Aku tidak langsung menjawab. Cangkir teh yang belum tandas itu kuputar-putar pelan di atas meja kecil pondok. Uapnya sudah habis, tinggal hangat yang tersisa di dinding porselen. Sementara itu, dari celah pintu yang tidak ditutup rapat oleh Arshi, terdengar langkah dua adik iparku yang menjauh sambil bercanda.
“Nil!” Arga memanggil sekali lagi. Kali ini sambil menarik kursi rotan agar duduknya lebih dekat denganku. “Aku tanya serius. Kamu mau pulang sekarang?”
“Kalau aku bilang mau, kamu bakal bilang apa ke Arshi?”
“Aku bilang istriku sakit.”
“Aku gak sakit, Ga.”
“Ya, sudah. Aku bilang istriku takut.”
Sontak aku tergelak kecil, meski hatiku sama sekali tidak sedang ingin tertawa. Kulihat wajah suamiku tetap serius, tanpa segurat pun canda di sana. Kernyit di pangkal hidung bangirnya belum juga hilang sejak dia keluar dari kamar mandi tadi pagi.
“Aku gak mau ngerusak bulan madu mereka, Ga. Tammi baru sebulan jadi istri Arshi. Kapan lagi mereka bisa sesenang itu?”
“Bulan madu bisa diulang. Istriku cuma satu.”
“Ga ….”
“Aku serius, Danila.”
Kuletakkan cangkir, lalu meraih tangannya yang terkepal di atas paha. Kubuka jemarinya satu per satu sampai telapak itu terbuka, kemudian menyelipkan jemariku di sana. Kebiasaan kecil yang selalu berhasil membuat lelakiku menurunkan tensinya.
“Begini aja,” kataku. “Kita ikut acara hari ini. Cuma hari ini. Kalau setelah memancing gurita aku masih ngerasa seperti tadi pagi, kita pulang. Aku janji gak akan menahan-nahan lagi.”
Sebentar Arga menatapku lekat, seperti sedang menimbang seberapa besar kemungkinan aku mengingkari janji itu.
“Dengan satu syarat,” sahutnya akhirnya.
“Apa?”
“Aku gak akan lepas dari kamu. Ke mana pun. Termasuk kalau kamu mau ke belakang, aku tunggu di depan pintunya.”
“Ih, Arga!”
“Aku serius, Nil.” Ditariknya tanganku hingga punggung telapakku menempel di bibirnya. “Tadi pagi kamu teriak dan aku gak dengar. Aku gak mau kejadian itu terulang.”
Ada sesuatu yang menghangat di dadaku mendengar pengakuan itu. Ternyata dia menyimpan rasa bersalah, meski sepanjang pagi mulutnya sibuk menyangkal apa yang aku ceritakan. Demikianlah Arga. Mulutnya bisa berkata lain, tetapi perbuatannya tidak pernah bisa berbohong.
Kutandaskan sisa teh dalam cangkir, kemudian kami menyusul Arshi dan Tammi ke restoran pondok.
Sarapan pagi itu berlangsung ramai. Arshi tidak berhenti membicarakan gurita, seakan dirinya telah menjadi nelayan berpengalaman semalam saja. Tammi menimpali dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Arga terpingkal berkali-kali. Aku ikut tersenyum, meski nasi goreng di piringku hanya berkurang seperempatnya. Bau amis yang menguar dari arah dapur restoran membuat perutku bergejolak dengan cara yang tidak biasa.
Selesai sarapan, Bang Samsul datang menjemput. Bersamanya ada dua anak lelaki penduduk pulau. Yang lebih besar berkulit legam dengan bahu bidang, kira-kira dua puluh tahun umurnya. Yang lebih kecil bertubuh kurus dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
“Ini Husin, sama adiknya, Firdaus,” Bang Samsul memperkenalkan. “Perahu bapaknya yang paling bagus di sini, Bang. Mesinnya jarang rewel.”
“Kalau mancing gurita, sama mereka aja, Bang. Anak-anak ini yang paling tahu karangnya,” lanjutnya lagi.
Arshi langsung menyambut dua bersaudara itu dengan gaya akrabnya yang khas. Sementara Arga, meski tetap ramah, kulihat perhatiannya terbagi. Tangannya sama sekali tidak lepas dari tanganku sejak turun dari restoran hingga menjejak lantai perahu.
“Bapaknya sendiri gak ikut, Bang?” tanya Arga di sepanjang jalan menuju dermaga kecil.
“Lagi melaut dari semalam, Bang. Nanti sore juga pulang,” sahut Bang Samsul. “Kalau soal laut sini, gak ada yang lebih tahu dari Pak Royan. Orang-orang di sini percaya beliau salah satu yang dititipi menjaga kawasan ini.”
“Dititipi menjaga?” Arshi mengulang dengan alis terangkat.
“Ah, biasalah, Bang. Cerita orang kampung,” sahut Bang Samsul sambil tergelak, tetapi tawanya berhenti terlalu cepat untuk sebuah lelucon.
Aku menoleh pada Arga. Suamiku tidak berkomentar apa pun, hanya rahangnya yang sekejap terlihat mengeras.
Laut pagi itu tenang. Terlalu tenang, malah. Airnya berwarna hijau kebiruan dan begitu bening sehingga karang di dasarnya bisa terlihat jelas dari atas perahu. Firdaus menerangkan cara memancing gurita dengan umpan yang diikat lalu digoyang-goyang di antara batu karang. Tammi memekik senang ketika umpannya disambar untuk pertama kali, meski akhirnya lepas juga.
“Kak Nila, gak mau coba?” tanya Firdaus sambil menyodorkan tali pancing padaku.
Aku menggeleng sambil tersenyum. Tanganku terlalu dingin untuk memegang apa pun. Padahal, matahari sudah cukup tinggi dan panasnya menusuk kulit.
Saat itulah aku menghidu bau itu lagi. Bau busuk yang bukan bau amis laut, bukan pula bau ikan yang membusuk. Bau yang membuat bulu kudukku meremang seketika. Refleks aku menoleh ke haluan perahu.
Dia ada di sana.
Sosok berbaju hitam dengan ponco yang menutupi kepala. Duduk di ujung haluan, menghadap laut, membelakangi kami semua. Persis seperti penumpang yang kulihat di perahu bermotor saat pertama kali datang ke pulau ini. Tidak bergerak, tidak berbuat apa-apa, hanya duduk seakan ikut menikmati perjalanan.
Kuremas lengan Arga.
“Kenapa, Sayang?” tanyanya cepat sambil ikut menoleh ke arah pandanganku.
“Gak apa-apa,” sahutku terguguk.
Aneh. Kali ini rasa takutku tidak sebesar tadi pagi. Sosok itu tidak menyeringai, tidak menatapku, tidak pula mendekat. Bahkan, ketika Husin melempar sauh kecil dan badan perahu berputar perlahan, sosok itu tetap saja duduk seakan menjadi bagian dari perahu. Aku sempat mengerjapkan mata berkali-kali, berharap dia hanya bayangan tiang atau gulungan jaring yang salah kutafsirkan. Sayangnya, tiap kali mataku terbuka, dia tetap di sana. Utuh dan tenang.
Kusempatkan menyapukan pandangan pada wajah-wajah yang lain. Tammi sedang tertawa sambil menarik talinya. Arshi memotret adik iparnya dengan ponsel. Husin dan Firdaus sibuk memeriksa umpan. Tidak seorang pun dari mereka melirik ke haluan. Jelas sekali, hanya mataku yang bisa menangkapnya.
‘Ya Allah, tolong tutup penglihatanku,’ pintaku dalam hati.
Namun, bau busuk itu tidak juga hilang. Justru semakin lama semakin pekat, sampai lambungku benar-benar tidak sanggup menahannya.
“Ga!” panggilku dengan suara tertahan.
Belum sempat Arga menjawab, isi perutku sudah terlanjur keluar ke sisi perahu. Beruntung tangan suamiku sigap menahan dahiku sekaligus menyibakkan ujung jilbabku agar tidak ikut kotor.
“Kak Nila mabuk laut,” simpul Husin sambil bergegas menggulung tali pancingnya. “Kita balik aja, Bang.”
“Iya, kita balik!” Arga menyahut tanpa berpikir dua kali.
“Yah, baru dapat satu,” sungut Arshi, tetapi tangannya juga sudah ikut membereskan peralatan.
“Bang Arshi!” Tammi mencubit lengan suaminya.
“Iya, iya. Kasihan Danila,” sahut Arshi buru-buru.
Perahu segera diarahkan pulang. Selama perjalanan aku bersandar penuh di dada Arga sambil memejamkan mata. Kudengar Husin berbicara dengan adiknya dalam bahasa daerah yang tidak kumengerti. Nada suaranya rendah, seperti sengaja tidak ingin kami dengar.
Tiba di dermaga kecil, bukan ke pondok kami dibawa, melainkan ke sebuah rumah papan yang berdiri tak seberapa jauh dari bibir pantai.
“Mampir ke rumah kami dulu aja, Bang. Emak saya bisa buatkan air jahe untuk Kak Nila. Kalau mabuk laut, itu obatnya,” ajak Husin.
Arga sempat menoleh padaku, seperti meminta izin. Aku mengangguk lemah. Sebenarnya bukan karena ingin air jahe, tetapi karena kakiku memang belum sanggup berjalan jauh.
Rumah itu kecil, berlantai papan yang licin karena sering diinjak kaki telanjang. Seorang perempuan gempal bersongkok menyambut kami di ambang pintu. Wajahnya bulat dan ramah, tetapi matanya seperti memindai sesuatu ketika pandangannya sampai padaku.
“Ini emak saya, Bu Rohana,” Firdaus memperkenalkan.
“Masya Allah, cantik-cantik semua tamu Emak hari ini,” sambut beliau sambil menggeser kursi. “Bapaknya lagi melaut, jadi Emak sendiri di rumah.”
Kami disuguhi air jahe hangat dan pisang rebus. Ruang tamu rumah itu tidak seberapa luas. Hanya ada satu meja rendah, empat kursi kayu, dan sebuah jam dinding berbentuk hati yang detaknya terdengar terlalu keras untuk ruangan sekecil itu. Di dindingnya tergantung kalender masjid dan sebingkai kaligrafi yang catnya sudah memudar.
Air jahe itu memang menolong. Rasa mual yang tadi mengaduk-aduk lambung berangsur mereda. Rasa dingin di ujung jariku pun perlahan berganti hangat. Untuk beberapa jenak, aku sempat percaya bahwa Arga benar. Aku hanya kelelahan.
Menjelang siang, tanpa diminta, Bu Rohana menghidangkan nasi dengan gulai ikan dan sambal lado hijau. Semua makan dengan lahap, kecuali aku. Tiga suap dan sendokku berhenti.
“Kak Nila, kenapa gak dimakan?” tanya beliau.
“Perut saya masih terasa aneh, Bu.”
Bu Rohana tidak langsung menyahut. Beliau duduk di lantai papan, tepat di depanku, kemudian meraih pergelangan tanganku. Beberapa jenak ditatapnya wajahku tanpa berkedip. Aku sempat rikuh, tetapi tidak berani menarik tangan.
“Kak Nila, kalau sudah magrib jangan keluar rumah, ya. Jangan juga berdiri di depan pintu waktu senja,” pesan beliau tiba-tiba.
Sontak sendok Arga berhenti di udara.
“Terus, satu lagi. Kalau ada yang panggil nama Kak Nila dari belakang, jangan langsung nengok. Jangan dijawab. Baca istigfar dulu,” lanjutnya.
“Kenapa gitu, Bu?” Tammi menyahut lebih dulu, dengan mata yang sudah membeliak.
“Karena yang manggil belum tentu manusia, Kak,” jawab Bu Rohana enteng, seakan sedang menerangkan cara memilih ikan segar di pasar.
Glek! Kutelan saliva ketakutan. Perkataan itu langsung memanggil ingatan tentang bayangan hitam berponco di sudut kamar tadi pagi. Juga tentang tangan yang kukira tangan Arga, tetapi terasa pipih, keras, dan berbentuk segitiga.
“Terus satu lagi, Kak Nila. Jangan pernah menjawab dengan mulut kalau hati Kak Nila belum yakin. Cukup zikir aja dalam hati. Mereka itu senang sama orang yang mau diajak bicara,” tambah beliau.
“Bu, maaf,” Arga menyela dengan nada yang kentara ditahan. “Istri saya cuma kelelahan.”
“Iya, Bang. Mudah-mudahan cuma kelelahan.” Bu Rohana menjawab tanpa terlihat tersinggung sedikit pun, tetapi juga tanpa melepaskan pergelangan tanganku.
Tammi dan Arshi berhenti mengunyah. Ruangan kecil itu mendadak senyap. Yang terdengar hanya bunyi ombak dan derit papan ketika Husin bergeser dari duduknya.
Beberapa jenak kemudian, perempuan gempal itu mengempaskan embusan napasnya. Kemudian beliau melepas tanganku dan menatap Arga bergantian denganku.
“Bang Arga, Kak Nila,” katanya pelan-pelan. “Maaf kalau Emak lancang. Tapi rasanya, Kak Nila ini sedang berbadan dua.”
**WMB**