Nama ku Gladis, aku seorang wanita yang hidup di tahun era 2000. Hidup di zaman yang serba canggih tidak akan ada orang yang percaya degan kata mimpi bisa terwujud degan hanya kita tertidur.
Tapi itulah yang akan terjadi jika aku bermimpi.
"Gladis... malam ini ayo kita keluar untuk merayakan hari kelulusan kita" sebuah tuntutan keluar dari mulut seorang wanita cantik yang berada di seberang gawean yang saat ini terhubung degan Gladis. " Ok ... Kita mau kemana merayakannya Hanny". Hanny adalah saudara sekaligus sahabat Gladis, mereka saling mengenal saat menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama.
"Ayo kita kumpul degan yang lain di tempat biasa kita makan". Pernyataan Hanny yang mengingatkan Gladis di tempat yang biasa mereka kunjungi, yaitu warung bakso tempat yang selalu di kunjungi Gladis dan sahabat-sahabatnya yang lain. "Boleh deh...jam 7 aja kita kumpulnya ia, biar tidak kemalaman pulangnya" Gladis yang bersemangat menjawab usul dari Hanny, karena lokasi tempat biasa mereka ngumpul tidak jauh dari rumah mereka berdua.
"Ok deh, jam 7 kita harus Uda sampai ia" Hanny mengingatkannya degan tegas kepada Gladis, karena mengingat sahabatnya yang satu ini sangat hobby terlambat kalau di suruh ngumpul bareng. "Ia..ia, tenang aja... aku ga bakalan telat ko!". Gladis yang menjawab degan senyum-senyum sendiri.
Saat malam telah tiba dan jarum jam sudah hampir menunjukan pukul 7 malam, Gladis yang masih terhanyut di depan lemari putih yang cukup besar yang berisi jejeran baju kesayangannya. Gladis bingung harus gunakan baju yang mana, karena pada dasarnya Gladis adalah wanita introvert yang selalu menghubungkan pakaian yang sesuai degan acara atau kegiatannya. Gladis tipikal wanita yang tidak suka pakaian full corak atau terlalu bermodel, dia lebih senang pakaian kasual dan nyaman degan penampilannya. Itu sebabnya sampai 1 jam Gladis hanya masih terdiam mengkonsep kan pakainya di depan lemari.
Saat asik berfikir tiba-tiba suara bunyi nada dering dari HP Gladis membuyarkan pemikirannya. "Gladis .... Di mana kau, ini udah jam setengah delapan...kau pasti masih di depan lemari mu kan" teriakan Hanny yang membuat Gladis refleks melihat jam di dinding kamarnya. "Astaga maaf Han aku ga sadar uda jam 7, bentar...bentar. Aku nyampe 15 menit lagi ia" Gladis yang sibuk dan buru-buru mengambil baju dan berlari kecil sambil menenteng gawean nya di atas telinganya sambil mendengar omelan sahabatnya itu.
Lima belas menit berlalu dan Gladis juga sudah sampai di tempat janjian mereka "kau tuh ia selalu aja telat" omelan Reza yang sedikit kesal karena kebiasaan sahabatnya ini ga juga menghilang walau sudah 3 tahun mereka berteman. Gladis yang cengengesan mendengar ocehan Reza "iss... kau tuh ia, ganteng-ganteng bawel. Kaya bapak-bapak partus aja kaya tu" Gladis yang senang melihat Reza marah langsung di buat membarah degan celotehannya. Mendengar itu Reza kesal namun tidak membalas Gladis, karena Reza tidak ingin bertengkar di hari spesial mereka.
Di warung bakso hanya ada beberapa pengunjung dan satu gang mereka, Gladis mempunyai 7 sahabat yang merupakan gang yang paling solid. Terdiri dari Gladis, Hanny, Reza, Tari, Bayu, Glean, Theo. Dari enam teman Gladis hanya dia yang merasa dirinya aneh. Saat mereka berkumpul. Mereka tertawa, berbicara panjang lebar, cerita tentang planning ke depan, mau lanjut keman dan tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Di saat terakhir mereka berpisah mereka saling berpelukan "Jagan lupa saling kasih kabar ia". Theo yang memeluk ku sambil menyembunyikan mata yang sudah berembun, " Ok ...kau juga ia" .
Saat sampai rumah, aku merasa lelah dan mencoba berbaring sembari tidur. Namun aku tidak bisa tidur, karena besok libur aku menyibukkan diri mencari hal yang menyenangkan yakni menonton film favorit ku ia itu animasi.
Tanpa terasa jam susah menunjukan pukul satu pagi dan mataku mulai mengantuk, segerah ku matikan Hp ku karena saat menonton anime aku hanya menggunakan gawean ku saja. Karena mata terasa sangat mengantuk aku segerah tidur. Di dalam tidur aku melihat, aku sedang berjalan degan sahabat-sahabatku menuju sebuah rumah. Saat menuju ke sana, jalan yang kami lalui sedikit membingungkan ku.
Aku melihat di tidur ku. Kami melalui jalan setapak, disebelah sisi kanan dan kiri jalan terhampar banyak pohon coklat dan pemakaman umum, di ujung jalan kami masih mendaki gundukan tanah timbunan yang cukup tinggi hingga kami sampai diatas gundukan itu. Saat kami sampai aku langsung melihat banyak orang berkumpul memasuki sebuah rumah yang tidak terlalu besar degan bangunan setengah beton, samar-samar aku mendengar tangisan dan ricuh suara orang bercerita. Aku dan beberapa sahabatku mencoba masuk lebih dalam ke rumah tersebut, hingga di tengah-tengah rumah aku melihat sebuah peti mati, saat aku melihat lebih dekat. Betapa terkejutnya aku bahwa yang terbaring di peti mati itu adalah seorang anak laki-laki yang seusia degan ku. Karena syok aku terdiam dan di dalam diam aku menyebut nama anak itu. "Teddy"
Aku diam cukup lama, aku hanya melihat di tengah-tengah rumah itu orang-orang menagis yang begitu piluh. Aku ga tahu harus berbuat apa, aku hanya melihat sekeliling beberapa kali melihat wajahnya.
Setelah beberapa saat aku melihat sekeliling dimana peti mati itu terletak, aku melihat di sekitaran ku orang semakin ramai berkumpul di depan jenazah Teddy. Mereka menangis pilu bahkan ada sampai teriak histeris degan wajah yang hancur karena tidak terima degan kepergian Teddy.
Teddy adalah teman sekelas ku dan ke 6 sahabatku yang lain, dia adalah anak yang tidak begitu suka degan keramaian. Namun Teddy adalah anak yang juga cukup aktif di pergaulan sosial, Teddy lebih senang pergi degan 3 temanya yang selalu lengket bagai ulat keket.
Walau begitu, Teddy juga banyak dikenal oleh anak-anak sekolah Harapan Cemerlang yang merupakan sekolah tempat aku dan sahabat-sahabat serta Teddy untuk menimbah ilmu, Teddy terkenal sebagai anak yang bertubuh tinggi serta kulit yang putih dan senyum yang manis, dia anak sopan dan baik serta cuek. Itulah mengapa banyak yang mengenal Teddy.
Saat aku mulai merasa sesak degan semua yang kulihat dan kurasakan, beberapa saat aku tersentak bagun dari tempat tidur degan kedua mataku terbuka lebar, aku coba mencerna semua yang telah terjadi di mimpiku dan berusaha mensugesti diri ku bahwa itu hanya mimpi. Sesaat setelah aku terbangun, aku hanya duduk di ujung kasur dan malas untuk beranjak dari sana karena mimpiku membuat perasaanku gelisah dan kacau. Kemudian aku mendengar suara gedoran pintu rumahku yang di ketuk degan keras oleh seorang wanita. Ya ga salah lagi Hanny datang pagi-pagi sekitar pukul 9 degan menggedor pintu rumahku degan sangar kuat, seketika aku tersentak dan beranjak dari tempat tidurku.
Saat berjalan menuju pintu depan, aku sedikit berteriak "tunggu... tunggu Han, ga sabaran banget si kau?" Aku yang masih muka bantal membuka pintu karena gedoran itu tak kunjung ada tanda-tanda berhenti. Lalu aku buru-buru membuka pintu, saat pintu terbuka aku melihat Hanny dan Tari yang berdiri degan wajah yang sedikit kesal dan cemas. "Kau lama banget buka pintunya? Kenapa telepon ku ga kau angkat" pertanyaan berbuntut dari Hanny yang sangat kesal dan disusul wajah Tari yang juga merasa jengkel, "sorry aku baru bangun" aku yang kebingungan degan sikap mereka lalu bertanya "emang kelian kenapa sih" aku yang makin bingung degan mereka sambil menaikan satu alis mata ku.
"Kau ga ada lihat di akun sekolah?" Tari yang bertanya degan keburu, aku yang semakin bingung segerah ingin mengambil HP dari kamarku. Namun tangan Hanny menahan ku " kau tahu ga, tadi ada info dari sekolah melalui akun sekolah bahwa teman sekelas kita ada yang meninggal". Aku yang mendengar hal itu rasanya jantungku ingin copot, "siapa" degan terbata-bata aku coba bertanya pada kedua sahabatku itu serta memastikan bahwa mimpiku yang baru ku alami tidak benar terjadi.
"Teddy yang meninggal Dis" penyataan yang di sampaikan oleh Hanny membuat aku semakin shok dan terdiam degan lama, badan ku seketika lemas dan hampir membuatku terjatuh. Melihat aku hampir terjatuh, kedua sahabatku memegang kedua tangan ku dan membawaku duduk di kursi tengah yang berada persis didepan TV yang tidak terlalu besar rumahku.
Walau keadaan lemas aku coba bertanya "kapan Teddy meninggal Han", Hanny yang sedikit bingung melihat ku tiba-tiba shok menjawab degan mencoba menceritakan kejadiannya " dia meninggal jam 1 pagi Dis, dia meninggal karena sakit yang tiba-tiba. Jadi kita ayo melayat" mendengar penjelasan Hanny makin membuat Gladis shok, karena saat Gladis tertidur jam 1 pagi dan dia langsung bermimpi. Gladis mencoba menghubungkan mimpi dan kejadian yang saat ini terjadi.
Melihat Gladis yang hanya diam Tari mengulurkan tangannya dan melambaikan di wajah Gladis "kau kenapa...dari tadi ko kau kelihatan shok?"