Makan siang kali ini berada di ruangan berkumpul yang bergaya Maroco dengan warna dominan merah bata dan coklat tanah. Ruangan yang entah mengapa menurut Volentia, mengelompkkan semua siswa asrama ke dalam tiga koloni tersendiri. “Oliv, di sini!” Seorang siswa berambut pirang melambaikan tangannya ke arah Oliv untuk berada di koloninya yang terdiri dari anak-anak berjas hitam kecuali seorang anak dengan kemea putih.
Oliv memberi kode agar gadis itu berjalan mengikutinya. “Apa menu makan siang kali ini?” tanya Oliv saat ia sudah duduk di kiri anak yang tadi melambaikan tangan padanya, membuatnya duduk di kanan Volentia. Tidak ada seorangpun dari mereka yang menyentuh makan siang masing-masing, seakan menunggu sebuah kode.
“Roti isi jelly, sup nanas, dan daging beserta isi-isinya perut lembu muda,” jawab seorang anak berambut kecoklatan yang duduk di samping si rambut pirang, satu-satunya siswa berambut coklat yang duduk di meja itu. “Berita bagusnya, Albus dan Ella mungkin bisa memberikan kita beberapa kue kering yang mereka ambil dari asrama Strugh.”
Anak berambut pirang itu terlihat melakukan high five dengan anak laki-laki berambut hitam yang duduk di depannya.
“Kalian mengambil atau meminta?” tanya anak laki-laki yang duduk di depan Oliv.
“Aku rasa mereka mengambilnya, tanpa izin,” ucap Oliv dalam artian mereka mencurinya. “Apa kalian sudah bertemu anggota terbaru angkatan kita? Volentia.”
“Volentia? Nama yang bagus. Kau anak didik Zelda?” tanya si anak berambut hitam. “Kau dari afiliasi apa?”
“Aku rasa begitu, aku baru bergabung di afiliasi sekolah. Aku rasa baru itu,” jawab Volentia jujur.
Beberapa barisan siswa terlihat memasuki ruangan itu. Menambah koloni penyihir yang menurut Volentia terlihat seperti gerombolan anak-anak manusia pada usia remaja secara umum, kelas dua belas?Zelda yang berada di sebuah meja yang tegak lurus dengan ketiga meja lainnya memberi isyarat pada Serenity lewat beberapa gerakan tangan yang tidak begitu terlihat oleh puluhan pasang mata anak didiknya yang lain. Kelinci gemuk itu dengan cepat meraih sebuah lonceng yang terikat dengan ujung telinga kanannya. Membunyikannya selama beberapa saat. Tanda jika jam makan siang telah dimulai dan para siswa dipersilahkan untuk menikmati makanan mereka masing-masing.
Ramai. Mungkin itua kata yang tepat yang mampu digunakan untuk menggambarkan suasana ruangan itu kali ini. Beberapa penyihir muda yang ada di koloni Kemeja Putih, menurut Volentia, sedikit memperdebatkan tentang isi perut lembu muda yang menurut sebagian dari mereka hanya dimasak setengah matang, atau mungkin masih mentah. Sedangkan koloni penyihir yang berpakaian selayaknya manusia itu terlihat tidak begitu mempermasalahkan menu makan siang mereka, lebih tenang dan sibuk dengan maeri pembelajaran yang baru saja mereka pelajarai.
“Tidak masalah, kau bisa meniru Clark,” ucap si gadis pirang. “Dia datang tanpa afiliasi dan sekarang menjadi siswa dengan total keanggotaan afiliasi terbanyak sepanjang sejarah. Coba saja bayangkan, sepuluh afiliasi selain afiliasi kenegaraan dan afiliasi sekolah, dengan dua afiliasi yang masih memintanya untuk bergabung, dan fakta jika itu bisa saja akan terus bertambah.”
Volentia hanya mengangguk dalam diam. Ia sama sekali tidak berani menatap siswa yang duduk di depannya. Siswa yang sebelumnya sudah pernah ia temui karena kedatangannya yang tiba-tiba, yang berujung pada rusaknya bagian belakang jas hitam yang saat ini sedang tidak ia kenakan.
“Aku rasa kita sudah cukup mengenalnya, apa tidak ada yang ingin berkenalan dengannya?” tanya siswa itu menatap santai ke arah Volentia.
“Tentu saja, biar aku yang mulai,” ucap Oliv dengan cepat memotong teman-temannya yang lainnya. “Seperti yang kau tau, aku Snow Olivia Aquarie, atau Olivia, atau hanya Oliv. Anggota afiliasi Pecinta Buku Hidup, Relawan Penyihir Remaja, dan Barisan Demokrasi Baru.” Oliv mengenalkan dirinya dengan jas yang menyematkan beberapa pin lain yang berada di sekitar pin sekolah.
“Beberapa dari kami tergabung dalam afiliasi yang sama, seperti Albus dan Ella,” ucap anak yang duduk di depan Oliv. “Aku Oliver, Jack Oliver Washington. Anggota afiliasi Penjelajahan Perdamaian, Aktivis Keadilan Dunia Tengah, dan Kader Perwakilan Antar Negara Sihir Bagian Deep Ocean.”
“Dari afiliasi Pertahanan Sihir dan Materi Gelap, dan Kolekter Barang-Barang Magis,” ucap si rambut pirang memperkenalkan diri. “Francescha Hellia Ceresty, aku harap kau tidak akan pindah ke asrama lain karena semua asrama sudah penuh.”
“Terutama asrama Sturgh yang bahkan menyuruh siswa mereka untuk menggunakan ruangan loteng bawah tanah,” ucap anak yang duduk di depan Ella. “Al atau Albus, lebih tepatnya Dylan Albus Bringinham, hanya terdaftar di Pertahan Sihir dan Materi Gelap.”
“Setiap akhir bulan akan ada beberapa tawaran yang diajukan beberapa afiliasi, kau bisa mencobanya kapan-kapan,” ucap gadis berambut coklat. “Sasha Gaia Anderson, hanya ingin dipanggil Ai, dan jangan yang lainnya. Oke?”
“Hi, Clark! Kau kenapa? Kenapa tidak memperkenalkan dirimu pada Volentia?” tanya Oliver yang duduk di sampingnya. “Bukankah kau yang memiliki ide untuk memperkenalkan diri kita masing-masing?”
Clark terlihat sedikit mendengus kesal dan Volentia hanya bisa terdiam di tempat duduknya. “Clark Ares Winder. Afiliasi Penelitian Angka dan Huruf Sangat Sangat Kuno, Pendaki Pytagoras Tanpa Alat Bnatu, Angkatan Laut Terlatih Tanpa s*****a, Pasukan Pengamanan Perbatasan dan Bala Bantuan, dan masih banyak lagi,” ucapnya menatap pada Volentia tidak suka. “Aku pergi, aku tidak begitu selera. Perut lembu milikku terlalu matang.”
Clark beranjak dari tempat duduknya disaat Oliver terlihat membalik perut lembu muda yang sama sekali belum tersentuh itu. “Ini bukannya terlalu matang, tapi setengah matang, bahkan masih mentah,” koreksi Oliver setengah berteriak membuat beberapa pasang mata terarah pada koloni mereka.
Ini salahku. Volentia mencoba menahan nafasnya selama beberapa saat mengingat ia baru saja membuat jas seorang murid dengan total keanggotaan afiliasi terbanyak sobek. “Jangan berkecil hati, itu bukan salah siapa-siapa,” kata Oliv mencoba menyemangati. “Ai bisa membutulkan jas itu dengan cepat. Iya, kan?”
“Apa? Jas itu?” tanya Ai mengehentikan aktivitasnya. “Entahlah, aku kehabisan benang ulat api, mungkin akan membutuhkan waktu cukup lama. Memang ada apa?” Oliv terlihat sediki menahan tawa saat Volentia justru terlihat semakin menyesali perbuatannya waktu itu. “Jangan simpan sendiri, ada apa memangnya?” tanya Ai penasaran.
Volentia menundukkan kepalanya cukup dalam saat mencoba mengatakan kalimat itu. “Aku yang merusak jas itu.”
Dan dalam hitungan detik, Albus dan Ella dengan cepat tertawa lepas karena baru saja menemukan seorang pengacau baru di asrama itu. “Ini berita bagus Voltaire, sangat-sangat bagus,” ucap Ella. “Ini hari pertamamu dan kau sudah melakukan hal ini. Luar biasa!”
---
"Inti dari kehidupan adalah penyesalan dan pengajaran."