Beberapa jenak kami hanya duduk bersisian tanpa berkata apa-apa. Kasur pondok berderit pelan setiap kali Arga menggeser posisi duduknya. Aku tahu, lelakiku sedang mencari jalan keluar yang tidak membuatku merasa dipaksa.
“Ga, gimana kalau Arshi aja yang ngurus semuanya?” usulku akhirnya. “Kamar kita sama kamar mereka, `kan, atas nama Arshi juga. Dia yang bayar duluan waktu booking.”
Arga menoleh cepat. “Terus, Tammi?”
“Tammi di sini, sama kita. Bertiga di satu kamar. Aku gak sendiri, kamu gak jauh dari aku, dan Arshi cuma perlu antre sekali untuk dua kamar.”
Sebentar suamiku terdiam, seperti sedang menghitung ada berapa lubang dalam usulku. Setelah itu, kernyit di pangkal hidung bangirnya berangsur hilang.
“Kok, aku gak kepikiran, ya,” gumamnya.
“Karena kamu terlalu panik, Ga.”
“Aku gak panik.”
“Iya, gak panik. Cuma memaksa istrinya antre di lobi dalam keadaan bibirnya biru,” sindirku pelan.
Arga mendengkus. Sejurus tangannya terulur, mengacak pucuk jilbabku yang memang sudah tidak rapi. Setelah itu, dia bangkit dan segera keluar untuk memanggil Arshi dan Tammi.
Rencana itu berjalan lancar. Arshi menerima tugasnya tanpa protes sedikit pun, malah dia sempat berkelakar sebelum berangkat.
“Tenang, Nil! Urusan begini, gue jagonya. Yang penting lu jangan pingsan sebelum gue balik!”
“Bang Arshi, ih!” sungut Tammi sambil memukul lengan suaminya.
Sepeninggal Arshi, kami bertiga menunggu di dalam pondok. Arga duduk di lantai bersandar pada tepi ranjang, tepat di bawah kakiku. Tammi duduk di kursi dekat jendela sambil memilin-milin ujung selendangnya. Beberapa kali dia menoleh ke jendela, kemudian buru-buru mengalihkan pandangan seakan takut menemukan sesuatu di sana.
“Kak Nila,” panggilnya lirih.
“Ya, Tam.”
“Kalau nanti Tammi lihat juga, Tammi harus gimana?”
Pertanyaan itu membuat dadaku terasa ditekan. Aku sendiri tidak punya jawabannya.
“Baca ayat kursi, Tam,” sahutku sekenanya. “Itu aja yang aku tahu.”
“Sudah, jangan bahas itu lagi!” Arga menyela dengan nada tegas. “Kalian berdua sama saja. Bawaannya mikirin yang aneh-aneh terus.”
Tammi mengatupkan bibirnya, tetapi matanya tetap sesekali melirik ke jendela.
Aku sendiri memilih untuk memejamkan mata. Bukan karena mengantuk, melainkan karena tidak ingin melihat apa pun lagi hari ini. Anehnya, dengan mata terpejam justru pendengaranku menjadi lebih tajam. Kudengar bunyi ombak, kudengar bunyi daun kelapa yang bergesekan, kudengar embusan napas Arga yang teratur di bawah kakiku. Lalu, di antara semua bunyi itu, terselip satu bunyi lain.
Bunyi kayu yang berderit pelan, seperti ada yang berjalan di beranda pondok. Padahal, kami bertiga jelas berada di dalam.
Spontan mataku membeliak.
“Ga!” panggilku sambil mencekal bahunya.
Sigap suamiku bangkit dan membuka pintu. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya kursi rotan kosong dan pasir yang terbawa angin sampai ke lantai beranda.
“Gak ada apa-apa, Sayang,” ucapnya sambil menutup pintu kembali.
Aku mengangguk. Namun, sisa bunyi derit itu tetap tertinggal di telingaku sampai Arshi datang.
Arshi kembali kira-kira empat puluh menit kemudian dengan wajah tidak sesumringah saat berangkat. Tas ransel di punggungnya dilempar begitu saja ke lantai.
“Check out beres. Duitnya balik sebagian,” lapornya. “Tapi ada masalah.”
“Masalah apa?” Arga bangkit dari duduknya.
“Perahu ke Mandeh sore ini gak ada, Ga. Yang narik wisatawan udah balik semua dari tadi siang. Yang mau nyeberang sore, katanya harus lewat bakau, dan gak ada yang mau.”
“Kita sewa. Berapa pun.”
“Udah gue tawarin, Ga. Dua kali lipat. Gak ada yang mau.” Arshi mengempaskan tubuhnya di kursi. “Terus, gue udah cek tiket. Penerbangan terakhir dari Minangkabau ke Jakarta hari ini udah lewat. Percuma juga nyampe bandara malam-malam.”
Sontak Arga mengempaskan embusan napasnya keras. Kulihat tonjolan di tengah lehernya bergerak naik lalu turun.
“Terus, kita tidur di mana? Pondok udah kita lepas.”
“Nah, itu dia,” sahut Arshi. “Pondok kita berdua langsung diisi tamu baru. Petugasnya bilang, dari kemarin ada yang nunggu kamar kosong.”
Suasana mendadak senyap. Tammi menunduk. Aku sendiri merasa dadaku semakin sesak. Semua kerumitan ini bermula dari diriku dan hal itu membuat rasa bersalahku bertumpuk.
Keheningan itu pecah oleh ketukan di pintu pondok yang sudah tidak lagi menjadi milik kami.
“Assalamualaikum!”
Arga membuka pintu dengan sikap awas. Ternyata Firdaus yang berdiri di sana, masih dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya.
“Waalaikumussalam. Ada apa, Daus?” sambut Arga.
“Kata Emak, Abang sama Kakak-kakak disuruh nginap di rumah kami aja malam ini,” ucapnya polos. “Emak bilang, bapak saya udah pulang melaut. Emak mau bapak lihat Kak Nila dulu.”
“Lihat gimana maksudnya?” tanya Arshi cepat.
Firdaus mengedikkan bahunya. “Gak tahu, Bang. Emak cuma nyuruh saya jemput.”
Kulihat rahang Arga mengeras. Aku tahu betul dia sedang menahan diri untuk tidak menolak mentah-mentah. Bagi suamiku, semua yang berbau seperti ini sama saja dengan memberi makan sugesti dalam kepalaku.
“Ga,” panggilku pelan.
Dia menoleh.
“Kita gak punya pilihan lain,” lanjutku. “Mau tidur di mana lagi kita malam ini?”
Beberapa jenak lelakiku bergeming. Kemudian tangannya terulur untuk mengambil ransel di lantai.
“Baiklah,” putusnya singkat. “Tapi cuma numpang tidur. Titik.”
Rumah papan itu terlihat berbeda ketika kami tiba menjelang asar. Kali ini ada perahu bermotor yang bersandar di tiang dermaga kecil di depannya, lengkap dengan jaring dan beberapa ember plastik. Bau laut menguar dari sana.
Bu Rohana menyambut kami di ambang pintu dengan sikap yang jauh lebih sibuk dari tadi siang. Beliau langsung menggeser meja dan kursi ruang tamu agar merapat ke dinding.
“Duduk-duduk dulu, Bang, Kak! Bapak lagi mandi,” ucapnya.
Husin datang membawa nampan berisi lima gelas kopi dan sepiring goreng pisang. Firdaus menyusul dengan tikar pandan yang segera digelarnya di lantai papan.
Aku duduk bersandar pada dinding dengan Arga di sampingku. Rasa lemas belum juga hilang, tetapi bau busuk itu tidak terhidu lagi sejak tadi siang. Setidaknya untuk beberapa saat aku bisa bernapas dengan lebih tenang.
“Kak Nila mau kopi apa teh?” tanya Bu Rohana.
“Teh aja, Bu. Kalau ada.”
“Ada, ada. Sebentar, ya.”
Beliau bergegas ke belakang, kemudian kembali dengan segelas teh manis hangat yang uapnya masih mengepul. Diletakkannya gelas itu di lantai papan, tepat di depan lututku.
“Diminum, ya, Kak. Jangan dianggurin,” pesannya.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Sikap perempuan gempal itu mengingatkanku pada ibuku sendiri. Ada rasa hangat yang tumbuh diam-diam, meski aku baru mengenalnya beberapa jam saja.
Sementara itu, Arshi sudah kembali akrab dengan Husin. Keduanya membicarakan mesin perahu dan harga solar dengan begitu bersemangat. Tammi menyimak sambil sesekali tertawa kecil. Untuk beberapa jenak, rumah papan itu terasa seperti rumah biasa dengan tamu-tamu biasa. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang menakutkan.
Tak lama kemudian, seorang lelaki keluar dari ruang belakang. Perawakannya sedang, kulitnya legam terbakar matahari, dengan songkok hitam dan sarung yang dilipat rapi. Umurnya kutaksir sekitar empat puluh tahun. Wajahnya tidak menyeramkan sama sekali, malah teduh. Namun, ada sesuatu pada tatapannya yang membuatku spontan menegakkan punggung.
“Assalamualaikum,” sapanya.
“Waalaikumussalam,” sahut kami serempak.
“Saya Royan. Bapaknya Husin sama Firdaus,” ujarnya sambil menyalami Arga dan Arshi.
Kemudian beliau duduk di kursi kayu tepat di hadapanku. Tidak langsung berkata apa-apa. Hanya menatap ke arahku, lalu ke arah kanan atas kepalaku, kemudian kembali lagi ke wajahku. Persis seperti orang yang sedang membaca tulisan kecil dari jarak yang terlalu jauh.
Glek! Kutelan saliva. Bulu kudukku meremang tanpa bisa kucegah.
“Kak Nila, ya?” tanya beliau akhirnya.
“Iya, Pak,” sahutku dengan suara yang hampir tidak keluar.
“Sejak kapan mulai terasa?”
Pertanyaan itu begitu pendek, tetapi membuat dadaku terasa ditusuk. Beliau tidak bertanya apa yang kualami. Beliau tidak bertanya benar atau tidaknya. Beliau langsung bertanya sejak kapan, seakan sudah tahu bahwa ada sesuatu yang memang sedang terjadi.
“Sejak sampai di pulau ini, Pak,” sahutku jujur.
Pak Royan mengangguk pelan sekali lagi.
“Pak, istri saya cuma kelelahan,” Arga menyela cepat.
“Iya, Bang. Mudah-mudahan begitu,” sahut beliau tanpa membantah, persis seperti jawaban istrinya tadi siang.
Aku mulai mengerti, keluarga ini punya kebiasaan yang sama. Mereka tidak pernah berdebat, tetapi juga tidak pernah menarik kembali apa yang sudah mereka katakan.
Pak Royan mengangguk pelan, lalu mengalihkan pandangannya pada Arga.
“Bang, maaf. Ini rumah kecil dan seadanya. Tapi InsyaAllah, malam ini lebih aman di sini dari pada di pondok.”
“Kenapa lebih aman, Pak?” Arga menyahut cepat, dengan nada yang sudah tidak sanggup lagi disembunyikannya.
“Karena di sini ramai. Ada saya, ada istri saya, ada dua anak saya.” Pak Royan tersenyum. “Yang begituan gak suka tempat yang ramai zikirnya, Bang.”
Kudengar Arga menarik napas panjang. Aku sudah bersiap mendengar sanggahannya. Akan tetapi, di luar dugaan, suamiku hanya diam.
Justru Arshi yang lebih dulu bersuara. Adik iparku itu memang tidak pernah bisa menahan rasa ingin tahunya.
“Pak Royan,” panggilnya sambil mencondongkan tubuh. “Maaf kalau saya lancang, ya, Pak. Tadi Bang Samsul cerita kalau Bapak salah satu yang dititipi untuk jaga kawasan ini.”
Bu Rohana yang sedang menuang kopi sempat berhenti sejenak, lalu meneruskan pekerjaannya seakan tidak mendengar apa-apa.
“Ada-ada saja Samsul itu,” sahut Pak Royan sambil terkekeh kecil.
“Tapi bener, `kan, Pak?” kejar Arshi.
Lelaki itu tidak menjawab. Beliau hanya menyeruput kopinya, kemudian meletakkan gelas kembali di atas meja rendah dengan sangat perlahan, seakan takut menimbulkan bunyi.
Aku dan Arga berpandangan sebentar. Tammi menggeser duduknya lebih rapat ke Arshi. Ruangan kecil itu mendadak terasa penuh oleh sesuatu yang tidak seorang pun berani menyebut namanya.
Akhirnya, Arshi memberanikan diri melontarkan pertanyaan yang sedari tadi menggantung di kepala kami semua.
“Bapak sendiri, sering lihat yang begituan, Pak?”
**WMB**