Akhirnya Sindy pun pulang sendiri, karena Kris harus segera pulang ke rumah, karena mamanya menelpon menyuruh untuk segera pulang. Entahlah, Sindy juga bingung dengan keluarga Kris yang terkadang menyebalkan untuk Kris, terkadang juga membuat gadis itu gembira.
Ketika Sindy tengah menunggu bus yang biasa membawa dirinya ke halte dekat tempat dia bekerja, tiba-tiba sebuah mobil Mercedes-Benz berhenti tepat dihadapannya. Tak merasa memiliki kenalan dengan mobil seperti itu, Sindy pun acuh dengan mengedarkan pandangan ke kanan dan kirinya.
“Ekhem.” Batuk seseorang, sehingga membuat beberapa keributan di halte.
“Gila! Itu bukannya si tampan dari negeri industri baja?”
“Industri baja?”
“Itu, lho! Luksemburg!”
“Eh buset! Itu yang negara terkaya di Eropa, kan?”
“Iya! Kabar-kabarnya dia datang buat tanam saham di mall dekat utara situ.”
“Tapi masa itu dia? Emang lu pernah liat?”
“Enggak, sih. Tapi kalau diliat lewat fotonya, mirip!”
Sindy yang merasa terusik dengan kasak-kusuk disekitarnya, langsung menatap sekeliling.
“Apaan, sih? Norak!” balas Sindy dan..
Grap!
Tatapannya terhenti pada seorang pria yang tengah lekat menatap dirinya.
“K-kamu!” Sindy terkejut menatap pria yang kemarin menolongnya, tepat di depannya dengan posisi jongkok sembari menatap dirinya.
“Hai, nona!” sapa pria itu dengan senyumnya membuat Sindy menatap bingung pria dihadapannya.
“A-apa yang kamu lakukan di sini? Dari mana kamu tahu aku di sini?” tanya Sindy sambil menatap sekelilingnya yang mulai berbisik tentangnya. Yang benar saja, dia tidak ingin menjadi bahan gosip di majalah atau apapun itu.
“Saya ingin meminta janji anda.” Balasnya membuat Sindy menganggukkan kepala.
“Baiklah. Di mana? Tapi maaf, aku tidak bisa lama-lama, karena aku harus bekerja.” Ucap Sindy membuat pria itu mengerutkan kening.
“Bekerja?” tanya pria itu membuat Sindy mengangguk.
“Di mana?” tanya pria itu lagi dan saat Sindy ingin menjawab, tiba-tiba saja bus yang mengantarkannya menuju tempat kerja, tiba. Sindy pun berdiri dari tempat duduknya dan menatap bus itu juga pria dihadapannya bergantian.
“M-maaf. Busnya sudah datang. Atau kamu mau ikut? Biar aku membayar hutangku di sana?” tawar Sindy membuat pria itu bangkit dari jongkoknya.
“Sepertinya lain kali saja.” Ucap pria itu membuat Sindy menautkan alisnya, dan kemudian mengangguk.
“Kalau begitu, boleh aku pergi?” tanya Sindy menunjuk kearah bus yang pintunya sebentar lagi akan ditutup.
“Sure.” Balas pria itu membuat Sindy mengangguk dan pergi meninggalkannya.
"Kalau begitu, aku permisi.."
Bertepatan dengan perginya bus, pria itu tersenyum miring. Saat dia sudah menetapkan target, maka dia harus mendapatkan target itu.
“I wont let you go, girl..”
.
.
.
Sindy POV
Memang benar, kalau MK (Mata Kuliah) yang aku ambil sudah habis. Tapi aku harus rajin ke kampus untuk bimbingan. Sialnya lagi, dosen pembimbing skripsi aku kali ini adalah pak Nico. Dosen muda lulusan negara Hollywood yang mukanya bisa buat ngusir-ngusir hama di sawah.
Pak Nico adalah dosen tampan dengan wajah ganas. Persis seperti yang ada di novel-novel. Mungkin kali ini, Tuhan mengizinkanku buat mengikuti salah satu alur cerita para penulis yang sudah menerbitkan ceritanya tentang Hot Dosen dan sebagainya, dengan akhir menjadi tambatan terakhir para dosen itu.
Ah! Tapi untuk pak Nico. Enggak, deh! Nyerah aku, mah! Ga mau! Moh! Yang ada cepat mati kalau beneran jadi labuhan terakhir dia. Tiap hari liat wajah menyeramkan dan mematikan. Belum lagi kata-kata pedas yang bakalan keluar dari mulutnya.
"Sindy! Mana dasi saya?!"
"Sindy! Mana tas saya?!"
"Sindy! Sarapan saya mana?!"
Astaga! Tidak-tidak! Duh! Ga kebayang aku tuh!
Nah-nah! Kayak hari ini. Aku harus menerima cacian dari dia karena typo yang ga seberapa. Astaga, pak! Ga ada yang sempurna di dunia ini!
“Kamu harus revisi semua yang saya lingkari dan saya beri tanda di sini!” tegas pak Nico sambil mencoret satu-satu perhalaman lembar skripsiku. Nasib-nasib ga jadi 3,5 tahun.
“Untuk bukti-bukti tentang metodenya, kamu perbanyak lagi! Kalau perlu saya buatkan surat rekomendasi perusahaan.” Ucapnya membuatku membulatkan mata. Gila! Kapan sidangnya kalau penelitian lagi?
“Bagaimana?” tanyanya membuatku menutup mataku sebentar dan mengangguk.
“Bagus.” Balasnya membuatku seketika seperti tak menjejak tanah.
“Besok kamu datang menghadap saya. Akan saya berikan suratnya.” Ucapnya yang hanya bisa aku balas anggukan.
Sabar Sindy.. Semua akan ada hikmahnya..
“Terima kasih, pak.” Ucapku yang dibalas anggukan olehnya.
“Kamu boleh pergi.” Ucapnya mengusir.
“Baik, pak. Permisi.” Pamitku meninggalkan ruangannya.
Huft!
Cobaan buat anak baik pejuang 3,5 tahun. Semangat, Sindy!
Aku pun berjalan menuju kantin untuk membeli pelepas dahaga, sekaligus peredam otak ku yang panas. Dengan lesu, aku pun menyebutkan pesananku pada bude kantin. Lalu aku duduk di salah satu bangku kosong di pojok. Tempat favorite-ku.
“Ini, nduk.” Ucap bude yang aku balas anggukan.
“Terima kasih, bude.” Balasku dengan lesu.
“Ngopo toh, nduk? Kok lemas gitu?” tanya bude membuatku tersenyum menggeleng.
“Biasalah, bude. Habis bimbingan.” Jawabku seadanya sambil memutar-mutar pipet.
“Oalah. Memang siapa toh pembimbingnya?” tanya bude kepo.
“Pak Nico, bude.” Balasku lesu yang malah membuat bude mengernyit.
“Lho! Itu kan dosen muda yang baru lulus S2 dari tempat Obama itu, kan?” tanya bude membuatku tertawa kecil dan mengangguk.
"Iyo, bude. Dosen yang mukanya garang, yang sering jadi gosipan mahasiswa."
“Bukannya dia suka sama kamu, nduk?” tanya bude membuatku membulatkan mataku.
“Hah? Apa bude? Ah, bude! Kalau mau menghibur aku, ga usah kayak gitu.” Ucapku dengan tawa garing. Tapi serem kalau misalnya pak Nico beneran...
“Lha, nduk! Bude kok yang liat bapak itu suka liatin kamu.” Ucap bude terdengar serius. Aku pun menghentikan wajah tawaku.
Ini serius? Pak Nico? Ya kali! Ga mungkin itu!
“Enggak ah, bude. Mungkin bukan aku, bisa aja orang lain.” Aku coba tepis opini si bude.
“Yowes kalau kamu enggak percaya, nduk. Yang pasti, bude udah kasih tahu.” Ucap bude yang aku angguki.
“Terima kasih airnya, bude. Segar.” Ucapku yang diangguki oleh si bude.
Ya kali, pak Nico suka aku?!