Mereka tiba di Bekasi saat langit sudah cukup terang untuk membuat dua mobil di depan rumah Mira tampak biasa saja — dua sedan gelap, mesin mati, kaca tertutup, parkir seolah milik tetangga yang pulang larut. Reno tidak melambat saat melewatinya. Ia terus, berbelok di tikungan berikutnya, dan berhenti di gang belakang kompleks.
"Rumah Mira yang ujung," kata Reno pelan, mempelajari peta di ponselnya. "Ada jalan setapak di belakang, di antara pagar dan kali kecil. Kalau kita masuk dari sana, dua mobil di depan tidak akan lihat."
"Kau yakin?"
"Tidak." Reno mematikan mesin. "Tapi orang yang mengintai dari depan selalu lupa bahwa rumah punya belakang. Itu kelemahan orang yang merasa berkuasa. Mereka cuma menjaga pintu yang terhormat."
Mereka turun, berjalan kaki menyusuri jalan setapak sempit di belakang deretan rumah, melewati jemuran, kandang ayam, tumpukan pot. Bau kali kecil dan tanah basah subuh. Di ujung, pagar belakang rumah Mira, rendah, mudah dilewati. Alika mengetuk jendela dapur pelan, tiga kali, lalu berbisik di celahnya.
"Mira. Ini Alika. Suara saya, ingat? Buka pintu belakang."
Beberapa detik kemudian, pintu dapur terbuka, dan Mira berdiri di sana, masih dengan daster, wajahnya pucat tidak tidur, mata sembap. Begitu melihat Alika, tubuhnya seperti kehilangan tulang sejenak, dan Alika menangkapnya, memeluknya cepat.
"Saya di sini," bisik Alika. "Kita pergi sekarang. Bawa hanya yang penting. Dokumen, obat, satu tas. Tinggalkan sisanya."
Mira mengangguk, gemetar, dan menghilang ke dalam selama dua menit yang terasa seperti dua jam. Reno berjaga di pintu belakang, matanya ke jalan setapak. Alika berjaga ke arah depan, ke koridor rumah, ke pintu utama yang terkunci, ke jendela ruang tamu tempat melalui tirai tipis ia bisa melihat dua mobil itu masih diam di luar, dan di dalam salah satunya, ujung bara rokok yang menyala lalu meredup. Mereka masih di sana. Mereka belum tahu.
Mira kembali dengan tas kecil dan sebuah kotak biskuit kaleng yang ia peluk seperti bayi. "Surat-surat kakak saya," katanya pelan menjelaskan, malu. "Foto-foto. Yang asli sudah di Bu Alika, tapi ini... ini yang saya punya dari dia."
"Bawa," kata Alika lembut. "Itu penting."
Mereka keluar lewat pintu belakang, menyeberangi pagar rendah, menyusuri jalan setapak. Mira tidak menoleh ke rumahnya. Alika memperhatikan itu — perempuan ini tidak menoleh ke belakang, dan Alika tahu itu bukan karena tidak peduli, tapi karena kalau ia menoleh, ia tidak akan sanggup melangkah.
Di gang belakang, sebuah mobil lain sudah menunggu. Bukan mobil Reno. Sebuah minibus tua, sopirnya lelaki paruh baya berwajah datar yang Reno sapa dengan anggukan singkat — salah satu dari jaringan Reno, orang yang mengangkut orang tanpa bertanya dan tanpa mengingat. Mira naik. Alika naik. Reno menutup pintu dan duduk di depan.
"Pelan saja keluar kompleks," kata Reno ke sopir. "Jangan lewat depan."
Minibus bergerak tenang, menyusuri jalan-jalan kecil kompleks yang baru bangun, melewati tukang sayur yang mendorong gerobak, ibu-ibu menyapu halaman. Hidup biasa, pagi biasa, dan di tengahnya seorang perempuan yang diselamatkan dari malam terpanjang dalam hidupnya. Mereka keluar lewat gerbang sisi yang lain, dan dua mobil gelap di depan rumah Mira tidak pernah melihat seekor pun dari mereka pergi.
Rumah aman itu ada di sebuah kampung di pinggiran kota lain, dua jam perjalanan, sebuah rumah biasa di antara rumah-rumah biasa, halamannya ditanami cabai dan bayam, pagarnya cat hijau yang sudah memudar. Tidak ada yang istimewa. Itulah yang membuatnya aman. Bu Hartati sudah menunggu di teras, dengan teh dan nasi yang masih hangat, seolah ini rumah neneknya yang menanti cucu pulang.
"Masuk, Nak," kata Bu Hartati pada Mira, memegang tangannya dengan kedua tangan tua yang hangat. "Di sini kamu tidur. Beneran tidur. Tidak ada yang tahu kamu di sini. Tidak ada mobil yang akan parkir di depan rumah ini."
Mira menatap perempuan tua itu, lalu menatap Alika, lalu sesuatu di dalam dirinya yang sudah tujuh tahun tegang akhirnya melepas, dan ia menangis — bukan tangis takut lagi, tapi tangis lega yang lebih melelahkan dari takut. Bu Hartati memeluknya dan membiarkannya.
Di teras, sementara matahari naik penuh, Alika dan Reno duduk di anak tangga, kelelahan menghantam keduanya sekaligus. Mereka belum tidur lebih dari dua puluh empat jam. Mereka diserang di tol, mereka mengevakuasi saksi, dan sekarang, untuk pertama kali sejak kemarin pagi, tidak ada yang harus mereka lakukan untuk lima menit ke depan.
"Mira aman," kata Reno pelan. "Wahyu masih jadi hantu, tapi laporannya sudah di tangan. Visum, rekaman, memo strategi dari Pak Gunawan, laporan struktur asli." Ia menghitung di jari yang gemetar karena lelah. "Kita punya semuanya, Alika. Hampir semuanya."
"Hampir." Alika menatap kebun cabai di halaman, daun-daun hijau yang menetes embun. "Kita masih belum punya saksi hidup yang berani berdiri di pengadilan dengan namanya sendiri. Semua bukti kita adalah kertas dan suara orang mati. Hakim bisa meragukan kertas. Pengacara mahal Ardian akan menyerang setiap helainya." Ia memejamkan mata sejenak. "Kita butuh satu orang hidup yang mau berdiri dan berkata, di bawah sumpah, 'saya melihat, saya tahu, dan saya berbohong dulu karena diancam'."
"Darto," kata Reno.
"Darto." Alika membuka mata. "Satpam yang mengubah kesaksiannya. Yang anaknya diancam. Yang rumahnya kosong waktu kita ke sana terakhir kali." Ia menegakkan punggung, dan meski tubuhnya berteriak minta tidur, sesuatu di matanya sudah bergerak ke depan, ke langkah berikutnya. "Selama anaknya masih jadi sandera ketakutan, Darto tidak akan pernah bicara. Jadi kalau kita mau saksi hidup pertama kita..."
Ponsel Bu Hartati berdering di dalam rumah. Lalu perempuan tua itu muncul di ambang pintu, wajahnya berubah, ponsel masih menempel di telinga.
"Alika." Suaranya pelan, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Alika langsung berdiri. "Ini dari kenalan saya di lapas tempat Pram ditahan dulu sebagai—" Ia berhenti, mendengarkan. "Bukan. Tunggu. Ini soal Pram. Magang firma yang kau suruh menjauh." Ia menurunkan ponsel sedikit. "Dia mengirim pesan ke kenalan saya. Katanya dia punya sesuatu yang harus sampai ke tanganmu. Sebuah file. Jadwal pertemuan. Dan dia bilang dia tidak punya banyak waktu sebelum mereka tahu dia masih membantumu."
Alika dan Reno saling pandang. Lelah di tubuh mereka belum hilang, tapi tidak ada lagi yang namanya istirahat penuh dalam perang ini. Selalu ada satu pintu lagi yang terbuka tepat ketika yang lain tertutup.
"Pram," kata Alika pelan, menatap pagi yang sudah penuh. "Anak itu seharusnya sudah aman menjauh." Ia mengepalkan tangan. "Apa lagi yang dia temukan?"