Pertemuan terakhir yang diminta Peter berlangsung setelah urusan yang dijanjikan Sabelle selesai. Ia datang tanpa membawa kotak kenangan atau foto anak. Peter tidak menyiapkan bunga. Keduanya duduk pada tempat yang memungkinkan berbicara tanpa harus mengulang kepada orang di dekat meja. Untuk beberapa saat mereka saling memandang sebagai orang yang pernah begitu dekat, kini perlu meminta waktu agar dapat mengatakan hal yang tidak mudah.
'Terima kasih sudah bersedia datang,' kata Peter.
'Aku ingin kita mengakhiri pembicaraan ini dengan jelas.'
Peter mengatakan dirinya masih berharap, lalu mengakui bahwa harapan tersebut tidak mempunyai hak lebih besar daripada keputusan Sabelle. Ia telah membaca kembali langkah yang dijalani, melihat perubahan dalam kehidupan anak, dan mencoba menerima bahwa menjadi ayah yang lebih hadir tidak mengembalikan waktu sebagai suami. Ia tidak mempunyai tawaran baru yang dapat mengganti tahun-tahun yang hilang.
'Aku ingin bertanya sekali lagi apakah kau ingin mencoba,' ujarnya. 'Bukan dengan janji meninggalkan semua musik atau membeli rumah yang berbeda. Aku ingin tahu apakah ada keinginan itu dari dirimu.'
Sabelle menatapnya tanpa segera menurunkan wajah. Pertanyaan tersebut lebih jujur daripada permintaan yang disertai alasan anak membutuhkan keluarga utuh. Ia tetap menyakitkan, karena ada bagian dirinya yang mengingat kapan jawaban ya pernah diberikan dengan begitu mudah. Namun orang yang duduk di kursi itu sekarang mempunyai kehidupan yang telah berjalan melewati penantian, kecelakaan, pekerjaan, serta keberanian kecil untuk tidak terus meminta maaf atas kebutuhannya sendiri.
'Tidak, Peter. Aku tidak ingin kembali menjalani pernikahan kita.'
Ia membiarkan jawaban itu cukup jelas sebelum melanjutkan. Ini bukan keputusan pertama yang muncul sore tersebut. Ia telah mengatakan ingin memulai proses, menempuhnya, dan tetap merasa demikian sesudah melihat usaha Peter kepada Shalter. Ia menghargai usaha itu tanpa ingin kembali menjadi pasangan. Bukan karena setiap kenangan baik hilang, melainkan karena dirinya tidak lagi memilih hubungan yang sama untuk masa depan.
Peter memejamkan mata sebentar. Tidak ada kemarahan yang dapat membuat jawaban berubah. Ia menanyakan apakah Sabelle yakin tidak sedang menahan diri karena takut kehilangan hidup yang sudah dibangun. Perempuan itu mengatakan rasa takut memang ada, tetapi hidup yang dibangun bukan sesuatu yang harus dilepaskan agar cintanya dahulu dianggap sungguh. Ia ingin mempertahankan keputusan yang dapat dibuat tanpa menunggu Peter menyetujui perasaannya.
'Aku pernah mencintaimu,' katanya. 'Aku tidak perlu mengatakan itu bohong. Tapi cinta yang pernah ada tidak membuatku wajib terus menjadi istrimu.'
Peter mengangguk perlahan. Air matanya jatuh, dan ia mengusap sendiri sebelum berbicara lagi. Ia mengatakan menyesal atas pilihan yang membuat Sabelle harus menjalani begitu banyak hal tanpa dirinya. Ia tidak meminta maaf sebagai kalimat pembuka menuju kesempatan lain. Ia hanya ingin mengaku bahwa dirinya kehilangan sesuatu melalui tindakan yang sungguh dipilih, bukan sekadar melalui nasib buruk yang datang tanpa sebab.
Sabelle mengatakan dirinya tidak ingin memelihara hubungan mereka hanya sebagai tempat menyimpan hukuman. Mereka akan tetap mempunyai kebutuhan pengasuhan dan mungkin menghadapi perbedaan. Ia ingin dapat membicarakannya dengan cukup tenang. Tetapi keinginan bekerja sama sebagai orang tua tidak boleh terus diterjemahkan sebagai tanda dirinya dapat dibujuk kembali menjadi istri.
'Aku perlu kau berhenti menanyakan ini berulang kali,' ujarnya. 'Kalau ada hal yang berubah dari diriku, aku yang akan mengatakannya. Jangan menjadikan setiap percakapan baik sebagai pertanyaan baru tentang kita.'
'Aku akan menghormati jawabanmu.'
Sabelle menunggu, memberi kesempatan bila ada yang perlu diperjelas. Peter hanya meminta memastikan pemberitahuan resmi tetap melalui jalur yang telah disetujui. Ia tidak ingin kesedihan membuatnya melewatkan hal yang harus dihadiri atau dibaca. Sabelle mengonfirmasi dan mengatakan dirinya juga akan melakukan bagian yang diperlukan. Mereka tidak berjabat tangan sebagai tanda semua luka selesai; mereka cukup mengetahui apa yang harus diteruskan.
Kalimat itu tidak membuat Peter langsung tenang. Namun ia mengatakannya tanpa tambahan bahwa akan menunggu sampai Sabelle sadar telah keliru. Ia menanyakan kebutuhan komunikasi berikut yang benar-benar berkaitan dengan proses serta anak. Mereka memastikan jalur tetap sama, jadwal tidak dihentikan, dan Shalter tidak diberi cerita bahwa Mommy menolak membuat Daddy bahagia.
Sabelle tidak membandingkan Damien dalam percakapan tersebut. Ia tidak harus menunjukkan lelaki lain agar keputusan berpisah mempunyai alasan. Sesudah pertemuan selesai, ia dapat mengakui kepada dirinya sendiri ada keinginan mengenal Damien lebih jauh ketika statusnya benar-benar jelas dan dirinya siap. Keinginan itu miliknya, bukan syarat yang membuat keputusan sore tersebut berlaku.
Peter berdiri ketika waktunya berakhir. Ia tidak meminta satu pelukan terakhir untuk membuat kenangan lebih indah. Sabelle mengucapkan terima kasih karena telah mendengar sampai selesai. Mereka berpisah menuju urusan masing-masing, membawa kesedihan yang tidak sama bentuknya. Tidak ada pengumuman publik, tidak ada lagu mendadak yang didedikasikan kepada perempuan yang baru mengatakan tidak.
Dalam perjalanan pulang, Sabelle sempat menangis setelah berada di tempat yang dapat berhenti dengan aman. Ia menghubungi Emily dan mengatakan pembicaraan sudah selesai. Ibunya bertanya apakah ingin dijemput atau ditemani melalui telepon. Sabelle memilih berbicara sebentar, kemudian menunggu sampai cukup tenang untuk melanjutkan perjalanan sesuai pengaturannya. Kejelasan tidak selalu datang tanpa air mata.
Di rumah, Shalter mempunyai cerita mengenai sesuatu yang ingin dicoba pada akhir pekan. Sabelle duduk mendengarkan, memastikan tidak ada kebutuhan anak yang berubah karena pertemuan orang dewasa tadi. Ia tidak mengatakan Mommy kini sudah benar-benar memilih untuk meminta ucapan selamat. Proses resmi masih berjalan, dan yang perlu diketahui Shalter tetap dijelaskan sesuai kebutuhannya, bukan seluruh emosi yang dibawa ibunya pulang.
Malam itu Peter mengirim konfirmasi singkat mengenai waktu berikut bersama anak. Sabelle menjawab sesuai rencana. Tidak ada kalimat tambahan tentang percakapan terakhir. Untuk pertama kalinya setelah permintaan tersebut, keduanya membiarkan satu urusan selesai tanpa segera membuka pintu yang sama lagi. Pernikahan mereka masih menunggu akhir resmi, tetapi jawaban mengenai keinginan kembali telah diucapkan dengan jelas. Sabelle menutup telepon, lalu bersiap menjalani hari berikut sebagai hidup yang dipilihnya sendiri.