Hujan di Jakarta tidak pernah turun dengan lembut. Ia menghantam atap seng bengkel "Maju Jaya" seperti ribuan jari-jari kecil yang memukul-mukul dengan kesal, menciptakan irama bising yang sudah menjadi latar belakang kehidupan Jamal selama lima belas tahun terakhir. Aroma oli bekas, bensin, dan karat basah menyengat hidung, sebuah parfum kemiskinan yang telah melekat pada kulitnya hingga ke pori-pori terdalam.
Jamal mengelap keringat dari dahinya dengan kain lap yang sudah berubah warna menjadi hitam pekat. Tangannya yang kasar dan penuh luka bakar kecil bergerak lincah, mengencangkan baut terakhir pada mesin motor bebek tua milik seorang tukang ojek. Motor itu adalah nyawa pemiliknya; jika mati, tidak ada nasi untuk malam itu. Bagi Jamal, setiap mur yang ia kencangkan adalah doa agar rezeki tidak putus.
"Selesai, Pak," kata Jamal, suaranya serak karena asap rokok dan debu besi. Ia menyerahkan kunci kontak kepada si tukang ojek, seorang pria paruh baya dengan wajah lelah yang mirip cerminan dirinya sendiri.
"Makasih, Mas Jamal. Besok kalau ada uang lebih, saya tambahin," jawab si tukang ojek sambil menyalakan mesin. Suara knalpotnya masih agak berisik, tapi cukup untuk membawanya mencari nafkah.
Jamal hanya mengangguk tipis. Ia tahu "besok" itu jarang datang. Di usianya yang ke-41, Jamal telah belajar bahwa janji orang-orang sekelasnya sama rapuhnya dengan cat dinding kontrakan mereka. Ia kembali ke bangku kerjanya, duduk di atas kotak kayu yang goyah, dan menatap hujan di luar pintu bengkel yang terbuka lebar. Air hujan membentuk genangan kotor di jalanan aspal yang retak, mencerminkan langit Jakarta yang abu-abu dan tanpa harapan.
Pikirannya melayang jauh, kembali ke desa pelosok di kaki Gunung Halimun, tempat ia dilahirkan. Desa itu dikelilingi oleh hutan lebat yang oleh warga setempat disebut "Hutan Larangan". Sejak kecil, Jamal diajarkan untuk tidak pernah memasuki area tertentu di hutan itu setelah matahari terbenam. Ada cerita-cerita tentang penunggu, tentang roh-roh leluhur yang marah jika tanah mereka diganggu. Jamal muda, yang ambisius dan ingin melihat dunia, membenci keterbatasan itu. Ia merasa desa itu seperti penjara hijau yang mencekik impiannya.
Dua puluh tiga tahun lalu, dengan modal nekat dan satu tas pakaian seadanya, Jamal meninggalkan desa itu. Ia tidak pamit pada ayahnya, seorang dukun kampung yang diam-diam menentang kepergian anaknya. "Kau akan kembali, Jamal," kata ayahnya saat itu, matanya menatap tajam seolah menembus jiwa. "Darrah kita terikat pada tanah itu. Kau tidak bisa lari dari akar."
Jamal tertawa dalam hati mendengar kenangan itu sekarang. Ia telah membuktikan ayahnya salah. Ia bertahan di kota beton ini. Ia menikah dengan Yuli, gadis kampung halaman yang ikut merantau setahun setelahnya. Mereka memiliki Aisyah, putri pertama yang kini berusia sepuluh tahun dan duduk di kelas empat SD, serta Yudha, bocah laki-laki berusia lima tahun yang masih polos dan penuh energi. Mereka adalah bukti keberhasilannya. Atau setidaknya, itulah yang ingin ia yakini.
Namun, realitas di hadapannya jauh lebih pahit daripada mitos hutan.
Jamal berdiri, meregangkan punggungnya yang mulai sering nyeri. Ia mengambil dompet kulit sintetisnya yang sudah mengelupas. Isinya tipis. Hanya ada beberapa lembar uang ribuan dan satu lembar lima puluh ribu rupiah. Itu harus bertahan sampai gajian minggu depan. Tiga hari lagi.
Ia mematikan lampu bengkel, mengunci gulungan besi, dan berjalan menuju halte busway di bawah guyuran hujan. Ia tidak punya uang untuk ojek online. Jalan kaki dua kilometer ke rumah kontrakan adalah rutinitas harian yang ia terima sebagai bagian dari takdir.
Rumah kontrakan mereka berada di gang sempit di daerah pinggiran Jakarta Timur. Dindingnya tipis, terbuat dari triplek dan gypsum yang sudah mulai lapuk dimakan rayap. Atapnya bocor di tiga titik, mengharuskan Yuli menempatkan ember-ember plastik di berbagai sudut ruangan setiap kali hujan deras turun.
Saat Jamal membuka pintu pagar besi yang berderit, ia mendengar suara tangisan Yudha dari dalam. Hatinya langsung mencelos.
"Ibu! Adik jatuh!" teriak Aisyah, suaranya panik.
Jamal bergegas masuk, melepaskan sandal jepitnya yang basah kuyup. Di ruang tengah yang sempit, Yuli sedang duduk di lantai, memeluk Yudha yang menangis kencang. Lutut kanan Yudha berdarah, kulitnya terkelupas akibat terjatuh dari kursi plastik yang patah.
"Kenapa ini, Li?" tanya Jamal, segera berjongkok di samping istri dan anaknya. Ia memeriksa luka Yudha. Tidak dalam, tapi cukup perih.
"Kursinya patah, Mas. Aku sedang menyuapi Yudha, tiba-tiba kakinya lepas," jelas Yuli, matanya berkaca-kaca. Bukan hanya karena kasihan pada anak, tapi karena frustrasi. "Aku sudah bilang ke pemilik kontrakan minggu lalu untuk memperbaikinya, tapi dia cuma janji-janji. Kita nggak punya uang buat beli kursi baru, Mas."
Jamal menghela napas panjang. Rasa bersalah menjalar di dadanya seperti akar pohon beracun. Ia gagal menyediakan tempat tinggal yang layak. Ia gagal melindungi anaknya dari kursi rusak. Ia gagal menjadi kepala keluarga yang seharusnya bisa memberi kenyamanan.
"Ambilkan obat merah dan kapas, Syah," perintah Jamal pada Aisyah yang berdiri gemetar di dekat pintu kamar.
Aisyah, dengan wajah serius melebihi usianya, segera berlari ke kamar mandi. Gadis kecil itu terlalu cepat dewasa. Jamal sering melihat Aisyah menatap teman-temannya yang memakai sepatu baru atau membawa bekal makanan enak ke sekolah dengan tatapan kosong. Ia tahu putrinya itu merasa malu, meski Aisyah tidak pernah mengeluh.
Sementara Yuli membersihkan luka Yudha, Jamal masuk ke dapur yang lebih mirip gudang kecil. Ia membuka lemari pendingin mini yang dengungannya sudah mulai berat. Isinya: setengah botol saus sambal, dua butir telur, dan sisa nasi kemarin. Tidak ada lauk pauk untuk makan malam.
"Li," panggil Jamal pelan.
Yuli menoleh, wajahnya lelah. Garis-garis halus di sekitar matanya tampak lebih dalam di bawah lampu neon yang berkedip-kedip. "Ya, Mas?"
"Kita masak nasi goreng saja malam ini. Pakai telur dua-duanya," kata Jamal, mencoba terdengar optimis.
Yuli tersenyum tipis, senyuman yang dipaksakan. "Baik, Mas. Yudha suka nasi goreng."
Malam itu, mereka makan bersama di lantai, karena meja makan mereka sudah lama dijual untuk membayar biaya pengobatan Yudha saat demam berdarah tahun lalu. Suasana hening, hanya terdengar suara sendok beradu dengan piring keramik retak dan suara hujan di luar.
"Pak Guru hari ini bertanya kenapa aku belum bayar uang kegiatan sekolah," kata Aisyah tiba-tiba, memecah keheningan. Suaranya kecil, hampir tenggelam oleh suara hujan.
Jamal berhenti mengunyah. Tenggorokannya terasa kering. "Apa jawabanmu, Syah?"
"Aku bilang Papa sedang sibuk mengumpulkan uangnya," jawab Aisyah jujur. Matanya menatap Jamal, penuh kepercayaan buta bahwa ayahnya memang sedang "mengumpulkan", bukan karena tidak punya.
Kalimat itu menusuk d**a Jamal lebih tajam daripada pisau mekanik. Ia menunduk, menatap nasi goreng di piringnya yang tiba-tiba terasa hambar.
"Maafkan Papa, Syah," bisik Jamal, suaranya serak. "Minggu depan... minggu depan pasti Papa bayarkan."
Yuli meletakkan tangannya di atas tangan Jamal. Genggamannya hangat, memberikan sedikit kekuatan. "Jangan terlalu dipikirkan, Mas. Yang penting kesehatan kita baik. Rezeki sudah ada yang mengatur."
Tapi Jamal tahu, keyakinan istrinya itu sedang diuji. Setiap malam, ia mendengar Yuli berdoa lirih di kamar mandi, memohon ampunan dan kelancaran rezeki. Ia tahu Yuli juga takut. Takut sakit, karena tidak punya asuransi kesehatan swasta. Takut diusir dari kontrakan, karena tunggakan sewa sudah menumpuk dua bulan. Takut masa depan anak-anak mereka suram seperti langit Jakarta malam ini.
Setelah makan, Yudha tertidur di pangkuan Yuli. Aisyah membantu membereskan piring-piring kotor dengan sigap. Jamal duduk di beranda depan, menatap hujan yang mulai reda. Ia mengeluarkan ponsel jadulnya, membuka galeri foto. Ada satu foto lama, foto keluarganya saat berkunjung ke kampung halaman lima tahun lalu untuk menghadiri pernikahan sepupu. Di foto itu, mereka terlihat lebih bahagia, lebih ringan. Latar belakangnya adalah pepohonan hijau dan udara yang tampak bersih.
Kenangan itu memicu rasa rindu yang aneh. Rindu pada kesederhanaan desa, meski ia tahu di balik keindahan alam itu tersimpan ketakutan kolektif warga terhadap Hutan Larangan.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Jamal mengerutkan kening. Ia jarang menerima pesan dari nomor asing.
Isi pesannya singkat dan aneh:
"Tanah memanggil darah. Warisan menunggu tuan. Kembali sebelum gerbang tertutup selamanya."
Jamal merasa bulu kuduknya berdiri. Jantungnya berdebar kencang. Ia mengenal gaya bahasa itu. Itu adalah kalimat yang sering diucapkan oleh ayahnya, almarhum Karta, saat melakukan ritual adat. Tapi ayahnya sudah meninggal tiga tahun lalu. Dan nomor ini... bukan nomor siapa pun yang ia kenal.
Ia mencoba menelepon balik nomor tersebut. "Nomor yang Anda tuju tidak aktif atau keluar dari jangkauan."
Jamal menatap layar ponselnya yang retak. Apakah ini sekadar iseng? Atau sesuatu yang lebih gelap? Ia teringat peringatan ayahnya: "Kau akan kembali, Jamal."
Angin malam berhembus kencang, membawa masuk aroma tanah basah dan... sesuatu yang lain. Aroma dupa dan bunga kamboja layu. Aroma yang sangat spesifik, aroma yang hanya ia cium di pemakaman desa atau saat upacara adat di tepi Hutan Larangan.
Jamal menggigil, meski udara tidak terlalu dingin. Ia menutup pintu beranda, menguncinya rapat-rapat, dan bergabung dengan Yuli yang sudah tertidur pulas di kamar sempit mereka. Namun, mata Jamal tetap terbuka, menatap langit-langit yang bocor, sementara pikiran nya dipenuhi oleh bayangan hutan lebat dan pesan misterius yang entah bagaimana telah menemukan jalannya ke tengah hiruk-pikuk kota yang lupa pada akar.
Di kejauhan, guntur menggelegar, seolah menyetujui bahwa nasib telah mulai berputar kembali ke arah asal.
Bersambung...