Anak Darto akhirnya berhasil dipindahkan ke tempat aman.
Itu pekerjaan berminggu-minggu, dilakukan diam-diam lewat jaringan Bu Hartati dan kontak Reno. Bukan penyelamatan dramatis — tidak ada baku tembak, tidak ada pengejaran. Hanya pengaturan sabar yang memindahkan seorang pemuda dari kota tempat ia diawasi ke sebuah tempat di mana mata-mata konspirasi tak lagi bisa menjangkaunya, dengan perlindungan yang nyata, bukan janji kosong. Begitu Darto tahu anaknya benar-benar aman — bukan sekadar dijanjikan, tapi ia bisa mendengar suara anaknya di telepon dari tempat yang tak diketahui musuh — sesuatu pecah dalam diri lelaki tua itu.
Alika menemuinya di rumah aman kedua, di pinggiran kota, jauh dari sedan hitam. Darto duduk di kursi kayu, tangannya yang keriput terlipat di pangkuan, dan untuk pertama kalinya sejak Alika mengenalnya, mata satpam tua itu tidak penuh ketakutan. Hanya lelah. Lelah yang dalam, lelah tujuh tahun.
"Saya minta maaf," kata Darto, suaranya parau. "Kepada anak itu. Bima. Saya tidak pernah berani mengucapkan namanya selama tujuh tahun. Mereka bilang ke saya, kalau saya cabut kesaksian, anak saya yang kena. Jadi saya tutup mulut. Saya biarkan orang yang tidak bersalah membusuk di penjara, demi anak saya." Air mata menggenang di kelopak matanya yang berkerut. "Setiap malam saya berdoa supaya bisa lupa. Tapi tidak pernah bisa."
Alika duduk di hadapannya, tidak terburu-buru. Ia sudah belajar dari ayahnya — yang dulu hakim, yang dulu mengajarinya bahwa kebenaran tak bisa diperas keluar, hanya bisa diberi ruang untuk muncul sendiri. "Pak Darto," katanya lembut, "Bapak tidak perlu meminta maaf pada saya. Bapak korban, sama seperti Bima. Mereka memakai cinta Bapak pada anak Bapak sebagai senjata. Itu bukan kelemahan Bapak. Itu kejahatan mereka."
Darto menunduk lama. Lalu ia bertanya, dengan suara yang nyaris tak terdengar, "Anak saya benar-benar aman?"
"Benar-benar aman," kata Alika. "Bukan janji. Sudah nyata. Bapak sudah mendengar suaranya sendiri kemarin."
Lelaki tua itu menarik napas panjang, seolah menghirup udara untuk pertama kali setelah tujuh tahun tenggelam. Lalu ia mengangkat kepalanya, dan di matanya ada sesuatu yang baru — bukan keberanian yang gagah, tapi ketetapan yang tenang, ketetapan seseorang yang akhirnya bisa menanggung beban yang benar.
"Saya mau bersaksi," katanya. "Saya mau ceritakan semuanya. Yang sebenarnya saya lihat malam itu."
Bu Hartati, yang duduk di sudut, mengeluarkan map dan pena. Tapi ia tidak terburu-buru menyodorkannya. "Pak Darto," katanya dengan kelembutan seorang advokat tua yang sudah ribuan kali menemani saksi ketakutan, "apa yang akan Bapak tandatangani ini berat. Begitu Bapak menandatangani, tidak ada jalan kembali. Mereka akan menyerang Bapak, mencoba meruntuhkan kredibilitas Bapak, mungkin mengungkit bahwa Bapak pernah berbohong di BAP. Bapak yakin?"
Darto menatap perempuan tua itu, lalu menatap Alika, lalu menatap tangannya sendiri. "Bu," katanya pelan, "saya sudah tua. Saya sudah hidup dengan dusta selama tujuh tahun, dan dusta itu lebih berat dari penjara mana pun. Saya tidak takut mereka menyerang saya. Saya cuma takut mati sebelum membereskan ini." Ia mengulurkan tangan meminta pena. "Berikan saya kertasnya."
Lalu, dengan suara yang menguat seiring ia berbicara, Darto menceritakan malam 4 Maret 2019. Bagaimana ia bertugas jaga di lobi apartemen. Bagaimana sekitar pukul tujuh hingga delapan malam — bukan jam sepuluh, jauh sebelum Bima Satria pernah terlihat — ia melihat seorang pria masuk. Pria yang lebih tinggi dari rata-rata, berjaket gelap, langkahnya cepat dan tenang seperti orang yang tahu persis ke mana ia pergi. Wajahnya tertutup sebagian, tapi posturnya — tinggi, tegap — jelas berbeda dari Bima Satria yang pendek dan kurus, yang baru ia lihat masuk berjam-jam kemudian.
"Pria tinggi itu naik ke lantai apartemen Pak Hendrawan," kata Darto. "Tidak sampai setengah jam, dia turun lagi, lebih cepat. Saya ingat karena dia tidak menunggu lift, dia ambil tangga darurat. Waktu itu saya tidak tahu apa-apa. Baru tiga minggu kemudian, orang-orang itu datang, kasih saya foto Bima, dan bilang — 'Ini orang yang kamu lihat. Bukan yang lain. Mengerti?' Mereka kasih amplop. Mereka sebut nama anak saya. Mereka tahu sekolahnya, jam pulangnya, semuanya."
Pena bergetar di tangan Darto, tapi ia menandatangani. Pernyataan resmi, di hadapan Bu Hartati sebagai advokat, bahwa kesaksiannya yang lama adalah palsu, ditekan dan dibeli; bahwa pria yang ia lihat di waktu pembunuhan sebenarnya tinggi dan berbeda dari Bima Satria; bahwa BAP-nya diubah di bawah ancaman terhadap nyawa anaknya.
Tinta basah itu adalah retakan terbesar di tembok konspirasi sejak tujuh tahun lalu.
Alika menatap tanda tangan itu, dan untuk sesaat ia tidak bisa bicara. Selama ini ia punya dokumen — visum, rekaman, memo. Semua kuat, tapi semua benda mati. Sekarang ia punya sesuatu yang berbeda: seorang manusia hidup yang melihat dengan matanya sendiri, dan berani mengucapkannya.
"Pak Darto," akhirnya Alika berkata, suaranya tercekat. "Bapak baru saja menyelamatkan hidup seseorang yang Bapak kira sudah Bapak rusak."
Darto tersenyum kecil, lelah dan lega bersamaan. "Bukan, Nak. Saya cuma berhenti merusaknya."
Di luar, hujan turun pelan di pinggiran kota. Bu Hartati menyalin pernyataan itu, menyimpan aslinya di tempat aman. Reno sudah merencanakan bagaimana melindungi Darto setelah ini — perlindungan saksi yang sungguh-sungguh, bukan sekadar kata. Dan Alika duduk diam, menggenggam salinan pernyataan itu, merasakan beratnya bukan sebagai kertas, tapi sebagai jiwa yang akhirnya tegak.