Dua orang dewasa terlihat memiliki beberapa masalah, saling beradu argumen hingga mereka melupakan seorang gadis yang terduduk di salah satu sudut kamar. Hari ini masih pagi dan seisi rumah sudah digetarkan oleh pertengkaran itu, pertengkaran yang disediakan ini kebanyakan mengisi indra pendengaran seorang Volentia. Aku harap Gazelle, dan Ritzy belum pulang . Tentu saja akan jadi masalah jika saja si kembar sampai pasangan pertengkaran ini. Bagi Volentia mungkin lebih baik dia yang mendengarkan pertengkaran itu, jangan sampai kedua adik kembarnya mendengarkan hal itu, toh aku juga penyebab pertengkaran itu.
Volentia sedikit menengadahkan, mata membaur dengan cepat mencari kertas yang menjadi asal mula masalah yang ia sebabkan kali ini.
Sebuah surat dengan stempel resmi terlihat tergeletak di atas meja belajarnya. Dengan cepat meraih kaca mata yang entah bagaimana bisa tergeletak di lantai. Tentu saja surat yang diterima sangat diharapkan.
Kepada: Tn. & Ny. Klein
Dengan hormat,
Kepala Sekolah Hamburg St. Pierre
Dengan berat hati kami meminta maaf kepada kalian berdua. Menurut peraturan yang ada, putri kalian menyatakan dikeluarkan dari sekolah atas apa yang bisa dilakukan. Kami tentu saja sudah menyelesaikan semuanya, dan beberapa saksi membenarkan hal itu.
Sekali lagi dengan berat hati, kami meminta maaf.
Belum selesai surat itu terbaca gadis itu buru-buru mengepalkan tangan kanannya yang memegang surat itu. Membuatnya menjadi gumpalan kertas biasa. Surat omong kosong . Berkali-kali dia mengatakan hal itu, hanya untuk menyemangatinya, tetapi ia tahu jika itu tidak ada gunanya. Suara kedua orang tua yang mulai mempertanyakan cara mendidik dengan benar dengan cepat memenuhi indra pendengarannya.
----------
"Kamu hanya perlu menjawab pertanyaan yang kami ajukan dengan jujur Nona," kata seorang psikolog yang terduduk di Volentia.
"Apa setelah itu kalian akan mengirimku ke sekolah yang ada di dimensi lain itu?" tanya Volentia cepat.
"Itu tergantung dengan hasil dari wawancara ini. Anda tenang saja, Otoritas Tertinggi tidak akan pernah menyianyiakan bakat seorang penyihir, hanya saja wawancara ini diperlukan agar kami mengetahui dimanakah Anda harus di tempatkan," jawab psikolog lainnya. "Ini semua tentu demi kenyamanan Anda sendiri."
Volentia hanya mengangguk pasrah pada keadaan. Suara metronom yang diputar perlahan terdengar di indra pendengarannya. Matanya menatap kedua orang tuanya yang berdiri beberapa langkah di belakangnya sementara kedua adiknya terlihat berada di salah satu sudut anak tangga, mencoba mengintip apa yang sebenarnya terjadi. Cahaya berwarna keemasan dengan cepat melingkari tiga orang yang berada di atas permadani ruangan keluarga.
"Siapa nama Anda?"
"Flora Volentia Klein," jawab Volentia. "Veranda untuk manusia, dan Volentia untuk penyihir."
Psikolog pertama terlihat membuka beberapa kertas berisi riwayat kenakalan yang sudah gadis itu lakukan. "Kita akan mulai dari yang paling lama," ucapnya. "Kacang polong setinggi satu meter?"
"Praktek budidaya tanaman yang berakhir dengan nilai E karena mereka mengira aku menukar tanaman kacang polongku dengan tanaman kacang polong lainnya."
Suara metronom masih saja bersenang-senang dengan kecepatan yang lambat. "Aku akan melompati beberapa kasus. Ah, ini. Keracunan di jam makan siang?"
"Aku tidak sengaja melakukannya. Tanaman itu muncul karena sebelumnya aku merasa kesal dengan salah seorang temanku."
Suara metronom sedikit berpindah ke arah sedang.
"Kami tahu Anda berbohong Nona. Tolong jawab pertanyaan ini dengan jujur, kami tentu tidak bisa membantu Anda jika saja Anda tidak menjawab pertanyaan ini dengan jujur," ucap psikolog kedua. "Keracunan di jam makan siang, tolong jawab dengan jujur."
"Aku sudah menjawabnya dengan jujur. Itu sebuah ketidak sengajaan," ucap Volentia mengulangi perkataannya. Sedikit getaran terasa di ucapannya kali ini diikuti suara metronom yang berpindah ke arah cepat.
"Kami tahu Anda berbohong Nona. Sekali lagi tolong jawab pertanyaan kami dengan jujur," ucap psikolog pertama. "Keracunan di jam makan siang."
Volentia hanya terdiam. Seakan mencoba mencari jawaban yang tepat, atau mungkin mencoba menyembunyikan fakta yang ada.
"Apa ada unsur kesengajaan dalam kasus kali ini?" tanya psikolog kedua membuat retina mata Volentia sedikit berkedut pelan.
"Apa jika aku menjawabnya dengan jujur kalian akan percaya?" tanya Volentia seakan pandangannya itu terasa kosong. Angin dingin tiba-tiba saja terasa di sekitar mereka, kedua psikolog itu seketika bertukar pandangan satu sama lain saat beberapa sulur tanaman tiba-tiba saja melilit mereka dari bawah dua kursi.
"Kami akan percaya," ucap psikolog kedua. "Kami akan percaya dengan Anda jika saja Anda percaya pada kami."
Volentia masih saja dengan pandangan kosongnya. "Hari itu beberapa anak berniat melemparinya dengan sisa makan siang yang mereka dapatkan disaat dia dilarang mendapatkan makan siang karena kasus 'Ruang Musik yang dipenuhi Bunga Bangkai'. Kalian berdua bisa menanyakan kasus itu nanti, kau melewatkan beberapa baris."
Psikolog pertama terlihat membolak-balik beberapa kertas dengan cepat di saat psikolog kedua sibuk mencatat apa yang dikatakan Volentia.
"Aku tidak bisa diam saja saat melihat dia akan merasakan rasa sakit itu sendiri, jadi setidaknya aku akan membuat mereka juga merasakan sesuatu." Volentia sedikit menarik nafasnya perlahan berlawanan dengan metronom yang semakin berdentang dengan cepat. "Bunga sintronica sering digunakan beberapa Malaikat Maut untuk meracuni manusia jika digunakan dalam dosis besar. Aku hanya menggunakan beberapa tetes serbuk bunga itu. Aku pikir itu balasan yang tepat jadi maaf saja untuk hal itu."
Retina Volentia kembali berkedut pelan. Suara metronom kembali ke kondisi semula. Beberapa sulur tanaman menghilang bersamaan dengan angin yang seketika kembali ke kondisi normalnya. "Maaf," ucap Volentia mengigit salah satu jari tangan kanannya.
Psikolog pertama membuka catatan yang berantakan itu. "Kami tahu Anda berbohong, tolong ja-"
"Sudah, dia sudah menjawabnya dengan jujur," instruksi psikolog kedua.
"Bagaimana dengan kasus ruang musik yang dipenuhi bunga bangkai?" tanya psikolog pertama mengenai salah satu kasus yang sebelumnya sengaja ia lompati.
Volentia menurunkan jari tangannya. "Apa kalian akan percaya jika aku menceritakannya?" tanyanya namun pandangannya kali ini tidak kosong. Pantulan kedua psikolog itu setidaknya masih ada di dalam matanya itu. "Itu hanya lelucon biasa."
"Aku rasa pertanyaan kita sudah cukup." Psikolog kedua berdiri dari tempat duduknya. "Selamat datang di Witch Academy, Nona. Anda baru saja lolos seleksi wawancara."
---
"Yang dilewatkan terkadang lebih berarti."