Karin menegakkan punggungnya di sofa, mencoba menghalau pikiran yang tiba-tiba berlarian entah ke mana. "Astaghfirullah" batinnya. Sudah puluhan tahun dikuburnya rapat-rapat, kenapa malah mau bangkit lagi malam ini, di depan anaknya sendiri pula.
"Ibu kenapa, ko bengong?" Anka menyodorkan segelas teh hangat, lalu duduk melipat kaki di karpet, bersandar ke lutut ibunya.
"Engga, Ibu cuma capek. Keliling mal sendirian tuh ternyata ga enak" Karin tertawa kecil, mengalihkan.
"Makanya, lain kali bilang dulu kalau mau ke Jakarta, biar Anka ambil cuti" Anka merajuk, bibirnya maju beberapa senti.
"Ya kalau bilang, namanya bukan kejutan dong" Karin mengusap kepala anaknya yang sudah dilepas hijabnya.
Mereka tertawa bersama. Karin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Apartemen ini tidak besar, tapi rapi. Ada rak buku kecil, ada baju kerja yang sudah digantung disiapkan untuk besok pagi, ada dispenser dan rice cooker mungil di sudut dapur. Diam-diam Karin bersyukur, anaknya tetap terurus walaupun jauh dari dirinya.
"Ngka" ucap Karin, suaranya berubah pelan.
"Iya Bu"
"Di Kantor kamu, kalau ada yang tanya-tanya soal Ibu, kamu jawab apa?"
Anka mengerutkan dahinya. "Ya ga ada yang tanya Bu. Emang kenapa sih?"
Karin menggeleng. "Engga, cuma nanya aja"
Sebetulnya ada yang mengganjal di hatinya sejak siang tadi. Suara Siska, resepsionis yang manis itu, masih terngiang jelas di telinganya. "Namanya Ibu Karin, Pak, ternyata ibunya anak baru yang cantik itu." Kepada siapa gadis itu melapor, dan kenapa harus dilaporkan? Karin bukan siapa-siapa di gedung itu, hanya seorang Ibu yang menunggu anaknya di lobby.
Dan wajah itu. Laki-laki yang dikawal beberapa orang, yang hampir saja ditabraknya di depan lift. Wajah yang mengingatkannya pada seseorang, tapi entah siapa. Karin memaksa dirinya berhenti mengingat. "Sudah Karin, kamu cuma kecapean" ucapnya pada dirinya sendiri.
"Bu" panggil Anka lagi.
"Iya sayang"
"Ibu nginep sampai kapan?"
"Besok pagi Ibu balik. Nenek kamu lusa medical check up, Ibu yang nganter"
Wajah Anka langsung berubah. "Nenek sakit apa Bu?"
"Ga sakit apa-apa, cuma kontrol rutin. Namanya juga sudah sepuh, harus dicek berkala" Karin menenangkan anaknya. "Nanti Ibu kabari hasilnya"
"Salam ya Bu buat Nenek. Bilangin Anka kangen banget"
"Insya Allah"
Selepas isya mereka masih mengobrol panjang. Tentang teman-teman satu angkatan program MT nya, tentang atasan langsung Anka yang katanya cerewet tapi baik, tentang bahan presentasi yang harus diperbaiki dan ditambahkan. Karin lebih banyak mendengarkan daripada bicara, sesekali saja menimpali. Dalam hatinya Karin menghitung, betapa cepat waktu berlalu. Rasanya baru kemarin anak ini digendongnya ke posyandu, sekarang sudah bicara soal visi misi Perusahaan.
"Presentasinya kapan?" tanya Karin.
"Belum ditentukan Bu, nanti dikabari sekretarisnya" jawab Anka sambil membuka laptopnya, memperlihatkan berkas yang sedang dikerjakannya.
Karin melihat sekilas, tapi pikirannya tidak di situ. "Pa Novan itu, sudah lama ya jadi CEO di situ?"
"Ga tau juga Bu, Anka kan anak baru" Anka menjawab santai, matanya masih di layar. "Kenapa Ibu jadi penasaran sama Pa Novan?"
"Engga, Ibu cuma pengen tau tempat kerja anak Ibu dipimpin sama orang seperti apa" ucap Karin sambil tersenyum, padahal jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Anka mengangkat bahu. "Yang jelas orangnya rapi banget Bu, ngomongnya pelan tapi semua orang diam kalau dia masuk ruangan"
Karin tidak bertanya lagi. Ada sesuatu yang menahan lidahnya, entah apa.
"Ngka, satu pesan Ibu" ucap Karin sebelum mereka masuk kamar.
"Apa Bu?"
"Kerja yang bener, jaga sikap. Sama siapapun, sama atasan sekalipun, tetap sopan tapi jaga jarak. Kamu ngerti kan maksud Ibu?"
Anka mengangguk sambil nyengir. "Ibu tuh kaya lagi ngasih pembekalan pegawai baru"
"Ibu serius, Ngka"
"Iya Bu, Anka ngerti" Anka memeluk ibunya erat sekali. "Ibu ga usah khawatir, Anka bisa jaga diri"
Karin membalas pelukan itu, lebih erat lagi. Justru karena dirinya pernah muda, pernah percaya pada orang, dan pernah hancur berkeping-keping, Karin tidak bisa tidak khawatir. Tapi kalimat itu tidak pernah dan tidak akan pernah keluar dari mulutnya.
Malam itu Karin sulit sekali memejamkan matanya. Anka sudah tertidur di sampingnya, napasnya teratur, tangannya masih memegangi ujung lengan baju ibunya, kebiasaan sejak kecil yang sampai sekarang tidak pernah hilang. Karin memandangi wajah anaknya lama sekali, sampai matanya panas.
"Ya Allah, cukup saya saja yang tahu" bisiknya. "Jangan sampai anak ini tahu dengan cara yang salah"
Setetes air matanya jatuh, cepat-cepat dihapusnya dengan punggung tangan. Karin bangun perlahan agar anaknya tidak terbangun, mengambil air wudhu, lalu menghabiskan sepertiga malamnya di atas sajadah. Hanya di situ Karin berani menangis sepuasnya. Selebihnya, di depan siapapun, Karin adalah perempuan yang tegar.
Pagi harinya, setelah sarapan yang dimasak Karin sendiri, mereka berpisah di lobby apartemen. Anka berangkat ke kantor dengan mata yang masih sembab, karena sebetulnya tidak mau ditinggal.
"Jangan nangis, malu diliat satpam" ucap Karin sambil merapikan hijab anaknya.
"Anka ga nangis Bu, kelilipan"
"Iya, kelilipan" Karin tertawa lalu mencium kening anaknya lama. "Sudah sana, nanti telat"
Perjalanan kembali ke Bandung terasa lebih sepi dari biasanya. Karin memilih duduk di dekat jendela, memandangi jalan tol yang membentang panjang tanpa ujung. Berkali-kali pikirannya kembali ke lobby kantor anaknya. Ke suara Siska, ke wajah laki-laki yang dikawal itu, ke nama Pa Novan yang disebut dua kali dalam satu hari.
"Ah sudahlah" ucapnya lirih, sampai penumpang di sebelahnya menoleh sebentar.
Karin sampai di rumah menjelang sore. Bu Ratih, ibunya, sedang duduk di kursi teras, sepertinya sudah menunggu sejak tadi.
"Sudah sampai, Neng?" tanya ibunya.
"Sudah Bu. Ibu sudah minum obat?" Karin mencium tangan ibunya lalu duduk di sampingnya.
"Sudah. Anka gimana, sehat?"
"Sehat Bu. Salam katanya, kangen sama Nenek"
Bu Ratih tersenyum, matanya berkaca-kaca. Karin tahu betul apa yang sedang berputar di kepala ibunya. Perempuan tua itu ikut menanggung semuanya sejak awal, ikut menahan malu, ikut membesarkan Anka, dan tidak pernah sekalipun, satu kalipun, menyalahkan anak perempuannya.
"Besok jadi kan Bu ke rumah sakitnya?" Karin mengalihkan pembicaraan.
"Jadi, Neng. Tapi kamu kan kerja"
"Ibu ga usah mikirin kantor. Karin yang atur" ucapnya sambil menepuk lembut punggung tangan ibunya.
Malam itu juga Karin menghubungi Bosnya. Wardiyasa mengangkat setelah dering ketiga.
"Assalamualaikum Pak, maaf mengganggu malam-malam"
"Waalaikumsalam. Ga ganggu Rin, ada apa?"
"Besok saya izin datang siang Pak. Mau nganter Ibu medical check up dulu"
"Oh, ya sudah, ga apa-apa. Salam buat ibumu ya, semoga sehat terus" Wardiyasa menjawab tanpa berpikir panjang.
"Terima kasih banyak Pak"
Karin menutup teleponnya dengan lega. Wardiyasa memang bukan atasan biasa. Sejak dulu Karin diperlakukan lebih dari sekedar staf, dan Karin membalasnya dengan kerja yang tidak pernah setengah-setengah.
Pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat. Karin mengemudi pelan-pelan, sesekali melirik ibunya yang duduk di sebelahnya sambil memangku tas kain berisi kartu berobat dan sebotol air minum.
Antrian pendaftaran sudah panjang ketika mereka sampai. Karin mengurus semuanya, dari pendaftaran, pengambilan sampel darah, sampai menunggu giliran dipanggil dokter. Bu Ratih hanya duduk manis di kursi tunggu, sesekali menepuk paha anaknya.
"Neng, maaf ya ngerepotin"
"Ibu ngomong apa sih. Ini mah kewajiban Karin"
Hampir dua jam menunggu, akhirnya nama ibunya dipanggil juga. Di dalam ruangan, dokter membaca hasil pemeriksaan sambil sesekali bertanya ini itu. Tekanan darahnya sedikit di atas normal tapi masih terkendali, gula darahnya bagus, yang lainnya aman. Obat dilanjutkan, kontrol lagi bulan depan.
"Alhamdulillah" ucap Karin. Benar-benar lega rasanya.
Saat mengantri obat di apotek, handphone Karin bergetar. Nama Rissa tertera di layarnya.
"Iya Ris"
"Bu, maaf mengganggu. Bapak dari tadi mencari Ibu" suara Rissa terdengar hati-hati.
"Bapak kan sudah tahu saya izin nganter Ibu saya"
"Iya Bu, tapi Bapak minta Ibu segera ke kantor kalau sudah selesai dari rumah sakit"
Karin menghela napas panjang sekali. "Iya Ris, nanti saya ke sana"
Karin memandangi layar handphonenya yang sudah kembali gelap. Rasanya baru saja mau bernapas sedikit.
Setelah obat diterima, Karin mengantar ibunya pulang, memastikan beliau makan siang dan minum obat, baru kemudian berganti pakaian kerja seadanya. Sempat dipandanginya sofa ruang tamu, ingin sekali merebahkan badan barang lima belas menit saja.
Tapi handphonenya bergetar lagi.
"Bu, Bapak nanya lagi" hanya itu isi pesan Rissa.
Karin memejamkan matanya sebentar, menarik napas, lalu meraih kunci mobilnya.