"Kamu yakin mau keluar dari perusahaan ini, Al?" Jenny belum percaya kalau sahabatnya, Alya Kamila, akan keluar dari perusahaan Angkasa Group.
"Begitulah, Jen. Aku dipecat."
"What the... Pak Gilang mecat kamu?" Jenny terbengong-bengong. Hampir tidak percaya jika saja bukan Alya sendiri yang bilang.
"Tapi kenapa? Kamu kan karyawan terbaik di perusahaan ini. Gak mungkin pak Gilang memecat kamu. Malah dengar-dengar kamu lagi dapat proyek besar, meski agak jorok, sih."
"Ya karena proyek itu. Aku menolak, dan Pak Gilang marah."
"Kenapa kamu tolak? Ini kesempatan bagus buat kamu."
"Aku nggak bisa ngerjain ini. Ini gak benar. Ini gak sesuai dengan prinsip dan hati nuraniku."
"Terus setelah ini kamu mau ke mana? Pekerjaan ini gajinya gede dan gak perlu tenaga besar. Kalau ini berhasil, kamu bisa untung banyak. Karirmu juga akan melejit."
"Entahlah. Aku percaya Allah udah nentuin jalannya. Kalau proyek ini selesai dan berhasil, bukan cuma uang dan karir yang aku dapatkan, Jen. Tapi juga tabungan dosa. Dosa yang harus aku tanggung selamanya. Bahkan sampai aku mati nanti."
***
Alya memutuskan untuk tidak ambil proyek ini meski dia tahu apa risiko yang harus dia tanggung karena berani melawan Bossnya. Ia rela dipecat dari perusahaan yang dua tahun ini menjadi sumber penghasilannya.
Setiap hari Alya selalu berhadapan dengan kode-kode dan algoritma bahasa pemrograman. Awalnya ia bekerja di sini sebagai Programmer, membuat berbagai program aplikasi yang diinginkan beberapa client perusahaan guna memudahkan kerja mereka.
Membuat software tentang perhitungan gaji karyawan, pengorganisir jadwal karyawan, penghitung stok barang, software perancangan disain 2D 3D dan lain-lain sudah menjadi makanan kesehariannya.
Program yang dibuatnya tidak seperti program-program lain yang sudah mempunyai brand di pasar. Alya membuat software sesuai keinginan dan permintaaan client. Cara kerja produknya dibuat lebih mudah untuk dipelajari dan digunakan. Membuat para client sangat puas dengan kinerjanya.
Atasan perusahaan sampai terkagum-kagum melihat hasil kerja dari pegawainya ini. Setelah 1 tahun bergelut di bidang pembuatan software, perusahaan memindahkan bidang kerjanya menjadi pimpinan Game Developer.
Dari yang awalnya membuat program-program aplikasi, kini Alya dituntut untuk membuat aplikasi permainan, baik online maupun offline.
Semua game yang dibuat Alya laku keras di pasaran. Ada game yang khusus dibuat untuk anak-anak, seperti game edukasi dan sejenisnya. Ada juga permainan-permainan umum seperti menghancurkan benteng, mengelola lahan pertanian, berlari dan mengumpulkan koin dan banyak lagi.
Tak jarang, di sela-sela aktifitasnya yang memeras pikiran, Alya memainkan sendiri permainan-permainan yang dibuatnya. Memenangkan game adalah kepuasan tersendiri, meskipun dia tahu betul bagaimana memenangkan dengan cara cepat tanpa perlu lelah berusaha.
Pendapatan perusahaan pun meningkat jauh, pesanan-pesanan aplikasi dan game tidak pernah surut. Hingga pada saat-saat itu tiba ....
Ada satu client perusahaan meminta dibuatkan website dewasa, di dalamnya berisi konten p***o, game, gambar dan video yang tidak layak untuk dilihat. Bossnya -Gilang Aditya- meminta Alya sendiri yang meng-handle proyek ini.
"Maaf, Pak, saya tidak bisa," tolak Alya tegas.
"Kenapa? Kamu bisa membuat dan mendisain website. Kamu bisa membuat berbagai aplikasi, kamu juga bisa membuat game. Semua kode pemrograman kamu bisa. Kenapa untuk hal satu ini kamu tidak bisa?"
"Karena ... itu tidak sesuai dengan prinsip saya. Saya ingin bekerja dengan cara halal, Pak. Tidak dengan jalan yang tidak diridhoi Allah."
"Kamu tidak mencuri, Alya!"
"Tidak cuma mencuri yang tidak dibenarkan. Mempertontonkan aurat juga diharamkan pada agama saya."
Gilang mengendus kesal, "bukan kamu yang mengumbar aurat, bukan tubuh kamu yang dipertontonkaan di sana. Kamu cuma membuat dan mendisain aplikasinya seperti yang diinginkan client kita."
"Maaf. Saya tidak bisa. Bagi saya tetap sama. Sama berdosanya. Saya yang akan membuat banyak orang membuka dan memainkan aplikasi tersebut. Otomatis saya juga ikut andil dalam penyebaran dosa. Lagipula, dari yang saya lihat, perusahaan ini sudah cukup baik dan terkenal, tanpa kita mengambil proyek itu," bantah Alya sedikit kasar. Membuat lawan bicarannya juga ikut tersulut emosi.
"Kamu mengajari saya? Kamu memberitahu saya tentang perkembangan perusahaan saya sendiri? Memangnya kamu siapa? Saya bisa mencari seribu orang yang lebih hebat dari kamu, tentunya yang lebih tunduk dengan perintah atasan," ucap sang direktur dengan kemarahan yang berapi-api.
"KAMU BERUBAH PIKIRAN, ATAU OUT DARI PERUSAHAAN INI?" bentak direktur final.
"Saya tetap pada pendirian saya. Bapak boleh memecat saya. Permisi!"
Belum ada perintah untuk keluar ruangan, Alya sudah lebih dulu berbalik dan keluar dari ruang Direktur. Wajahnya berubah pucat seketika.
"Anda baik-baik saja?" Sapa Sekretaris Direktur ketika Alya melewati mejanya.
Dijawab anggukan dan senyum manisnya. Saya tidak baik-baik saja. Agama saya sudah dihina sedemikian rupa.
Melanjutkan langkahnya kembali ke ruangannya, bukan untuk kembali bekerja, dia hanya terdiam mengingat perdebatan yang baru saja dialaminya. Tuhan.. Ridhoilah keputusanku.
***
Masih di ruangan Alya.
Jenny dan Alya masih sibuk dengan kegiatan bersih-bersih dadakan. Rasanya meraka masih enggan untuk merelakan perpisahannya. Sudah mirip orang pacaran saja.
"Kalau kamu sibuk, tinggalin aja gapapa. Aku bisa sendiri, kok." Alya kasihan melihat Jenny.
"Ngusir aku, nih?"
"Enggak. Baperan banget sih jadi cewek. Gak enak aja sama kamu. Kerjaan kamu juga pasti banyak, secara habis 3 hari gak masuk kerja, gituu."
"Kamu kok tau?"
"Kemarin sempat nanya mbak Santi waktu nganterin kopi. Jangan dibiasain, ah, patah hati sampai gak masuk kerja." Alya terang-terangan meledek sahabatnya.
"Sial! Cerita apa aja mbak Santi ke kamu?"
"Ya banyak. Termasuk soal pagi-pagi kamu sudah pesan kopi hampir 6 gelas dan ...." Ucapan Alya terpotong saat ada ketukan pintu ruangngannya.
Mendengar bunyi ketukan pintu, Jenny langsung locat dari kursi dan bersembuyi di balik lemari. Sejenak kemudian dia merutuki kebodohannya.
Ngapain aku sembuyi? Kayak maling aja.
Tapi sudah terlanjur sembunyi, gak lucu kalau tiba-tiba muncul.
"Masuk." Suara Alya malas menjawab ketukan pintu. Kaget melihat siapa yang datang menemuinya. Ada apa lagi?
"Bapak? Maaf, Pak, saya tidak bisa merubah keputusan saya. Saya terima jika bapak memecat saya. Saya mau kemas-kemas dulu biar tidak ada barang saya yang tertinggal di sini dan membuat saya kembali kesini untuk mengambilnya," ucap Alya panjang mendominasi tanpa jeda.
Gilang tersenyum "sudah selesai?"
"Belum. Ini masih kemas-kemas."
"Maksud saya, sudah selesai bicaranya? Lancar sekali. Jalan tol saja kadang masih macet."
Alya melongo. Memandang Gilang dengan tatapan bingung dan malu.
Tersadar dari lamunannya. "Oh ... maaf. Ada perlu apa bapak kemari?"
"Lho ... saya kan boss di sini. Kantor ini milik saya. Bebas, dong saya mau ke mana-mana"
Pak Gilang ini sedang bercanda apa mengejek ya?
"Kamu tidak menyuruh saya duduk?"
"Silakan duduk."
Keduanya sudah duduk di kursi masing-masing. Alya duduk di kursi kebesarannya, dengan Gilang yang duduk di depannya. Rasanya seperti boss yang tertukar.
"Maaf atas tindakan pemaksaan saya tadi."
Pandangan Gilang tertuju pada meja Alya. Meja itu hampir bersih. Gilang kembali mengedarkan pandangannya dan menemukan sebuah kardus besar.
Belum ada surat pemecatan sudah siap-siap? "Ke mana barang-barang kamu?" Memandang kembali kardus yang tadi dilihatnya "apa itu Al?"
"Itu kardus, Pak." jawab Alya singkat.
"Ya saya tahu itu kardus. Tapi buat apa ada kardus di sini? Terus, kenapa meja kamu jadi bersih gitu?"
Alya yang mendapat serangan pertanyaan dari bossnya itu hanya memandang lesu.
Nih orang amnesia atau gimana, sih? "Saya sedang kemas-kemas. Hari ini adalah hari terakhir saya di sini. Biar tidak ada baAlg yang tertinggal saya harus mempersiapkannya dari sekarang."
"Kembalikan lagi barang-barang itu ke tempat semula. Kamu tidak jadi saya pecat."
Alya menatap Gilang bingung. Entah dia harus loncat-loncat gembira atau tetap diam dan jaim dengan calon mantan bossnya ini. Dan sepertinya pilihan kedua yang di ambil Alya.
"Bapak tidak jadi memecat saya? Kenapa?"
"Karena kamu adalah salah satu karyawan yang paling bisa diandalkan. Kemampuan kamu cukup tinggi, berkompeten, selalu memegang kejujuran dan tidak mudah tergiur dengan hal-hal yang menggiurkan." itu yang membuat aku menyukaimu.
Terlihat Alya sedang berfikir, "maaf. Saya akan tetap keluar dari perusahaan ini."
Giliran Gilang yang bengong dan kaget dengan perkataan Alya "tapi kenapa? Saya tidak jadi memecat kamu."
Harga diri dan agama saya dilanjur dihina. Dan saya juga sudah terlanjur sakit atas hal itu. "Terima kasih Bapak tidak jadi memecat saya. Tapi maaf, saya akan tetap keluar dari Angkasa Group. Saya mengundurkan diri, Pak."
Deg ....
Jantung Gilang berpacu dengan cepat. Baru saja dia ingin memulai hubungannya dengan perempuan ini, tapi tiba-tiba sudah berakhir begitu saja. Ibaratnya dia belum bertanding tapi sudah kalah. Kalah karena keegoisannya sendiri.
"Apa sudah kamu pikirkan matang-matang? Jaman sekarang nyari kerjaan itu susah," mungkin Gilang lupa siapa Alya dan segala kehebatannya. "Yaa ... saya tahu kinerja kamu bagus. Tapi tetap saja lowongan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian kamu itu susah. Kebanyakan Programmer itu kerjanya independent, tidak terikat," tambah Gilang. Sepertinya sedang menakut-nakuti karyawannya agar tidak jadi mengundurkan diri. Lupa kalau lawan bicaranya ini bukan anak-anak lagi yang mudah untuk ditakuti.
Alya tersenyum. "Itu urusan belakangan, Pak. Yang penting saya keluar dari sini. Nanti akan saya kirim surat pengunduran diri saya ke ruangan bapak. Mohon untuk disetujui. Kalau bapak sudah selesai, bapak boleh keluar. Saya mau melanjutkan kemas-kemas."
Lha di sini siapa bossnya? Kok jadi saya yang diperintah-perintah. "Baiklah. Kalau itu sudah jadi keputusan kamu." Gilang keluar dari ruangan Alya dengan wajah kecewa.
***
"Gila kamu, Al! Berani banget sama Pak Gilang," cerocos Jenny yang sudah keluar dari persembunyiannya.
"Lha emangnya aku habis ngapain Pak Gilang? Orang aku cuma bicara aja."
"Pak Gilang itu udah baik hati gak jadi mecat kamu. Kamunya malah sok-sokan mengundurkan diri. Mending kamu pikir ulang, deh, keputusan kamu itu."
"Udah, deh, jangan berisik. Mau bantuin nggak? Kalau gak mau gak usah ganggu," cetus Alya sedikit judes.
"Iya ... iya ... ini aku bantuin." Jenny menjawab dengan tak kalah ketusnya dengan Alya. "Eh, Al, setelah ini kamu mau ngapain? Udah ada pandangan perusahaan yang bakal kamu masukin?"
Alya menggeleng. Tiba-tiba Jenny sudah memeluk Alya. Mereka menangis. Sudah seperti wisuda perpisahaan anak SMA saja.
"Aku pasti bakal kangen kamu, Al. Hiks"
"Hiks ... kayak jaman batu aja kamu. Kita juga sering VC an, kan, selama ini?"
Jenny melepas pelukannya. "Janji, ya, kamu gak bakal lupa dengan persahabatan ini?"
"Janji." mereka tersenyum dalam tangisnya. Menautkan jari kelingking masing-masing.
***
"Ini surat pengunduran diri saya, Pak."
"Baiklah, saya terima. Itu hak kamu. Maaf atas kesalahan saya selama kamu bekerja di sini," ucap Gilang senormal mungkin. Tidak ingin terlihat sedih hanya karena satu karyawannya pergi.
"Saya juga minta maaf. Pasti saya juga sering buat Bapak kecewa dan teledor selama di Angkasa Group. Saya tidak akan melupakan segala kebaikan Bapak. Semua ini berkat bimbingan Pak Gilang."
"Ini kartu nama teman saya. Di situ ada alamat perusahaannya. Mungkin kamu bisa mencoba melamar pekerjaan ke sana." Gilang menyodorkan sebuah kartu nama.
Alya menerimanya. Membacanya sembari mengernyitkan dahi. "perhotelan?" Gilang mengetahui apa yang ada dalam pikiran Alya. "Setidaknya hotel juga perlu ahli IT melancarkan kegiatan di dalamnya."
"Terima kasih, Pak, besok saya akan coba langsung ke alamat kantor ini. Maaf, saya harus pergi sekarang. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Dan Alya pun keluar dari ruangan itu. Menuju lift pegawai. Membawa kardus dan tasnya meninggalkan perusahaan yang sudah melambungkan namanya. Selamat tinggal Angkasa Group.