Matahari Seoul pagi itu bersinar terang, meski udara masih sejuk. Hana berdiri di depan cermin kamarnya, menatap bayangan dirinya dengan cermat. Rambutnya ia ikat sederhana ke belakang, makeup tipis hanya untuk menyamarkan kantuk, dan ia memilih blazer krem dengan blouse putih serta celana panjang hitam. Simpel, profesional, tapi tetap memberi sedikit nuansa hangat.
Tangannya sempat gemetar kecil saat merapikan kerah. Hari pertama, Hana. Jangan panik. Kau hanya akan masuk ke perusahaan keluarga. Tidak ada yang menakutkan. Kecuali mungkin tatapan karyawan yang berpikir kau numpang nama…
Ia menghela napas panjang, lalu mengambil tas kerja barunya. Saat melangkah keluar kamar, ia mencium aroma roti panggang dan kopi dari dapur. Ibunya sudah menyiapkan sarapan ringan.
“Hana-ya, makan dulu,” sapa ibunya dengan senyum hangat.
“Aku takut telat, Eomma. Oppa pasti sudah menungg—”
“Yak! Kau kira aku tidak tahu kebiasaanmu? Kau akan lebih panik kalau perutmu kosong.” Ibunya menyodorkan sepotong roti isi dan cangkir kecil kopi s**u.
Hana terkekeh, menerima sarapan kilat itu. “Terima kasih, Eomma.”
Beberapa menit kemudian, suara klakson pendek terdengar dari luar. Hana buru-buru keluar, dan benar saja, Kang Jun sudah menunggu di mobil sedan hitamnya, jas abu-abu rapi, dasi biru tua terikat sempurna. Kakaknya selalu terlihat seperti iklan majalah bisnis.
“Cepat, atau aku tinggalkan,” kata Kang Jun sambil membuka kaca jendela mobil.
Hana melangkah masuk dengan cemberut pura-pura. “Oppa, bahkan Appa tidak sekejam itu.”
“Appa tidak pernah jadi bosmu. Aku, sayangnya, harus.” Kang Jun meliriknya sekilas lalu tersenyum tipis. “Kau siap?”
“Siap… dengan gugup seratus persen,” jawab Hana jujur.
Perjalanan menuju kantor ditemani percakapan ringan—atau lebih tepatnya, Kang Jun yang memberi ceramah singkat.
“Jadi, dengarkan baik-baik. Kantor kita memang perusahaan keluarga, tapi staf di sana tidak peduli kau adikku atau bukan. Mereka menilai dari kinerja. Kalau kau bekerja sungguh-sungguh, mereka akan hormat. Kalau kau seenaknya, mereka akan menggosip sampai telingaku panas.”
Hana menatap keluar jendela, mencoba menenangkan degup jantung. “Aku mengerti, Oppa. Aku akan berusaha sebaik mungkin.”
“Bagus.” Kang Jun menepuk setir pelan. “Oh, satu lagi. Jangan panggil aku Oppa di kantor. Panggil aku Director Kang, atau at least, Kang Teamjang.”
Hana spontan menoleh dengan wajah sok kaget. “Mwoya? Kau mau aku memperlakukanmu seperti bos besar?”
“Di kantor, ya. Kalau di rumah, kau boleh tetap memanggilku Oppa yang ganteng.”
Hana meledak tertawa. “Astaga, aku mulai menyesal mau kerja denganmu.”
Mobil mereka akhirnya memasuki kawasan pusat bisnis Seoul. Gedung-gedung tinggi menjulang, jalanan ramai dengan pekerja yang bergegas. Tak lama, mobil berhenti di depan sebuah bangunan modern berlantai delapan dengan dinding kaca elegan. Logo perusahaan terpampang di depan: K&H Architecture & Interior.
Melihat tulisan itu, d**a Hana bergetar. Inilah tempat baruku.
Begitu masuk, hawa profesional langsung menyergap. Lobi luas dengan lantai marmer putih, dinding dihiasi karya desain interior dari proyek-proyek perusahaan. Ada display miniatur hotel, restoran, hingga apartemen mewah.
Beberapa karyawan yang lewat langsung menyapa Kang Jun dengan hormat. “Annyeonghaseyo, Director Kang.”
Kang Jun mengangguk singkat. Hana berjalan setengah langkah di belakang, merasa seperti murid baru yang sedang diajak masuk kelas. Ia menangkap beberapa tatapan penasaran—beberapa sopan, beberapa penuh rasa ingin tahu.
Seorang wanita muda dengan rambut pendek rapi menghampiri mereka. “Director Kang, selamat pagi.”
“Selamat pagi, Ji Eun. Ini adikku, Hana. Mulai hari ini dia akan bergabung di tim interior.”
Ji Eun menatap Hana dengan senyum profesional. “Senang bertemu denganmu, Hana-ssi. Aku Ji Eun, asisten direktur. Kalau ada yang kau butuhkan, kau bisa tanya padaku.”
“Senang bertemu denganmu juga,” jawab Hana sambil menunduk sopan.
Mereka melanjutkan perjalanan ke lift, menuju lantai lima. Saat pintu terbuka, Hana disambut pemandangan open space kantor modern: meja-meja kerja rapi, beberapa orang sibuk dengan komputer, papan moodboard berisi potongan gambar desain. Ada energi kreatif yang langsung terasa.
Kang Jun mengajak Hana ke ruang meeting kecil. Beberapa staf senior sudah duduk di sana, menunggu.
“Baik,” kata Kang Jun sambil menepuk bahu Hana, “hari ini aku ingin mengenalkan anggota baru kita. Ini Hana, spesialis interior, lulusan desain dari Jakarta, juga punya pengalaman beberapa tahun di firma desain di sana. Mulai hari ini, dia akan bergabung di tim kita.”
Beberapa wajah tersenyum ramah, tapi Hana juga menangkap sepasang mata yang menatap kritis. Ia bisa menebak isi pikiran mereka: Adik bos. Apakah dia kompeten atau hanya numpang nama?
Hana menarik napas, menunduk hormat. “Senang bisa bekerja di sini. Aku tahu aku masih harus banyak belajar, jadi aku harap bisa bekerja sama dengan baik dengan kalian.”
Suasana sejenak hening, lalu beberapa orang mengangguk. Ada yang tersenyum tipis, ada juga yang tetap datar.
Kang Jun melanjutkan, “Hari ini Hana akan ikut observasi proyek yang sedang berjalan. Besok, aku ingin dia sudah siap memberi masukan. Jangan segan melibatkan dia.”
Hana hanya bisa mengangguk, jantungnya berdetak kencang. Ini baru awal, tapi taruhannya sudah terasa besar.
Setelah perkenalan singkat di ruang meeting, Hana keluar bersama Kang Jun dan Ji Eun. Mereka berjalan melewati deretan meja, dan beberapa karyawan berdiri untuk memberi salam sopan. Hana berusaha tersenyum ramah meski perutnya terasa seperti diikat simpul.
“Ini ruang kerja tim interior,” jelas Ji Eun sambil menunjuk area open space yang penuh dengan papan moodboard dan sampel bahan. “Setiap proyek biasanya dipimpin oleh satu project manager. Tim kita sedang mengerjakan tiga proyek besar: renovasi hotel butik, desain kantor pusat perusahaan teknologi, dan restoran konsep tradisional-modern.”
Mata Hana berbinar mendengar kata restoran. Itu salah satu bidang favoritnya. Ia sempat mengerjakan kafe tematik di Jakarta, dan pengalaman itu cukup berkesan.
Kang Jun menoleh. “Kau akan kuikutsertakan di proyek restoran. Jangan berpikir itu karena aku memanjakanmu. Justru karena aku ingin lihat apa kau bisa membuat sesuatu yang berbeda.”
Hana mendengus kecil. “Baiklah, Director Kang.”
Nada suaranya dibuat sengaja formal, dan Ji Eun hampir tertawa menutup mulutnya. “Direktur, sepertinya adik Anda cepat beradaptasi.”
“Jangan terlalu cepat menilai,” balas Kang Jun santai. “Dia itu—”
“Oppa!” Hana memotong, menatap kakaknya tajam. “Jangan buka aibku di depan rekan kerja.”
Beberapa staf yang kebetulan mendengar percakapan itu menahan tawa. Ketegangan awal sedikit mencair.
Seorang pria berusia sekitar awal 40-an, berkacamata dan berjas rapi, mendekat. “Director Kang, selamat pagi. Jadi ini adikmu?”
“Ya, benar. Hana, kenalkan, ini Pak Choi, kepala divisi arsitektur. Dia sudah lama bekerja bersama Appa.”
Pak Choi menatap Hana dengan senyum hangat, namun matanya tajam penuh penilaian. “Selamat datang, Hana-ssi. Semoga kau bisa membawa perspektif baru untuk perusahaan.”
“Terima kasih, Pak,” jawab Hana sopan.
Mereka melanjutkan tur singkat ke ruang material library—ruang penuh dengan sampel kayu, kain, cat, dan ubin. Hana langsung terpesona. Tangannya refleks menyentuh lembaran kain tekstur halus, lalu mengamati ubin dengan pola geometris.
“Kau terlihat nyaman di sini,” komentar Ji Eun.
Hana mengangguk. “Rasanya seperti kembali ke studio di kampus. Bau material selalu menenangkan.”
Kang Jun mengangkat alis. “Lihat? Ada juga sisi nerd dalam dirimu yang tidak semua orang tahu.”
“Lebih baik nerd daripada kaku seperti Oppa,” balas Hana cepat.
Percakapan kecil itu membuat beberapa staf yang ikut menonton tak sengaja tersenyum. Mungkin, pikir Hana, mereka mulai melihat bahwa ia tidak hanya sekadar “adik direktur” yang datang untuk duduk manis.
Menjelang siang, Hana duduk di ruang meeting bersama tim proyek restoran. Ada lima orang, termasuk project manager bernama Min Soo, pria muda yang tampak perfeksionis. Di meja, blueprint dan moodboard konsep sudah disiapkan.
“Kami sedang mengerjakan restoran dengan konsep hanok modern,” jelas Min Soo. “Klien ingin mempertahankan nuansa tradisional Korea, tapi dengan kenyamanan kontemporer.”
Hana mendengarkan dengan saksama. Ia menahan diri untuk tidak langsung berbicara, meski pikirannya sudah dipenuhi ide.
Min Soo melanjutkan, “Kami punya masalah dengan area dapur terbuka. Klien ingin pengunjung bisa melihat aktivitas memasak, tapi tetap mempertahankan aura elegan.”
Hana mengangkat tangan perlahan. Semua kepala menoleh padanya. Jantungnya berdebar, tapi ia berkata, “Maaf, boleh aku beri masukan?”
Min Soo mengangguk, meski ekspresinya netral.
“Di Jakarta, aku pernah mengerjakan kafe dengan konsep serupa. Kami menggunakan sekat kaca tempered yang sebagian buram, sebagian transparan. Jadi pengunjung bisa melihat siluet gerakan memasak tanpa terganggu detail berlebihan. Itu juga membantu mengurangi asap terlihat langsung.”
Ruangan hening sejenak. Lalu seorang desainer lain, wanita muda bernama Soo Ah, menimpali, “Itu ide bagus. Bisa menambah kesan artistik, seperti pertunjukan bayangan.”
Min Soo mengangguk pelan. “Menarik. Kita bisa coba visualisasikan. Hana-ssi, mungkin kau bisa bantu menyiapkan moodboard untuk itu.”
Hana tersenyum lega. “Dengan senang hati.”
Di pojok ruangan, Kang Jun yang ikut mengawasi hanya mengangkat alis, memberi tatapan bagus, kau lulus ujian pertama.
Hari pertama berakhir lebih cepat dari perkiraan. Hana menutup laptopnya dengan perasaan lega sekaligus lelah. Ketika ia keluar dari kantor bersama Kang Jun, udara sore Seoul menyambut dengan sejuk.
“Bagaimana rasanya?” tanya Kang Jun sambil memasukkan tangannya ke saku jas.
“Seperti masuk ke kolam dalam tanpa pelampung,” jawab Hana jujur. “Tapi aku suka tantangannya.”
Kang Jun tertawa pendek. “Kau selalu keras kepala. Tapi itu yang membuatmu cocok di sini.”
Mereka berjalan menuju mobil. Di jalan, sebuah billboard raksasa tepat di seberang gedung menarik perhatian Hana. Ia berhenti. Matanya membesar.
Seorang pria tersenyum karismatik di sana—berjas hitam, menatap kamera dengan tatapan hangat sekaligus percaya diri. Di bawahnya tertulis: Jin Woo for Global Brand Campaign.
Jantung Hana berdetak kencang. Dunia terasa berhenti sejenak.
Kang Jun yang mengikuti pandangannya ikut menoleh, lalu menghela napas. “Ah, dia lagi. Jin Woo sekarang ada di mana-mana.”
“Dia… makin berbeda,” gumam Hana pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Kang Jun melirik adiknya sekilas. Ada sesuatu di matanya yang tidak ia ucapkan. Tapi ia memilih diam.
“Yuk pulang,” katanya akhirnya. “Kau butuh istirahat sebelum besok.”
Hana mengangguk pelan, tapi sepanjang perjalanan pulang, wajah di billboard itu terus menghantui pikirannya. Masa kecil, tawa bersama, janji yang dulu pernah diucapkan—semuanya seperti bayangan samar yang kini kembali menyala.
Keesokan harinya, Hana datang lebih awal ke kantor. Ia ingin memberi kesan bahwa ia bukan tipe yang hanya “ikut-ikutan” karena keluarga. Saat masuk ke ruang interior, beberapa staf tampak terkejut melihatnya sudah duduk di meja kerja, membuka laptop dan menyiapkan moodboard.
Soo Ah, desainer muda yang kemarin mendukung idenya, menyapa, “Pagi, Hana-ssi. Kau lebih cepat dari jam kerja.”
Hana tersenyum. “Aku pikir lebih baik aku adaptasi lebih awal. Lagipula, mood pagi biasanya lebih jernih untuk menyusun ide.”
Soo Ah mengangguk kagum. “Aku suka caramu berpikir.”
Sepanjang pagi, Hana larut dalam pekerjaan. Ia mencari referensi visual untuk konsep dapur semi-transparan, mengumpulkan gambar kaca dengan efek buram, siluet cahaya, dan bahkan menambahkan contoh instalasi artistik dari kafe di Jakarta yang pernah ia tangani.
Min Soo datang sekitar pukul 9, membawa kopi. Ia menatap papan moodboard yang Hana susun, lalu menaikkan alis.
“Cepat juga,” komentarnya.
“Aku hanya ingin memberi alternatif, Sunbaenim,” jawab Hana hati-hati.
Min Soo memperhatikan detail papan itu beberapa saat. Bibirnya kemudian sedikit terangkat. “Hmm. Ini bisa dipresentasikan ke klien. Tambahkan variasi warna untuk pencahayaan, mungkin. Tapi, good work.”
Pujian sederhana itu membuat d**a Hana hangat. Ia merasa mulai diterima, setidaknya oleh sebagian tim.
Siang harinya, tim restoran mengadakan brainstorming lebih intensif. Beberapa ide dilempar, ditolak, dan diperdebatkan. Hana awalnya ragu untuk sering bicara, tapi setiap kali ia membuka suara, ia berusaha memberi perspektif berbeda.
“Kalau seating area dibuat semi-terbuka dengan pemandangan taman kecil, itu akan memperkuat nuansa hanok tanpa terasa kaku,” usul Hana.
“Bukankah itu akan menambah biaya konstruksi?” tanya salah satu staf.
“Ya, tapi bisa jadi highlight restoran. Klien mungkin mau investasi lebih untuk sesuatu yang jadi ciri khas,” jawab Hana mantap.
Diskusi mengalir seru. Meski belum semua idenya diterima, Hana merasakan bahwa suaranya mulai diperhitungkan. Ia bukan sekadar ‘adik direktur’ lagi—ia bagian dari tim.
Pekerjaan selesai sekitar pukul tujuh malam. Kantor mulai lengang, hanya beberapa staf lembur. Hana mengemasi barangnya, lalu berjalan ke ruang kakaknya. Kang Jun masih duduk di balik meja, dasinya sudah dilonggarkan, tapi matanya tetap fokus ke layar laptop.
“Oppa, kau tidak pulang?” Hana menyandarkan tubuh di pintu.
Kang Jun mendongak. “Aku masih ada laporan yang harus kuselesaikan.”
“Kalau begitu, aku pulang dulu?”
“Tidak. Tunggu sebentar. Aku ingin bicara sebentar soal hari ini.”
Hana duduk di kursi depan meja kakaknya. Jantungnya sedikit berdebar, seperti murid menunggu nilai ulangan.
“Aku dengar dari Min Soo, kau cukup aktif di brainstorming. Bahkan moodboard-mu dianggap bagus.” Kang Jun menutup laptopnya dan menatap adiknya serius. “Bagus. Itu awal yang tepat.”
Hana tersenyum kecil. “Aku hanya mencoba… menunjukkan kalau aku memang bisa bekerja, bukan hanya karena status.”
Kang Jun menatapnya lama, lalu mendesah. “Hana, aku tahu bebanmu. Orang akan selalu berasumsi kau diberi jalan mulus. Tapi jangan pedulikan terlalu banyak. Fokus saja pada hasil. Kalau hasilmu nyata, mereka akan bungkam dengan sendirinya.”
Hana mengangguk pelan. “Aku mengerti.”
Suasana sejenak hening. Lalu Kang Jun tersenyum miring. “Tapi, satu hal. Jangan sering-sering membantahku di depan staf.”
“Apa?!” Hana langsung protes. “Oppa, aku hanya menjawab jujur!”
“Itu masalahnya. Kau terlalu jujur.”
“Lalu apa aku harus selalu bilang ‘yes, Director Kang’? Bahkan kalau idemu buruk?”
Kang Jun terbahak. “Hei, ideku tidak pernah buruk.”
Hana memelototinya. “Aish, percaya diri sekali. Kau jelas keturunan Appa.”
Mereka berdua tertawa. Ketegangan mencair, berganti dengan kehangatan khas kakak-adik.
“Baiklah,” kata Kang Jun sambil berdiri. “Ayo pulang. Kalau tidak, Eomma pasti menelpon marah-marah.”
Di mobil, lampu neon Seoul berkelip di luar jendela. Hana menatap keluar, pikirannya campur aduk. Tiba-tiba Kang Jun bertanya, “Aku lihat tadi kau menatap billboard Jin Woo lama sekali. Masih memikirkan dia?”
Hana menoleh cepat, hampir tersedak ludah. “Oppa!”
“Apa? Aku hanya tanya. Kau dan dia dulu sangat dekat. Aku ingat kalian seperti dua ekor anak anjing yang selalu berlarian di halaman rumah.”
“Ya ampun, jangan pakai perumpamaan itu.” Hana menutupi wajahnya. “Itu memalukan.”
Kang Jun tertawa puas. “Aku serius, Hana. Kalau suatu hari kalian bertemu lagi… apa yang akan kau lakukan?”
Pertanyaan itu membuat Hana terdiam. Ia menatap keluar jendela lagi, melihat bayangan gedung tinggi yang berkilau.
“Aku tidak tahu,” jawabnya lirih. “Aku bahkan tidak yakin dia masih ingat aku.”
Kang Jun menatap adiknya sekilas, tapi tidak berkata apa-apa lagi. Ia tahu, ada hal-hal yang hanya bisa dijawab oleh waktu.
Rumah sudah sepi ketika mereka tiba. Lampu ruang tamu menyala lembut, meninggalkan suasana hangat. Appa sudah di kamar, sementara Eomma menonton drama sambil setengah mengantuk di sofa.
“Kalian pulang terlambat,” gumam ibunya begitu melihat mereka.
“Kami lembur sedikit, Eomma,” jawab Kang Jun.
“Bekerja keraslah, tapi jangan lupa makan,” nasihat ibunya dengan mata setengah tertutup. “Hana, di meja ada sup hangat. Makan dulu sebelum tidur.”
“Baik, Eomma,” jawab Hana sambil tersenyum lembut.
Setelah makan malam ringan dan mandi, Hana akhirnya masuk ke kamarnya. Ia menyalakan lampu meja, lalu duduk di kursi dekat jendela. Dari sana, pemandangan malam Seoul terhampar luas, lautan lampu neon, lalu lintas yang tak pernah tidur, dan udara dingin yang merayap masuk lewat celah kecil jendela.
Hana memeluk lututnya, menatap keluar dengan pikiran berkelana. Hari pertamanya di perusahaan berjalan lebih baik dari yang ia bayangkan. Ia merasa bangga, tapi juga sadar tantangan baru menunggu.
Namun, di balik semua itu, bayangan wajah Jinwoo di billboard masih terus menari di kepalanya. Senyum itu, tatapan itu—berbeda dari masa kecil, tapi tetap familiar.
“Apa kau masih sama, Jinwoo?” bisiknya pelan. “Atau kau sudah terlalu jauh dari dunia lamaku?”
Tangannya meraih sebuah kotak kecil di meja rias. Kotak itu berisi beberapa kenangan masa kecil—foto polaroid pudar, gantungan kunci berbentuk bintang, dan selembar tiket bioskop lama. Semua itu mengingatkannya pada hari-hari di Seoul dulu, sebelum ia pindah ke Jakarta.
Matanya berkaca-kaca, tapi bibirnya melengkung tipis. Mungkin pertemuan itu akan datang. Cepat atau lambat.
Ponselnya bergetar, notifikasi berita hiburan muncul di layar. Ia membaca sekilas: “Jin Woo akan hadir di acara amal minggu depan di Seoul.”
Hana terdiam. Jantungnya berdegup lebih keras. Dunia seakan memberi sinyal bahwa jalan mereka benar-benar akan bersilangan lagi.
Ia menutup ponsel, lalu merebahkan diri di tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamar, mencoba menenangkan pikirannya. Tapi senyum samar tetap tersungging, meski rasa gugup menyelimutinya.
“Baiklah, Seoul,” gumamnya sebelum terlelap. “Mari kita lihat kejutan apa yang kau simpan untukku.”
Di luar jendela, lampu kota berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi, seolah ikut mengamini perjalanan baru yang sedang dimulai.