Mengejutkan! Mila menatap Freya dan Ashila tidak percaya. Freya menundukkan kepalanya. Dia tahu jika ini sedikit gila. Tapi Freya benar-benar frustasi dengan semua ini. Dia benar-benar ingin menang dari Karina. Mila menghela nafas. Dia mengambil es teh yang dia pesan dan meminumnya. Dia menatap tas yang berisi gaun malam yang di beli Freya dan juga Ashila.
"Pantas saja kalian membeli itu. Jadi rencana kalian kapan?" tanya Mila. Freya mendongak kaget menatap Mila yang kini tersenyum.
"Kau..," ucap Freya terkejut tidak percaya. Mila meringis.
"Aku ingin tahu apa yang akan terjadi nanti. Sepertinya menarik. Kalian memang gila," jawab Mila. Freya menghela nafas.
"Ini semua ide Ashila. Kau tahu dia memang gila," kesal Freya. Mila memukul bahu Freya mendorongnya pelan.
"Kau juga gila menurut saja," ucap Mila. Freya menghela nafas.
"Sepertinya usul Ashila itu ada benarnya," balas Freya lesu. Ashila tersenyum.
"Jadi kau ikut bukan nanti? Kita berkumpul di rumah Freya. Ayahmu bekerja bukan?" tanya Ashila. Freya menganggukkan kepalanya dengan lesu.
"Kenapa aku ragu? Atau kita batalkan saja-"
"Tidak tidak! Ini harus di lanjutkan. Aku harus mendapatkan Rama!" tekad Ashila. Mila menoleh menatap Freya.
"Kau harus memiliki tekad yang kuat seperti Ashila agar berhasil Fey.., Ashila memang gila menginginkan pria b******k seperti Rama," ucap Mila. Freya tersenyum sinis menatap Ashila.
"Dia memang gila," gumam Freya lesu. Ashila menatapnya sinis.
"Kau juga gila. Kau menjebak pria yang bukan kekasihmu untuk tidur bersamamu," ujarnya. Freya mendelik kesal dan melemparnya dengan kulit kacang.
"Jangan lupa jika Rama juga mantanmu!" kesal Freya.
"Lagipula aku hanya butuh foto saja. Setelah itu bye! Aku hanya akan menunjukkannya pada Karina tanpa mengirimnya. Aku akan menunjukkannya saat kita bertemu agar dia tidak bisa menyebarkan foto itu dan menyebar kebohongan," gumam Freya kesal. Mila menganggukkan kepalanya.
"Oke! Aku akan menjadi penonton nanti. Oh Fey apa kau mau aku memfotokanmu nanti?" tanya Mila. Freya menatap Mila senang.
"Ide yang bagus. Nanti fotoin aku dengan Reno dan kemudian kita tidur di kamar sebelahnya. Kita nikmati tidur di hotel," ucap Freya senang. Mila menganggukkan kepalanya.
"Tapi, bukankah hanya foto kau mencium pipinya atau bibirnya saja sudah menjadi kemenangan untukmu yah?" tanya Mila. Freya menganggukkan kepalanya.
"Nanti kita foto begitu saja," ucap Freya. Ashila menatap Freya.
"Kau yakin hanya memanfaatkan pria tidur hanya seperti itu? Kau bisa mencuri uangnya juga," ucap Ashila. Freya mendelik kaget.
"Ide yang bagus! Hahaha.., dasar gila!" ucap Freya sinis. Ashila hanya tertawa mendengar itu. Freya hanya mencibirnya dengan sinis.
"Nanti malam jam sepuluh guys.., aku sudah tidak sabar," gumam Ashila senang. Freya merinding mendengarnya.
"Aku belum siap," gumamnya pelan. Mila tersenyum menatap Freya.
"Aku juga tidak sabar," ucap Mila. Freya menatap Mila sedih.
"Kenapa kau mendukung rencana gila ini?!" kesal Freya.
"Hanya ingin tahu saja. Kapan lagi kau bertindak gila Freya? Sudah lama aku tidak melihatmu berbuat hal segila ini selain memukul guru olahraga kita dulu yang m***m itu," ucap Mila. Ashila tertawa.
"Aku ingat itu haha..," ucap Ashila. Freya cemberut kesal mendengarnya.
"Dia pantas mendapatkan itu," gumam Freya pelan. Freya memejamkan matanya. Demi menang dari Karina dia harus gila untuk malam ini saja! Tekad Freya dengan kedua tangan terkepal.
***
"Apakah harus?" tanya Freya yang masih bimbang pada rencananya ini. Ashila yang sedang mendandaninya memutar bola matanya malas. Dia menarik wajah Freya agar mendongak ke arahnya.
"Harus Freyaa.., kita sudah merencanakan ini," kesal Ashila. Freya menggigit bibir bawahnya bimbang.
"Aku..,"
"Apakah masih belum selesai? Ini sudah jam sepuluh malam," ucap Mila memotong ucapan Freya. Ashila menoleh dan menyelesaikan sentuhan akhir di bibir Freya dengan lipstik berwarna merah.
"Sudah selesai. Sekarang kau tampak lebih dewasa dan waw..," ucap Ashila menatap freya yang memakai gaun malam berwarna hitam yang mereka beli tadi. Freya cemberut kesal dan berdiri ogah-ogahan.
"Ayo kau harus semangat melakukannya," ucap Ashila mendorong Freya. Dia kemudian memberikan Freya dua buah obat. Freya mengernyit menatapnya.
"Bawa yahh..," ucap Ashila. Freya mengangguk menurut saja dan memasukkan ke dalam tas. Dia mengambil wedges pemberian ayahnya dan memakainya.
"Wahh bagus wedges pemberian ayahmu," ucap Mila. Freya tersenyum menatap Mila.
"Ini baru aku pakai jangan sampai rusak," ucap Freya. Mila mengangguk.
"Yahh itu hadiah dari ayahmu jaga dengan baik," ucap Mila.
"Ayo guys!" seru Ashila. Mila memutar bola matanya malas dan terkekeh menatap Freya.
"Jangan tegang ini bukan ujian skripsi," ucap Mila membuat Freya terkekeh pelan.
"Kau ini..," ucap Freya memukul bahu mila pelan. Mila menarik Freya agar berdiri mengikutinya. Freya menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan.
"Aku sedikit takut," gumamnya. Mila hanya tertawa mendengarnya.
"Itu karena kau tidak pernah melakukannya,"
*
Freya menelan ludahnya sudah payah. Dia merangkul Ashila dan Mila dengan erat mengedarkan pandangannya ke penjuru tempat. Dia meringis jijik melihat beberapa pasang orang sedang berciuman di pintu masuk kelab. Freya menggigit bibir bawahnya.
"Apa enaknya melakukan itu?" gumam Freya geli. Dia mengerjapkan matanya dan mengalihkan pandangannya enggan melihat itu.
"Itu dia targetku!" ucap Ashila. Freya langsung menoleh dan memicingkan matanya karena suasana yang remang-remang lampu kelap-kelip dengan suara musik yang keras.
"Kita cari tempat duduk dulu," ucap Mila. Freya hanya mengikuti apa yang di pinta oleh dua temannya ini. Freya meremas tangannya takut. Dia mengedarkan pandangannya ke penjuru tempat saat sudah duduk di meja bar.
"Aku pesankan ini untukmu dengan kadar alkohol yang rendah," ucap Mila menyerahkan segelas minuman. Freya langsung mengambil dan meminumnya. Freya mengernyit menatap minuman itu.
"Wahh.., enak manis!" ucap Freya senang. Mila tersenyum menatap Freya.
"Jangan mabuk yahh..," peringat Mila. Freya hanya menganggukkan kepalanya. Ashila mencolek bahu Freya.
"Mana obatnya?" tanya Ashila. Freya menganggukkan kepalanya dan mengeluarkan dua buah obat dari tasnya. Dia menunjukkannya pada Ashila.
"Yang mana?" tanya Freya. Ashila menoleh dan langsung mengambilnya. Dia langsung pergi meninggalkan mila dan Freya.
"Astaga dia bersemangat sekali," ucap Mila. Freya menarik lengan Mila.
"Lalu aku bagaimana?" tanya Freya bingung. Mila mengambil minum miliknya yang sama seperti milik Freya dan mengambil obat itu lalu mencampurnya disana.
"Jika kau melihat Reno, berikan ini padanya. Jangan lupa yang ini yah.., ini milikmu," ucap Mila menunjuk minuman Freya yang sudah sisa setengah. Freya cemberut kesal menatap Mila.
"Aku menyesal saat kalian mengajakku kemari aku tidka pernah mau," ucap Freya kesal. Mila terkekeh dan menepuk kepala atas Freya.
"Kau ini anak baik. Jangan minum punyaku atau Ashila kadar alkoholnya lebih tinggi dari milikmu," ucap Mila. Freya menganggukkan kepalanya. Dia kembali minum miliknya.
Freya mengernyit melihat minuman Ashila dan juga milik Mila. Keduanya sama. Perempuan itu memegang milik Mila di tangan kanannya dan milik Ashila di tangan Kirinya. Dia kemudian menghabiskan minuman miliknya sendiri. Dia menoleh ke arah Mila yang ternyata sedang berbicara dengan temannya. Freya cemberut kesal.
"Kenapa hanya aku yang sendiri?" gumamnya kesal. Mila menoleh ke arah Freya yang langsung tersenyum.
"Aku tinggal sebentar yah.., jangan kemana-mana. Atau jika kau sudah melihat Reno setelah memberikan minumannya kau bisa menghubungiku," ucap Mila. Freya menganggukkan kepalanya. Mila akhirnya berjalan pergi dengan temannya. Sepeninggalnya Mila, Freya hanya diam mengedarkan pandangannya. Dia merapatkan jaket kulit yang dia pakai menutupi dirinya.
Dan kemudian, Freya melihatnya. Dia melihat Reno tengah berjalan sendirian masuk ke dalam. Mata Freya berbinar senang melihat itu. Dan entah merasa di perhatikan atau apa, Reno menoleh ke arahnya. Pria itu tampak terkejut melihat Freya. Dia berjalan menghampiri Freya dan duduk di tempat Ashila tadi.
"Hei sendiri saja? Baru pertama kemari yah? Aku tidak pernah melihatmu," ucap Reno. Freya tersenyum. Dia beruntung tidak perlu mencari pria itu datang sendiri ke arahnya.
"Eh.., sama teman aku kesini. Tapi mereka sedang ada urusan. Kak Reno sendiri?" tanya Freya. Reno menatap jam di tangannya.
"Masih jam sebelas malam yah.., aku menunggu sepupuku," jawab Reno. Freya tersenyum dan mendorong minuman milik Ashila yang tidak di sentuh tadi.
"Minum ini kak. Tenang saja dia tadi belum meminumnya," ucap Freya. Reno terkekeh dan menepuk kepala Freya.
"Terimakasih. Tapi memangnya boleh?" tanya Reno ragu. Freya tersenyum
"Boleh banget kak. Lagipula dia mungkin sekarang sibuk," balas Freya. Dia terkekeh pelan dan minum sedikit minumannya. Freya mengernyit menatap minumannya yang terasa sedikit aneh. Rasanya berubah sedikit pahit. Freya mengedikkan bahunya. Mungkin karena esnya mencair dan rasanya jadi pahit. Freya kembali meminumnya bahkan tanpa sadar sampai habis.
"Hahh...," desah Freya lega menghabiskan segelas minuman itu. Reno terkekeh melihat Freya yang seperti anak kecil. Pria itu terkekeh kecil.
"Kau lucu sekali," ucap Reno. Freya menoleh dengan mata sayu dan terkekeh dengan cegukan pelan.
"Maaf yah Kak Reno," ucap Freya. Dia sedikit merasa bersalah karena memberi pria itu obat tidur.
"Maaf kenapa?" tanya Reno. Freya hanya menoleh dan tersenyum cengengesan. Dia kemudian menidurkan kepalanya yang terasa berat ke atas meja bar. Reno mengernyit melihat itu. Dia menyentuh bahu Freya.
"Fey kau baik-baik saja?" tanya pria itu. Freya reflek menegakkan badannya. Dia menoleh dan tersenyum.
"Aku baik kok kak hehehehe...," ucapnya. Freya mengernyit menyentuh kepalanya yang pening. Pandangannya sedikit buram membuatnya mengerjap pelan.
"Kok aneh yah..???" gumamnya bingung. Freya meringis dan mengedarkan pandangannya.
"Kamar mandi dimana yah kak?" tanya Freya. Reno menatap Freya bingung.
"Kau mabuk?" tanya Reno. Freya menggeleng cepat.
"Tidak kak. Freya ingin ke kamar mandi," ucap Freya bingung. Reno menunjuk ke arah kanan Freya.
"Lurus kesana," ujarnya. Freya menunjuk ke arah sana.
"Lurus?" gumamnya pelan. Freya menoleh dan tersenyum.
"Terimakasih kak," ucap Freya. Dia turun dari duduknya dan sedikit limbung hampir jatuh. Freya sedikit terkejut saat menapakkan kakinya ke lantai. Dia merasa sedikit lemas dan sulit untuk berdiri tegak.
"Aku baik kak tenang saja," ucap Freya. Dia merasa sedikit aneh pada tubuhnya. Freya mempercepat langkahnya untuk ke kamar mandi.
Freya menutup cepat pintu kamar mandi dan menguncinya saat sudah sampai disana. Dia menyenderkan badannya ke pintu dengan lemas. Freya mengernyit dan mengusap peluh di keningnya. Tubuhnya terasa panas.
"Ini aneh..," gumamnya pelan. Nafasnya terasa berat. Freya menyentuh keningnya.
"Aku harus cepat pergi dari tempat ini, ada yang aneh pada diriku," gumamnya pelan. Dia diam sejenak disana selama beberapa menit. Freya menarik nafas dalam dan menghembuskan pelan bersiap untuk keluar dari tempat itu. Dia berjalan cepat dengan tangan memegang erat tali tasnya.
Freya mendesis pelan dan menyenderkan badannya ke tembok di lorong pintu keluar masuk kelab saat kepalanya semakin pusing. Dia menyenderkan kepalanya dan memijatnya pelan.
"Sepertinya aku mabuk," gumamnya pelan. Freya kembali berusaha untuk berdiri tegak dan berjalan pergi.
Sayangnya Freya terjatuh terduduk di depan pintu masuk. Freya mendesis kesakitan memegangi pergelangan kakinya. Dia mendelik kaget melihat sepatu pemberian ayahnya sudah rusak. Freya berusaha berdiri dan mencari tempat untuk duduk. Dia duduk di depan parkiran dengan memegangi sepatunya. Freya cemberut menatap nanar sepatu pemberian ayahnya yang rusak. Air mata mengalir di kedua matanya.
"Hadiah dari ayah rusak.., huaa..," tangisnya sedih. Freya menangis pelan menangisi sepatu itu. Tangisnya reflek terhenti saat melihat ada orang berjalan keluar dari sebuah mobil yang baru saja terparkir. Freya terkejut menatap pria yang berjalan di depannya.
"Malaikat! Ah tidak! Kau manusia tampan!" pekik Freya. Dia berdiri dengan tangan memegang sepatunya berlari menghampiri pria yang kini menghentikan langkahnya menatap Freya heran. Freya tersenyum cengengesan mendongak menatap pria itu.
"Kau idol yah? Wajahmu seperti aktor yang itu.., yang tampan itu," ucap Freya aneh. Pria itu mengernyit menatap Freya. Dia menunduk melihat Freya lebih jelas. Freya menundukkan kepalanya sembari memegangi kepalanya.
"Aduhh.., pusing sekali..," gumam Freya kesakitan. Pria itu menarik kepala Freya agar mendongak ke arahnya. Freya terkejut dan mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Kau..," ucap pria itu menggantung mengernyit menatapnya. Freya tersenyum cengengesan dan cegukan pelan.
"Aku hikk.., Freya Faradhita putri..., emm sebentar aku lupa siapa nama ayahku," ucap Freya melepaskan tangan pria itu. Freya memukul kepalanya beberapa kali.
"Aku lupa nama ayah," gumamnya pelan. Freya mendongak menatap pria itu heran. Matanya memicing.
"Kau.., siapa?" tanya Freya. Dia mengedarkan pandangannya ke penjuru tepat dengan tubuh limbung yang hampir jatuh sejak tadi. Pria itu menatap Freya datar dengan kedua tangan di saku celanaya.
"Ini dimana?" tanya Freya bingung.
"Kelab!" Jawaban singkat dari pria itu membuat mata Freya terbelalak. Dia menjentikkan tangannya menatap pria di depannya.
"Aku seharusnya di dalam. Kenapa aku keluar? Aduh.., sakit sekali..," gumamnya dan kemudian berjongkok dengan tangan memegangi kepalanya. Pria itu menghela nafas dan berjalan pergi. Namun tangan Freya memegangi celana pria itu membuatnya berhenti berjalan menunduk menatap Freya.
"Tolong.., aku," ucap Freya pelan sebelum kemudian tidak sadarkan diri. Pria itu terkejut saat Freya tidak sadarkan diri. Dia berjongkok dan menepuk pipi Freya beberapa kali.
"Hey bangun!" seru pria itu. Tidak ada sahutan dari Freya membuatnya menghela nafas kesal. Dia terpaksa harus membawa Freya ke sebuah hotel agar dia tidak sendirian dan akan di manfaatkan oleh orang-orang di tempat ini. Pria itu mengangkat Freya dan membawanya ke dalam mobil.
"Aku melakukan ini karena kau adalah karyawanku!"