Awalnya akses portal antara dimensi manusia dengan dimensi lain yang ada di dunia ini tidak seketat sekarang. Penjagaan yang dipantau Otoritas Tertinggi juga tidak seketat saat ini. Membuka portal bukanlah sebuah kejahatan pada awal peradaban bumi. Alasannya, hanya karena tidak ada yang meresa jika tiap-tiap penduduk antar dimensi itu berbeda. Namun lama kelamaan setiap makhluh mulai dikelompokkan berdasarkan asal mereka, identitas kelahiran mereka.
Abu-abu. Hitam. Dan Putih.
Manusia diberi kode Abu-abu. Penyihir dan makhluk dunia bawah diberi kode Hitam. Sedangkan keturunan dewa atau malaikat diberi kode Putih. Pemberian kode ini memiliki alasan agar masing-masing penduduk antar dimensi mampu menerima keberradaan satu sama lain, namun faktanya meski manusia masih menghargai keberadaan para penyihir dan makhluk dimesi lainnya dan begitu juga sebaliknya, pemberian kode justru membuat perbedaan yang ada terasa nyata. Semakin nyata hingga dunia dimana kini kita berada terasa seperti dikotak-kotakkan.
Titik-titik perbatasan di sekitar portal antar dimensi secara perlahan juga mulai ditambah penjagaannya. Semakin memuat fakta jika rasa kepercayaan penduduk antar dimensi semakin merenggang. Di dimensi penyihir, titik-titik perbatasan dibagi menjadi empat wilayah yang kemudian menjadi empat wilayah kekuasan yang masing-masing kekuasaannya dipegang oleh Keluarga Tertinggi. Keluarga dengan kemampuan sihir yang tidak perlu dipertanyakan lagi untuk masing-masing keturunannya.
Keluarga pertama adalah keluarga Blue Brain yang dipimpin oleh wangsa Aquarie. Wilayah kekuasaan mereka berada di lautan tanpa dasar di daerah selatan. Dengan sistem pemerintahan Republik yang berpusat di Deep Ocean. Sifat keluarga ini yang tenang, dewasa, dan penuh pertimbangan menjadikan mereka menjadi pemimpin di antara Keluarga Tertinggi lainnya sejak pembagian kekuasaan dicetuskan.
Keluarga kedua adalah Red Heart, yang dipimpin oleh wangsa Ceresty. Mereka berkuasa di wilayah timur yang memiliki penampakan pegunungan berapi yang diitari oleh padang rumput gersang. Pemerintahan Kekaisaran mereka berpusat di jantung gunung Helleden. Sifat keluarga ini yang patuh, keras, dan disiplin menjadikan mereka memiliki kekuatan fisik yang lebih unggul dari keluarga lainnya dengan kekuatan api mereka.
Keluarga ketiga adalah Brown Iris, yang dipimpin oleh wangsa Anders. Bentuk pemerintahan Presidensial mereka berada di wilayah Red Wood di daerah barat dengan Gaia State sebagai pusat pemerintahan sekaligus kota pusat industri mereka.
Keluarga Keempat adalah White Blood yang dipimpin oleh wangsa Klein. Tidak ada yang tahu mengenai bentuk pemerintahan mereka, karena keluarga itu sudah lama hilang, punah. Tahun ketujuh zaman Epoch, adalah tahun yang paling mengerikan bagi hubungan dimensi manusia dan penyihir, khususnya wangsa Klein. Bangsa manusia secara brutal dan habis-habisan membunuh ribuan penyihir yang tinggal wilayah mereka. Wilayah yang kini digunakan sebagai tempat berdirinya Capitol, ibu kota dimensi sihir.
Banyak anggota keluarga yang hilang, diculik, ataupun dibunuh. Dan wangsa Klein terpaksa lengser karena semua rangkaian tragedi pelenyapan keluarga mereka secara besar-besaran, yang berbuah meninggalnya tiga penerus keluarga. Michael Moulvoski Klein, gugur ketika jantungnya ditusuk panah beracun ketika sedang berpidato di depan rakyarnya. Wilham Arthur Klein, diberitakan menjadi salah satu korban tragedi Luca yang menewaskan ribuan juta jiwa penyihir, namun jasadnya tidak ditemukan. Flora Aranda Klein, ditemukan tak bernyawa di Tanah Kehilangan, bersama seorang penyihir ras Black Stand saat mencoba menyerang ke wilayah Brown Iris.
------
Ai menutup buku yang ia pinjam dari perpustakaan, mereka telah kembali ke asrama Sylvester, ruangan berkumpul kali ini memiliki desain minimalist dominan warna biru laut. Penny memberikan mereka kompensasi untuk tidak mengikuti sisa jam pelajaran hari itu dengan catatan harus membantunya untuk mengurus perpustakaan.
"Intinya sekarang Oliv adalah Blue Brain, Ai adalah Brown Iris, aku adalah Red Heart, dan kau adalah White Blood," ucap Ella mempersingkat setiap kata, atau mungkin kalimat yang ada.
"Apa mungkin salah satu dari mereka bertiga pergi ke dunia manusia untuk bersembunyi?" tanya Oliv membuat sebuah kemungkinan. "Tapi jika benar, siapa? Dan kenapa dia baru mengatakannya saat usiamu mendekati 17 tahun? Apa di keluargamu sama sekali tidak ada penyihir selain kau? Maksudku, 17 adalah angka yang sangat magic, dan kenapa pula Zelda baru menemukanmu sekarang? Nama keluargamu saja sudah menjelaskannya."
Volentia menggelengkan kepalanya, ini kali kesembilan Oliv menyakan asal usulnya dalam satu hari. "Aku tidak tahu, Ayahku anak tunggal dan Ibu mungkin bukan anak tunggal, tapi nama keluarganya Tenebris, bukan Klein. Hanya saja rambutku berwarna pirang disaat kedua orang tuaku berwarna hitam."
"Bagaimana bisa?" tanya Ella penasaran.
"Ayah bilang warna rambutku menyerupai warna rambut adik dari Kakek Kakek buyutnya yang sudah lama meninggal karena itu juga ia menamaiku Flora sesuai dengan nama depannya," jawab Volentia.
Ai yang baru saja kembali untuk meletakkan buku itu sedikit terperanjat. "Aku rasa ini mungkin terjadi," ucapnya.
"Aku rasa begitu, tapi siapa? Michael atau Wilhem?" tanya Oliv membaca pikiran Ai. Namun dirinya seperti tersentak saat menyadari sesuatu. "Nama keluarga Ibumu Tenebris? Rasanya aneh mendengar nama keluarga manusai yang seperti itu."
"Kakek dari jalur Ibuku adalah seorang imigran, meski aku tidak begitu tahu dari mana dia berasal." Volentia sedikit mengingat kunjungan Kakek dari jalur Ibunya yang cukup menyenangkan ini, setidaknya dia membelikan banyak sekali hadiah natal dengan anggapan jika gadis itu dan kedua adiknya akan merayakannya hanya karena bersekolah di sekolah berbasis keagamaan.
Ella dan Volentia menatap Ai untuk memberi penjelasan juga pada mereka berdua. "Aku pikir bisa saja, salah satu di antara Michael dan Willem, bisa jadi mereka tidaklah benar-benar mati. Mereka memilih untuk berlari ke arah dunia manusia, mencoba bersembunyi dari beberapa manusia yang mencoba membunuh mereka."
"Pemikiran yang hebat," potong Ella menjentikkan jarinya mendapatkan ide. "Tempat terbaik untuk bersembunyi adalah di markas musuhmu sendiri, bukan?"
Ai menghentikan ucapannya untuk mendengarkan kalimat Ella. "Aku pikir mereka menunggu sampai sesuatu, atau mungkin seseorang terlahir," sambungnya.
"Aku berani bertaruh jika yang berhasil lolos adalah Wilhem, bagaimana juga dia yang selalu mengusikmu dan dia juga yang mendaftarkanmu di Witch Academy, kan?" imbuh Oliv.
"Entahlah, aku tidak tahu," jawab Volentia.
"Bagaimana dengan Aranda?" ucap Ella tiba-tiba. "Aku rasa Ayahmu mengetahui sesuatu Vol, kau diberi nama sesuai nama saudari Kakek dari Kakek buyutmu, kan? Flora. Selayaknya nama depan Aranda," jelasnya meyakinkan.
Volentia terdiam.
"Kau mengenal Aranda, kan?" tebak Oliv. "Ayolah Volentia, kau harus jujur agar kami bisa membantumu."
Volentia kembali terdiam saat ia kembali dihadapkan dengan pertanyaan tetang kejujuran. "Aku mengenalnya," jawabnya pelan. "Tapi dia teman khayalanku."
"Tidak salah lagi, kau benar penyihir darah putih terakhir," ucap Ai. "Apa kita harus memberitahu Otoritas?"
"Jangan!" potong Oliv cepat. "Sekiranya kita mungkin harus merahasiakan identitas Volentia sampai beberapa waktu kedepan. Jika saja bisa, mengapa Zelda memilih seakan menyembunyikan Volentia?" ucap Oliv menyimpulkan. "Semua terjadi karena sebuah alasan, tidak mungkin ia melakukannya tanpa sebuah alasan yang jelas."
"Terserah." Ella beranjak dari duduknya. "Aku ingin istirahat, bekerja di perpustakaan sekolah tanpa sihir lebih susah daripada berlatih pedang menggunakan kedua kakimu. Itu sulit."
Semuanya hanya mengangguk pada Ella. Penny sepertinya tahu cara terbaik menghukum seorang anak yang membolos dengan cara menyuruh mereka menata ulang semua buku yang berada di perpustakaan sekolah dari lantai 1 sampai lantai 3. Sangat hebat, dan sangat baik hati, begitulah yang dikatakan Ella tadi.
Volentia sedikit membalikkan badannya sebelum menutup pintu ruangan berkumpul. "Apa ada masalah?" tanya Oliv. Volentia menggeleng pelan sambil tersenyum hambar.
"Kau adalah ramalan itu, kaulah pemilik apa yang bahkan tidak bisa aku miliki."
--
"Suara nyanyian angin adalah suara terindah yang ada setelah suara seorang ibu."