Bianca, Icha dan Naena sedang berkumpul di ruang tamu. Icha dan Naena baru saja datang. Sesuai dengan janji mereka hari ini mereka akan membicarakan tentang masalah di Bianca Management. Bianca juga sudah meminta Mina untuk menjaga Aditya selama dia sedang rapat dengan Icha dan Naena.
Bi Inah datang meletakkan pitcher berisi orange juice, tiga gelas kosong, makanan ringan dan juga kue. Bi Inah pun melangkah pergi meninggalkan tiga orang wanita yang terlihat sedang serius. Icha mengeluarkan file dari dalam tasnya. Naena juga membuka laptopnya bersama Bianca.
“Oh iya, pertemuan dengan Ibu Ajeng bagaimana?” Tanya Bianca membuka suara.
“Ibu Ajeng sempat kecewa. Tetapi setelah kita memberikan alasan semuanya. Akhirnya Ibu Ajeng mau mengerti” ucap Naena.
“Syukurlah” ucap Bianca.
“Iya, tetap saja dalam waktu lima hari kita harus menyelesaikan semua kebaya-kebaya ini Bii” ucap Icha.
“Iya Bii. Karena hari senin depan Bu Ajeng mau ke Solo jadi kalau bisa sebelum dia pergi mereka sudah fitting” ucap Naena.
“Kalian sudah tanya Pak No, apa Pak No bisa membuat kebaya-kebaya ini dalam waktu singkat?” Tanya Bianca.
“Belum” ucap Icha.
“Kalau begitu kita coba hubungi Pak No, siapa tahu Pak No bisa membantu kita” ucap Bianca.
“Aku coba hubungi Pak No dulu” ucap Icha.
Bianca menganggukkan kepalanya. Icha pun mengeluarkan ponselnya unntuk menghubungi Pak No. Pak No adalah penjahit langganan yang biasa menjahit kebaya-kebaya rancangan Icha. Kalau untuk memasang payet, Icha sudah mempunyai timnya sendiri.
Sementara Icha menghubungi Pak No, Bianca dan Naena kembali membuat perencanaan biaya untuk membuat kebaya-kebaya ini. Mulai dari pembelian bahan, payet, hingga ongkos jahitnya. Hari ini mereka sudah harus mulai membeli bahan kebaya.
“Bii, Pak No tidak bisa” ucap Icha lemas.
“Kenapa?” Tanya Bianca dan Naena bersamaan karena terkejut.
Hanya Pak No satu-satunya harapan mereka untuk menjahit kebaya. Jahitan Pak No itu termasuk rapi dan bagus. Pak No juga cepat dalam menyelesaikan jahitannya.
“Pak No saat ini sedang pulang kampung. Anaknya mau sunatan di kampung. Dia malah kirim undungan buat kita” ucap Icha.
“Berapa lama Pak No dikampungnya?” Tanya Naena.
“Tidak mungkin dia hanya satu atau dua hari. Tetap saja kalaupun dia pulang, kebaya itu tidak akan selesai sebelum Ibu Ajeng pergi ke Solo” ucap Bianca lemas.
“Lalu bagaimana ini?” Tanya Naena.
“Hem, aku punya kenalan penjahit lain yang pernah mengajak kita kerja sama. Aku akan coba menghubunginya” ucap Icha.
“Ibu Sulis, bukannya jahitannya kurang rapi ya?” Tanya Naena.
“Iya memang, tapi aku coba tanya penjahit yang lain. Aku masih punya tiga kontak penjahit yang jahitannya lumayan” ucap Icha.
“Kamu coba hubungi dulu Cha. Semoga saja bisa” ucap Bianca.
“Iya Bii” ucap Icha.
Icha menghubungi tiga penjahit yang ada dikontaknya. Setelah berbicara panjang lebar Icha menghela nafas panjang. Bianca dan Naena pun menatap Icha dan menunggu kabar dari Icha.
“Bagaimana?” Tanya Bianca.
“Pertama Pak Yanto tidak sanggup jika harus menyelesaikan pesanan kita dalam waktu lima hari. Kedua Ibu Mirna jahitannya rapi tetapi dia minta bayaran dua kali lipat dari biasanya, alasannnya karena butuh ketelitian yang tinggi dan kehati-hatian pada bahan kebaya kita. Di tambah kita minta waktu yang sangat cepat” ucap Icha.
“Ketiga?” tanya Bianca.
“Ketiga Ibu Sulis, aku tidak yakin jahitannya sesuai dengan yang kita inginkan atau tidak. Kita pernah melihat jahitannya, dan kalau kita minta dalam waktu singkat ini aku jadi tambah tidak yakin dengan hasilnya akan memuaskan kita” ucap Icha lemas.
Bianca dan Naena sama-sama menghela nafas. Sekarang bagaimana lagi? Mereka harus mendapatkan penjahit hari ini juga.
“Na, coba hitung biaya kita jadi berapa jika memakai Ibu Mirna?” Tanya Bianca kepada Naena.
“Cha Ibu Mirna meminta biaya berapa untuk satu kebaya?” Tanya Naena kepada Icha.
“Sebentar aku akan kirimkan biaya yang Ibu Mirna berikan” ucap Icha.
Bianca pun bersama Naena segera menghitung perkiraan biaya yang ongkos jahit di Ibu Mirna. Bianca melebarkan matanya tidak percaya ongkos jahita saja bisa mencapai lima puluh juta. Itu hanya untuk sepuluh baju. Dan itu hanya ongkos jahit tanpa pasang payet. Bianca tidak percaya.
“Tidak masuk akal” ucap Bianca.
“Mau bagaimana lagi Bii” ucap Naena.
Bianca mengeluarkan ponselnya dan mengecek jumlah tabungan yang dia miliki dari peninggalan kedua orang tuanya. Bianca bisa membayar semua ongkos jahit di Ibu Mirna dengan uangnya. Walaupun memang tidak masuk akal. Biarlah yang penting kliennya tidak kecewa.
“Cha, kita pakai Ibu Mirna saja. Sudah tidak ada waktu lagi” ucap Bianca.
“Kamu yakin Bii? Ini Ibu Mirna sengaja menaikkan harga, karena dulu kita menolak dia” ucap Icha.
“Kita tidak ada pilihan lain lagi” ucap Bianca.
“Aku telepon Santi, apa dia sudah memesan bahan kebayanya ya” ucap Icha.
Icha pun menelepon anak buahnya yang sudah di tugaskan memesan bahan kebaya. Karena membeli bahan kebayanya di langganan mereka walaupun Icha belum membayar bahan-bahan itu, tetapi barangnya sudah sampai di Bianca Management.
“Semuanya sudah siap dan ada di kantor Bii” ucap Icha.
“Kalau begitu aku dan Icha langsung ke kantor setelah itu kita ke tempat Ibu Mirna” ucap Naena.
Bianca berpikir, sepertinya dia harus ikut datang menemui Ibu Mirna. Setidaknya dia akan mencoba membicarakan keringanan biaya yang tidak masuk akal itu. Tetapi Bianca juga memikirkan larangan Papi dan Gio. Bianca pusing sekali.
Icha dan Naena sudah merapikan barang-barang mereka. Sebelum pergi mereka menyempatkan minum orang juice buatan Bi Inah dan memamakan kue cheese yang Bi Inah sajikan. Bianca menatap dua sahabatnya yang sedang malahap kue.
“Aku akan ikut dengan kalian” ucap Bianca.
“Kamu di rumah saja Bii. Aku dan Naena akan mengurus semua ini” ucap Icha.
“Tidak apa-apa aku juga ingin menemui Ibu Mirna. Kita akan coba meminta keringanan biaya darinya” ucap Bianca.
“Kamu tidak apa-apa meninggalkan Aditya?” Tanya Naena.
“Ada Mina. Aku akan memintanya untuk menjaga Aditya” ucap Bianca.
“Aku ambil tas dan bilang kepada Mina dulu ya” ucap Bianca.
“Okey” ucap Icha.
Bianca bangun dari duduknya dan melangkah ke meninggalakan ruang tamu. Ya, Bianca sudah berpikir dua kali. Dia akan pergi bersama Icha dan Naena, Bianca yakin tidak akan terjadi apa-apa kepada dirinya. Icha dan Naena pasti akan ikut melindunginya kalau terjadi sesuatu dengannya.
Bianca melangkah ke kamar Aditya. Di dalam ranjang box Aditya terlihat sedang melihat dan mendengarkan mainan yang tergantung disana. Bianca pun menghamipirinya lalu mencium Aditya.
“Mama pergi dulu ya sayang. Kamu baik-baik di rumah sama Mba Mina ya” ucap Bianca dengan lembut.
Aditya pun seperti mengerti ucapan Bianca dan dia mengedipkan matanya sambil tersenyum. Melihat wajah Aditya Bianca merasa semua masalahnya seketika hilang. Rasa beban di dalam hati dan pikirannya pun ikut menghilang.
“Bu, maaf tadi saya habis memanaskan s**u Aditya” ucap Mina yang baru saja datang membawa botol s**u Aditya di tangannya.
“Tidak apa-apa. Kamu tolong jaga Aditya lagi ya. Saya mau pergi mengurus pekerjaan sebentar” ucap Bianca.
“Iya Bu” ucap Mina menganggukkan kepalanya.
“Terima kasih” ucap Bianca.
Bianca melangkah keluar dari kamar Aditya. Bianca menuju kamarnya untuk mengambil slim bag-nya. Bianca pun sedikit memoles lipstik berwarna nude di bibirnya agar terlihat lebih fresh. Bianca kembali melangkah ke ruang tamu.
“Ayo kita jalan sebelum siang” ucap Bianca.
“Yuk” ucap Icha dan Naena bersamaan.
“Bi Inah, aku pergi sebentar ya” ucap Bianca kepada Bi Ianh yang sedang menyapu halaman.
“Ibu nanti makan siang di rumah atau di luar?” Tanya Bi Inah.
Bianca melihat jam di tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Tidak mungkin untuk Bianca kembali saat jam makan siang. Kasihan Bi Inah jika sudah menyiapkan makan siang untuknya tetapi Bianca lama kembalinya.
“Saya nanti makan di luar sepertinya Bi. Takut tidak keburu makan siang di rumah. Nanti kalau ada tamu Bibi hubungi saya ya. Oh ya jika ada orang yang tidak di kenal jangan disuruh masuk ya Bi” ucap Bianca.
“Iya Bu” ucap Bi Inah.
“Terima kasih Bi” ucap Bianca.
Bianca naik ke mobil Icha setelah berbicara dengan Bi Inah. Bianca pun juga berpesan kepada Pak Eko saat mobil Icha berada di depan gerbang utama.
“Pak Eko, saya pergi dulu ya. Nanti jika ada tamu lihat dulu kalau tidak di kenal jangan disuruh masuk ya” ucap Bianca.
“Siap Bu” ucap Pak Eko.
Mobil yang di kendarai Icha pun kini sudah berjalan meninggalkan rumah Bianca. Bianca berharap semua masalah di Bianca Management bisa segera terselesaikan.
“Eh, kalian curiga tidak ya. Masa bisa ada tikus di dalam wadrobe kita?” Tanya Icha ketika mobil mereka berhenti di lampu merah.
“Iya juga” ucap Naena.
Bianca menghela nafas. Memang benar dia juga penasaran kenapa bisa ada tikus di dalam wadrobenya. Tetapi dia belum sempat berpikir macam-macam lagi.
“Aku merasa ada yang menyabotase wadrobe kita” ucap Icha lagi.
“Cha, Na kita fokus dengan masalah kebaya kita dulu ya. Aku juga merasa ada yang aneh. Kita akan bicarakan jika urusan jahit kebaya sudah selesai ya” ucap Bianca.
Ya, Bianca tidak ingin menambah beban pikirannya dulu saat ini. Mobil Icha pun kini sudah sampai di Bianca Management. Bianca menarik nafasnya sudah hampir dua bulan dia tidak mendatangi Bianca Management.
“Siang Bu”
“Siang Bu Bianca”
Terdengar sapaan para karyawan Bianca management saat Bianca memasuki lobby utama. Bianca pun membalas salam mereka dengan ramah. Bianca, Icha dan Naena terus melangkah dan menaiki lift menuju lantai 3. Mereka segera ke gudang penyimpanan dan melihat bahan kebaya yang sudah datang.
“Siang Bu” sapa Santi.
“Siang, bahannya sudah di dalam?” Tanya Icha.
“Sudah Bu” ucap Santi.
Icha menganggukkan kepalanya. Mereka semua pun melangkah dan Santi menunjukkan bahan kebaya yang sudah datang. Icha mengeceknya, Bianca juga melihat dan memegang bahan kebayanya. Bianca hafal bahannya ini terasa lebih lembut dari bahan yang kemarin.
“Apa aku tidak salah pegang ya. Ini lebih lembut dari bahan sebelumnya” ucap Bianca.