Bantingan pintu mobil terdengar sangat keras membuat si pemilik berdecak kesal. Mata si pemilik mobil sudah melotot, tapi pelakunya justru memelotinya balik. “Kenapa jadi kamu yang melototiku?” Begitu kata si pemilik mobil.
“Aku sedang kesal sekarang dan kamu harus bertanggung jawab. Jalankan mobilnya sekarang, kamu harus mentraktirku makan.” Namun tidak ada tanggapan apa pun dari si pemilik mobil dan itu membuat si pelaku memasang raut garangnya. “Aku bilang, jalankan mobilnya sekarang!” Menghela napas kesal, pada akhirnya lelaki yang ada di belakang kemudi itu melakukan apa yang diminta gadis yang ada di sampingnya.
“Kenapa wajahmu pahit begitu? Ada yang salah?”
“Semua ini karena kamu. Aku jadi mendapatkan teguran keras dari Rigel.”
“Oh ya?” Bukannya merasa bersalah, Archer justru tersenyum penuh arti. “Apa yang dia katakan?” Lalu meluncurlah semua hal yang dikatakan oleh Rigel kepada Bee pagi tadi. Tanpa sisa sama sekali. “Dia mengatakan jangan bermesraan di depan dia?”
“Ya, itu yang dia katakan.”
"Artinya dia nggak suka melihat kamu bersama lelaki lain?"
“Ya iyalah. Kalau aku dapat isu buruk, nama dia kesangkut, Archer. Jangan bodoh deh.”
“Bukan aku yang bodoh. Tapi kamu!” Archer menatap Bee yang sudah mengeluarkan tatapan mautnya karena rasa kesalnya. Lampu lalu lintas menyala merah dan mobil berhenti, sembari menunggu, Archer menyerongkan tubuhnya untuk bisa memberikan fokusnya kepada sepupu paling cantiknya tersebut. “Kamu lagi-lagi bodoh karena tidak bisa mencerna apa yang dikatakan oleh Rigel. Dia mengatakan jika dia tak mau melihat kamu bermesraan di depan dia. Itu artinya dia sedang cemburu ketika kamu dengan orang lain. Ucapan orang yang kesal, itu adalah gambaran perasaan yang sesungguhnya, kamu harus paham itu.”
“Ngaco!” Sanggahan itu cepat diberikan kepada Archer meskipun kenyataannya hati Bee sudah tak karuan. Bahagia bercampur bimbang.
“Kalau kamu tidak percaya, kita bisa melakukannya lagi.” Archer sepertinya memang benar-benar nekat mencari tahu tentang perasaan Rigel kepada Bee. Tak tahan melihat sepupunya yang terus berjuang sendiri selama sepuluh tahun. Meskipun Archer pun tahu jika manusia seperti Rigel memang patut untuk diperjuangkan.
“Caranya?” Bee sebenarnya tidak ingin mengikuti kekonyolan Archer, tapi mau bagaimana lagi, dia benar-benar dirasuki perasaan penasaran yang tidak berujung maka tidak ada salahnya mencoba. Toh kemungkinan-kemungkinan yang dikatakan oleh Rigel cukup masuk akal. Mengelak pun dia tak akan bisa, karena perasaan ingin melakukan itu cukup kuat.
“Kamu hanya perlu ikuti saja aku, aku tidak akan pernah menyesatkanmu.” Jawaban yang cukup simple, tapi Bee memang selalu mempercayai orang-orang yang sejak dulu selalu menjadi orang yang melindunginya. Yaitu, keluarganya.
Masuk ke restoran seafood, Bee memilih makanan kesukaannya kemudian mencari meja untuk mereka menunggu pesanan datang. Namun siapa yang sangka, mereka dipertemukan kembali dengan Bintang dan Rigel. Bintang memasang senyum ramahnya kepada adik-adiknya itu berbanding dengan Rigel yang memang bibirnya terus saja terbungkam rapat. Kebetulan yang menyenangkan bukan? Tentu saja aksi Archer benar-benar akan dilakukan kali ini karena dia tak ingin Bintang membongkar identitasnya di depan Rigel yang Archer tahu Rigel melupakannya.
“Kalian ada di sini juga? Apa kita gabung saja, Gel?”
“Masih ada kursi kosong, jangan mengganggu pasangan!” Ketika mengatakan ‘pasangan’ bahkan ditekan sedemikian rupa untuk menyindir Bee. Seharusnya Bee bisa melepaskan atribut jabatannya sebagai seorang sekretaris Rigel ketika di kantor, tapi dia tak melakukannya.
“Pasangan?” Bintang bingung.
“Ya, seharusnya Abang cari tempat lain saja.” Archer memberikan kode kepada Bintang lewat tatapannya dan bisa segera dimengerti. “Kami ingin quality time berdua. Kami sudah sangat lama tidak bertemu, dan kami membutuhkan waktu untuk itu.” Archer benar-benar berperan dengan sangat baik dan Bintang sepertinya hanya perlu mengikutinya. Dan tentang tidak bertemu sangat lama memang benar adanya. Lelaki itu baru saja datang dari luar negeri untuk menyelesaikan kuliahnya.
“Baiklah kalau begitu. Kami cari tempat lain saja.” Bee sama sekali tak mengatakan apa pun dan memilih membungkam mulutnya rapat. Archer tidak melakukan banyak hal, hanya mengeluarkan daging kepiting dari cangkangnya kemudian meletakkan di atas piring Bee agar memudahkan gadis itu untuk makan. Dan memang itulah yang selalu dilakukan oleh lelaki itu ketika mereka makan kepiting bersama. Tidak ada ‘bumbu-bumbu’ lain untuk mendramatisir keadaan atau sengaja untuk membuat Rigel cemburu, tapi entahlah, tampaknya ada yang merasa goyah dengan perasaannya.
Karena di ujung sana, di mana Bintang dan Rigel duduk, Bintang melihat ada yang berbeda dengan sahabatnya tersebut. Ada lirikan yang sesekali terlihat di mata Bintang mengarah ke meja Bee. Bintang tak akan mengusik Rigel dengan pertanyaannya, dia hanya akan memperhatikan saja.
***
Rigel menumpukan kedua tangannya pada pembatas balkon kamarnya. Angin berhembus lembut seolah tak ingin membuat lelaki itu terganggu. Cuaca sangat bagus bahkan bintang pun bersinar dengan terang. Rigel menatap bintang-bintang itu tanpa mengalihkan tatapannya ke arah lain. Bukankah dia bagian dari mereka? Rigel dalam arti sesungguhnya adalah bintang paling terang di rasi bintang Orion. Itulah kenapa, ketika nama itu diberikan kepada lelaki itu, Rigel, menjadi sebuah kesempurnaan yang terlihat nyata di mata orang-orang. Saking terangnya, bahkan tak ada yang berani mendekatinya. Dan Bee, adalah satu-satunya perempuan yang memiliki kegigihan tinggi untuk mendapatkan lelaki itu. Tentu saja minus Bella.
Nama Bee tiba-tiba saja masuk ke dalam pikirannya dan sebuah tali rumit menali bayangannya sampai bayangan itu terus saja berputar tanpa henti. Rigel sudah berusaha untuk mengenyahkan segalanya hanya saja tak berhasil. Rigel menarik napasnya panjang berusaha untuk mengabaikan. Berbalik untuk kembali ke dalam kamar, dia dikejutkan oleh seorang perempuan paruh baya berdiri sambil menatap ke arahnya.
“Bunda.” Katanya dengan lembut. Rigel tak pernah bersuara tinggi jika bersama dengan orang tuanya. “Ngagetin aja.”
“Bunda sudah ketuk pintu, sudah panggil nama kamu, tapi kamu terlalu asyik melamun.” Kata Navya dengan lembut kemudian duduk di pinggiran ranjang putranya. “Apa ada yang mengganggumu?” Rigel mengikuti ibunya dan duduk di samping perempuan tersebut.
“Nggak ada. Hanya sedang banyak pekerjaan.” Mana mungkin Rigel mengatakan kalau pikirannya sedang kurang baik. Apalagi itu tentang Bee dengan lelaki asing yang tak dikenalnya.
“Lalu, kamu sudah baik-baik saja setelah putus cinta?” Ibunya menggodanya dengan senyum. “Kalau sudah, Bunda kira kamu sudah bisa mencari penggantinya.”
“Aku nggak pernah merasa sakit hati dengan perginya Bella. Dia bukan perempuan yang pantas dipertahankan.” Sedikit pedas memang apa yang diucapkan oleh Rigel, tapi baginya itu memang benar. Orang yang tidak bisa menjaga sebuah komitmen yang sudah dibuat, maka dia tak pantas untuk berada di sisinya.
“Lalu kenapa kamu menyia-nyiakan orang yang sudah setia kepadamu?” Navya mendesak. “Bee, dia sudah berjalan sejauh ini dan bahkan tidak mundur. Kamu akan mendapatkan perempuan seperti itu di mana, Nak? Mampu bertahan meskipun hatinya kamu patahkan berkali-kali.”
“Bee tidak masuk dalam daftar, Bunda. Hatiku nggak bergerak karena dia.”
Rigel. Pembohong!
***