Sore itu, cuaca tampak mendung. Freya mengernyit dan menatap langit yang sudah mulai menggelap dari balik kaca jendela cafe tempatnya sekarang. Sepulang dari bekerja, Freya pergi makan di cafe yang baru di buka dekat kantor bersama Ara. Freya menghela nafas. Dia harus segera pulang sebelum hujan turun dan dia tidak bisa pulang.
Dia berdiri dari duduknya dan mulai berjalan. Namun langkahnya terhenti saat melihat ada Rama mantan sahabatnya sedang tertawa bersama seorang wanita. Tatapan pria itu tidak sengaja melihat arahnya. Freya masih diam menatap mereka dengan datar. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya dari Freya dan fokus pada wanita di depannya.
Kedua tangan Freya terkepal kesal. Tentu saja kesal karena sahabatnya sampai sekarang masih belum bisa melupakan pria itu dan Rama malah asik mencari wanita yang baru. Freya bisa melihatnya jika wanita yang bersama Rama sekarang berbeda dari wanita yang waktu itu dia dan kedua temannya temui.
Freya menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Dia tersenyum miring dan berjalan pelan menghampiri kedua sejoli itu. Rama tampak bingung dan terkejut melihat Freya menghampirinya. Wanita yang duduk di depan Rama ikut bingung menatap Freya.
Freya mengerjapkan matanya menatap Rama dan wanita itu dengan nanar. Dia menoleh ke arah Rama yang terlihat waspada dan sedikit takut. Freya menggigit bibir bawahnya menunjukkan wajah sedih dan terlukanya.
"Jadi kau sudah punya yang baru?" tanya Freya sedih menatap Rama. Rama dan wanita itu mengernyit bingung.
"Sayang dia siapa?" tanya wanita itu. Rama tampak bingung dan berdiri dari duduknya.
"Tidak tahu," ucap pria itu. Freya menyentuh dadanya dan menatap Rama sedih.
"Jadi kau berpura-pura tidak mengenalku?" tanya Freya sedih. Dia menatap Rama.
"Mungkin kau sudah tidak mencintaiku lagi..," gumam Freya sedih menatap wanita itu sebentar. Freya menunduk dan terlihat sangat terluka atas perbuatan Rama.
"Kau ini siapa?!" kesal wanita itu.
"Tunggu dulu! Freya apa yang-"
"Tapi..," potong Freya cepat. Dia mendongak menatap Rama dengan linangan air mata yang sudah mengalir di kedua pipinya. Freya menyekanya dengan cepat.
"Setidaknya jika kau sudah bersamanya, putuskan aku lebih dulu," lanjutnya lagi. Wanita itu terkejut dan berdiri dari duduknya.
"Apa maksud dari ini semua?!" seru wanita itu marah. Rama tampak kebingungan. Dia berusaha menenangkan kekasihnya tapi masih mau berbicara pada Freya.
"Tidak apa.., aku rela jika kau lebih memilih dia. Semoga kalian bahagia," ucap Freya sedih. Dia kemudian berbalik dan melangkah cepat dengan wajah menunduk pergi dari cafe itu.
"Tunggu sayang bukan begitu.., Freya!" seru Rama kesal dan mau berlari menghampiri Freya. Wanita terlihat semakin marah dan menarik tangan Rama.
"Kau mau mengejarnya?! Kau bilang tidak mengenalnya tapi kau tahu namanya! Dasar pria b******k!" pekik wanita itu marah dan menampar wajah Rama.
Freya yang masih ada di luar cafe menoleh dan menutup mulutnya yang tersenyum lebar dengan mata yang masih di buat sesedih mungkin. Dia berbalik dan pergi dengan cepat saat wanita itu berjalan pergi dengan kemarahan menghiraukan Rama yang memohon untuk mendengarkan penjelasannya.
Freya menghela nafas dan tersenyum kemenangan sembari mengusap air matanya menatap Rama penuh kemenangan. Pria itu menoleh menatap Freya dengan tajam. Dia berjalan menghampiri Freya dengan cepat.
"Apa yang kau lakukan?!" seru Rama kesal. Freya hanya diam tidak peduli. Dia bersedekap d**a menatap Rama datar.
"Kenapa kau mengacaukan semua rencanaku?!" kesal Rama. Freya tersenyum miring menatap Rama.
"Kau pikir.., aku akan membiarkanmu bahagia sedangkan sahabatku terluka begitu? Sorry boy.., aku bukan orang yangs seperti itu!" sinis Freya. Rama menatap Freya marah dengan tangan terkepal.
"Dasar jalang sialan!" seru Rama marah dan hampir melayangkan tangannya ke wajah Freya yang kini melindungi wajahnya dengan tangan.
Freya terpekik kaget saat tiba-tiba ada yang menariknya ke dalam pelukan seseorang. Freya mengerjap bingung dan mendongak. Dia tertegun saat melihat wajah tampan yang akhir-akhir ini selalu terlihat di matanya. Freya menelan ludahnya susah payah.
"Apa yang akan kau lakukan padanya?!" tanya pria itu datar. Rama terkejut dan memundurkan langkahnya ke belakang menatap Jonathan yang memeluk Freya.
"Eh.., ke-kenapa kau ikut campur! Ini urusanku dengannya!" kesal Rama. Jonathan memeluk Freya semakin erat membuat Freya tersentak kaget. Dia mendongak menatap Jonathan dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Rama.
"Urusan dia, urusanku juga!" ucap Jonathan. Rama mengepalkan kedua tangannya menatap Freya marah. Tangannya menunjuk Freya dengan marah.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu!" ucapnya membuat Freya meringis. Dia terus menatap Rama yang sudah berjalan pergi meninggalkannya. Freya mendesis kesal.
"Lihat saja! Apa yang harus aku lihat?! Kebrengsekan dia begitu?!" gerutu Freya kesal. Dia memegang erat tali tasnya karena masih marah. Namun kemudian Freya terdiam. Dia menelan ludahnya susah payah tidak berani menoleh pada Jonathan yang masih merangkulnya sekarang.
'Tuhan.., apa yang harus aku lakukan?!' batinnya. Freya menggigit bibir bawahnya dan melepaskan tangan pria itu dari lengannya dan kemudian berlari menjauh dengan cepat.
"Terimakasih!" serunya dan terus berlari menjauh.
Beberapa meter kemudian Freya menoleh ke belakang dan menghembuskan nafasnya lega. Freya memegangi dadanya dan menormalkan nafasnya yang kini berhembus tidak beraturan. Freya berdecak kesal dan memukul kepalanya.
"Bodoh! Ahh.., bagaimana lagi aku malu sekali untuk melihatnya saja," gumamnya kesal. Freya menghela nafas dan mulai berjalan menuju halte bus. Rintik hujan perlahan turun dan semakin deras. Freya panik dan berlari cepat untuk berteduh di halte bus. Freya mendudukkan dirinya di kursi dengan lesu menatap derasnya hujan. Dia membersihkan pakaiannya yang sedikit basah dengan wajah cemberut kesal.
"Kenapa harus hujan sekarang?!" serunya kesal. Dia menghentakkan kakinya kesal dan kemudian berdiri menolehkan kepalanya ke kiri kanan melihat adakah transportasi umum yang mungkin saja lewat. Freya menghela nafas dengan lesu. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya membuatnya terkejut.
"Hai Fey!"
Freya tersenyum saat pintu kaca mobil terbuka menampakkan wajah Reno yang tersenyum menyapanya. Dia melambaikan tangannya pada pria itu. Namun senyumnya langsung luntur melihat siapa orang duduk di kursi samping kemudi. Dia tersenyum canggung dan menundukkan kepalanya.
"Kau mau pulang?" tanyanya. Freya tersenyum.
"Iya kak, tapi iya gitu.., sepertinya harus menunggu hujan reda dulu," jelasnya. Reno mengangguk.
"Sama aku saja aku antar. Ini sudah mau malam tidak baik perempuan sendirian malam-malam hujan lagi," ujarnya.
"Eh.., tidak perlu kak," ucap Freya tidak enak. Sebenarnya dia akan dengan senang hati akan ikut jika saja tidak ada Jonathan di dalam sana.
"Sudah ikut saja. Ayo tidak apa tidak perlu sungkan. Kau juga teman adikku jadi aku juga bertanggungjawab untuk menjagamu," paksa Reno. Freya meringis tidak enak dan akhirnya menurutinya. Dia berjalan ke kursi belakang dan membuka pintunya untuk masuk ke dalam. Reno tersenyum melihat itu. Dia mulai menjalankan mobilnya.
"Oh iya kau pergi kemana saat di klub malam itu?" tanya Reno tiba-tiba. Freya yang mendengar itu terkejut menatap Reno yang melihatnya dari kaca spion. Dia meringis dan melirik ke arah Jonathan yang sejak tadi hanya diam.
"Eh..., Ohh.., itu aku ada urusan jadi pulang lebih dulu," jawabnya dengan ragu. Freya menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya kesal.
"Emm.., begitu, soalnya kedua temanmu datang dan mereka terlihat panik mencarimu," jelas Reno. Freya mendongak dan terkekeh pelan.
"Mungkin karena aku memang tidak pernah ke tempat itu jadi mereka takut terjadi sesuatu padaku," jelas Freya sedikit malu. Dia tersenyum cengengesan. Reno tertawa mendengarnya.
"Ah yah aku bisa melihatnya kau sedikit mabuk memang. Pantas saja," ucap Reno. Freya hanya tersenyum menatap kembali ke arah spion di depan. Freya terkesiap pelan saat Jonathan melihatnya dari kaca itu dengan tatapan andalannya. Tajam fan mengintimidasi. Freya langsung menundukkan kepalanya.
"Mungkin temannya takut dia berbuat aneh pada orang!" ucap Jonathan tiba-tiba membuat Freya terdiam dan menggigit bibir bawahnya malu.
"Orang mabuk memang suka berbuat aneh bro. Wajar saja," bela Reno dengan kekehan pelan. Freya hanya tersenyum.
"Rumahmu dimana Fey?" tanya Reno. Freya melihat ke arah jalan yang jalannya lebih dekat ke arah cafe milik Ashila jalan yang sebenarnya berlawanan arah dari rumahnya.
"Eh berhenti di Cafe You saja kak itu tempat teman saya," ucap Freya. Reno menoleh sebentar.
"Tidak ke rumahmu saja? Tidak apa." Freya menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu kak. Disana saja. Sekalian saya ada urusan disana kak," jelasnya. Rono hanya mengangguk dan kemudian berhenti di depan cafe yang di sebutkan Freya tadi. Freya tersenyum lega dan segera turun.
"Terimakasih Kak Reno. Mari pak," ucap Freya dengan sopan dan buru-buru keluar. Reno terkekeh melihat Freya yang tampak canggung keluar dari mobil.
"Dia lucu sekali," kekeh Reno. Jonathan hanya menatap Freya yang berlari masuk ke dalam cafe. Pria itu kemudian tersenyum miring.
***
Seruan kesal terdengar dengan suara gedoran pintu di rumah Freya membuat Freya yang baru pulang kerja rebahan di kamar mengernyit heran. Dia mendudukkan dirinya dan berjalan untuk membukakan pintu untuk sahabatnya Ashila yang membuat rusuh.
"Freya apa yang kau lakukan pada Rama?!" seru Ashila kesal saat dia sudah membukakan pintunya. Freya memutar bola matanya malas menatap Ashila.
"Kenapa? Dia bilang apa padamu?" tanya Freya kesal. Mengingat kejadian itu membuat Freya kesal karena saat itu Jonathan malah menolongnya. Freya bukannya senang di tolong dia malah semakin takut.
"Dia bilang kau mengganggunya terus. Kenapa kau lakukan itu?! Kau tahu bukan hubunganku dengannya sekarang itu-"
"Dia menemui wanita lain," potong Freya. Dia menatap Ashila tidak menyangka karena sahabatnya itu sampai seperti ini hanya karena seorang pria. Ashila terdiam menatap Freya terkejut tidak percaya.
"Kau pikir aku akan merebutnya? Untuk apa aku mengambil pria b******k seperti itu yang sepantasnya untuk di buang?!" tanya Freya kesal. Dia menatap Ashila yang kini menatapnya bersalah.
"Ternyata kau menganggap aku seperti itu yah La," ucap Freya kecewa. Dia sudah pusing karena masalahnya dengan Jonathan dan pekerjaannya, lalu sekarang Ashila?
"Bukan begitu Fey..,"
"Jika kau kemari hanya untuk marah-marah, lebih baik jangan sekarang. Aku lelah. Kau bisa datang besok, atau minggu depan jika kau memang berniat memarahiku sampai puas," ucap Freya dan berbalik menutup pintu meninggalkan Ashila yang menggigit jari kukunya bingung. Ashila menghela nafas menatap pintu tertutup di depannya.
"Kenapa dia semarah itu hanya karena hal ini?" gumam Ashila heran. Dia kemudian berbalik pergi meninggalkan rumah Freya.
Di dala rumah Freya melangkahkan kakinya ke kamar dengan lesu. Dia benar-benar merasa lelah dan ingin tidur saja. Sejak tadi di kantor Freya sudah sibuk dan pusing karena laporan keuangan yang salah perhitungan sampai dia harus bekerja lembur dan baru pulang jam tujuh malam. Baru saja dia merebahkan tubuhnya Ashila datang dan marah seperti itu.
Freya menghempaskan badannya ke atas ranjang menatap datar atap kamar miliknya. Freya menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan pelan meredakan emosi di dadanya. Freya mengambil handphone miliknya membuka grup kantor yang sedang ramai. Freya mengerang kesal.
"Apa ada salah perhitungan lagi?!" gumam Freya kesal. Karena biasanya grup di divisinya itu selalu ramai jika ada berita yang ramai di bicarakan di kantor atau membahas pekerjaan saat di rumah. Freya mengernyit membaca satu-persatu chat yang masuk di grup itu. Dia menaikkan sebelah alisnya heran saat tahu ternyata mereka heboh karena sebuah gosip tentang bapak pimpinan di kantor mereka, Jonathan Leojin Abraham.
"Leojin? Oh aku lupa jika istri dari Pak Junario adalah orang Korea," gumam Freya. Dia terus membaca tanpa ikut nimbrung di dalamnya.
Grupnya ramai membahas tentang berita pertunangan yang di lakukan oleh Jonathan yang ternyata sebuah berita hoax. Selama ini Liliana dan Jonathan memang dekat tapi hanya karena pekerjaan. Perusahaan LnA memang menjadikan Liliana sebagai brand ambassador makanan dan juga beberapa perabotan rumah tangga. Liliana adalah model utama perusahaan sejak dua tahun yang lalu.
Membaca itu Freya sedikit kecewa. Kenapa mereka tidak bertunangan saja hingga dia tidak perlu berurusan dengan Jonathan. Freya kembali mengingat ucapan pria itu. Jika dia mengatakan tentang dia yang menjebak Reno, dia akan sangat di rugikan disini. Reno akan tahu dan akan bilang pada Bima.
Jika Bima sampai tahu, dia pasti akan bicara pada Karina dan Karina akan mengatakan ini semua pada keluarga besar ibunya kemudian dia akan menjadi bahan omongan. Nama ibunya akan jelek dan itu adalah hal yang tidak baik. Menyangkut ibunya, yang pasti saudara tiri dan ayah ririnya juga akan ikut capur. Freya mengerang kesal.
Freya tidak mau jika ibunya sampai tahu tentang ini. Tidak untuk suami dan anak tiri ibunya jangan sampai tahu tentang ini. Freya memejamkan matanya dan memijat keningnya yang terasa pening. Freya berteriak kesal dan menghentakkan kakinya menjatuhkan selimut miliknya. Menyebalkan! Kenapa masalahnya jadi semakin besar?! Seharusnya masalahnya cukup sampai malam itu saja. Tapi semua ini terjadi juga karena ulah dirinya sendiri. Perbuatan buruk memang akan membawa keburukan pada diri sendiri. Rasanya Freya menyesal sekarang menuruti Ashila yang sekarang saja menuduhnya yang tidak-tidak.