Tak lama menunggu, pesanan kami pun tiba. Aku pun segera menyuapi Senaf dengan buburnya ditambah sup pesananku. Kemudian aku pun mulai menyuapkan diriku juga. Kenapa kami makan bersamaan? Karena kebiasaan Senaf, setelah dia makan, dia pasti tidur. Nah! Sebelum aku kerepotan makan sambil gendong dia, ya sambilan saja.
Selesai makan, aku melihat bayi tampan itu sudah menguap. Benar, bukan? Habis makan tidur. Entah sifat siapa yang dia tiru? Yang pasti aku tidak seperti itu!
“Cup-cup-cup..” aku menggendong Senaf dengan menegakkan badannya ke bahuku. Ya kali, habis makan dia langsung baring. Yang ada habis itu dia muntah-muntah.
Setelah membayar semua makanan yang aku pesan, aku pun membawa Senaf yang sudah tertidur di gendonganku keluar dari cafetaria itu. Saat aku hendak mengambil ponsel dari dalam tas, tiba-tiba saja ada tangan cepat yang merampas Senaf dari gendonganku.
“HEI! Bayiku!” seruku tersadar. Aku pun mengejar penculik itu dan sialnya orang-orang di dalam mall itu tidak ada yang perduli!
“Kembalikan bayiku!” seruku dan sialnya lagi, aku hampir kehabisan nafas mengejar pria itu.
“K-hhmhh balikan anakku!” seruku lagi dengan nafas tersenggal-senggal.
Tidak!
Jangan ambil Senaf!
Jangan ambil bayi ku!
Jangan ambil anak ku!
Ambil saja dompet atau ponselku!
Jangan dia!
Bruk
Aku terduduk di tempatku dan air mataku mengalir keluar. Aku menangis. Bayiku dicuri disebuah mall dan tidak ada yang menolongku.
Drap Drap Drap
“Ada apa, nona?” tanya seorang pria membuatku menunjuk kearah pria yang sudah membawa pergi Senaf ku.
“Bayiku di culik.” Ucapku sambil menunjuk pria yang sudah hilang tepat di tangga eskalator.
“Tunggu di sini.” Ucap pria itu membuatku menutup mataku tak kuat bila harus benar-benar kehilangan Senaf.
“Kerahkan semua security untuk menangkap pria yang berjalan cepat sambil menggendong bayi.” Ucap pria itu dan kemudian terdengar langkah kaki menjauh dariku.
“Nona,” panggil seorang wanita membuatku menengadahkan kepala.
“Mari ikut saya ke ruang CCTV!” ajak seorang wanita berperawakan tinggi. Aku yang tak tahu harus apa, hanya mengangguk menyetujui.
“Tenang lah, nona. Bayi anda akan segera kembali ke pelukan anda.” Ucap wanita itu yang masih aku balas anggukan. Kemudian kami pun berjalan dengan wanita itu menuntunku. Jujur saja, aku benar-benar sudah tidak perduli dengan barang-barangku. Aku hanya ingin bayi tampanku kembali.
Senaf.. Jangan tinggalkan bunda, sayang.
***
Ada satu jam lebih aku menunggu di ruangan yang entah apa namanya. Wanita itu masih di sini dan beberapa orang yang dari tadi di sini masih di sini sambil melihat layar CCTV. Aku menatap nanar ponselku. Gara-gara mengambil ponsel, aku tak fokus dengan gendongan Senaf yang ternyata longgar.
“Tenang lah, nona. Bayi anda pasti kembali.” kalimat itu kembali diucapkan oleh wanita yang membawaku.
Drap Drap Drap
“Hosh..Hosh..Hosh..”
“Sir,” wanita itu sedikit membungkukkan badannya saat seseorang datang dengan nafas memburu. Kenapa mereka semua menunduk pada pria ini?
“Here’s your baby.” Ucap seorang pria membuatku langsung menatapnya yang tengah menggendong Senaf.
“Senaf! Astaga sayang! Ini kamu?” aku tak percaya bisa mendapatkan kembali bayi tampanku. Aku pun langsung menciumi seluruh wajahnya. Dan lihatlah! Walaupun sudah di curi, di gendong kasar dan di ciumi seperti itu, dia masih terlelap dalam tidurnya.
“Terima kasih! Terima kasih banyak!” ucapku sedikit membungkuk pada pria yang membawa Senaf kembali ke gendonganku.
“Its okay.” Ucap pria itu membuatku sedikit tidak enak.
“Apa yang bisa aku berikan untuk ucapan terima kasih, karena sudah menyelamatkan putraku?” tanyaku.
“Tidak. Tidak perlu. Sudah tanggung jawab saya menjamin keamanan di sini.” Ucapnya yang aku balas anggukan.
“Seharusnya saya yang meminta maaf, karena bayi anda hampir tak terselamatkan.” Ucapnya membuatku membatu.
T-tunggu.. A-apa maksud dari ucapannya itu?
“Ah! No! I didn’t mean like that!” ucapnya membuatku menatapnya dan menutup mataku, meredam kembali pikiran negatifku.
Sindy, tenanglah! Tenangkan pikiran dan hatimu! Senaf sudah kembali, bukan? Everything gonna be alright!
“Its okay.” Balasku.
“Okay. Kalau anda memaksa, boleh saya minta nomor handphone anda? Biar saya bisa menghubungi anda untuk membayar budi saya.” Ucapnya yang langsung aku angguki.
“Tentu.” Ucapku dan mulai menyebutkan nomor ponselku.
“Your name?” tanyanya.
“Sindy.” jawabku.
“Tersimpan!” serunya membuatku mengangguk.
“Kalau begitu, aku permisi. Sekali lagi terima kasih.” Ucapku pamit. Namun baru saja aku melangkahkan kaki, tanganku di cekal.
“Tunggu!” ucap pria itu membuatku menatapnya kebingungan.
“Ada apa?”
“Biar saya mengantarkan anda pulang.” Ucapnya membuatku mengerutkan dahi.
“Tidak. Aku bisa pulang sendiri. Aku tidak ingin merepotkan dan berujung berutang budi pada kamu.” Ucapku menolak.
“Sorry. But, saya tidak menerima penolakan.” Ucapnya membuatku menghembuskan nafas pelan dan kemudian mengangguk.
“Baiklah.” Ucapku dan kami pun berjalan keluar dari ruangan itu.
***
Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang menyelimuti mobil. Tidak ada percakapan yang terlontar kecuali aku menyebutkan halte perhentian bus dekat kontrakan, sebagai alamat.
“Stop! Di sini saja.” Ucapku menyuruh nya menghentikan mobil.
“Tapi ini halte?” ucap nya lebih kepertanyaan.
“Iya. Aku di sini saja. Rumah ku tidak jauh dari sini.” Ucapku dan hendak keluar dari mobil. Namun tanganku kembali di cekal oleh pria yang nama nya saja aku tak tahu.
“Tunggu!” ucapnya membuatku mengernyit bingung. Kemudian dia bergerak mendekat membuatku melebarkan bola mata.
“A-apa yang kamu lakukan?!” tanyaku sedikit gugup karena jarak kami yang sangat dekat.
“Hanya membantu melepaskan set belt anda.” Ucapnya membuatku menghela nafas lega.
“Terima kasih.” Ucapku saat sabuk pengaman itu sudah lepas. Kemudian aku pun keluar dari mobil pria itu dan berbalik sebelum menutup pintu.
“Sekali lagi, terima kasih banyak atas pertolongan dan tumpangan kamu.” Ucapku yang diangguki olehnya.
“Anytime.” Ucapnya dan aku pun menutup pintu mobil itu dan membiarkan mobil itu hilang di telan jalanan. Baru aku dan Senaf berjalan pulang menuju rumah.
“Bunda sayang kamu, sayang. Bunda ga mau kehilangan kamu.”