Pagi ini Icha dan Naena kembali datang ke rumah Bianca. Mereka kemarin sengaja memilih pulang karena tidak ingin mengganggu Bianca. Sebenarnya pagi ini mereka juga tidak ingin menggangu Bianca dulu, tetapi ada pekerjaan yang harus mereka bicarakan.
Bianca yang baru selesai memakaikan baju Aditya melangkah ke ruang tamu untuk menemui dua sahabatnya itu. Bianca pun tersenyum dan senang Icha bersama Naena datang ke rumahnya pagi ini.
“Bii maaf ya kita datang pagi-pagi” ucap Naena.
“Tidak apa-apa. Aku senang kalian berdua datang” ucap Bianca sambil menggendong Aditya.
“Oh ya Bii. Masalah penjahit” ucap Icha.
“Iya kita lupa membicarakannya kemarin. Maaf ya” ucap Bianca yang teringat kemarin moodnya yang tidak bagus.
“Iya tidak apa-apa Bii” ucap Icha.
“Kita kesini mau memberi tahu kamu kalau kemarin kita sudah mendapatkan penjahit kebaya” ucap Icha.
“Alhamdulillah” ucap Bianca senang.
“Tapi Bii, sebelumnya kami mohon maaf karena kemarin tidak berbicara denganmu terlebih dahulu” ucap Naena.
“Tidak apa-apa. Aku senang kita sudah mendapatkan penjahitnya. Oh ya, gimana ceritanya kalian bisa mendapatkan penjahit yang bisa membuat kebaya kita last minute ini?” Tanya Bianca.
“Dari Gio” ucap Icha dengan nada tidak enak.
“Gio?” Tanya Bianca bingung.
“Iya” ucap Icha dan Naena yang menganggukkan kepalanya.
“Jadi benar semua ini adalah perbuatannya” ucap Bianca.
“Bukan Bii” ucap Naena.
Bianca menatap kedua sahabatnya. Sepertinya ada yang Bianca tidak tahu.
Dan benar saja Icha dan Naena pun menceritakan kemarin mereka berdua setelah pergi dari rumah Bianca, lanjut pergi bersama Gio dan Selena. Icha dan Naena memaksa untuk Gio mengaku kalau semua ini adalah perbuatannya.
Awalnya Gio tidak mau membicarakan semuanya kepada Icha dan Naena. Tetapi ketika dua sahabat Bianca itu berjanji akan membantunya untuk bisa berbicara dengan Bianca, akhirnya Gio pun menjelaskan semuanya.
Gio memang melihat Bianca di mall itu saat dia sedang menemani Selena untuk berbelanja. Pada saat dia tahu terjadi kecelakaan di mall itu. Gio melihat Icha dan Naena sudah keluar tanpa Bianca, Gio pun langsung berlari masuk ke dalam mall untuk mencari Bianca.
Lalu saat di IGD, Gio pun baru tahu ternyata Bianca adalah pemilik WO yang diinginkan Selena. Gio juga mendengar jika saat ini Bianca sedang membutuhkan penjahit, oleh sebab itu Gio berencana akan menggunakan penjahit di perusahaannya untuk menjahit semua kebaya-kebaya yang rusak.
Tadinya Gio ingin meminta agar Bianca bisa mempertimbangkan untum pernikahan Selena. Gio akan merubah tempatnya di daerah Cisarua agar masih bisa dijangkau oleh Bianca Management.
“Jadi bagaimana Bii?” Tanya Icha.
“Kalian sudah bicara apa saja kepada mereka?” Tanya balik Bianca.
“Kami tidak bicara apa-apa. Kami hanya bilang akan membicarakannya denganmu dulu” jawab Icha.
Bianca menghela nafasnya. Ya, Cisarua memang masih bisa dijangkau oleh Bianca Management. Tetapi masalahnya kini kliennya adalah Gio. Bianca berpikir apa setelah ini akan kembali datang masalah baru.
“Bii, kalau kamu tidak setuju kami akan menolaknya” ucap Naena yang melihat Bianca terdiam.
“Iya Bii. Kami tidak bermaksud untuk membela Gio. Tapi untuk kali ini kami lihat Gio memang tidak salah” ucap Icha.
“Gio, juga mengatakan jika memang kita tetap tidak bisa. Dia akan mengerti posisinya saat ini. Dan masalah penjahit itu murni dia hanya membantu kita saja” ucap Naena.
Bianca menghela nafas.
“Kita tidak boleh membedakan klien. Kalau memang dia acaranya di Cisarua, kita akan terima” ucap Bianca.
“Terima kasih Bii. Aku akan sampaikan ke Selena” ucap Icha dengan lega.
Setelah berbicara dengan Bianca, Icha dan Naena pun pamit. Mereka akan ke kantor karena masih banyak yang harus mereka kerjakan. Bianca membawa Aditya ke halaman dengan kereta dorongnya.
Bianca duduk di bangku taman dan Aditya terlihat sedang menatap mainannya yang di gantung di kereta dorong. Bianca melihat ponselnya. Lalu dia melihat kontak Willy.
Bianca terkejut ketika melihat kontak Willy kini sudah aktif dan ada laporan bahwa dia kemarin online pada jam sebelas malam. Bianca pun dengan cepat menghubungi kontak Willy tanpa pikir panjang.
Dan benar saja ada nada sambung yang terdengar Bianca pun sangat merasa lega sekali. Semoga Willy baik-baik saja dan bisa segera kembali ke rumah. Hati Bianca tambah senang saat mendengar suara suaminya di seberang sana.
“Halo” terdengar suara bass Willy.
“Will, aku minta maaf. Kamu dimana?” Tanya Bianca dengan hati yang sangat senang.
“Aku akan pulang ke rumah besok” ucap Willy dengan nada dingin.
“Will, kenapa besok? Tidak bisakah hari ini kamu pulang. Aku dan Aditya sangat merindukanmu” ucap Bianca dengan sedikit kecewa karena Willy tidak bisa kembali hari ini.
“Kamu sekarang sudah mulai membangkang ya” ucap Willy dengan nada menyindir.
“Apa Willy masih marah kepadaku?” Batin Bianca bertanya.
“Will, bagaimana kalau aku yang menjemputmu. Kamu dimana aku akan datang kesana?” Tanya Bianca.
“Kamu dengar ucapanku bukan Bianca. Aku akan pulang besok” ucap Willy dengan nada tegas.
Bianca menelan salivanya. Kenapa Willy masih terdengar marah kepadanya? Apa Willy belum bisa memaafkannya? Bianca pun terus bertanya-tanya di dalam hatinya. Awalnya ingin berbicara tentang masalah di Bianca Management, akhirnya Bianca urungkan. Bianca takut Willy bertambah marah.
“Will apa aku boleh video call?” Tanya Bianca.
“Signalku sedang tidak bagus” ucap Willy.
Bianca hanya tersenyum sedih mendengar suara suaminya yang begitu dingin kepadanya. Bianca tidak tahu kenapa Willy masih marah kepadanya.
“Kamu sudah makan?” Tanya Bianca.
“Sudah” jawab Willy singkat.
Bianca menahan dirinya untuk tidak menjadi emosi dengan sikap Willy. Bianca akan menunggu Willly pulang besok. Kalau sudah di rumah barulah Bianca akan menanyakan semua yang ingin dia tanyakan.
Telepon pun hening, Bianca sampai tidak tahu harus bertanya apa-apa lagi kepada Willy. Willy pun juga tidak berbicara atau bertanya kepada Bianca. Sampai Bianca merasa Willy menjadi orang asing baginya.
“Kalau begitu kamu semangat kerjanya. Aku akan menunggu kamu pulang besok” ucap Bianca.
“Kamu ingin kemana?” Tanya Willy.
“Aku tidak ingin kemana-mana. Aku sedang di halaman bersama Aditya” jawab Bianca.
“Kalau begitu tetaplah di rumah dan jaga anakku dengan baik sampai aku pulang besok” ucap Willy.
Willy menutup teleponnya. Tangan Bianca bergetar mendengar ucapan Willy mengatakan “anakku”. Bukankah seharusnya Willy mengatakan anak kita.
Bianca memejamkan matanya. Sepertinya Willy masih marah dengannya. Tetapi kenapa sampai lama sekali.
“Bii, kamu harus kuat. Besok Willy akan pulang. Besok kamu bisa menyelesaikan semua masalahmu” ucap Vianca menyemangati dirinya.
Seharian ini Bianca memang tidak keluar sama sekali. Seharian ini dia di rumah bersama Bianca. Seharusnya Bianca merasa senang hari ini karena Willy akan lembali le rumah, tetapi hati Bianca justru terlihat tidak tenang.
Mami juga sejak kemarin tidak menghubunginya. Bianca menghela nafas beratnya. Mami juga marah kepadanya. Biasanya Mami selalu menghubungi ataupun datang le rumah. Karena Gio datang kemarin Mami menjadi marah.
Bianca memijit keningnya, dia besok akan menjelaskan semuanya termasuk penjahit, dan acara Selena. Kali ini Bianca tidak akan berbohong, dan Bianca juga mempunyai alasan kenapa tidak mengatakannya kemarin, karena Willy memang tidak bisa dihubungi.
Tanpa sadar karena kelelahan Bianca pun terlelap di atas ranjang di dalam kamar Bianca. Mina yang melihat Bianca tidur menggendong Aditya yang tidak tertidur. Lalu Mina membawa keluar agar tidak menggangu Bianca yang tertidur.
Sore hari Bianca masih terlelap. Bianca tidak sadar kalau ponselnya terus berdering. Hingga akhirnya Bianca pun terbangun karena ponsel yang terus berdering.
Bianca membuka matanya dan melihat siapa yang menghubunginya. Bianca melihat ternyata yang menghubunginya Gio.
“Mau apa lagi dia menghubungiku?” Tanya Bianca.
Bianca yang masih belum sadar sepenuhnya mengangkat telepon dari Gio.
“Halo Bianca” ucap Gio.
“Ada apa?” Tanya Bianca dengan suara khas bangun tidur.
“Terima kasih” ucap Gio.
Saat Bianca ingin berbicara lalu terdengar nada telepon masuk. Bianca pun melihat yang menghubunginya adalah suaminya yaitu Willy.
“Ya. Aku tutup teleponnya, suamiku menelepon” ucap Bianca cepat dan langsung mematikan sambungan Gio.
Bianca segera mengangkat telepon dari Willy.
“Sedang telepon dengan siapa?” Tanya Willyblangsung saat Bianca mengangkat teleponnya.
Bianca menelan salivanya, bagaimana dia menjawab pertanyaan Willy? Bianca tidak ingin berbohong lagi karena jika Willy tahu dia akan kecewa.
Tetapi jika Bianca jujur bahwa tadi dia sedang teleponan dengan Gio, tetap saja Willy akan marah juga. Bianca bangun dan duduk dinatas ranjang. Tangannya mulai berkeringat dingin.