Aku mempercepat laju lariku tidak peduli akan tubuhku yang penuh dengan goresan dan baju yang compang - camping.
Hutan ini begitu gelap, terangnya sinar rembulan tetap tidak bisa menembus lebatnya pepohonan yang ada.
Sesekali aku menengokkan kepala kebelakang, terlihat sosok yang begitu mengerikan. Aku tidak tahu apa itu.
Wujudnya begitu mengerikan.
Berwarna hitam, mata semerah darah yang terlihat bernafsu menatapku tajam, mulut terbuka lebar, hingga dapat kulihat gigi - giginya yang runcing.
Iya, semua giginya tampak runcing dan sesekali air liurnya menetes.
"Unggh.. sungguh menjijikan." Kataku dalam hati.
Kembali kutolehkan kepalaku ke depan dan aku sungguh terkejut, otomatis mengerem hingga telapak kakiku terasa perih. Aku berada di ujung jurang, sudah berapa lama aku berlari? kulihat kebawah terdapat sungai yang mengalir sangat deras.
Kulihat kearah makhluk itu lagi dengan rasa takut yang semakin besar. Aku gemetar.
Oh tidak, dia disana sedang menatapku dengan raut mengerikannya itu, menyeringai senang. Mungkin pikirnya aku adalah santapan yang amat lezat dan akan terasa kenyang setelah menyantapku.
"Ibu, apa yang harus ku lakukan?" Bisik ku yang langsung hilang tersapu angin malam.
Makhluk itu semakin mendekat. Melangkahkan keempat kaki nya yang memiliki kuku-kuku yang tajam. Dia seperti sengaja berjalan perlahan menuju kearah ku. Mungkin menurutnya hal itu akan membuat ku takut. Kalau begitu, tentu saja dia berhasil. Karena, sekarang rasa takut ku semakin besar.
Aku kemudian melihat ke sungai yang ada di belakang ku lagi. Tanpa pikir panjang, aku melompat ke jurang dan kututup mataku erat. Kurasakan air yang begitu dingin menyambut tubuhku.
Aku berusaha untuk mencapai permukaan tetapi sudah begitu banyak air yang masuk ke dalam paru - paruku. Aku sulit bernapas.
"Ibu, tolong aku." Kataku dalam hati.
Perlahan mata ku mulai terpejam, aku tidak tahan lagi dan aku mulai tidak sadarkan diri.
●●●●●●●●●●
"Unggh.."
Kepalaku terasa sangat sakit, telingaku sedikit berdengung, hidung dan tenggorokanku perih sekali.
Mataku ku paksa untuk membuka, mengedip perlahan-lahan untuk memperjelas penglihatanku yang masih buram. Aku disambut oleh cahaya remang-remang yang tidak menusuk ke mata. Kulihat sekelilingku. Sepertinya ada seseorang yang menemukan dan menolongku.
Aku berada di sebuah kamar.
Ah tidak, sebuah gubuk. Karena, tak jauh dari tempat ku berbaring aku melihat ruang makan dan dapur yang menyatu. Dindingnya juga terbuat dari anyaman bambu. Walaupun seperti gubuk, ini tampak diurus dengan baik.
Kucoba kembali mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Aku ikut kegiatan berkemah dari komunitas yang kujalani. Di Alaska ini banyak komunitas penjelajah hutan. Salah satunya komunitas ku ini.
Avenger namanya. Iya, awalnya aku juga tertawa saat pertama kali mendengarnya. Komunitas kami ini mempelajari hal - hal yang dilakukan oleh scout. Terutama kegiatan menjelajah hutan dan melakukan penelitian pada tanaman.
Aku merupakan anggota baru di komunitas ini. Selain menghilangkan jenuh, aku terkadang merasa kesepian karena aku sudah tidak memiliki keluarga, kerabat pun tidak ada. Ibu ku sudah meninggal saat aku berusia 5 tahun. Ayahku, aku tidak tahu dia berada dimana sekarang. Meninggalkan ku sejak aku berumur 12 tahun.
Sejak saat itu aku tinggal di panti asuhan sampai usiaku 18 tahun. Ibu panti saat itu ragu untuk melepasku. Namun, aku berusaha meyakinkan bahwa diusia ku saat ini aku sudah legal dan bisa bekerja.
Aku kembali tinggal di rumah ku yang dulu. Karena rumah itu hanya dibiarkan kosong. Melanjutkan pendidikanku dengan bantuan beasiswa, dan hidup dari hasil kerja kerasku. Meracik obat merupakan keahlianku. Jadi, kalian bisa menebak apa pekerjaanku. Ya, aku bekerja sebagai apoteker di salah satu apotek di lingkungan tempatku tinggal..
Memang tidak mudah untuk sampai ditahap itu, aku awal nya hanya membantu merawat dan membersihkan apotek. Karena ketertarikan ku, aku mengambil jurusan Farmasi saat kuliah. Pemilik apotek memberikan kepercayaan kepadaku untuk membantu meracik obat dan menjaga di belakang kasir.
Sejak dulu aku tidak pernah tau kalau aku mempunyai kerabat. Jadi yah, seperti ini lah jadinya hidup ku sekarang.
Lanjut bercerita, saat hari sudah sore dan menjelang malam. Aku diperintahkan oleh ketua untuk mencari kayu bakar. Tanpa ku sadari, aku sudah memasuki hutan cukup dalam.
Saat perjalanan pulang ke kemah. Aku dikejutkan oleh sesosok makhluk yang mengerikan. Aku memutuskan untuk berbalik arah lalu berlari dengan sangat kencang. Ku pikir kembali ke kemah bisa nanti jika sudah terbebas dari makhluk ini sambil memikirkan kembali jalan pulang.
Hingga aku tersadar aku sudah berada di ujung jurang dan memutuskan untuk lompat ke sungai yang mengalir deras di bawah jurang.
Aku tersadar dari kegiatan mencoba mengingat kembali itu saat ku dengar langkah kaki seseorang menuju tempat ku berbaring.
Ternyata seorang nenek tua. Ia berjalan dibantu dengan tongkat kayu. Pakaian nya sedikit aneh, sangat jarang sekarang ku lihat orang yang menggunakan jubah kain berwarna hitam dan bertudung. Perawakannya sedikit mengintimidasi membuat ku merinding. Kurasa ia yang menemukan dan menolongku.
"Nak, apa kau sudah sadar? Sudah merasa baikkan? Apa yang terjadi hingga kau bisa sampai ke wilayah ini?" Tanya nenek dengan beruntut seperti mendesakku untuk segera menjawab pertanyaan nya.
Kuceritakan semua kejadian yang kualami kepada nenek itu tanpa ada yang terlewat. Nenek terlihat terkejut dan raut wajahnya terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.
Entah apa itu dan kurasa itu bukan hal yang baik.
●●●●●●●●●●
Sehabis aku bercerita mengenai mengapa aku bisa ada disini, nenek pergi entah kemana. Aku ditinggal sendirian di gubuk ini. Setelah ku pikir-pikir alangkah baiknya aku mengenali tempat ini agar aku bisa menentukan tindakan yang harus aku lakukan ke depannya dan bagaimana cara aku bisa balik ke tempat kemah.
Walaupun pikiran buruk terus menghantuiku, memberi tahu bahwa sekarang aku berada di sebuah tempat antah berantah di hutan.
Aku memutuskan untuk berkeliling di sekitar gubuk ini terlebih dahulu, jujur saja aku tidak berani untuk pergi lebih jauh dan masih trauma akan kejadian yang menimpaku. Aku mencoba untuk perlahan-lahan turun dari ranjang ini.
"Ungghh..Sakit sekali." Spontan aku mengaduh.
Rasanya seperti sendi-sendi ku mau copot. Kakiku ku coba turunkan perlahan-lahan hingga menapak ke lantai. Ah bukan lantai, ini seperti tanah yang diratakan. Karena, terasa halus saat aku menapakkan kakiku di sana. Aku mencoba berdiri dan berkeliling tanpa alas kaki. Karena, aku tidak menemukan sepatu yang terakhir ku pakai. Mungkin hilang terlepas saat aku terseret arus sungai.
Daerah ini terasa sangat aneh. Saat aku membuka pintu udara terasa sejuk namun sangat sunyi. Hanya terdengar bunyi hewan-hewan hutan dan gesekan pohon. Sebenarnya terasa lumayan menenangkan apabila tidak terasa hawa mencekam yang begitu kuat disini.
Aku mulai berkeliling disekitar gubuk, pergi beberapa meter kedepan aku dapat melihat sumur dan taman kecil yang berisi seperti berbagai macam tanaman obat. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah nenek yang menanamnya? Aku sedikit mengerti tentang beberapa tanaman obat karena pekerjaan ku yang sebagai apoteker dan keanggotaan ku di Avenger.
Melangkah lebih jauh aku dapat menemukan aliran sungai lumayan besar tetapi arusnya tidak begitu kuat, dan saat aku melihat ke seberang sungai oh tidak makhluk itu lagi. Aku mulai gemetar ketakutan. Kakiku terasa lemas saat menatap matanya yang berwarna kuning keemasan.
Hah kuning keemasan? Ini makhluk yang sama tetapi terlihat berbeda. Makhluk yang berada di seberang sungai masih menatapku dengan sorot mata kuning keemasannya tersebut tampak gagah dan tidak ada air liur yang menetes dari mulutnya. Ukuran tingginya 2 kali lipat lebih besar dari tubuhku wujudnya seperti jenis anjing Siberian Husky tetapi versi sangat besar nya dan berwarna hitam legam.
Aku sangat ketakutan, siapa yang menjamin hewan yang berada di hutan itu ada yang jinak. Mungkin ada beberapa tetapi untuk makhluk yang satu ini aku rasa tidak. Sangat membingungkan dia seekor serigala atau anjing.
Cukup. Aku tak tahan lagi. Aku bergegas berbalik ke arah gubuk. Berharap nenek sudah kembali. Karena, aku takut sendirian apalagi trauma ku belum hilang terhadap makhluk tersebut ditambah ini tempat yang baru bagiku dan aku baru tersadar bahwa gubuk nenek satu-satunya yang berada di hutan ini karena aku tidak melihat ada rumah atau gubuk lain dalam jarak dekat karena kabut yang cukup tebal.
●●●●●●●●●●
Orion Pov
Aku sungguh merasa jenuh, semua yang ku punya tidak berarti apa-apa bagiku tanpa kehadiran seorang mate. Aku sudah menunggu selama 150 tahun akan kehadiran mate, sudah ku cari ke pelosok dunia pun tidak aku temukan.
Sesungguhnya aku sudah merasa pasrah.
Mungkin, Moon Goddess tidak mempercayai diriku untuk memiliki mate. Aku dahulu adalah werewolf yang kejam, tanpa belas kasihan, tanpa memandang musuhku wanita atau anak-anak.
Aku yang sangat arogan saat baru diangkat menjadi seorang Alpha di sebuah pack yang merupakan pack terkuat di Alaska yaitu BloodMoon pack merasa bahwa aku yang paling hebat, tidak ada yang bisa mengalahkanku dan merasa bahwa aku tidak membutuhkan seorang mate di sisiku.
Tetapi, Moon Goddess seperti memberi karma untuk ku dengan tidak memberi kan ku seorang mate hingga 150 tahun lamanya. Rakyatku sangat membutuhkan seorang luna untuk mejadi sesosok ibu bagi mereka.
Aku merenungkan kesalahan dan kesedihanku setiap hari di ruang kerja milikku. Seperti sekarang ini, duduk di kursi kerja menghadap jendela dengan pemandangan luar biasa.
Hutan lebat di selimuti kabut tipis, hamparan pohon-pohon hijau yang menjulang tinggi membuat ku tenang. Aku tidak begitu suka dengan keramaian sejak saat itu.
Saat itu aku tersadar di sebuah pesta yang diadakan oleh pack ku, memandang kearah para rakyat dan pejabat pack menari dan bernyanyi bersama tetapi aku tetap merasa sepi. Sadar, bahwa aku membutuhkan seorang mate disisiku.
"Alpha!!" Kutolehkan kepala saat beta ku memanggil.
"Ya, ada apa?" Sahutku santai sambil memutar kembali kursi ke arah beta ku.
"Anda baik-baik saja?" Tanya beta ku.
"Kau bisa lihat sendiri, aku tidak baik-baik saja Ed." Jawabku sambil menghela nafas lelah.
Dia adalah beta ku. Namanya Edward. Kami tumbuh bersama di pack ini. Ayah nya adalah mantan beta ayahku. Ayah kami berdua sudah tiada karena peperangan besar 50 tahun lalu melawan para penyihir hitam yang berkhianat.
Pasti kalian bertanya-tanya dimana sekutu kami yaitu penyihir putih yang dapat mengalahkan penyihir hitam bukan? Mereka sudah lama punah karena digunakan oleh penyihir hitam untuk sebuah ritual yang mengerikan.
Ritual tersebut dapat membuat orang yang sudah mati bisa hidup kembali dengan darah penyihir putih yang murni.
"Alpha, pergilah keluar untuk mencari udara segar. Saya rasa anda membutuhkan hal tersebut." Saran Ed untukku.
"Hm..saran yang bagus. Baiklah, tolong kau lanjutkan pekerjaan ku sebentar ya Ed. Aku akan keluar mencari udara segar mungkin hingga petang." Balasku menerima saran dari Ed.
"Baiklah Alpha, akan saya laksanakan."
Setelah Ed menerima perintahku. Aku bergegas keluar dari pack house ini. Setelah melewati gerbang masuk pack, aku langsung berganti menjadi wujud wolf ku. Ah aku lupa memperkenalkan sosok yang menjadi bagian dari diriku ini.
Wolf ku bernama Lycan. Dia sama menyesalnya dengan diriku, akibat perbuatan nya di masa lalu sekarang kita harus menunggu dengan waktu yang sangat lama untuk kehadiran seorang mate.
Teman seperjuangan ku yang satu ini padahal makhluk yang kuat, gagah, dan tidak kenal takut. Tetapi dia jauh lebih lemah daripada diriku karena ketidakhadiran sosok mate disisi kami.
"Diam Rion, tidak usah mengejekku. Kau jauh lebih lemah daripada aku. Kau pikir aku tidak tahu kalau kau setiap malam merenung memandang bulan berharap Moon Goddess segera memberikan mate kepada kita?" Ucap Lycan. Sepertinya dia terganggu dengan aku yang mengatakan dirinya lebih lemah daripada ku.
"Tidak seperti itu Lycan, jujur saja kita sama-sama lemah tanpa kehadiran sosok mate disisi kita kan??" Tanya ku kepada Lycan.
"Ya Orion, aku sangat berharap MoodGoddess segera mencabut hukuman nya dari kita. Aku seperti ingin mati tanpa kehadiran sosok mate, Rion." Ujar Lycan.
Ya Lycan, aku mengerti apa yang kau rasa karena aku juga merasakan itu.
Aku meneruskan perjalananku dengan wujud Lycan. Berlari menembus kabut, merasakan hawa yang sejuk. Walaupun, sebenarnya saat ini sudah siang hari. Tetapi, sinar matahari tidak dapat menembus lebat nya pepohonan di hutan ini.
Saat mulai mendekati sungai yang menjadi perbatasan timur pack ku, angin dingin menghempas wajahku dengan lembut.
Membawa aroma yang sangat memabukkan seperti aroma teh yang menenangkan dan campuran berbagai macam bunga. Harum sekali.
"MATE!! INI WANGI MATE RION. SADARLAH!!" Teriak Lycan keras.
Kepala ku seketika mau pecah. Aroma ini begitu memabukkan dan teriakan Lycan di pikiranku membuat ku sadar bahwa mate yang aku tunggu berada di sekitar sini.
Aku mulai mengedarkan pandangan ku ke segala arah sampai mata ku bertubrukan dengan netra berwana hijau di seberang sungai yang menatapku dengan tatapan terkejut? Takut?
Oh tidak, mate ku cantik sekali. Rambutnya yang hitam panjang, matanya yang berwana hijau, tubuhnya yang ramping, dan kulitnya yang seputih salju. Oh jangan lupa dengan aromanya yang begitu memabukkan.
Tetapi, ada apa dengan tatapannya itu. Dia terlihat terkejut dan takut saat bertatapan dengan ku. Dan apa itu, dia berbalik arah meninggalkanku.
Oh tidak, mate jangan tinggal kan aku.
Aku mohon.