Gundukan tanah merah di pemakaman pinggiran Jakarta itu masih basah. Aroma tanah kuburan bercampur sisa air mawar menguar di udara siang yang gerah dan lengket. Rani berdiri tegap di samping nisan kayu bertuliskan nama Bima, suaminya yang tewas mengenaskan akibat kecelakaan kerja di proyek bangunan.
Di sekelilingnya, belasan kuli bangunan—rekan kerja Bima—berdiri merapat. Tubuh-tubuh legam berotot itu dibasahi keringat, memancarkan bau jantan yang pekat dan liar. Alih-alih menatap kubur, mata-mata lapar mereka tertuju penuh pada sosok Rani.
Gamis hitam tipis yang dikenakan Rani melekat ketat pada lekuk tubuhnya yang sintal karena keringat yang membasahi kulit kuning langsatnya. Kain yang menerawang itu memperlihatkan dengan jelas garis bra berenda merah tipis yang membingkai sepasang p******a montoknya, lengkap dengan kuncup yang mengeras menonjol akibat hawa panas yang membakar gairahnya.
"Turut berduka ya, Mbak Rani. Kalau butuh sandaran atau bantuan apa saja, hubungi saya."
Tono, mandor proyek yang berbadan tegap dan berbulu d**a lebat, melangkah mendekat. Jemari kasarnya yang kapalan sengaja menyenggol pinggul Rani yang lebar saat dia berpura-pura merapikan tanah makam.
Rani menarik napas dalam, sengaja membusungkan dadanya hingga kain gamisnya semakin meregang. Dia berpura-pura gemetar ketakutan, meski di dalam lubang intimnya mulai terasa hangat dan basah oleh cairan alaminya sendiri.
"Terima kasih, Mas Tono. Bima... Bima pergi terlalu cepat."
"Bima memang bodoh. Punya istri secantik dan sesemok ini malah ditinggal mati."
Seorang kuli muda bermata liar berbisik lancang dari belakang, tatapannya terpaku pada belahan p****t Rani yang tercetak sangat jelas di balik gamis tipisnya saat angin berembus kencang.
Rani menundukkan kepala, membiarkan rambut hitam panjangnya terurai menutupi wajah orientalnya yang merona merah. Sentuhan mata-mata liar itu di sekujur tubuhnya memicu sensasi pamer yang luar biasa. Dia sengaja sedikit membungkuk, memperlihatkan lekuk punggung dan bokongnya yang sintal untuk dinikmati para lelaki haus itu.
"Saya tidak tahu harus bagaimana sekarang tanpa suami..."
"Mbak Rani tenang saja. Kami semua di sini siap menggantikan tugas Bima. Luar dalam."
Tawa rendah penuh nafsu bersahut-sahutan di antara para kuli. Tekanan udara di pemakaman itu mendadak berubah menjadi sangat menyesakkan. Rani merapatkan paha mulusnya, merasakan gesekan celana dalam tipisnya yang kini sudah basah kuyup oleh gairahnya sendiri yang memuncak akibat tontonan gratis yang dia berikan.
"Saya... saya harus pulang sekarang."
Dia melangkah pergi dengan sengaja memperlambat ayunan pinggulnya, membiarkan belasan pasang mata itu melahap setiap jengkal tubuhnya dari belakang hingga dia masuk ke dalam taksi yang menunggu di luar gerbang makam.
Di dalam taksi yang dingin, napas Rani masih memburu. AC mobil yang menerpa gamis basahnya membuat kuncupnya semakin menegang kaku di balik kain. Tiba-tiba, ponsel jadul milik Bima di dalam tasnya bergetar hebat. Layarnya menampilkan nomor yang tidak dikenal.
Rani menekan tombol jawab, menempelkannya ke telinga yang mendadak panas.
"Halo?"
"Ini benar dengan istri Bima? Nyonya Rani?"
Suara berat, serak, dan penuh wibawa dari ujung telepon membuat bulu kuduk Rani meremajang seketika. Suara itu terdengar begitu dominan, seolah memiliki kekuatan untuk menelanjanginya lewat frekuensi udara.
"Iya, saya Rani. Siapa ini?"
"Saya Parto. Penjaga rumah dan perkebunan karet milik orang tua almarhum suami Anda di kaki Gunung Halimun."
Rani membetulkan posisi duduknya, merapatkan kedua pahanya yang masih terasa sensitif dan berdenyut.
"Parto? Tapi Bima tidak pernah bercerita tentang rumah itu. Setahu saya, orang tuanya sudah lama meninggal dan Bima kabur dari rumah sejak muda."
"Bima boleh saja kabur, Nyonya. Tapi darah tetaplah darah. Sekarang, setelah Bima tiada, seluruh tanah, perkebunan karet yang luas, dan rumah besar di kaki gunung ini resmi menjadi milik Anda. Anda adalah ahli waris tunggal kami sekarang."
Desahan halus lolos dari bibir ranum Rani. Bayangan tentang kekayaan dan sebuah rumah terpencil di kaki gunung yang dingin seketika merasuki pikirannya. Namun, ada keraguan yang menusuk dadanya.
"Tapi saya belum pernah ke sana. Tempat itu pasti sangat jauh dan terasing."
"Memang benar, nyonya. Tetapi rumah ini sangat membutuhkan kehadiran penerus untuk mengelolanya..."
Suara serak Parto kembali merayap melalui speaker ponsel, mengirimkan getaran halus yang anehnya langsung merambat turun ke s**********n Rani.
"Semua sudah disiapkan untuk menyambut kedatangan Anda, Nyonya Rani. Kebun karet ini sangat luas, ada beberapa keluarga yang menggantungkan hidup di sini. Dan sekarang, semua itu jadi tanggung jawab Nyonya."
Rani meremas ponsel erat-erat. Jemari kirinya tanpa sadar meraba paha mulusnya sendiri di balik gamis tipis yang masih lembap. Pikirannya berkecamuk hebat. Bima adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki di dunia ini setelah kedua orang tuanya berpulang beberapa tahun lalu. Kini, dia benar-benar sebatang kara di belantara Jakarta yang kejam.
Tawaran warisan ini adalah satu-satunya jalan keluar, namun ada sesuatu yang janggal dari nada bicara Parto—sesuatu yang terdengar begitu gelap, menuntut, dan penuh berahi terselubung.
"Baiklah, Pak Parto. Saya akan ke sana," ujar Rani, suaranya sedikit bergetar oleh kombinasi rasa takut dan gairah liar yang tiba-tiba membakar dadanya. "Jemput saya di stasiun terdekat setelah tiba di sana."
"Tentu, Nyonya. Saya akan menunggu Anda dengan setia," jawab Parto dengan nada rendah yang terdengar seperti sebuah janji sekaligus ancaman.
Sambungan telepon terputus. Rani menyandarkan kepalanya ke kursi taksi yang berguncang pelan. Rasa penasaran yang teramat sangat berbaur dengan ketakutan yang menggelitik dinding rahimnya, membuat cairan hangat kembali merembes keluar membasahi celana dalam tipisnya.
Dia menatap ke luar jendela, membayangkan rimbunnya hutan karet di kaki Gunung Halimun yang sunyi, tempat di mana rahasia gelap suaminya kini tengah menantinya dengan sabar.