Pagi kembali datang. Hariku yang membosankan dan monoton dimulai lagi.
Ku matikan alarm yang berdering itu, beranjak dari kasur, mandi lalu berpakaian. Aku yang sudah memakai seragam lengkap turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama orangtua ku.
"pagi pah, mah"
"pagi sayang," mama menjawab
Ku ambil posisi duduk lalu menyiapkan piring sendiri. Papa menyeruput kopi paginya santai dan mama menata lauk di atas meja makan, tak lama setelah itu kami sarapan pagi bersama.
Tak banyak yang kami bicarakan saat makan, itu karena memang keluargaku tidak suka makan sambil berbincang. Setelah selesai aku mengambil tas sekolah di kamar lalu berpamitan pada papa dan mama untuk berangkat ke sekolah.
Aku berangkat dengan jalan kaki. Sebenarnya papa sudah sering bilang agar aku mengendarai motor saja untuk ke sekolah, tapi aku selalu menolak. Jarak rumah ke sekolah tidak terlalu jauh, hanya sekitar 1.4 KM, 20 menit jalan kaki juga sampai kok, untuk apa pakai kendaraan? Lagi pula dengan berjalan kaki begini aku bisa bertemu teman di jalan lalu berangkat bersama.
Papa dan mama selalu berangkat bersama. Hal itu karena entah kebetulan atau ada kisah dibalik 'bersamanya' papa dan mama, mereka bekerja di perusahaan yang sama.
Papa adalah CEO salah satu perusahaan industri tekstil dan mama adalah sekretaris utamanya. Jadi tak jarang kalau mereka lembur berdua, bagaimana tidak? Jika papa sedang disibukan oleh tugas, pertemuan, dan segala sesuatu yang membuat jadwalnya padat, pasti mama juga akan ikut sibuk bukan?
Jadi ya.. mereka berdua sering lembur dalam waktu yang bersamaan.
----------
Tak lama aku tiba di sekolah. Sebelum ke kelas aku menuju kantin terlebih dahulu. Seperti sudah menjadi kebiasaan, aku selalu membeli yoghurt plain tiap pagi dan tiap istirahat.
Setalah mendapat produk yoghurt yang ku inginkan, aku langsung menuju kelas.
[Berisik- seperti biasa.] kataku dalam hati.
Sama seperti siswa pada umumnya, setelah menaruh tas aku mengobrol dengan teman sebelum kelas dimulai.
Derren menghampiriku dan menyeletuk
"yoghurt pagi seperti biasa, hahaha"
"...a.. begitulah"
Selanjutnya pembicaraan kami berlanjut pada murid baru yang akan masuk kelas kami nanti.
"murid barunya cewe woi, katanya sih"
"terus? kenapa emang kalo cewe?"
"aelah Hugoo, ya kali-kali gitu kann"
"hah?"
"ngedeketin aelahhh, PDKT anjirr, PE DE KA TE"
"ohh, yaudah sono"
"ck, dasar batu"
"gue manusia anjir"
"hatinya yang kek batu anjir, heuh pengen nampol rasanya"
"iyaiyaiyaiya..."
Bel masuk berdering. Semua siswa duduk di tempatnya masing-masing, tak lama wali kelas kami datang.
Seperti sekolah pada umumnya, ketua kelas kami memberi perintah untuk berdiri dan memberikan salam pada guru. Setelah itu kami disuruh kembali duduk oleh wali kelas kami.
Di pintu masuk berdiri seorang gadis berambut sebahu yang tampak menunggu panggilan dari wali kelas kami, dan benar saja- tak lama beliau memanggil gadis tersebut dan menyuruhnya untuk memperkenalkan diri.
"selamat pagi teman-teman, saya Yuki, mulai sekarang saya siswa baru di sekolah ini. Saya pindah karena mengikuti tempat pekerjaan orang tua saya. Mohon bantuannnya semua"
Setelah memperkenalkan diri, anak baru yang bernama Yuki itu dipersilahkan duduk di tempat yang sudah ditunjuk wali kelas kami. Tepatnya di sebelah temanku Derren, berarti jarakku dan anak baru itu adalah satu meja. Dimana ada Derren di tengah-tengah kami.
Pelajaran berlangsung seperti biasa, hingga tiba pelajaran menjengkelkan yang sering menghabiskan uang demi membeli bahan-bahan prakteknya. Ya, apalagi kalau bukan prakarya.
Pelajaran prakarya hari ini masuk ke bab baru. Kami disuruh membentuk kelompok yang terdiri dari 4 orang untuk membuat suatu produk dari bahan kayu untuk dijual kembali. Kata sang guru, produk kami bisa dijual saat festival sekolah 2 bulan mendatang.
Waktu pengerjaan adalah 1 bulan. Kami harus membuat suatu karya dan tidak boleh hanya satu. Ya jelas saja, karena produk tersebut harus kami jual kembali saat festival sekolah nanti. Hah-- merepotkan.
Kalau dipikir-pikir, membuat hal seperti ini lalu menjualnya kembali merupakan hal yang tidak penting kan? Seperti mengambil air dari kolam lalu menumpahkannya lagi.
Belum tentu juga kita dapat untung, karena harga barang ataupun makanan yang dijual di festival sekolah tidak boleh terlalu mahal dan sudah ditetapkan standar-standar harganya.
Dan jika di hitung dari uang yang dikeluarkan juga termasuk boros bukan? Selain harga alat dan bahan, kita juga harus menyediakan ongkos pulang dan pergi ketika akan membelinya. Belum ketika harus ke rumah teman dan kumpul bersama untuk mengerjakan. Butuh ongkos pulang pergi dan juga uang jajan, karena sudah pasti jika kerja kelompok begitu akan ada sesi 'jajan bersama' kan?
Hah-- intinya hal seperti ini selalu saja merepotkan. Setidaknya bagiku.
----------
Pada akhirnya kami semua membentuk kelompok 4 orang itu. Karena harus campur perempuan dan laki-laki, jujur aku tidak bisa memilih, karena aku tidak terlalu dekat dengan anak-anak perempuan. Jikalau ada itupun hanya satu. Chika- temanku dari kecil. Rumah kami berdekatan dan sudah satu sekolah sejak SD.
Kembali pada penentuan kelompok, aku sudah pasti mengajak Derren yang merupakan teman baikku di kelas ini. Setelah itu Chika bergabung sambil meledek "kasian nih yang gapunya temen cewe, yaudah, karena Chika baik hati dan peduli teman. Chika gabung sini ya." Begitu katanya.
Yosh, sekarang sudah 3 orang. Sisanya tinggal-
"ano-- emm, boleh gabung kesini gak? E-euu kalau gak boleh gapapa kok"
"siapa bilang gak boleh, kebetulan tinggal satu orang lagi. Sok aja sini sini"
Yuki, si anak baru itu meminta bergabung dan disambut baik oleh Derren si raja tebar pesona.
"hooh, boleh kok. Sekalian biar Chika ga cewe sendiri disini, haha"
Dan pada akhirnya kelompok ini terdiri dari Derren si raja tebar pesona, Chika si bekantan lepas, Yuki si anak baru yang entah bagaimanan sifatnya, dan aku si siswa normal- mungkin (?)
----------
Bel pulang sekolah berbunyi, kami merapikan tas dan bersiap untuk pulang. Setelah berdoa bersama, kami (anggota kelompok prakaryaku) berjalan pulang bersama.
Di perjalanan kami membicarakan tentang produk apa yang akan kami buat nantinya.
"kita mau bikin apa nih? gausah yang susah-susah lah" (Chika)
"bikin momobilan aja gimana?" (Derren)
"susah podohh" (Chika)
"bikin figura foto aja gimana?" (Chika)
"kayu woi, figura foto dari kayu susah, kalo mau gampang mah triplek paling" (aku)
"emm, kalau kalender kayu gimana? Buatnya gak terlalu susah kok, terus sisa kayunya bisa kita bikin vas bunga kecil biar ga mubazir" (Yuki)
"wuiiiihhh boleh kok, emang ya Yuki, kamu udah pinter, cantik lagi. Haha" (Derren)
"hiliihh bilang aja lo ga kepikiran apa-apa tadi, wlee" (Chika)
"ributtt mulu kerjaan" (aku)
"sok aja, itu boleh, kalian berdua gimana?" (aku)
"oke" (Chika dan Derren)
Pada akhirnya kami memutuskan membuat kalender dari kayu dan sisanya kayunya dibuat vas. Kami memutuskan untuk belanja bahan-bahan pada hari sabtu dan memulai pengerjaan di rumah Derren.
----------
Kami berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Aku tidak langsung pulang melainkan mampir dulu ke butik anak om Arley yang bernama Arata itu.
Aku penasaran, makanya aku mampir kesana.
Tak lama aku sampai di butik tersebut.
"butiknya lumayan, elegan dan minimalis," kataku mengomentari tanpa sadar.
Kulangkahkan kakiku berkeliling di dalam butik ini. Tak menemukan apa yang kucari- aku melangkah menuju lantai atas menggunakan tangga spiral ini. Belum sempat aku menginjakkan kaki di anak tangga ke 3, ada suara yang seperti mencegatku dari belakang.
"selamat siang tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"oh, emm, saya mau bertemu pak Arata, apa beliau ada disini?"
"beliau ada keperluan siang ini, apa tuan sudah membuat janji sebelumnya?"
"oh- begitu ya, saya tidak membuat janji sih, saya kesini cuman ma--"
"dia kenalan saya"
Terdengar suara lembut dan ramah dari belakangku. Refleks aku membalikan badan ke arah suara itu. Kak Arata, dia dengan balutan kaus turtle neck putih berlengan panjang dan celana kain berwana coklat s**u berdiri tepat di belakangku. Dia tersenyum ramah. Ada cangkir teh di tangan sebelah kanannya.
"tidak apa-apa, dia kenalan saya"
Sambil mengatakan itu, dia tersenyum dan berjalan ke arahku. Tepatnya ke samping kiriku.
"ah, maaf pak saya sudah lancang, sekali lagi-"
"nggapapa kok"
[manis], kataku dalam hati. Senyumannya, kata-kataya, suaranya, sangat sangat manis. Kupikir dia ini terlalu lembut untuk seorang laki-laki. Entah memang temanku yang sangat sedikit sehingga aku tidak begitu tahu tentang karakter orang lain, atau memang ada laki-laki yang bisa semanis ini?
"hei"
"hah? i-iya?"
"ahaha, kok malah ngelamun? Anyway- kamu ada perlu apa kesini?
"emm, gaada apa-apa sih, kebetulan aja lewat dan emang pengen mampir kesini, penasaran juga sih"
"humm, begitu ya, saya kira ada apa. Haha"
Ada apa? Ada apa apanya? Ada apa kayak gimana? Mau beli baju? Nggak lah, mana bisa aku beli baju sekarang, orang aku pengen beli nitendo switch. Ya-- baju-baju disini unik sih, bagus juga. Ya pengen sih, tapi nitendo switchku lebih penting sekarang. Gagaga. Gaboleh sampe malah kepake beli-beli yang kayak beginian.
"kalauu,,, kalau kamu ga sibuk, bisa temenin saya tidak?"
"bisa sih, ka- pak Arata mau kemana?"
"huh? Hahaha, jangan panggil saya gitu ah, kayak udah tua banget rasanya"
"..."
"Arata,,, aja gapapa. Lagian umur kita ga beda jauh- kan?"
"... mau kemana,, Arata?"
"..."
......jadi? Selanjutnya apa? Aku bingung sekaligus tertegun melihat pria di hadapanku ini. Dia sendiri yang bilang 'panggil Arata aja gapapa,' tapi sekarang dia malah mematung di depanku.
Mata kami saling bertemu. Diam- kulihat pria di depanku ini sangat,,menarik? Pipi dan telinganya me-merah. [manis] kataku lagi dalam hati.
"Arata? "
"ohh, emmm, saya mau bertemu client diluar. Kamu mau temenin?"
Aku mengangguk menanggapi pertanyaan Arata. Selanjutnya, kami berjalan bersama. Keluar dari butik, masuk ke mobilnya, dan menuju ke tempat beliau akan bertemu dengan clientnya.