Suara murrotal alqur'an terdengar.Suara anak kecil dengan metode ummi itu terdengar syahdu memberikan ketenangan bagi siapa saja yang mendengarkannya.Hari ini rayyan kembali ke rumahnya,rumah orangtuanya.Keadaannya cukup baik walaupun kedua pangkal pahanya masih di bebat perban tebal.Kadang terasa sakit atau perih yang sangat menyiksa namun kata tante ina akan hilang dengan sendirinya.
Rayyan tetap harus semangat.Dia selalu tertawa bahkan sering menjaili faiz jika sedang menemaninya.Namun perlu di tekankan jika dirinya kini berbeda.Bukan rayyan samir yang bebas melakukan apapun sendiri.Dia butuh bantuan mama,papa,abang dan athalla.Bahkan oma sering membantunya.Sungguh memalukan.
Setiap hari dia hanya akan duduk di sofa,tiduran di tempat tidur atau merecoki mbak tami.
"Dik?" Suara mama terdengar saat pintu kamarnya di buka.Sebenarnya dimas melarang di kamarnya sendiri karena jaraknya yang terlalu jauh.Lantai tiga,kadang menyulitkan bagi anggota keluarganya yang harus tergesa-gesa ke kamar rayyan saat anak itu histeris.
Rayyan merengut,lagi.Nadine membawa berbagai macam obat untuk di minumnya.Resiko punya tante dokter sungguh merepotkan.Nadine duduk di samping putranya yang duduk di kasur dengan menyandar di sandaran tempat tidur.Menyuapi dan memberikan perhatiannya.Nadine tersenyum saat putranya meneguk segelas air putih yang di sediakannya.
"Jangan tidur lagi ya,sebentar lagi ashar.Ga baik,tidur sesudah ashar." Nadine mengusap lembut pipi rayyan yang mulai berisi.
"Iya." Rayyan menatap nadine dengan pandangan yang sangat sulit di artikan oleh nadine.
"Ada apa?" Tanya nadine.Rayyan hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Kalau ada sesuatu itu di obrolin.Jangan di pendem sendiri."
"Peluk.Boleh." Nadine tersenyum.Dia mendekatkan dirinya pada rayyan.Memeluk putranya dengan erat bahkan rayyan menyamankan posisi kepalanya di pundak sang mama.
"Terimakasih ma,for everything." Rayyan menenggelamkan wajahnya semakin dalam di pundak sang mama.
"Iya,dik.Mama yang harusnya berterimakasih.Kamu masih semangat dan menemani mama sampai detik ini.Terus semangat dan jangan putus asa ya.Kami ada untukmu."
"Iya ma.Insyaallah.."
***
Athar menghela nafas panjang ketika masalah di kantornya bertubi-tubi.Bahkan uang perusahaan minus.Dia tahu ada yang tak beres dengan karyawan-karyawan bagian keuangan.Dia yakin jika ada yang menyalip uang perusahaan.
Dia pun bekerja lembur setiap malam hanya untuk memenuhi kontrak kerja dengan partner perusahaan yang menanam saham di perusahaannya.Pulang ke rumah kadang larut malam sekali,sampai tak sempat menemui adik ke sayangannya itu.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam.Dirinya sampai di rumah dan langsung masuk karena penghuni rumah memang sudah tidur.Namun langkanya terhenti saat melihat seseorang masih menonton televisi di ruang keluarga.Sosok adiknya yang kini duduk di kursi roda.wajah rayyan nampak fokus pada televisi di depannya,rambutnya yang kemarin di cukur pun terlihat rapi.Tak ada raut lelah atau yang lainnya.
"Belum tidur?" Tanya athar.Dia bisa melihat adiknya berjingat kaget.
"Iya bang,habis nonton sinetron." Balasnya yang kini bisa melihat raut wajah abangnya yang lelah.
"Tumben nonton sinetron,bukan lo banget." Athar kini duduk di sofa sembari mengendorkan dasi dan melepas kancing kemejanya.
"Iya.Tapi bosen di kamar terus." Rayyan menoleh,athar terlihat mengantuk bahkan kedua matanya terlihat memejam perlahan.Rayyan hanya bisa menghela nafas panjang.Setelah dirinya seharian ini bad mood karena ga ada teman ngobrol,sekalinya ada malah tidur.
"Pasti capek banget ya,bang." Ingin rasanya rayyan membawa athar ke kamar dan membaringkannya di kasur empuk bukan tidur dengan posisi duduk di sofa seperti itu.Dengan perlahan,rayyan berusaha membaringkan badan besar abangnya dengan memberikan bantal sofa di ujung kepalanya.Lalu memberikan selimut yang melekat di area pinggang sampai lutut yang menutupi bekas luka amputasi karena luka bakar yang serius yang di alaminya.
"Selamat bobo" ucap rayyan sambil menyelimuti tubuh athar yang sudah dalam posisi berbaring.Dengan perlahan,rayyan menggerakannya kursi roda yang kini menompang tubuhnya sedikit bergeser.Dia tak fokus lagi menonton yang dia fokuskan pada wajah athar yang lelah.
Setelah nyaman di posisi duduknya sekarang,terlihat athalla yang baru pulang.Dia kaget melihat kakak dan abangnya masih di ruang keluarga.
"Oehhhh,jam segini belom tidur?Ngapain juga abang tidur di sini." Tanya athalla yang kini duduk di sofa panjang sebelah yang di tempati athar.
"Jangan berisik lo,kasian abang baru tidur.Lo,juga ngapain pulang jam segini?" Tanya rayyan dengan memasang wajah sok galak.
"Cihhh,ekspresi lo ga bikin gue takut." Athalla mengeluarkan peralatannya ada salah satu design yang harus di perbaiki.
"Tidur dulu,baru ngerjain lagi."
"Kali ini lo yang diem,cerewet banget." Rayyan merenggut.Tanpa di sangka athar terbangun lagi karena suara bising yang terjadi di sekitarnya.
"Lo,abang kok bangun.Tidur lagi aja.Belom lima menit." Rayyan melihat athar menyibak selimutnya,duduk sembari memijit-mijit pangkal hidungnya.
"Cukup kok" athar bisa melihat athalla yang mulai sibuk dengan pekerjaannya.
"Lo juga ada kerjaan?" Tanya athar,athalla hanya mengangguk karena fokus pada kertas yang sudah berserakan di atas meja.
"Sama." Rayyan kesal,abangya ikut-ikutan mengeluarkan map dan laptopnya.
"Rumah itu buat istirahat,bukan buat kerja." Ketus rayyan sembari melipat tangannya di depan d**a.
"Jangan protes." Athalla melepar pensil ke arah rayyan.
"Di kasih tahu malah ngeyel.Ga sadar hah penampilan kalian kaya zombie." Rayyan memilih pergi.
Tak lama dia kembali dengan cemilan di pangkuannya.Beberapa snack yang sudah rapi di dalan toples lalu di simpannya di meja yang sama dengan berkas-berkas yang berserakan.
"Bergadang tanpa ngemil rasanya kurang." Namun ucapan rayyan kembali tak di gubris oleh kedua saudaranya itu.
"Ckck,bahkan lupa sama keberadaan gue?" Batin rayyan.
Rayyan pergi sebentar lalu membawakan dua cangkir berisi coffe latte dengan air panas yang mengepul.Sejak kondisi dirinya yang terbatas,dimas menyuruh seluruh pekerja rumah tangganya meletakkan barang-barang yang strategis yang bisa memudahkan rayyan ambil.Maka tak heran jika rayyan bisa membuat coffe sendiri bahkan mengambil apapun sendiri.
"Ini dok" Rayyan menyodorkan cangkir berisi coffe ke arah athalla yang ada di sebrangnya.
Tukk...
Creshhhh...
Rayyan dan kedua saudaranya terdiam saat cairan berwarna coklat itu menyebar di atas kertas-kertas berharga.
"Oh..my god." Pekik athar saat sadar apa yang terjadi.Dia mengambil kertas-kertas yang bisa di selamatkan namun apa daya.
"Ya allah...ihhh lo tuh." Rayyan terdiam saat abangnya terlihat marah.
"ini tuh berkas penting!" Athar sedikit meninggikan suaranya.Sudah lelah seharian kerja di kantor,di rumah malah dengan mudahnya di siram coffe latte.
Athalla pun nampak sibuk,dia memilah-milih kertas yang bercampur dengan abangnya.Sedikit kecewa karena pekerjaannya pun terkena tsunami latte.
"Gue lanjut di kamar aja.Jangan di ganggu." Setelah itu dia pergi dengan membawa berkas dan ranselnya.
"Sini bang,gue bantu." Niat baik rayyan tak sejalan dengan lancar.Dia tak sadar jika dua cangkir masih di atas nampan berakhir membuat banjir meja.
"Akhh...sial.Lo bisa diem ga sih!!!" Bentak athar.Rayyan terdiam dengan tangan bergetar saat mendengar u*****n athar.
"Percuma lo beresin juga.Tintanya pudar.Lagian lo ga akan ngerti soal saham." Athar pergi dengan emosi.Bahkan membawa tas kerjanya dengan sedikit mendorong kursi roda rayyan terhuyung ke belakang.
Dalam kesepian di temani suara televisi rayyan tersenyum pedih.Menatap nanar kertas-kertas yang sudah penuh latte.Dengan tangan gemetar dia membereskan kekacauan yang ada.Memilih kertas yang sebisanya di selamatkan.
Dengan gerakan terbatas,rayyan membersihkan mejanya.Menata seperti semula.Kini dia melihat ke arah tumpukan kertas yang sudah menyatu.
"Gue ga ngerti soal saham." Rayyan berdesis namun air matanya menetes.
***
mama sudah menyiapkan sarapan.Dia hendak membangunkan rayyan yang semalam tidur di kamar tamu.Putranya masih meringkuk,wajahnya nampak sekali jika kantung matanya menghitam.
"Nontonnya sampai larut ya." Nadine membangunkan rayyan.Mengusapnya dan meciumi keningnya.
"Ma,adik masih ngantuk.mau bobo aja." Lirih rayyan dengan mengeratkan selimutnya.
"Hmm..nanti bangun ya.Sarapan." Nadine tersenyum melihat rayyan menganggukkan kepalanya.
Di ruang makan,nampak semuanya sudah lengkap.Dimas bertanya kemana putra kesayangannya itu.
"Lagi tidur,bergadang kayanya sampai larut." Athar menghela nafas sedangkan athalla diam.Keduanya memang masih emosi.
***
Rayyan terbangun dengan lemas,pusing akibat terlalu lama tidur.Di lihatnya sudah ashar saja,selama itukah dia tidur.Dia menatap sekeliling kamarnya.Tadi setelah semuanya pergi,Diam-diam rayyan meminta mang asep untuk membantunya ke kamar.Setidaknya dia lebih nyaman di dalam kamarnya sendiri.
"Kenapa gue ga mati aja sih?" Lirih rayyan.Kedua matanya menerawang jauh.Bayang-bayang bagas terngiang di dalam ingatannya.
"Lo harus mati,sama gue ray." Seolah nyata,di depannya kini sosok bagas berkobaran api menggapai-gapai dirinya.
"Ajak gue,gas." Rayyan berhalusinasi.Dia menggapai uluran tangan bagas.Keduanya tersenyum terlebih bagas yang nampak puas sekali.
"Lo akan mati."
***