Dua bulan berlalu, Zahra sudah siap dipulangkan ke Indonesia. Selama di Singapura, dia hanya ditemani pembantu setianya bik Wati. Ibundanya tidak bisa menemaninya karna ada dinas luar kota, sementara Ayahnya sedang ada proyek besar dengan rekanan yang tidak bisa ditunda. Tibalah saatnya Zahra mendarat dibandara Soekarno Hatta, ayanya sangat senang mendengar putrinya sudah bisa pulang ke Indonesia. Namun takdir memang tidak bisa ditebak. Ayahnya meninggal dalam kecelakaan saat menjemput Zahra menuju bandara. Belum selesai luka hati Zahra karna kehilangan penglihatannya, dia dihadapkan lagi dengan kenyataan bahwa dia harus kehilangan sosok ayahnya yang sudah dua bulan tidak bertemu. Zahra terus menangis sejadi jadinya sambil dipeluk bik Wati yang juga ikut menangis. Dia sangat stres, tidak bisa berfikir jernih, belum siap menerima takdir, karna ini sangat berbeda dengan kesempurnaan yang sebelumnya ia miliki.
Kini Ibu Zahra menjadi kepala keluarga. Perusahaan Ayahnya semakin lama semakin bangrut karena manajemen yang semakin buruk dan banyak pegawai dari perusahaan ayahnya yang berangsur-angsur resign. Pada akhirnya perusahaan pailit dan dibubarkan. Sementara Zahra sudah tidak bisa melanjutkan sekolah di sekolahan dia yang sebelumnya karna sudah tidak bisa membaca atau melihat lagi. Zahra melanjutkan sekolah di sekolah khusus tuna netra. Sementara adik Zahra mulai merubah kelakuaknnya menjadi lebih baik sejak kehilangan ayahnya. Dia ingin keluar dari sekolahnya agar bisa bekerja membantu Ibunya menghidupi keluarganya karna saking banyaknya hutang perusahaan ayahnya yang kehilangan investor dan harus menanggung pelunasan perusahaan ayahnya. Namun Bu Asrin, Ibunda Zahra melarang Zuhri untuk berhenti sekolah. Untuk mengatasi hutang itu, Ibu Asrin menjual beberapa aset tinggalan Pak Heru untuk melunasi sebagian hutang perusahaan dan selebihnya diangsur setiap bulannya dari gaji Ibu Asrin.