Setiap sekolah punya legenda.
Fakta. Itu adalah bumbu penyedap wajib di antara tumpukan rumus Fisika yang bikin pusing dan hafalan Sejarah yang bikin ngantuk. Legenda adalah apa yang membuat koridor sekolah yang kaku jadi terasa... hidup.
SMA Kencana, sebuah bangunan semi-Belanda yang catnya mulai menguning di beberapa bagian, tidak terkecuali.
Legenda di SMA Kencana itu ada dua.
Pertama, adalah legenda standar, yang ngebosenin, yang kayaknya franchise di setiap sekolah negeri di Indonesia: hantu kuntilanak di pohon beringin belakang, dekat tempat parkir guru.
Anak-anak kelas sepuluh yang baru masuk mungkin masih merinding. Tapi bagi siswa senior, hantu itu udah jadi bahan becandaan. "Eh, lo dipanggil Mbak Kunti," adalah cara lain untuk bilang, "Muka lo kucel amat." Legenda ini standar. Nggak kreatif. Cuma modal seram.
Lalu... ada legenda yang kedua.
Ini bukan soal hantu. Ini lebih nyata, lebih berbekas, dan dampaknya... jauh lebih destruktif. Ini adalah legenda yang sebenarnya. Legenda yang bikin guru-guru senior, yang seharusnya sudah kebal dengan segala jenis kenakalan, masih suka istigfar lirih kalau namanya disebut.
Mereka tidak punya nama asli. Tidak ada yang tahu dia cowok atau cewek, kelas IPA atau IPS, atau bahkan... dia itu satu orang atau sekumpulan jenius sinting.
Satu-satunya identitas yang mereka punya adalah sebuah gelar: Sang Domba Emas.
Tiga tahun lalu, Sang Domba Emas adalah "Bencana Jenius" yang beroperasi di SMA Kencana.
Jenius, karena aksi mereka tidak pernah bisa dibuktikan secara hukum tata tertib. Selalu lolos. Selalu bersih. Tidak ada sidik jari, tidak ada saksi mata. Hanya ada hasil akhir yang spektakuler.
Bencana, karena hasil akhir itu selalu sukses bikin satu sekolah gempar.
Kalau kamu tidak percaya, tanya saja tiga saksi hidup yang masih trauma sampai hari ini.
Saksi pertama adalah Pak Agus, satpam tergalak se-Kencana, yang kumisnya bakal bergetar kalau ada siswa pakai sepatu non-hitam. Pak Agus, sampai detik ini, bersumpah di depan komite sekolah bahwa Sang Domba Emas-lah yang melakukan "p*********n Lobi".
Bayangkan ini: Senin pagi, 7.01. Hari kunjungan kehormatan dari Dinas Pendidikan. Lobi sekolah yang biasanya wangi pembersih lantai beraroma pinus, hari itu... amis. Amis yang brutal, yang menusuk hidung.
Pak Agus, yang pertama kali membukakan pintu untuk rombongan Dinas, mengira itu bau selokan mampet.
Sampai dia melihat ke kolam lobi.
Kolam lobi yang seharusnya berisi ikan-ikan koi oranye-putih yang anggun dan mahal,pagi itu berubah jadi arena pertarungan battle royale. Isinya? Seratus ekor lele dumbo ukuran bantal guling, saling tumpang tindih, berdesakan, dan melompat-lompat buas.
Rombongan Dinas Pendidikan batal masuk. Pak Agus kena skors dua minggu. Dan SMA Kencana batal dapat dana renovasi lobi.
Saksi kedua adalah Bu Leni, guru Fisika killer yang legendaris karena tidak pernah tersenyum. Trauma Bu Leni bersifat audio. Tiga tahun lalu, entah bagaimana caranya, Sang Domba Emas berhasil menyinkronkan speaker internal di ruang guru dengan sistem bel sekolah.
Tidak ada yang sadar. Sampai bel istirahat pertama berbunyi.
Tepat jam 10.15, ketika Bu Leni sedang serius-seriusnya menjelaskan rumus inersia di mejanya, speaker di pojok ruang guru tiba-tiba... meledak.
"...Maju mundur, maju mundur, cantik... Cantik..."
Lagu "Maju Mundur Cantik" dari Syahrini berputar dengan volume maksimal di seluruh penjuru ruang guru. Para guru panik, mengira ada serangan teroris audio. Bu Leni, yang paling dekat dengan sumber suara, sampai harus masuk UKS karena trauma kuping dan reputasi. Konon, butuh tiga hari bagi teknisi sekolah untuk menemukan dari mana hack itu berasal.
Tapi mahakarya Sang Domba Emas, yang akhirnya membuat dewan guru mengambil keputusan bulat, adalah "Insiden Piyama".
Saksi ketiganya adalah Pak Kepala Sekolah sendiri.
Pagi itu, Pak Kepsek, pria yang selalu kaku dengan kemeja batiknya, berjalan dari parkiran menuju gerbang sekolah. Tapi hari itu, dia tidak pakai batik.
Dia memakai setelan piyama satin berwarna biru langit, lengkap dengan motif bulan-bintang, dan sandal jepit hotel.
Seluruh sekolah, siswa, guru, ibu kantin, Pak Agus, berhenti. Hening. Ratusan pasang mata menatap Pak Kepsek yang berjalan dengan percaya diri melintasi lapangan upacara.
Usut punya usut, "memo rahasia" berlogo OSIS palsu beredar H-1, mengabarkan bahwa sekolah akan merayakan "Hari Kesehatan Tidur Internasional" dan mewajibkan semua orang, terutama guru, memakai piyama.
Tentu saja, memo itu prank. Dan tentu saja, yang kena... hanya Pak Kepsek.
Harga dirinya hancur.
Minggu itu juga,rapat darurat digelar. Sang Domba Emas resmi didropout secara in absentia, karena sampai akhir pun, tidak ada yang tahu siapa pelakunya.
Puff. Sang Domba Emas lenyap. Sekolah kembali tenang. Normal. Kaku. Ngebosenin.
Tapi di sinilah ceritanya jadi mahal. Di sinilah legenda yang sebenarnya dimulai.
Sebelum dia lenyap,Sang Domba Emas tidak cuma pergi. Dia meninggalkan gosip terakhir. Dia meninggalkan... Warisan.
Bukan warisan harta. Bukan surat pengakuan dosa.
Ini adalah sebuah"Kitab Suci Kekacauan". Sebuah master plan.
Gosipnya, itu adalah sebuah flash drive kecil. Sebuah daftar berisi semua misi paling gila, paling absurd, dan paling legendaris yang belum sempat ia selesaikan sebelum tertangkap. Sebuah bucket list kenakalan tingkat dewa.
Dan gosipnya, warisan itu disembunyikan.
Bukan di perpustakaan.Bukan di ruang OSIS yang steril.
Bukan di kolam lele yang kini sudah diisi ikan koi lagi.
Warisan itu disembunyikan di tempat paling terkutuk, paling terlupakan, paling tidak mungkin dijangkau oleh akal sehat siswa normal.
Di gudang belakang.Di sebelah toilet guru yang mampet.
Di dalam loker tua paling pojok.Loker yang gelap, berkarat, bau debu, dan konon jadi sarang kecoa albino. (Ya... yang itu. Loker yang selalu kalian lewati sambil nahan napas).
Selama tiga tahun, itu cuma jadi dongeng pengantar tidur. Cuma tawaan di kantin. Cerita seru buat nakut-nakutin anak kelas sepuluh.
Nggak ada yang cukup gila untuk mengeceknya.
...Sampai hari ini.
Sampai takdir, yang hari itu lagi bad mood dan isengnya kumat, mempertemukan dua kutub yang salah,di waktu yang salah, untuk membersihkan tempat yang paling salah.
Satu adalah Bima. Si Kaku. Cowok yang hidupnya adalah soal logika, aturan, dan peringkat kelas.
Satu lagi adalah Kika.Si Iseng. Cewek yang hidupnya adalah soal insting, keisengan, dan "seberapa parah gue bisa bikin guru BK stres hari ini?"
Hari ini, Pak Guru Piket yang lagi sensi menyatukan mereka dalam hukuman: "Kalian berdua! Bersihkan gudang loker sampai kinclong!"
Legenda itu... akan segera punya pewaris.