Setibanya di cafe, aku dan Kris langsung mengambil tempat. Setidaknya masih ada waktu setengah jam menemani anak ini menggalau, sebelum waktu kerjaku.
“Jadi ada apa?” tanyaku membuka percakapan.
“To the point banget sih, lo! Kesel gue.” Balasnya membuatku memutar bola mata malas. Aku tidak suka basa-basi kalau mau curhat. Jadi jangan salahkan aku jika mendapatkan pertanyaan itu untuk pembukaan.
“Aku cuma punya waktu setengah jam. Jadi jangan buang-buang waktu dengan hanya diam.” Ucapku membuatnya menatapku sengit.
“Teman macam apa lo?” balasnya membuatku menggidikkan bahu.
“Jadi?”
“Oke. Gue mau kabur dari rumah.”
“What?!” aku terkejut mendengar kalimat sakral yang dulu pernah aku rapalkan saat tidak betah di rumah.
“Gue serius! Gue ga betah di rumah.”
Nah, kan! Bener!
“Apa alasan ga betah di rumah versi mu?” tanyaku memancing dia bercerita lebih.
“Entahlah.” jawabnya membuat keningku berkerut.
“No reason, no help.” Ucapku membuatnya mendengus.
“What? Bener, kan? Aku ga akan nolong kamu, kalau alasan kamu.. Entahlah.” Ucapku menirukan kembali jawabannya.
Kring
Suara pintu cafe terbuka, menandakan kalau ada pelanggan yang datang. Aku dan Kris pun sontak menoleh kearah pintu masuk dan mendapati sesosok pria yang tidak kami kenal, namun mampu menarik perhatian Kris. Sedangkan aku? Enggak deh, ga niat. Kuliah belun kelar, ga dulu deh jalin hubungan sama cowok.
“Gila! Ganteng banget!” puji Kris dengan air liur yang hampir menetes, membuatku jijik sendiri melihat muka pengennya.
“B aja.” Balasku. Sedangkan dia masih setia menatap pria yang entah siapa?
“Mata lo katarak, Sin!” balas Kris membuatku memutar bola mata malas. Kemudian aku teringat akan bayi mungil yang aku tinggalkan di rumah bu Yuni.
“Gantengan lagi Senaf.” Ucapku membuat Kris menatapku.
“Senaf? Siapa?” tanya Kris yang sudah tak tertarik membicarakan pria itu.
“Lelaki manis, imut, dan..”
Aku menggantung kalimatku, membuat Kris menatapku penasaran.
“Dan?” tanyanya penasaran.
“Dan..”
“Dan apa?!” kesalnya.
“Dan aku harus bekerja.” Ucapku meninggalkannya dengan wajah kesal dicampur penasaran.
“Sindy!”
***
Tak terasa, waktu cepat berlalu. Matahari sudah menghilang diganti dengan bulan dan bintang. Aku pun melangkahkan kaki keluar dari cafe menuju tempat laundry yang aku dan Kris datangi tadi siang.
Setelah aku mengambil laundry-an itu, aku pun pulang dengan menggunakan ojek online. Sebenarnya mau naik bus, tapi sekalian mau jemput laundry, jadinya naik ojek deh.
“Ibu! Permisi!” seruku sambil mengetok pintu rumah bu Yeni sesaat setelah ojek online menurunkanku di depan rumah.
Cklek
Pintu dibuka dan menampakkan wajah bu Yeni. Aku pun langsung menyalam bu Yeni dan bu Yeni langsung mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam rumahnya.
“Senaf! Bunda pulang!” seruku membuat bayi itu tertawa melihatku.
“Sayang bunda ga rewel, kan? Baik-baik sama nenek, kan?” tanyaku sesaat aku membawa Senaf ke dalam gendongan.
“Iya, bunda. Senaf ga rewel, kok.” Balas bu Yeni membuatku tersenyum.
“Maaf ya, bu. Kalau Senaf rewel.” Ucapku tak enak dengan bu Yeni.
“Enggak kok, nak. Senaf pinter. Dia tahu kalau bundanya kuliah dan kerja. Jadi dia ga rewel pas sama ibu.” Ucap bu Yeni membuatku lega. Semoga yang dikatakan oleh ibu, benar.
“Kalau gitu, kami pulang dulu ya, bu.” Ucapku pamit.
“Iya, jangan lupa besok Senaf kesini lagi, ya.” Ucap bu Yeni yang aku balas anggukan.
“Dadah nenek!” ucapku sambil membuat tangan Senaf melambai pada bu Yeni.
“Dadah akang tampan.” Ucap bu Yeni membuatku mengerutkan kening bingung dengan panggilannya. Kemudian aku pun membawa Senaf beserta atributnya menuju kontrakan.
“Hua! Kita sampai di rumah!” seruku.
Perlahan-lahan, aku meletakkan Senaf diatas tempat tidur dan memberikan sebuah bola karet padanya. Terserahmu lah, nak. Mau kamu apakan bola karet itu.
Drrt Drrt
“Halo?”
.
.
.
Keesokan harinya, seharusnya ini adalah jadwal hari libur kerja ku. Tapi atasan meminta ku masuk, karena ada rekan kerja yang mendadak tidak bisa datang, karena sakit. Ya sudahlah, hitung-hitung uang tambahan untuk biaya aku dan juga Senaf.
"Eh, dek Sindy. Rajin sekali, ya. Hari libur dibuat kerja," ledek kang Jibran.
"Iya, kang. Lumayan uang lemburnya buat minum," balasku membuat kang Jibran membulatkan matanya.
"Astaghfiruallah Sindy bin candi. Janganlah rusak tubuh mu dengan minuman haram itu," kang Jibran terus beristighfar membuatku mengulum tawa, jika tidak ingat kalau kami sedang bekerja.
"Candi prambanan, kang?" tanyaku yang dibalas anggukan.
"Hu-uh! Amin, Sin. Biar di kutuk kamu itu, karena menolak akan terus," jawabnya membuatku yang tak kuasa menahan tawa, akhirnya tertawa di tempat.
"Ahaha.. Astaga, kang. Aduh, perut Sindy sakit, hahaha.."
Astaga! Ada saja human seperti kang Jibran ini. Tapi syukurnya aku selalu dapat shift bersamaan dengan kang Jibran. Selain menghilangkan bosan, kalau tidak ada pelanggan. Kang Jibran juga bisa jadi seorang stand up comedy dadakan.
"Akang ke belakang dulu, Sin. Kamu jaga kasir yang bener! Awas tilap duit kasir!" ancamnya membuat perutku kembali terkocok.
"Ahaha, kan nanti hasilnya bagi dua. Hahaha.." ucapku sambil menirukan iklan es di TV.
"Iya, Sin. Iklan es Koki jangan di sini. Nanti es campur bos ga laku," balasnya membuatku kembali tertawa.
"Ahaha.. Kang Jibran, kang Jibran.. Aya-aya wae."
Setelah mendapat guyonan dari kang Jibran. Kami pun kembali fokus dengan pekerjaan kami. Aku sudah bisa pastikan, jika hari ini pasti ramai dengan anak muda. Jelas saja, ini hari sabtu. Hari bersama pacar atau gebetan.
Lihat itu, di sudut sudah ada yang saling rangkul-rangkulan. Lalu di depan ada yang saling sandar. Nah kalau yang di tengah itu biasanya baru PDKT alias pendekatan.
"Ekhem!"
Aku terkejut saat ada suara batuk di depanku.
"Selamat datang, ada yang bisa saja bantu?" tanyaku cepat, karena malu ketahuan ngeliatin pasangan muda yang sedang dimabuk cinta.
"Americano 1 dan sepotong coffee cake.!"
"Baik, apa ada tambahan lain?" tanyaku berusaha seramah mungkin, namun tidak melihat wajah pelanggan di depan.
"Tambahannya, Bab Pendahuluan kamu harus segera selesai, jika ingin lulus 3,5 tahun."
Apa?
Aku pun mendongakkan kepala dan melihat sosok tegap yang sering aku jumpa di kampus.
"P-pak Nico?"