dr. Saraswati Dewanti, empat puluh satu tahun, meninggal dalam kecelakaan mobil tunggal di sebuah tikungan sepi di kawasan Puncak pada dini hari 12 Agustus 2019. Mobilnya menabrak pembatas jalan dan terjun ke jurang. Tidak ada saksi. Kasus ditutup sebagai kecelakaan murni.
Lima bulan setelah ia menandatangani visum Hendrawan Kusuma. Tiga bulan setelah Bima divonis.
Alika menatap layar sampai matanya perih. Ia tidak percaya pada kebetulan, dan deretan kebetulan dalam perkara ini sudah terlalu panjang untuk masih disebut kebetulan. Hendrawan, yang menemukan kecurangan proyek, mati. Bima, yang tahu kecurangan itu, dipenjara. dr. Saraswati, yang menulis detail forensik yang membantah dakwaan, mati. Darto, yang melihat pria lain, dibungkam dengan rumah dan ancaman.
Ada tangan yang membersihkan setiap ujung benang yang longgar. Tangan yang sabar, metodis, dan tidak segan membunuh.
Esoknya, Alika menemui Reno lagi dan menceritakan temuannya. Reno mendengarkan dengan wajah yang semakin suram.
"dr. Saraswati," kata Reno akhirnya. "Aku kenal nama itu. Dia dulu cukup vokal soal independensi forensik. Sering ribut dengan polisi yang menekan kesimpulan visum. Kalau dia menulis bahwa pelaku kidal, dia tidak akan mau menariknya hanya karena tekanan."
"Jadi mereka menghilangkannya."
"Mungkin." Reno mengetuk meja. "Tapi mungkin juga dia meninggalkan sesuatu. Dokter seperti dia biasanya menyimpan salinan. Catatan pribadi, draf, sesuatu di luar berkas resmi. Orang yang takut kesimpulannya diubah akan mengamankan bukti aslinya."
Harapan kecil itu menyala lagi. "Bagaimana cara kita menemukannya?"
"Keluarganya. Saraswati punya seorang adik. Aku akan coba lacak."
Sementara Reno mengejar jejak itu, Alika kembali ke firma dengan perasaan yang semakin terbelah. Setiap kali Yusuf Wibawa lewat di koridor dan tersenyum menyapanya, perutnya mengejang. Ia bekerja di sarang serigala, dan serigala itu sudah mengendus dirinya.
Sore itu, Reza, partner yang menugaskannya digitalisasi, memanggilnya ke ruangan.
"Alika, duduk." Reza tersenyum, tapi ada ketegangan di balik keramahannya. "Kami sangat menghargai kerjamu. Karena itu, kami ingin memberimu kesempatan besar. Firma membuka kantor cabang di Surabaya. Kami ingin kau memimpin tim associate di sana. Promosi. Naik gaji dua kali lipat."
Alika menatapnya. Tawaran itu menggiurkan, dan justru karena itulah ia tahu ini bukan tawaran. Ini deportasi. Singkirkan dia ke kota lain, jauh dari Cipinang, jauh dari Darto, jauh dari berkas.
"Itu kehormatan besar, Pak," kata Alika hati-hati. "Boleh saya pikirkan dulu? Ada beberapa urusan keluarga di Jakarta."
Senyum Reza menyempit. "Tentu. Tapi jangan terlalu lama. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali." Ia menjeda. "Dan Alika? Kadang yang terbaik untuk karier kita adalah menerima jalan yang sudah dibukakan, bukan menggali jalan sendiri yang penuh lubang."
Pesan itu jelas. Mereka tahu. Mereka semua tahu.
Malam itu, saat Alika pulang ke apartemennya, ia merasakan ada yang salah sebelum ia membuka pintu. Gembok pintu sedikit tergores, ada bekas cungkilan tipis di kusen. Ia mendorong pintu perlahan.
Apartemennya tampak rapi. Terlalu rapi. Tapi laptopnya, yang selalu ia tinggalkan terbuka di meja, kini tertutup. Tumpukan berkas fotokopi yang ia atur berdasarkan tanggal sudah teracak urutannya. Seseorang sudah masuk, menggeledah, dan tidak terlalu peduli menyembunyikan jejaknya.
Pesan kedua: kami bisa masuk ke mana pun kau bersembunyi.
Alika berdiri di tengah apartemennya yang terjamah orang asing, dan untuk pertama kalinya rasa takut benar-benar mencengkeramnya. Bukan takut kehilangan pekerjaan. Takut kehilangan nyawa.
Ia meraih ponsel dan menelepon Reno. Tangannya gemetar.
"Reno. Mereka masuk ke apartemenku."
Hening sejenak di ujung sana. Lalu suara Reno, tenang tapi mendesak. "Jangan tidur di sana malam ini. Kemas yang penting, simpan semua salinan di cloud, kirim duplikat ke email cadangan. Sekarang." Ia menarik napas. "Dan Alika? Aku menemukan adik Saraswati. Dia mau bertemu. Besok pagi. Dia bilang kakaknya memang meninggalkan sesuatu untuknya sebelum meninggal. Sebuah amplop. Dengan pesan: buka ini hanya jika terjadi sesuatu padaku."
Alika menggenggam ponsel erat-erat, jantung berdegup di antara teror dan secercah harapan.
"Amplop apa?"
"Aku tidak tahu. Tapi adiknya bilang satu hal." Reno menjeda. "Saraswati menulis di amplop itu: untuk orang yang akhirnya bertanya."