Peter membaca permintaan pertemuan Sabelle tanpa segera membalas. Kalimat tentang pernikahan dan langkah ke depan membuatnya menduga sesuatu yang selama ini berusaha ditahan dalam pikirannya. Ia ingin menelepon saat itu juga, memastikan apakah kata-kata tersebut berarti masih ada kesempatan. Namun Sabelle sudah meminta waktu yang terpisah dari urusan anak. Ia memilih salah satu waktu yang ditawarkan dan mengonfirmasi sebelum kembali pada pekerjaannya.
Mereka bertemu dua hari kemudian. Tidak ada Shalter yang perlu diantar pulang di akhir percakapan, tidak ada makanan keluarga yang membuat salah satu merasa harus menahan suara demi menjaga suasana. Sabelle membawa catatan, tetapi tidak mengeluarkan dokumen begitu duduk. Ia lebih dahulu mengatakan bahwa dirinya telah berkonsultasi untuk memahami pilihan mengenai perpisahan resmi.
'Aku ingin mulai menempuh prosesnya,' katanya. 'Aku tidak mengatakan ini supaya kau menjanjikan sesuatu yang lebih besar lalu aku membatalkannya.'
Peter memandangnya lama. Ia sudah mengetahui perempuan itu belum menjanjikan kembali, tetapi mendengar keputusan memulai langkah nyata tetap menyakitkan. Ia menanyakan apakah ada hal yang masih dapat dibicarakan sebelum dokumen diteruskan. Sabelle menjawab ada banyak hal mengenai pengaturan anak yang harus dibicarakan. Namun keinginannya mengakhiri ketidakjelasan perkawinan bukan persoalan yang dapat ditukar dengan hadiah, uang, atau rencana pekerjaan baru.
'Aku tahu kau sedang berusaha menjadi ayah yang hadir,' lanjutnya. 'Aku ingin itu terus berjalan. Aku tidak bisa menjadikan usaha tersebut alasan harus kembali menjalani hubungan sebagai istri seperti dulu.'
Peter menurunkan pandangan pada kedua tangannya. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya dapat berbeda sekarang. Kata tersebut sudah terlalu sering muncul dalam kepalanya, seolah masa depan yang belum terjadi dapat dipakai untuk meminta perempuan di depannya menunggu sekali lagi. Ia tetap mengucapkan bahwa ingin memperbaiki hubungan, tetapi berhenti sebelum mengubah keinginan itu menjadi permintaan agar Sabelle menunda semua langkah tanpa batas.
Sabelle mengatakan keputusan memulai proses tidak diambil pada malam setelah pengakuan kecelakaan. Ia telah memikirkan kehidupannya sejak jauh sebelum Peter kembali datang. Jawaban baru tentang pertolongan tidak menjadikan semuanya lebih sederhana. Ia tidak membalas bantuan di jalan dengan perceraian, sebagaimana ia juga tidak berutang mempertahankan pernikahan karena pernah ditolong suaminya sendiri.
'Ini bukan hukuman untuk satu percakapan,' katanya. 'Aku mencoba jujur tentang kehidupan yang mampu dan ingin kujalani.'
Peter menanyakan apakah Damien menjadi alasan. Sabelle merasakan kemarahan muncul, tetapi ia menunggu sampai dapat menjawab tanpa kehilangan pokok pembicaraan. Ia mengatakan Damien tidak membuat pilihan ketika Peter meninggalkan rumah. Hubungannya dengan orang lain kelak juga tidak dapat dijadikan syarat apakah ia boleh mengakhiri perkawinan yang tidak lagi ingin diteruskannya. Saat ini ia belum membangun hubungan baru sebagai pasangan.
'Aku menanyakan karena cemburu,' Peter mengakui setelah jeda. 'Bukan karena kau memberi alasan untuk pertanyaan itu.'
Sabelle mengangguk, tidak mengambil tugas menenangkan kecemburuan tersebut. Ia menerangkan bahwa langkah resmi berikut akan diteruskan melalui orang yang mendampinginya, dengan kesempatan Peter membaca dan memperoleh pendampingannya sendiri. Ia tidak meminta tanda tangan pada kertas yang baru diletakkan mendadak. Ia ingin pembicaraan mengenai hak serta kewajiban dilakukan dengan jelas, termasuk hal yang belum disepakati.
Mereka meninjau kebutuhan paling dekat: komunikasi mengenai Shalter tetap berjalan, pembayaran yang sudah dijadwalkan tidak dihentikan, dan pertemuan anak tidak digunakan untuk menanyakan hasil konsultasi ibunya. Bila salah satu perlu perubahan, orang dewasa yang membicarakannya. Shalter tidak boleh diminta menyampaikan bahwa Daddy sedih supaya Mommy berpikir ulang atau bahwa Mommy menangis supaya Daddy lebih cepat menyetujui sesuatu.
'Aku tidak ingin dia belajar bahwa menyayangi salah satu dari kita berarti melukai yang lain,' ujar Sabelle.
Peter menanyakan kapan mereka akan menjelaskan perubahan kepada Shalter. Sabelle ingin menyiapkan penjelasan bersama setelah ada gambaran langkah yang cukup jelas, dengan bantuan bila diperlukan. Mereka tidak akan menunggu sampai anak menemukan berkas atau mendengar percakapan terputus dari keluarga. Namun mereka juga tidak akan menyampaikan perkiraan sebagai hasil akhir. Untuk hari-hari terdekat, yang dapat dipastikan adalah tempat tinggalnya tetap sama dan jadwal bertemu ayahnya tidak dibatalkan karena pembicaraan tersebut. Peter menyetujui hal itu, lalu mencatat permintaan agar mereka meninjau kebutuhan penjelasan pada pertemuan berikut.
Peter mengangguk. Ia mengatakan akan membaca berkas ketika diterima dan mencari bantuan untuk memahami bagian yang diperlukan. Persetujuan menerima proses tidak membuat perasaannya tenang, tetapi ia tidak akan mengubah kesedihan itu menjadi ancaman berhenti hadir. Sabelle mencatat kesediaan tersebut tanpa menganggap semua pembicaraan selanjutnya pasti mudah. Mereka masih dapat berbeda pendapat mengenai rincian.
Setelah pertemuan, Sabelle menghubungi pendampingnya dan mengonfirmasi keinginan memulai langkah berikut sesuai pemeriksaan berkas. Ada dokumen tambahan yang masih harus dilengkapi dan jadwal lanjutan yang perlu diatur. Ia memberikan salinan yang telah disiapkan, meminta kabar mengenai penerimaan, lalu menyimpan catatan pengiriman. Tidak ada pengumuman bahwa dirinya sudah bebas dari status perkawinan sore itu juga.
Peter menerima pemberitahuan melalui jalur yang telah disepakati pada hari berikutnya. Ia membaca tanpa meneruskannya kepada pengelola untuk dijadikan cerita publik. Urusan pekerjaan cukup mengetahui waktu yang benar-benar dibutuhkan untuk pertemuan. Ia mengatur pendampingan sendiri, menuliskan pertanyaan, dan menjaga agar rencana panggilan Shalter tidak berada di tengah pembicaraan yang membuatnya ingin berdebat panjang.
Ketika putranya menelepon, Peter sempat membutuhkan waktu untuk membuat suaranya tidak terlalu berat. Shalter menanyakan apakah Daddy sedang lelah. Peter menjawab bahwa harinya berisi urusan orang dewasa, tetapi ia tetap mempunyai waktu untuk mendengarkan. Ia tidak menyebut Mommy sebagai penyebab kesedihan atau meminta anak mengatakan sesuatu kepadanya. Percakapan berlangsung lebih singkat atas pilihan Shalter yang ingin menyelesaikan kegiatan lain.
Malam itu Sabelle menaruh salinan berkas pada tempat tersendiri. Memulai proses tidak membuatnya langsung bahagia, dan rasa sedih tidak otomatis berarti langkah tersebut salah. Ia memeriksa jadwal esok, memastikan kebutuhan toko serta anak, lalu mematikan lampu. Kejelasan yang dicari mulai mempunyai bentuk nyata, meskipun masih membutuhkan waktu, pembicaraan, dan keberanian untuk diteruskan sampai selesai.