Skye Valenor berdiri di depan di sebuah gerbang akademi.
Gerbang itu menjulang tinggi, gelap, dan dingin—lebih menyerupai batas terakhir daripada pintu awal. Batu hitam yang menyusunnya menyerap cahaya pagi, menciptakan bayangan panjang yang menelan siapa pun yang melangkah mendekat.
Di sekelilingnya, bisikan bermunculan.
“Anak Valenor?”
“Masih berani dia datang ke sini?”
“Nama itu belum dihapus ya?.... menjijikan .”
Beberapa bangsawan dari negaranya sendiri berdiri tak jauh. Pakaian mereka rapi, lambang keluarga berkilau, dan senyum mereka tipis—senyum orang-orang yang merasa berada di posisi aman. Tatapan mereka tidak penuh amarah, melainkan kepuasan melihat seseorang yang pernah berada di atas kini berdiri sejajar dengan tanah.
Skye tidak menoleh.
Tidak membalas.
Ia hanya berdiri diam.
Perlahan, suara-suara itu menjauh.
Dunia di sekelilingnya memudar.
Seolah warna, suara, dan waktu ditarik mundur, lapis demi lapis.
Dan dari kedalaman pikirannya, ingatan itu mulai muncul.
---
Waktu itu
Saat umurku Tujuh tahun
Aku melihatnya.
Aku mendengarnya.
Aku merasakannya.
Tatapan-tatapan tajam yang menusuk tanpa kata.
Tawa yang bersembunyi di balik wajah berkabung.
Darah yang mengalir di atas batu dingin.
Pengkhianatan.
Dan kebenaran yang sengaja disembunyikan.
—
Ayahnya berlutut di hadapan raja.
Tidak gemetar. Tidak memohon.
Punggungnya tetap tegak, seolah kehormatan keluarga Valenor tidak ikut berlutut bersamanya.
“Tuduhan pengkhianatan telah diputuskan,” suara raja terdengar datar.
“Hukuman mati.”
Skye kecil berdiri di antara kerumunan. Tangannya menggenggam lengan ibunya dengan putus asa.
Pedang terangkat.
Satu ayunan.
Darah menyentuh tanah.
“AYAH—!”
Tangis Skye pecah, menelan suaranya sendiri. Dunia berputar, memerah, dan di tengah kekacauan itu,aku melihatnya mataku menangkap satu hal yang tak pernah bisa aku lupakan.
Sebuah senyuman.
Tenang.
Tipis.
Seseorang yang kukenal sedang berdiri di samping Raja.
—
“Bu…?”
Rumah itu sunyi. Terlalu sunyi.
Skye berlari menyusuri lorong-lorong yang dulu penuh suara. Pintu kamar terbuka.
Ibunya tergantung di sana.
Diam.
Tak bernyawa.
Skye jatuh berlutut. Tangisnya pecah tanpa suara, seolah dunianya sudah tidak sanggup lagi menjerit. Untuk kedua kalinya, segalanya runtuh.
—
Malam itu, ia terkurung di kamarnya.
Tangisnya tidak berhenti.
Pintu terbuka perlahan. Seseorang masuk. Bayangan tinggi, wajah tak terlihat jelas.
“A-aku…?” suara Skye gemetar.
Tidak ada jawaban.
Ia digendong, dibawa pergi. Saat melewati aula utama, Skye melihat rumahnya sendiri dirampas—lukisan diturunkan, perabot diangkat, lambang keluarga dicabut dari dinding.
Rumah Valenor sedang dikosongkan.
Bukan direnovasi.
Dihapus.
Kepalanya terasa ringan.
Gelap.
—
Aku pingsan karena kelelahan.
Ketika aku bangun, aku berada di sebuah kamar kecil. Kasurnya keras. Dindingnya kosong. Seorang pelayan duduk di sampingku dengan rasa iba dia menjelaskan semuanya—aset keluarga dirampas, gelar diturunkan, dan tanggung jawab itu… diberikan kepadaku.
Beberapa pelayan.
Sedikit uang.
Sebuah rumah kecil di pinggir kota.
Aku menangis lagi.
Berminggu-minggu aku mengurung diri, bertanya dan kenapa hal ini bisa terjadi. Hingga suatu hari, aku keluar dari kamar dan berjalan menyusuri rumah kecil itu. Di sebuah ruang kerja, aku melihat rak buku tua, sebuah meja, dan sepucuk surat.
Aku duduk.
Dan membukanya.
---
Untuk anakku, Skye.
Jika kau membaca surat ini, berarti keluarga kita telah sampai di akhirnya.
Maafkan ayah karena menyampaikan semua ini dengan cara yang terlambat.
Sejujurnya, ayah sudah tahu. Sahabat yang paling ayah percayai adalah pengkhianat.
Ayah menyadarinya ketika semuanya sudah terlalu rapi dan tidak bisa dihentikan.
Ayah menyerah—bukan karena tidak peduli, tetapi karena kehabisan waktu.
Dan itu adalah kegagalan terbesar ayah sebagai kepala keluarga… dan sebagai ayahmu.
Keluarga Valenor dibangun dengan susah payah oleh ayah dan ibumu.
Itulah sebabnya ayah tahu, jika semua itu runtuh, ibumu mungkin tidak akan kuat menahannya.
Untuk itu, ayah dan ibumu meminta maaf padamu.
Sebagai hadiah terakhir, ayah telah menyiapkan jalan untukmu.
Kau akan disekolahkan di akademi paling bergengsi.
Di sana, kau akan dihina dan dicaci karena nama Valenor.
Tapi ayah tahu satu hal—
kamu lebih kuat daripada ayah.
Bertahanlah. Jangan menjadi orang yang menyerah seperti ayah.
—Ayahmu
---
Air mata jatuh ke atas kertas.
Namun ketika surat itu kulipat, tangisku berhenti. Dadaku masih sakit, tetapi mataku tidak lagi kosong.
—
Dunia kembali ke depan gerbang Astra Noctis.
Skye membuka matanya.
Sejak saat itu, aku terus berlatih.
Delapan tahun beralalu.
Dan hari ini... waktunya telah tiba.
Ia melangkah maju melewati gerbang.
Di dalam dirinya, api kecil menyala—tidak meledak, tidak liar—namun membara dengan tenang.
Dan tanpa disadari siapa pun, dia adalah awal dan seorang murid yang akan membuat kehancuran.
---