Sudah satu bulan ini rayyan genap tinggal di rumah sakit.Kondisinya memang baik,dia tak lagi stress apalagi berfikiran buruk lagi.Akan tetapi kodratullah,Allah memberikannya sakit typus bahkan mendekati DBD.Panas menggigil di setiap saat terbukti jika badan rayyan sedang drop.Setiap hari pun tak di tinggal sendiri.Adik,abang,oma,orangtuanya dan ketiga sahabat dekatnya selalu menemani.Jika ada waktu luang mungkin teman-teman dari geng motornya dulu akan datang menjenguk.
Pagi ini rayyan kembali di temani oleh kedua sahabatnya.Karena sosok faiz yang menjadi pencair suasana yak bisa ikut.Jadwal kuliah memaksanya absen untuk satu hari ini tidak menemani rayyan.
"Dia masih tidur?" Tanya rio yang kini menghampiri rayyan yang terlelap.
"Iya,semalam tinggi lagi suhu badannya.Untungnya ga sampe mimisan." Jawab ali yang kini sedang membuka alqur'an kecil yang selalu di bawanya.
"Gue ga sangka,badan lo akan seringkih ini.Kena virus dikit aja langsung sebulan menginap di rumah sakit."
"Jangan sakit lagi donk,gue ga siap lihat lo pingsan terus kaya kemarin-kemarin.Apalagi amit-amit sampai koma kaya dulu" Rio berceloteh di samping rayyan yang entah sadar atau ga.
Dalam lantunan ayat suci yang di bacakan ali suasana di kamar rayyan semakin syahdu dan tenang.Rio yang mendengarnya pun ikut merasakan kedamaian di hatinya.
"Gue harap kita sahabatan sampai akhirat ya." Ucap rio secara mendadak itu terdengar oleh ali.Dia pun ingin mereka kembali berkunpul di akhirat sama-sama.
Pukul delapan malam,barulah athar dan athalla yang menggantikan ketiga sahabatnya yang sejak siang sampai sore menemani.
***
"Cepet sehat dong,biar gue ga bolak balik rumah sakit terus." Cetus athalla yang berdiri di samping rayyan.Dia mengeluh pusing makanya dengan sedikit paksaan memijit kepala kakak manisnya itu.
"Siapa juga yang mau sakit." Lirihnya dengan mata terpejam.Rayyan menikmati pijitan adiknya itu.Meskipun kadang-kadang di hentakkan karena kesal.
"Kodok,lo ga kangen sama orangtua lo?" Tanya pelan rayyan.Gerakan tangan athalla terhenti sejenak.
"Kenapa bahas itu sih?Ga ada obrolan lain." Athalla memang tidak ingin membahas itu.Karena mengingatkannya pada rasa sakitnya dulu.Di tinggalkan oarngtuanya secara mendadak.Terlebih saksi kecelakaan itu ada di depannya kini dan masih bisa bernafas lega.
"Gue ga mau bahas masalah orangtua kita.Itu sama saja mengingatkan rasa sakit gue dulu.Gue ga mau rasa benci itu muncul lagi.Cukup,kita bahas yang lain aja ok."
"Gue pengen ke makam mereka,gue pengen minta maaf.Karena gue lo kehilangan mereka,kehilangan kasih sayang mereka,bahkan belaian seorang mama."
"Lo budeg ya.Cukup!"
"Kita kabut yuk.Ajak gue ke makam orangtua lo.Gue pengen minta maaf.Please.." Rayyan menatap adiknya berparas tampan seperti papa kandungnya itu.
"Hahhh,oke.Kalau lo drop lagi,tanggung sendiri." Rayyan tersentum cerah.Dengan bantuan adiknya itu,rayyan berganti pakaian dan hanya memakai sendal jepit.
"Gue ga bisa" kata athalla saat mereka sampai di luar pintu kamar inap.
"Yaelah,kita udah di luar ini.Ga bisa di batalin.Mumpung sore,mama sama papa pasti malam datangnya.Kalau abang sih jangan di tanya.Bos besar mah sibuk." Rayyan berpegangan pada tangan kekar adiknya.Kepalanya masih pusing.
"Kalau ketahuan berabe.Gue bakal di marahin habis-habisan."
"Kalau kita debat,ga akan selesaiin masalah.Ayo aah." Dengan setengah hati athalla menuruti kemauan kakak manisnya itu.
***
"Haahh" Athalla bernafas lega ketika keduanya sampai di dalam mobil miliknya.Senyuman kakaknya terlihat sangat jelas.Bahkan kedua matanya menyipit.
"Lets go!!!" Teriak rayyan sembari meninjukan tangan kanannya ke udara.
"Ckckck..." Athalla menggelengkan kepalanya melihat tingkah kakaknya itu.
Sepanjang perjalanan,rayyan terdiam bahkan tertidur.Perlu athalla ingat jika kakaknya masih positif typus.Wajar jika badannya masih lemas,meriang,pusing dan panas.Pakaiannya saja hanya switer hitam berlapis hoodie hijau dan celana training hijau.Wajah manis kakaknya masih pucat,bibirnya pecah-pecah dan matanya merah karena hawa panas.
"Dasar bocah.Awas aja kalau mama papa tahu,lo yang gue marahin balik." Bathin athalla.
Athalla memang menyayangi kakaknya itu terlepas dari masalah masa lalu di antara mereka,dia sadar jika semuanya bukan salah rayyan.Semuanya takdir,takdir allah untuk menyatukan keluarga mereka.Dengan kejadian itu hubungan semuanya pun menjadi lebih baik.
Mobil berwarna hitam itu terhenti di area pemakaman.Langit mulai menggelap.Bahkan para penghuni pemakaman sudah terdengar.
"Gila,bentar lagi maghrib." Athalla bergidik ngeri.
"Woyyy!bangun lo." Athalla menepuk bahu kakaknya pelan.Sebenarnya athalla tak tega untuk membangunkan sang kakak tapi ini hukumnya wajib mengingat sebentar lagi akan maghrib.
"Uhh,sudah sampe ya." Kalimat yang keluar dari mulut rayyan.Terdengar lirih karena baru saja bangun tidur.
Athalla keluar lebih dulu,di susul kakaknya.Tempat ini memberikan kenangan terburuk bagi athalla,dia menengok ke arah kakaknya yang masih mengeleng-gelengkan kepalanya.Mungkin pusing.
"Lo,okey." Tanya athalla khawatir.
"Hmm..okey."
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak.Kanan kiri mereka rumah masa depan berjejer dengan rapi.Sampai di barisan paling tengah,rayyan berhenti.
"Ini."
Athalla menghela nafas panjang.Dia merasa sesak jika lama-lama di sini.
"Gue nunggu di depan aja ya." Sebelum rayyan menjawab,athalla sudah berjalan cepat meninggalkannya seorang diri.
"Gue ngerti,dok." Rayyan mulai berjongkok di hadapan gundukan rumput hijau itu.
"Pa,ternyata kenyataan memang pahit ya." Hati rayyan sakit.Rasanya hampa,ruang di hatinya terasa kosong.Tak terasa air matanya turun.Menangis sendirian menyesali apa yang terjadi.
"Pa,tante.Maafin rayyan ya.Janji deh rayyan akan jadi kakak yang baik buat si kodok..ehhh maksudnya athalla.Baik-baik di sana.Sampai bertemu di syurga nanti."
Rayyan berdiri setelah membaca la fatihah dan doa untuk kedua orangtua athalla.Sedikit pusing,namun rayyan bisa menahannya.
"Rayyan pulang dulu ya,kasihan si kodok nungguin di depan."
Rayyan berpamitan seperti orang bodoh.Bahkan melambai-lambaikan tangannya pada gundukan rumput itu.Untungnya tak ada athalla,jika dia melihat tingkah laku kakaknya mungkin akan di tinggal begitu saja di pemakamam.Pura-pura tak kenal.
Tok..
Tok..
Kaca mobil di ketuk dari luar.Athalla yang sedang terlelap pun terbangun.Menatap wajah kakaknya yang sembab.Dia sadar jika kakaknya akan merasakan kesedihan yang sama.Bahkan athalla yakin jika selama ini kakaknya lah yang paling menderita.
"Langsung balik rumah sakit ya." Athalla membuka pintu mobil,memasangkan seatbell dan terakhir memberikan tisue untuk membersihkan wajahnya.
"Sweet banget lo." Ucapan rayyan menghentikan gerakan tangannya.
"Najis." Athalla melempar tisue yang di peganginya ke arah wajahnya.Rayyan mencoba tertawa melihat tingkah adiknya yang lucu.
"Hahaha.."
"Ga usah ketawa." Athalla menghidupkan mobil dan langsung melaju menjauhi area pemakaman.
***
Di tempat lain,seorang laki-laki berwajah tampan tengah berhadapan dengan salah seorang laki-laki bertampang garang.
"Lo yakin bisa ngelakuin ini?"
"Tentu aja bos,hanya buat dia mati kan.Itu sih gampang."
"Jangan sampai mati.Hanya siksa dia sampai dia merasakan apa yang saya rasakan."
"Baik bos.Besok gue beraksi.Asal bayarannya yang sesuai dong bos"
"Jangan khawatir.Lakuin dulu baru gue transfer." Laki-laki berwajah tak asing itu menyeringai.Menampakkan wajah misteriusnya.
"Masih ada cara lain buat lo hancur." Batin laki laki itu dengan meremas foto yang bergambarkan tiga anak Berwajah gembira.
***