Freya mengerang kesal sembari menelungkupkan wajahnya di atas meja. Kakinya menghentak kesal. Karina dan Bima sialan! Freya tidak terima dia di perlakukan seperti ini! Selama ini dia tidak pernah sekalipun berbuat buruk pada mereka dan orang lain. Tapi kenapa mereka tidak memperdulikan itu dan malah memberinya luka? Berapa banyak lagi luka yang harus Freya terima?
Dada Freya terasa sesak saat mengingat sosok Bima. Pria yang Freya anggap tidak akan memberinya luka. Pria yang bagi Freya tidak akan seperti laki-laki lainnya yang memberinya luka. Selama ini, Freya percaya jika tidak semua laki-laki itu jahat. Tapi, kenapa semua pria yang dia temui selalu jahat padanya?! Ayahnya, beliau memang tidak jahat. Hanya kurang memberinya perhatian dan kasih sayang. Dan karena sudah terbiasa, Freya juga tidak meminta itu pada Bima.
Freya memaklumi jika Bima tidak memberinya kabar selama tiga hari bahkan pernah sampai seminggu. Dia juga memaklumi saat pria itu jalan lebih dulu meninggalkan dirinya yang saat itu tengah mengikat tali sepatunya yang lepas saat mereka jalan bersama. Dan Freya juga tidak pernah merepotkan pria itu di saat Freya sendiri membutuhkan pertolongan. Dia sebisa mungkin untuk mengatasi semuanya sendiri. Tapi saat hal ini terjadi padanya, d**a Freya terasa sakit sekali.
Kedua tangan Freya terkepal. Dia menegakkan badannya menatap lurus ke arah pintu masuk ruangan divisi tempatnya bekerja. Dia ingin menangis! Tapi kondisi kantor sedang ramai dan sibuk. Mempermalukan diri sendiri jika dia menangis di kantor. Dia mendongak menatap jam di dinding ruangan.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah empat. Freya mengernyit. Berapa lamakah dia melamun?! Dia sendiri tidak menyadarinya. Dia terlalu sibuk memikirkan sakit hatinya pada pengkhianatan Bima dan Karina Freya beranjak dari duduknya dengan lesu.
"Mbak aku pulang dulu," ucapnya dengan lemas. Mbak Heni yang mendengar itu menatapnya.
"Iya hati-hati yahh... kau terlihat kelelahan. Hari ini memang banyak sekali pekerjaan," ujarnya. Freya menggerutu dalam hatinya.
'aku bahkan tidak menyentuh pekerjaanku satupun! Bima sialan!' batinnya kesal. Dia berjalan pelan untuk pulang. Dia butuh waktu untuk sendiri.
Tapi sepertinya waktu sendirinya harus terbuang. Freya menghela nafas dan melangkahkan kakinya dengan lesu masuk ke dalam rumah saat melihat Mila dan juga Ashila berdiri bersedekap d**a menatapnya kesal.
"Hai guys, kalian sudah pulang kantor? Cepat sekali?" tanyanya dengan lesu dan tersenyum paksa. Ashila berdecih sinis.
"Aku tahu dia pasti tidak akan cerita jika kita tidak tahu tentang ini!" sinisnya. Freya tersenyum kecil.
"Kalian tahu yah? Ahh.., pasti Karina memposting fotonya bersama Bima di sosmed bukan?!" tanya Freya sinis. Ashila dan Mila menghela nafas dan bergerak memeluk Freya yang langsung menangis saat kedua sahabatnya memeluknya. Mila dan Ashila mengelus punggung Freya dengan lembut.
"Yang sabar yah..," ujar Ashila.
"Kita senasib," lanjutnya. Freya tersenyum sedih dan memeluk Ashila.
"Kau tidak di selingkuhi tapi di putuskan karena alasan tidak jelas," gumam Freya. Ashila hanya mengangguk sedih.
"Kau lebih menyedihkan memang," balas Ashila.
"Astaga aku kasihan sekali pada kalian berdua," gumam Mila. Keduanya menatap perempuan itu sinis.
"Yah yah ibu Mila yang tidak memiliki kekasih. Kau lebih dulu di putuskan," sinis Ashila. Mila melotot tidak percaya.
"Hey.., aku yang memutuskan karena dia itu bodoh sekali! Bagaimana bisa dia tidak bisa diandalkan?! Aku meminta bantuan dia selalu beralasan!" gerutu Mila kesal. Freya terkekeh.
"Bagaimana dia akan menerima jika kau meminta tolong untuk mengerjakan pekerjaanmu yang sulit? Kau juga pasti memintanya mengerjakan tugas sekolah Galang," ujar Freya. Ashila tertawa mendengar itu. Galang adalah nama adik Mila yang sekarang duduk di bangku kelas enam.
"Aku tidak memintanya mengerjakan itu tapi memintanya untuk membantu Galang karena aku sedang tidak bisa waktu itu," belanya kesal. Freya menggelengkan kepalanya.
"Kau ini, tidak semua orang sepintar dirimu tahu!" ujar Ashila tertawa. Mila memutar bola matanya malas.
"Iya aku tahu.., karena aku juga memiliki dua orang sahabat yang bodoh. Mereka bahkan tidak bisa menilai mana pria baik dan jahat," jawabnya. Freya dan Ashila melotot tidak terima.
"Hey...," seru Freya. Mila menatapnya dengan alis terangkat sebelah.
"Ucapanmu benar sekali, haha..," tawa Freya dan Ashila meledak. Mila ikut tertawa mendengarnya.
"Astaga.., Bima lebih bodoh membuangmu. Dia juga pasti tidak sepintar dirimu," sinis Mila.
"Iya Mila benar. Kaukan terpintar nomor dua disekolah," jawab Ashila. Freya terkekeh.
"Itu juga karena aku tidak mau kalah dengan Karina! Ish! Dan sekarang dia dengan mudah mengambil Bima bagaimana aku tidak marah?!" kesalnya. Ashila dan Mila ternganga.
"Jadi.., kau sedih karena apa?" tanya Ashila.
"Jangan bilang karena kau kalah dari Karina," ujar Mila. Freya meringis mendengarnya membuat Ashila dan Mila menepuk dahinya.
"Astaga..," gumam Mila. Freya menggeleng.
"Tidak bukan begitu. Aku juga sedih karena Bima. Aku mencintainya walaupun hubungan kita masih berjalan dua bulan," elak Freya. Mila menghela nafas.
"Tapi aku bersyukur kau dan Bima putus," katanya. Freya menaikkan sebelah alisnya.
"Sejak dulu aku tidak menyukainya. Kau itu di bodohi oleh Bima. Kau bahkan seperti tidak memiliki kekasih. Dimana dia saat kau pulang malam dan kecopetan? Dimana dia saat kau membutuhkan dia? Cihh.., yang bisa dia berikan hanya hadiah dan uang!" sinis Mila. Freya terdiam. Ucapan Mila memang benar adanya. Mila dan Ashila menatap Freya sedih.
"Maaf ucapanku terlalu berlebihan," sesalnya. Freya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak kau benar. Ahh.., aku lelah seharian ini bersedih. Bagaimana jika hari ini kita nonton?" Usul Freya. Ashila dan Mila saling pandang.
"Setuju!" seru mereka. Freya, Ashila dan Mila tertawa. Freya menghela nafas panjang.
'Setidaknya mereka membuatku sedikit tidak memikirkan pria b******k seperti Bima,' gumamnya pelan.
**
Freya, Mila, dan Ashila berjalan keluar dari dalam bioskop sambil berbincang membicarakan film yang baru mereka tonton. Pembicaraan mereka terus berlanjut sampai membicarakan teman mereka saat SMA dulu. Begitulah mereka. Apapun bisa menjadi bahan pembicaraan mereka.
"Iya aku ingat dulu dia-" ucapan Freya terhenti saat matanya tidak sengaja melihat sebuah cake coklat kesukaannya. Kue yang sangat langka karena kenikmatannya dan hanya di jual sepuluh buah dalam satu toko. Dan di daerah rumah Freya memang ada namun dia selalu kehabisan karena memang cake itu sangat nikmat dengan coklatnya yang lumer.
Freya menelan ludahnya dan langsung berlari menuju toko itu melepaskan rangkulannya pada Mila. Ashila dan Mila awalnya terkejut namun saat melihat Freya kemana mereka berdua memutar bola matanya. Menghela nafas lelah dan keduanya berjalan menghampiri Freya.
"Sudah beli saja sana," ujar Mila. Freya menoleh dengan matanya yang berbinar senang.
"Sebentar aku tidak akan lama," ucap Freya. Dia berjalan masuk ke dalam toko dengan cepat.
Freya semakin senang melihat kue itu. Dia berlari segera untuk mengambilnya dari etalase toko. Namun bersamaan dengan tangan Freya, sebuah tangan kecil juga meraih kue itu. Freya terkesiap kaget dan menoleh ke arah si pemilik tangan. Dia mengernyit melihat anak kecil perempuan berusia empat tahun itu mendongak menatapnya kesal.
"Maaf adik ini aku dulu yang menemukannya," ujar Freya dengan baik-baik dan tersenyum kecil. Anak kecil itu menarik kue itu membuat Freya terbelalak dan menarik kue itu juga.
"Hei! Mengalah pada anak kecil dong! Ini aku dulu yang ambil!" seru anak itu kesal. Freya mendelik tidak terima. Anak kecil yang kurang ajar.
"Tidak bisa, aku tidak akan mau mengalah pada anak kecil sepertimu!" kesal Freya dan langsung menarik kue itu namun anak itu memegang erat kue itu. Freya mendesis kesal.
"Aduh Fey sudahlah berikan saja padanya," ujar Mila menyentuh bahu Freya. Freya menggelengkan kepalanya.
"Tidak tidak. Ini cake sangat langka Mila.., dan juga, dia ini kurang ajar. Aku tidak akan mau memberikannya!" kesal Freya. Anak itu menatap Freya, Mila dan Ashila dengan mata memanas mau menangis. Mila dan Ashila panik melihat itu.
"Aduh Fey kau membuatnya menangis lihat. Sudahlah mengalah saja," kesal Ashila. Freya menggeleng dan tetap keras kepala hingga teriakan tangis dari anak itu membuat Freya terkejut dan melepaskan kua itu. Dan otomatis tangis anak itu terhenti. Anak itu menjulurkan lidahnya pada Freya dan berjalan menghampiri ibunya yang sedang bertelepon. Freya mendesis kesal dengan kedua tangan terkepal kesal.
"Lihat! Dia menyebalkan sekali!" seru Freya kesal. Ashila dan Mila tertawa melihat itu. Ashila memukul bahu Freya keras hingga dia terhuyung ke depan.
"Dasar bodoh! Kau seperti anak kecil saja," kesal Ashila. Freya menoleh kesal dan bersedekap d**a.
"Itu cake kesukaanku dan-"
"Sudahlah.., akan aku buatkan yang lebih enak nanti. Sudah ayo pergi saja kau mempermalukan kita disini," sinis Ashila. Freya mendengus kesal. Mila terkekeh dan merangkulnya untuk pergi dari toko itu.
"Dasar anak kurang ajar. Pasti dia tidak di ajari sopan santun oleh orangtuanya," gerutu Freya.
"Kau juga salah. Sudah tahu dia anak kecil kau masih berusaha merebutnya," ujar Mila. Freya menghela nafas.
"Aku sedang sedih sekarang dan coklat akan membuat moodku sedikit lebih baik," ungkapnya. Mila dan Ashila merangkul Freya.
"Ada aku yang senasib denganmu," ujar Ashila. Freya menganggukkan kepalanya sedih.
"Tapi setidaknya Rama tidak berselingkuh dariku hahaha..," kata Ashila. Freya meliriknya dengan sinis.
"Memang kau tahu darimana dia selingkuh atau tidaknya? Bisa saja dia memang berselingkuh," ujar Freya. Ashila menggelengkan kepalanya dengan telunjuk di goyangkan.
"Tidak mung.., kin..," ucapnya dan memelankan akhir katanya. Ashila otomatis berhenti melangkah membuat Mila dan Freya langsung berhenti menatapnya heran. Keduanya melihat ke arah pandang Ashila yang kini menatap lurus ke depan dengan mata berkaca-kaca. Mila dan Freya mendelik kaget melihat apa yang ada di depan mereka. Rama sedang berjalan dengan seorang wanita begitu mesranya. Kedua tangan Freya terkepal marah.
"Sudah sudah.., jangan pedulikan dia. Toh kau sudah putus dengannya bukan?" ucap Mila menenangkan. Dia menarik Ashila untuk berbalik pergi.
"Huaa.., dia kejam sekali. Meski begitu tidak seharusnya dia langsung memiliki kekasih seperti itu!" seru Ashila sambil menangis. Freya menoleh menatap Ashila dan Mila yang berlalu pergi. Kedua tangannya terkepal marah menatap dua orang itu. Dia mengingat masa dimana Bima dan Karina siang itu.
"Fey ayo!" seru Mila. Freya menoleh menatap Mila dan Ashila yang menatapnya. Freya menggelengkan kepalanya.
"Aku akan memberinya pelajaran. Tunggu dan lihat saja!" kesal Freya. Mila mendelik.
"Apa kau gila?! Sudahlah ayo!" seru Mila dan berjalan mendekati Freya. Freya menarik nafas dalam dan berderap mendekati Rama dan kekasih barunya itu.
"Tunggu Fey jangan gila! Ini tempat umum. Kau mau mempermalukan dirimu?
" kesal Mila menahannya. Freya menoleh menatap Mila nanar.
"Kau tahu bukan jika aku kesal atau marah? Saat ini aku sedang marah dan kesal pada Bima. Aku tidak bisa meluapkannya pada dia. Tapi setidaknya aku bisa meluapkannya pada orang yang berlaku sama seperti dia bukan?!" tanya Freya. Mila diam menatap Freya. Tangannya akhirnya melepaskan lengan Freya. Mila menghela nafas.
"Aku tidak bisa menghentikanmu bukan?" tanya Mila pasrah. Freya tersenyum dan langsung berbalik. Dia tersenyum miring melihat Rama yang berjalan ke arahnya. Pria itu sedikit terkejut dan tersenyum miring menatapnya. Dengan langkah tegap dan berani Freya bejalan mendekati pria itu dan melayangkan tangannya dengan keras ke pipi pria itu.
Pekikkan dan seruan kaget terdengar saat Freya menampar pria itu. Wanita yang berdiri di samping Rama langsung menghadap ke arah Freya dengan kesal.
"Apa kau gila?!" seru wanita itu kesal. Freya tersenyum sinis dan menunjuk Rama.
"Apa dia kekasihmu?" tanya Freya. Wanita mengangguk dengan percaya diri. Freya terkekeh sinis.
"Sudah berapa lama? Setahun? Dua tahun?" tanya Freya. Wanita itu bersedekap d**a.
"Enam bulan kenapa?! Kau mantannya?!" tanya wanita itu kesal. Freya tertawa.
"Astaga.., jadi kau selingkuh di belakang sahabatku hah?! Dasar b******n!" seru Freya kesal. Wanita itu mendorong Freya hingga terhuyung ke belakang.
"Apa kau gila?!" seru wanita itu. Freya menatap wanita itu kasihan.
"Apa kau tidak sadar? Kau itu selingkuhan pria b******k ini! Sahabatku dan dia sudah berpacaran selama setahun belakangan. Menjijikkan. Setelah mendapatkan semua dari sahabatku kau meninggalkannya?! Aku sarankan cari pria yang lebih-"
"Kenapa kau yang marah?! Aku bukannya menyakitimu," Kesal Rama. Freya terkekeh menatap wanita di samping Rama.
"Kau mendengarnya bukan? Dia bahkan tidak merasa bersalah sama sekali setelah menyakiti sahabatku. Apa kau tetap mau dengannya? Pria b******k ini? Yang tidak merasa bersalah sedikitpun meskipun sudah menyakiti perempuan?" tanya Freya. Kedua tangan wanita itu terkepal marah.
"Lihat! Dia adalah sahabatku yang sudah dia sakiti! Hati-hati saja setelah ini anda yang akan menjadi korban," sinis Freya dan berbalik pergi. Dan kemudian dia mendengar suara pukulan dan seruan kesal pertengkaran dua orang itu. Freya tersenyum miring seraya bersedekap d**a berjalan penuh kemenangan menghampiri Mila dan juga Ashila yang tersenyum kagum menatapnya. Mila mengacungkan dua jempolnya.
"Terbaiklah!" seru Mila. Freya tertawa dan merangkul mereka. Dia merasa lega sekali.
"Tapi guys.., sepertinya aku masih berharap Rama akan bersamaku lagi," ucap Ashila tiba-tiba saat keduanya berjalan pergi. Mereka langsung menghentikan langkah mereka menoleh menatap Ashila kaget. Freya mendesis kesal dan melepaskan rangkulannya pada Ashila berjalan lebih dulu. Ashila tertawa menyusul Freya.
"Aku serius Fey.., aku mencintainya," ucapnya. Freya memutar bola matanya malas.
"Ya ya ya..., terserah," kesal Freya. Ashila hanya tertawa merangkulnya berjalan di mall itu.
"Sepertinya aku juga menginginkan Bima lagi. Bukan karena cinta. Tapi hanya dia pria yang kaya dan tampan yang mendekatiku," ungkap Freya. Ashila tertawa.
"Bukan karena itu. Karena memang hanya dia laki-laki yang mendekatimu selama ini," kata Ashila. Freya tertawa.
"Benar sekali," katanya. Mila menggelengkan kepalanya yang kini sedang berjalan di samping Ashila.
"Dasar gila," gumam Mila.