Duduk di tengah jendela yang sengaja dibuka lebar oleh sang pemilik walau air cipratan akibat adanya hujan itu masuk dan membasahi bajunya yang tampak kumuh, gadis itu menyangga wajahnya dengan kedua tangan bertumpu di kayu jendela, menatap langit yang tampak gelap dengan rintikan deras air yang turun membasahi tanah.
Gadis itu adalah salah satu putri dari kerajaan Zephyra, kerajaan yang maju dengan rajanya yang bijaksana di pandangan rakyatnya, tidak dengan pandangan seorang gadis yang saat ini tampak melamun memandang hujan deras di depannya.
Di ruangan ini, putri dari kerajaan Zephyra yang bernama Xynerva itu berdiam dengan satu orang pelayan yang setia menemaninya di belakang, pelayan itu bernama Mary.
Selama Xynerva di sini, sosok Mery yang selalu menenangkannya, menemani serta memberi saran-saran jika Xynerva bingung akan hal yang harus ia lakukan kedepannya.
Mery adalah sosok pelayan yang paling cantik di seluruh kerajaan Zephyra, wajahnya yang mulus tampak terawat serta senyum tulus yang manis selalu bertengger jika berpapasan dengan seseorang. Berbeda dengan tuannya, Xynerva. Xynerva sebenarnya memiliki bentuk wajah yang bagus, akan tetapi kulitnya tampak tidak terawat dan memiliki beberapa ruam di berbagai sisi, warna kulitnya juga tampak kusam berbeda dengan Mary yang tampak terawat dan bersih. Perbedaan keduanya kadang menimbulkan celetukan dari beberapa orang yang melihatnya, salah satunya seperti ini.
"Aku tidak tahu, sebenarnya lebih cocok Mary yang menjadi putrinya, benar kan?"
"Ya benar, putri Xynerva yang buruk rupa sangat cocok jika dijadikan pelayan. Bahkan kita pun terlihat lebih cantik dan terawat dari pada dia."
"Benar sekali hahaha."
"Mary sangat cantik walau hanya menggunakan baju pelayan, entah jadi bagaimana jika Mary mengenakan pakaian ala bangsawan."
"Putri buruk rupa itu sangat menggangu pemandangan ku, mataku akan lebih jernih bila memandang Mary."
"Kupikir Mary lebih cocok bersanding dengan pangeran Charles daripada si buruk rupa itu."
"Pangeran Charles pasti malu di jodohkan dengan putri yang tidak berguna sepertinya."
Bukannya marah, Xynerva yang mendengar itu hanya tersenyum manis, ikut memuji sosok Mary yang memang benar adanya seperti itu. Mary yang menerima kalimat-kalimat dari beberapa orang yang memujinya juga terlihat senang, Xynerva yang selama ini selalu di bantu olehnya berfikir ingin sekali menyenangkannya juga.
Bukan ingin Xynerva memiliki wajah yang orang panggil dengan kata buruk rupa ini, Xynerva juga sudah berusaha dengan berbagai ramuan dan obat yang ia tanya kepada Mary. Bahkan sampai saat ini pun Xynerva masih mengonsumsinya, walau sebenarnya Xynerva agak sedikit ragu karena sudah sekian lamanya belum ada perubahan di kulitnya, bahkan terlihat semakin parah. Tapi kalimat Mary yang menyuruhnya untuk bersabar dan memakai ramuan serta obat itu rutin akhirnya Xynerva mematuhinya.
Semua kebutuhan Xynerva akan ditanyakan kepada Mary, karena hanya Mary lah yang selalu ada di dekatnya. Pelayan yang di berikan ayahnya hanya Mary, Xynerva cukup mengerti dan paham dengan hal ini.
"Mary." Panggil Xynerva.
Mary yang sedang melamun di belakang sedikit terkejut dengan panggilan tuannya yang tiba-tiba.
"Ya, putri." Sahut Mary dengan badan sedikit menunduk.
"Kau ini, sudah aku bilang panggil saja namaku." Ucap Xynerva rendah hati, berjalan menghampiri Mary.
"H-hamba tidak berani putri." Dengan sedikit terbata Mary menjawab.
"Hei aku memaksa." Xynerva berucap dengan kedua tangan memegang pundak Mary di depannya.
Mary yang diperlakukan secara tiba-tiba sontak memundurkan tubuhnya, menatap tuannya dan tersenyum manis, Mary menjawab.
"Baik, Xynerva."
"Hahaha, panggil saja Xyn. Kau kan orang terdekatku, panggil aku dengan panggilan dekat juga." Xynerva mengapit lengan Mary dan menuntunnya duduk di ranjang kamarnya yang sudah rapuh, saat keduanya duduk ranjang secara otomatis menimbulkan bunyi.
"X-xynerva, apa kau tidak akan ikut acara ulang tahun sang putri kedua?" Tanya Mary terbata.
"Hahaha, kau tau Mary, aku selalu tidak di perbolehkan ikut. Sekalipun aku ikut, aku pasti akan menjadi bahan ejekan disana." Jawab Xynerva dengan tawa kering.
"Tidak perlu khawatir, hamba selalu ada jika dibutuhkan." Ucap Mary berusaha menenangkan Xynerva.
"Hmm, apa perlu?" Tanya Xynerva, gadis itu tampak menyenderkan punggungnya ke sisi ranjang. Sedangkan Mary masih duduk tegak, mengerti dan paham atas kedudukannya.
"Ya Xynerva, hamba dengar pangeran Charles juga akan datang di acara itu. Ini adalah kesempatan untukm-mu." Mary terbata di akhir kalimat, masih segan memanggil tuannya.
"Hah? Apa benar?" Seketika raut wajah Xynerva tampak bersinar dengan mata berbinar-binar.
Tanpa berfikir dampak yang akan terjadi kedepannya, Xynerva tampak mengangguk kuat memandang pelayannya yang ikut tersenyum senang mendengar keputusan tuannya.
"Kalau begitu, hamba akan mempersiapkan kebutuhan putri mulai sekarang." Mary bangkit dari duduknya, membungkuk izin untuk melakukan tugasnya.
Xynerva yang masih senang mendengar pangeran pujaannya akan datang hanya mengangguk-anggukan kepalanya berkali-kali, dengan kedua sisi bibir yang terangkat keatas.
Mary yang melihat itu langsung saja bergegas menyiapkan segala keperluan untuk tuannya, mulai dari gaun yang akan Xynerva pakai hingga aksesoris rambut dan lainnya.
Pilihan Mary sekarang jatuh pada gaun bangsawan berwarna pink cerah, dari lemari di belakang memang banyak sekali tergantung gaun-gaun yang berbagai warna, warna disana sudah pasti cerah dan terang, itu semua adalah pilihan Mary sendiri untuk tuannya. Xynerva juga tampak senang-senang saja memakai apa yang dipilihkan Mary, membuat pelayan itu jadi keterusan dan merasa senang.
Mary berjalan ke arah rak yang disana berisi berbagai aksesoris, Mary mengambil satu buat rubi pink senada dengan gaun yang akan di pakai Xynerva nanti, beberapa gelang dan kalung yang memiliki warna serupa juga Mary ambil dari tempatnya, setelah semua selesai, Mary lantas mendekati Xynerva yang tampaknya masih senyum-senyum sendiri mendengar pangeran Charles akan datang ke kerajaan ini.
"X-xynerva, semua sudah siap. Sebaiknya anda mandi dulu." Ucap Mary segan.
"Ah ya Mary, tolong bersihkan badanku." Xynerva melangkah menuju tempatnya membersihkan diri, dengan Mary mengikuti di belakang yang tengah membawa sekotak peralatan mandi untuk Xynerva.
Setelah Xynerva telanjang bulat dan masuk ke dalam bak berbahan kayu yang sudah diisi air tiba-tiba gadis itu mengernyitkan dahi, melihat pelayannya membuka botol hitam dan menuangkannya ke bak mandi yang Xynerva tempati.
"Mary apa itu?" Tanya Xynerva kepada Mary yang tengah menuangkan cairan lain.
"A-ah ini adalah salah satu ramuan dari tabib kerajaan, hamba sengaja meminta ini agar masalah kulitmu cepat sembuh." Jawab Mary dengan cepat memasukan botol larutan itu kembali ke tempatnya dan berjalan menjauh tak lupa membawa kotak yang Mary bawa.
Xynerva mengangguk saja mempercayai pelayan yang selalu menemaninya, setelah melihat Mary kembali, Xynerva kembali bertanya.
"Lalu, apakah aku tidak butuh wewangian?"
"Ya benar, anda hanya perlu menggunakan larutan ini." Ujar Mary dengan senyum manis bertengger.
"Ah begitu, tapi baunya sedikit aneh." Sahut Xynerva setelah mencoba membaui air yang saat ini tengah ia gunakan untuk berendam.
"Mungkin karena itu sebuah ramuan, jadi baunya seperti itu. Hamba berharap anda cepat sembuh dari masalah penyakit ini, maka anda harus rutin menggunakannya." Jelas Mary dengan tangan yang tengah membasuh punggung Xynerva dan memijatnya pelan.
"Ya Mary lakukan saja apa yang dapat membuatku sembuh, terimakasih Mary." Ucap Xynerva tulus dengan kedua mata terpejam menikmati pijitan Mary.
Salah satu sisi bibir Mary terangkat.