Author POV
"sayang, aku mau kasih kamu kabar baik!" ucap Lisa dengan bangga seraya menggoyang-goyangkan tubuh seseorang yang masih ingin terlelap dalam tidurnya.
"eenghh. kenapa sih Lis? masih ngantuk" kata Bagas dengan lenguhan malasnya.
"aku hamil. liat nih!" dengan senang Lisa menunjukkan alat tes kehamilan tersebut kepada Bagas yang masih tertidur.
ya mereka melakukannya diluar nikah dan sama sama saling mencintai.
Bagas yang merupakan kekasihnya sedari dibangku sekolah sudah menjamahnya terlampau sering.
Lisa pun jengah karena belum juga dinikahkan, akhirnya Lisa melepas alat kontrasepsi dan tidak lagi minum pil pencegah kehamilan.
benar saja. Lisa hamil, sejujurnya Lisa takut kalau perbuatan kejinya ini ketahuan orangtuanya.
tapi bagaimana lagi, sudah 12tahun pacaran. dan sampai saat ini Bagas hanya meniduri nya tanpa niatan untuk menikahinya.
"apa? hamil! kamu bego ya! kita belom nikah t***l! terus kalo kamu hamil, aku harus gimana?" bentak Bagas yang kaget dengan kondisi pacarnya itu.
"tapi gas, semalam bilang kalo aku kenapa-kenapa kamu bakal tanggungjawab" elak Lisa dengan suara yang sendu.
"aku cuma basa basi karena ku fikir ga mungkin kamu hamil kalo kamu minum pil itu! jadi udah berapa lama kamu ga minum? sengaja kan?!" cercah Bagas dengan sarkas. kesal berbalut emosi yang memuncak, Bagas menarik nya ke luar apartemen.
"gas, mau kemana?" berontak Lisa yang tak kalah kuat dari Bagas.
"dokter kandungan Lis." singkat Bagas, tapi mampu membuat Lisa terkulai lemas.
"gas, kamu yakin? aku ini Lisa gas! kamu ga ada niat nikah sama aku?" ucap Lisa disela deras nya air mata.
iba. Bagas menangkup raut wajah kesedihan Lisa dengan kedua tangannya. tangan yang selalu membelai nya, kini terasa sangat ngilu untuk sekedar disentuhnya.
"bukannya aku gamau nikah sama kamu Lisa. kamu tau kan? kerjaan ku belum stabil, aku bisa traktir kamu ini itu cuma dari hasil project gabungan temen-temen aja. ngertiin dong Lis. kamu fikir aku gamau nikah sama kamu? aku cuma berharap punya anak disaat kita udah resmi menikah dan aku sudah siap lahir batin untuk nafkahin kamu" jelas Bagas memberi pengertian.
"iya gas, aku tau. tapi rezeki itu ada aja jalannya gas. kamu ga usah takut" jelas lisa masih ingin menyudutkan Bagas hingga bertanggung jawab
"sudahlah Lis. aku masih cape semalem baru kelar project, kamu tau sendiri kan aku pulang jam berapa? mending kamu renungin dulu harus bagaimana. lihat masa depan kita juga nantinya akan seperti apa ya Lisa, aku disini apapun keputusan kamu" ucap Bagas dengan berusaha mengubah mindset Lisa.
_
Lisa POV
perkataan dan tindakan Bagas hari ini sangat bertolak dari ucapannya yang lalu lalu. ucapannya yang begitu romantis, manis, penuh tanggungjawab.
ternyata, 12tahun berpacaran dengan nya tidak membuat ku mengenal siapa Bagas. ku pikir ini karena ucapan-ucapan yang selama ini menutupi kebusukan nya.
sudah sering Bagas melakukannya denganku. hingga aku menganggap Bagas sebagai pasangan sehidup semati ku.
aku, Lisa Syafiena usia 24tahun. berpacaran dengan Bagas sejak kelas 1 SMA. mulai melakukan hubungan terlarang ini sejak kelas 2 SMA.
aku anak perempuan pertama di keluarga Syarif.
sejujurnya aku tidak pernah terfikir untuk melakukan hal hal yang dilarang. tapi Bagas berkata kalau dia akan mempertanggung jawabkan bila terjadi sesuatu padaku. dan aku percaya ucapan bullshit nya.
dan inilah aku sekarang, berada disituasi yang sangat tidak menguntungkan.
hm, hamil diluar nikah dan tidak tahu harus berbuat apa
aku ditinggalkan Bagas di apartemen milik Bagas. Bagas? entahlah!
seharian aku menangis meratapi bagaimana kelak hidupku. aku takut orangtua ku tau
_
1 Minggu setelah kabar kehamilanku didengar Bagas, Bagas tidak lagi datang ke apartemen bahkan memberiku kabar lewat chat saja tidak. kemana lagi dirimu gas?
dan sejak saat itu, aku juga tidak pernah berlalu lalang diluar apartemen, karena untuk kebutuhan makan dan lainnya sudah tersedia di dalam kulkas apartemen Bagas. karena memang kami sering menghabiskan waktu diapartemen Bagas untuk sekedar melepas penat maupun gairah.
Bagas memang menganggur, tapi dia sering dapat project yang berkaitan dengan IT.
cklek
munculnya seseorang yang ku yakini adalah Bagas, akupun duduk ditepi kasur menunggu ungkapan-ungkapan yang akan dilontarkan nya.
"sayang, sudah makan?" tanya nya dengan lembut seperti sebelum insiden itu.
"sudah, tapi aku mau makan nasi uduk jengkol Bu Rahayu" ungkapku tertunduk.
"pasti bawaan baby ya?" tanya nya yang hanya ku tanggapi dengan anggukan kepala.
"yaudah ayo kalau mau nasi uduk, kamu prepare." katanya menyanggupi permintaan ku dipagi hari. dia melangkah mendekati ku yang berada di tepi kasur.
sungguh, bau parfum nya menyeruak di hidungku hingga lambungku terasa terkoyak.
"hueek" lariku kearah kamar mandi. ya, inilah morningsickness pertama ku. aku bersyukur kalau Bagas sudah dapat menerimaku.
dan aku senang, morningsickness pertama ku bisa didampingi Bagas.
derap kaki yang kutahu pasti kalau Bagas menghampiri ku, mendekat dengan ku yang sedang berada didekat closet duduk untuk membuang apa yang sudah terkoyak tadi dilambungku.
dengan lihai tangannya menyentuh tengkuk kepala ku dengan sedikit gerakan memijat. lembut.
tapi lagi-lagi baunya sangat tidak sedap untukku hirup.
"huekkk, hueekkk..." kata ku sembari menekan flush closet.
"ganti baju gas, bau banget bajunya" kata ku yang masih berhadapan dengan closet duduk.
ku dengar derit pintu dibuka. ya, Bagas menuruti perkataan ku. dia mengganti bajunya dengan baju baru yang diambilnya dari dalam lemari dan tanpa parfume.
'beginikah kalau kami kelak menikah?' batinku membayangkan hal-hal manis nan romantis.
masih dalam kondisi ku dikamar mandi, Bagas menghampiriku lagi. memijat tengkuk ku.
"sudah Lis? yuk pindah" kata Bagas yang menurutku suaranya sangat lembut.
dituntunnya aku ke kasur untuk kembali merebahkan tulang-tulang kaki ku.
"aku order aplikasi aja ya nasi uduk nya?" tanya Bagas yang menurutku lebih kepada pernyataan.
"aku mau makan ditempat gas, yang dideket bunderan itu. kangen banget" kata ku sambil menjelaskan.
"nyusahin aja" dengus Bagas yang masih terdengar jelas ditelinga ku.
'kenapa? sampai tadi, dia masih bersikap lembut. kenapa sekarang begini?' pertanyaan yang menggerogoti hatiku masih saja menjalar dan berkeliling dipikiran ku.
"ga usah deh, aku udah ga kepingin.. pengen makan mie aja. kamu mau sekalian gas? ku buatin" kata ku seraya berjalan ke arah pantry sejajar dengan kasur yang hanya di sekat oleh meja bar.
"aneh banget sih. tadi minta makan sekarang gamau. ribet banget, udah pake jaket juga Lis" kata Bagas yang kulihat sedang melepas kembali jaket yang baru digunakannya dan dilemparnya ke sembarang arah.
ku yakini diriku, mungkin akulah yang terlalu sensitif.
_
Bagas POV
baru saja ku langkahkan kaki ku menuju Lisa yang duduk ditepi ranjang. sungguh, aku jijik melihatnya yang berlagak sok lemah.
terlebih dia memaksakan diri berakting mual didepan ku. baiklah, ku layani permainan menjijikan ini.
tapi permainan itu bukan berangsur membaik, Lisa semakin ngelunjak! meminta ku berganti pakaian lah. mengajak makan ditempat lah dan tiba-tiba tidak tertarik untuk makan ditempat.
apa sih maunya. ribet banget!
sebetulnya aku sudah malas, sikapnya yang sok lemah bikin aku malas untuk sekedar membahas rencana ku.
ya, aku masih tetap pada teguhku untuk memintanya menggugurkan janin yang dikandungnya itu.
apasih dia? sengaja sekali untuk tidak meminum pil pencegah kehamilan.
aku masih saja bingung dengan niatnya itu. ya memang, aku sangat ingin menikahinya. tapi kelak! dan tidak dalam kondisi dia hamil.
aneh-aneh saja pikirannya. mau dibawa kemana muka ku! kerja saja belum, bagaimana aku menghidupi 2 orang bahkan 3 denganku.
untuk diriku sendiri saja sulit. masih harus memaksakan diri untuk ngasih empan 2 orang lagi. dia pikir cari kerja itu mudah? lihatlah! sekarang banyak S1 dengan keunggulan masing-masing saja sampai saat ini belum dapat pekerjaan.
apalagi aku, yang masih mengenyam bangku kuliah. kerja masih belum pasti. harusnya dia berpikir tentang anaknya dimasa depan.
apakah bisa, dengan kondisiku sekarang ini, memberikan yang terbaik untuk anaknya?
kulihat dia masih saja berkutat di dapur untuk membuat mie.
sebetulnya aku gak tega karena bagaimanapun, anak yang dikandungnya tetaplah anakku. karena ku yakin dia tidak akan pernah bermain dibelakang ku.
saat aku masih berkutat dengan ponsel ku, ternyata Lisa sudah selesai memasak dan sedang berjalan mendekati ku.
brakk!! prang!
"astaga!" kaget bukan main, tepat didekat ku piring yang berisikan mie jatuh berceceran.
ku lihat Lisa yang tanpa sepatah kata pun langsung berjongkok memunguti serpihan-serpihan beling.
"apaan sih Lis? kenapa bisa jatuh" kesal ku yang tetap dibuat lembut.
aku pun hanya diam duduk ditepi kasur tanpa ingin membantu nya.