berkas itu ke pengadilan dan ke setiap saluran sekaligus. "Besok pagi, begitu kantor buka, kita daftarkan ini. Resmi. Tercatat. Di depan publik."
Reno menatap temannya. "Begitu kau tekan kirim, tidak ada jalan pulang, Alika. Mereka akan datang dengan seluruh kekuatan mereka."
"Aku tahu," kata Alika pelan. Dan ia tersenyum—senyum kecil, lelah, tapi tak tergoyahkan. "Tapi itu juga berarti mereka harus keluar dari bayangan. Selama ini mereka menang karena bersembunyi. Mulai besok, mereka harus melawanku di tempat terang. Dan di tempat terang, di ruang sidang, dengan bukti di tangan—" ia menatap lampu-lampu kota yang menyala satu per satu di luar jendela, "—di sanalah ayahku mengajariku, keadilan punya kesempatan."
Ia tidak menekan kirim malam itu. Ia menyimpannya untuk pagi, untuk cahaya, untuk saat ketika seluruh dunia bisa menyaksikan. Tapi keputusan sudah dibuat, mutlak dan tak bisa ditarik. Titik di mana ia masih bisa berbalik telah lama terlewat, jauh di belakang, di suatu malam di ruang arsip berdebu ketika seorang associate muda memutuskan untuk bertanya.
Esok hari, perang akan berpindah ke ruang sidang.