Mereka bertemu Wahyu di tempat yang ia pilih sendiri: sebuah masjid besar di kota transit, ramai, terbuka, banyak orang, sulit untuk seseorang melakukan sesuatu yang buruk tanpa dilihat. Wahyu memilih keramaian sebagai perisai, dan Alika menghormati kecerdasan itu.
Lelaki itu lebih kurus dari foto lama di berkas. Rambutnya sudah beruban di usia yang belum seharusnya beruban. Ia duduk di serambi masjid, di antara orang-orang yang beristirahat, dengan tas selempang lusuh di pangkuannya, dan matanya tidak pernah berhenti menyapu sekeliling.
"Saya cuma punya waktu sebentar," katanya tanpa basa-basi, setelah Alika dan Reno duduk di sampingnya. "Saya tidak mau wajah saya kelihatan lama-lama dengan kalian."
"Saya mengerti." Alika bicara pelan, tidak menatapnya langsung, seperti dua orang asing yang kebetulan duduk berdekatan. "Ceritakan saja apa yang perlu saya tahu."
Wahyu menarik napas. "Saya insinyur struktur di proyek Jembatan Kali Serayu. Saya yang menghitung beban, memilih spesifikasi baja, menentukan ketebalan. Saya kerjakan dengan benar. Laporan struktur yang saya buat — yang asli — mensyaratkan baja mutu tertentu dengan ketebalan tertentu, supaya jembatan itu kuat menahan beban penuh selama lima puluh tahun." Ia menelan ludah. "Itu standar. Itu yang seharusnya."
"Lalu?"
"Lalu pada awal dua ribu sembilan belas, ada perintah dari atas untuk merevisi pengadaan material. Bukan dari Pak Hendrawan. Dari orang lain, yang mulai ikut campur di proyek itu, orang yang katanya 'mitra baru'." Wahyu menunduk. "Mereka mau ganti pemasok baja. Baja yang lebih murah. Lebih tipis. Saya protes. Saya bilang ini tidak sesuai perhitungan, ini bahaya. Mereka bilang saya cuma insinyur, urusan saya menggambar, bukan mengatur uang."
"Apa yang Pak Hendrawan lakukan?" tanya Reno pelan.
Untuk pertama kali, sesuatu yang seperti kesedihan melintas di wajah Wahyu. "Pak Hendrawan satu-satunya yang mendengar saya. Dia datang ke ruang saya, dia minta saya tunjukkan perhitungannya. Dia orang bisnis, tapi dia tidak bodoh, dan dia tidak jahat. Dia lihat angkanya, dia lihat selisihnya, dan dia marah sekali." Wahyu menggenggam tasnya lebih erat. "Dia bilang dia akan hentikan ini. Dia bilang dia tidak mau namanya dipakai untuk membangun jembatan yang bisa membunuh orang. Dia bilang dia akan bawa ini ke dinas, ke siapa pun yang perlu tahu." Suaranya nyaris hilang. "Itu hari Jumat. Selasa-nya dia meninggal."
Hening sejenak di antara mereka, ditelan suara bedug dan langkah orang.
"Bima tahu juga," kata Wahyu akhirnya. "Bima insinyur muda, idealis, dia ribut soal baja itu sama seperti saya. Bedanya, Bima yang dipanggil malam itu. Bima yang masuk ke apartemen. Bima yang dijebak." Wahyu mengusap wajahnya. "Bisa saja saya yang dipanggil malam itu. Bisa saja saya yang sekarang di penjara. Saya menghabiskan tujuh tahun bertanya kenapa dia dan bukan saya, dan satu-satunya jawaban yang saya temukan adalah: keberuntungan yang menjijikkan."
Ia membuka tas selempangnya. Dari dalam, ia mengeluarkan sebuah map plastik tebal yang sudah menguning di pinggir, dibungkus lagi dengan kantong kedap air. Ia tidak langsung menyerahkannya.
"Di dalam ini ada laporan struktur asli, dengan tanda tangan saya dan stempel proyek, tertanggal sebelum revisi. Ada perhitungan beban. Ada spesifikasi baja yang seharusnya. Dan ada satu lembar lagi — memo revisi yang mereka paksakan ke saya, yang menurunkan spesifikasi itu, dengan paraf orang yang memerintahkannya." Wahyu menatap Alika lurus untuk pertama kali. "Kalau saya serahkan ini, dan kalian gagal, saya mati. Sederhana. Jadi tolong jangan gagal."
Alika menerima map itu. Beratnya terasa di tangannya, lebih berat dari kertas seharusnya. Tujuh tahun ketakutan seorang lelaki, terbungkus plastik kedap air.
"Pak Wahyu," katanya. "Anda tidak harus tetap sembunyi sendirian. Kami bisa atur perlindungan—"
"Tidak." Wahyu sudah berdiri, menyelempangkan tas kosongnya. "Selama ini saya hidup karena tidak ada yang tahu di mana saya. Begitu saya masuk perlindungan resmi, nama saya ada di daftar, dan daftar bisa bocor. Saya sudah lihat bagaimana orang yang masuk daftar berakhir." Ia menatap Alika dengan mata lelah. "Saya akan muncul kalau pengadilan benar-benar memanggil saya, dan kalau saya yakin saya akan diadili oleh hakim yang bersih, bukan oleh majelis yang sudah dibeli. Sampai saat itu, biarkan saya jadi hantu. Hantu lebih susah dibunuh."
Ia berbalik dan berjalan menjauh, melebur ke dalam kerumunan orang yang keluar masuk masjid, dan dalam tiga puluh detik Alika sudah tidak bisa membedakannya dari siapa pun.
Di mobil, Reno membuka map itu dengan sarung tangan tipis, memotret setiap halaman dua kali, mengunggahnya terenkripsi sebelum mereka bahkan keluar dari kota.
"Ini dia," kata Reno, suaranya bergetar pelan. "Motifnya. Hitam di atas putih. Kenapa Hendrawan harus mati." Ia menatap satu lembar terakhir, memo revisi dengan paraf di pojok. "Dan paraf ini... aku kenal pola tanda tangan ini, Alika. Aku pernah lihat di dokumen lain. Ini paraf orang dinas yang sekarang di tim sukses Ardian."
Alika menatap jalan di depan, tangannya menggenggam erat map itu di pangkuan.
"Sekarang kita tidak cuma punya cerita," katanya. "Kita punya alasan. Dan alasan adalah hal yang paling mereka takutkan, karena alasan menunjukkan ke mana panahnya mengarah."