Mike terkejut, segera mengalihkan pandangannya kepada Sean yang mengerang kesakitan dilantai.
"hahahahha..... maafkan aku" ujar Sean
Sean beruntung ia tidak membenturkan kepalanya, namun punggung, pinggul dan p****t nya terasa sangat sakit sekarang. Mike mengerutkan alis nya
'mengapa ia meminta maaf?' batin Mike
Mike memang dingin, tapi bukan berarti ia tidak punya hati. Terlebih Sean membantunya dari tadi. Hendak bergerak membantu Sean, Mike tersentak saat mendengar Sean berteriak
"JANGAN BERGERAK" seru Sean membuat Mike kembali terkejut.
"Lantai licin. Tidak lucu jika nanti kau ikut terpeleset, dan tadi aku melepas perban kaki kau, salah bergerak maka kaki kau akan kembali sakit"
Mike memperhatikan wajah Sean yang sedang menoleh ke arah nya tetap tersenyum cerah namun terlihat jelas menahan sakit.
"Beri aku beberapa menit seperti ini. aku baik baik saja"
Mike terlihat ragu tapi memilih diam, ia masih memperhatikan Sean yang terlihat menarik dan menghembuskan napas beberapa kali, lalu dengan perlahan bangkit. Sean sengaja bangkit membelakangi Mike, menggigit bibirnya menahan erang an. Setelah itu berbalik dan memamerkan senyumnya.
Sean langsung menarik tutup bathtub, duduk di pinggir bathtub sambil menunggu air habis. Mike dapat melihat Sean yang duduk tidak nyaman.
“Kau… tidak apa-apa?” tanya Mike
Sean merasa cukup terkejut karena mendengar Mike berbicara kepadanya. Tersenyum hangat Sean menjawab
“Aku baik-baik saja”
Mike memperhatikan Sean, jelas pemuda di hadapannya berbohong. Matanya menelusuri pakaian Sean yang basah. Rambut bagian belakangnya juga basah. Mike tidak tau harus mengatakan apa jadi ia hanya diam. Perlahan Sean bangkit, mengambil handuk dari tumpukan handuk.
"Lantainya licin, aku akan menggunakan ini terlebih dahulu untuk mengeringkan lantai. Tidak apa-apa kan?" tanya Sean.
Tidak ada lap di sana, Mike mengangguk. Lalu melihat Sean mengeringkan lantai secara perlahan.
Setelah membantu Mike berbilas sekali lagi dengan shower, lalu membantu mengeringkan Mike dan mengenakan pakaian tidur yang nyaman. Sean mendudukkan Mike ke kursi, dan mulai mengeringkan rambut Mike dengan hair dyer.
"kau perlu memotong rambut. Katakan jika kau ingin, aku dapat membantu" ujar Sean ramah
Mike melihat pantulan Sean yang masih fokus di rambutnya dari kaca
'apa dia pernah membuka salon atau apa?' batin Mike, mengingat juga bagaimana Sean mencuci rambutnya tadi.
"Hmmm...... aku tidak tahu apa kau akan menyukai nya, maksudnya aku buka profesional, tapi jika kau mau ke salon aku dapat mengantar kau" lanjut Sean seolah tau pikiran Mike
Selesai, ia membantu Mike kembali ke tempat tidur, mendudukkan Mike di pinggir tempat tidur lalu duduk dilantai.
"aku akan memasang kan perban pada kaki kau. Katakan jika sakit"
Mike memperhatikan Sean yang fokus membalut kakinya. Entah kapan Sean menyiapkan perban coklat untuk membalut kakinya. Mike semakin sadar bahwa pakaian Sean yang basah hampir semuanya.
"Nah.... sudah selesai. aku sudah mempelajari ini dari dokter kau, seharusnya tidak ada masalah. Besok juga dokter kau akan datang memeriksa kondisi kau" Sean berujar, dengan kaki Mike yang masih di pangkuannya.
"Aku akan membawakan makan malam" Sean bangkit perlahan, menggunakan pinggiran kasur untuk membantunya bangkit
'Sialan.... punggungku sakit sekali kalau digerakkan' batin Sean.
Ia segera turun menghangatkan makanan sejenak sebelum dengan nampan membawanya naik. Mike memperhatikan makanan yang ada di hadapannya, Mike tentu saja pernah makan nasi, tapi sangat jarang. Bagaimana pun, ini bukan Asia. Sedangkan Sean suka makan nasi. Sean juga membuat ayam bumbu dengan sup ayam sayur. Mike tidak pemilih, tapi ia tidak pernah makan-makanan seperti ini. Namun di luar bayangan Mike, ia menikmati makan malamnya. Setelah memastikan Mike makan, Sean pergi untuk membersihkan badannya. Sean mandi dengan cepat, meski ia kesulitan melepaskan sweater nya, bahunya sakit sekali.
Selesai, Sean kembali ke kamar Mike. Tidak lupa mengetuk pintu, mendapati Mike sudah selesai makan. Melihat makanan yang habis, Sean tersenyum lebar. Setelah membantu Mike meminum obat dan bersiap tidur, Sean bersiap untuk keluar.
“Aku tidur di sebelah, jika perlu sesuatu, jangan ragu untuk memanggil ku”
Sean turun ke bawah dengan piring, lalu makan dan mencuci piring. Selesai, Sean naik menuju kamarnya. Namun langkahnya berhenti di depan kamar Mike ketika mendengar suara tangisan, tidak keras, tapi Sean dapat mendengarnya.
Sean menyentuh dadanya, ia merasa bersyukur karena jantung istri Mike yang ia dapatkan. Namun di satu sisi Sean merasa sedih saat mendengar tangisan Mike. Menahan dirinya untuk tidak masuk, Sean memilih ke kamarnya untuk tidur, meski dengan pikiran yang tetap berkecamuk.
Sean terbiasa bangun pagi, dan sudah bangun sejak pukul 7 pagi, ia segera membuat sarapan. Beres-beres, sebelum akhirnya makan. Setelah jam menunjukkan pukul 8, Sean menuju kamar Mike, membawa sarapan. Namun Sean terkejut melihat Mike, bukan karena Mike yang sudah terbangun, namun karena lingkaran hitam di bawah mata Mike yang terlihat lebih parah dibandingkan kemarin.
Sean menghampiri Mike yang sedang terduduk di kasur. Aroma makanan segera menghampiri Mike, membuat Mike memperhatikan makanan yang dibawa Sean. Pikiran Mike yang sedari tadi membuatnya merasa sedih dan tertekan teralih kan sejenak. Karena ayah Sean dari China, dan ibunya yang sempat tinggal lama di China. Sean terbiasa dengan masakan khas China. Jadi apa yang ia buat saat sarapan adalah bubur. Dan melihat Mike memperhatikan makanan di hadapannya, Sean memberitahu Mike
“Ini adalah bubur sapi, dan sayur tumis daging sapi. Saat sarapan, akan lebih baik untuk makan-makanan yang tidak begitu berat. Cobalah…”
Mike terlihat ragu, tapi mengangkat sendok nya, meski dengan tangan kiri.
“Itu masih panas, pelan-pelan” Sean meraih tangan Mike yang hendak memasukkan makanan ke mulutnya, lalu meniup nya pelan. Mata Mike memperhatikan Sean di hadapannya yang begitu dekat, tentu saja Mike sering melakukan hal romantis kepada pasangannya, menyuapi satu sama lain bukan hal baru baginya. Tapi ini pertama kali seseorang meniupkan makanan untuknya. Sean membantu Mike makan, dengan sesekali menaruh sayur pada sendok Mike. Bahkan mengusap sisa makanan di bibir Mike. Mike benar-benar diperlakukan seperti anak kecil.
“Enak?” tanya Sean yang dijawab anggukan kecil dari Mike. Membuat senyum Sean benar-benar lebar.
“Mike…. apa yang kau inginkan untuk makan siang?”
Mike menunjuk piring sayur tumis daging sapi yang sudah kosong.
“Baiklah. Akan aku buat kan. Saat kau sudah lebih baik, aku akan membuatkan makanan yang lebih enak!” Mike melihat Sean sangat bersemangat.
Setelah selesai membantu Mike untuk meminum obat, Sean turun membawa piring kotor. Jujur saja, Sean merasa tubuhnya sakit. Terutama pada bagian punggung dan bahunya. Tapi Sean tidak ingin terlalu memikirkan nya. Mengira setelah beristirahat cukup, maka sakitnya akan hilang.
Sean kembali naik, ingin membantu Mike berbilas. Namun saat masuk, ia melihat Mike termenung dengan bingkai foto di tangannya. Di foto Mike terlihat sangat tampan, sehat, senyum di wajahnya, tubuhnya juga berisi dan terlihat berbentuk. Namun yang di hadapan Sean sekarang adalah Mike yang seperti kehilangan semangat hidup, Sean tidak pernah melihat Mike tersenyum, tubuhnya juga kurus, dan sekarang ditambah lingkaran hitam di bawah matanya. Perlahan Sean mendekat. memberanikan diri duduk di pinggir tempat tidur.
"Mike...." panggil Sean berusaha mendapatkan perhatian. Mike mengalihkan pandangannya dari foto.
"Apa kau kesulitan untuk tidur?"
Mike diam, tapi Sean tahu jawabannya.
"Dokter akan datang sore nanti bersama Robert, apa kau mau mencoba tidur lagi?" tanya Sean. Mike diam, pikirannya penuh, hatinya masih sakit dan kosong. Mata Mike tanpa sadar melihat d**a Sean. Sadar akan pandangan Mike, Sean memberanikan diri bertanya.
"Apa kau ingin mendengarkannya?"
Mike mengalihkan pandangannya, menatap mata Sean sejenak sebelum mengangguk.
"Mari sambil berbaring, kau masih perlu istirahat. Apa kau tidak keberatan?" tanya Sean.
Mike diam, namun mulai berbaring.
Sean membantunya, sejenak diam lalu mulai naik ke tempat tidur. Sean menempatkan dirinya di sisi kiri Mike, menaruh tangan kanannya di bawah bantal Mike, sebelum menarik Mike untuk menghadap nya dan menempatkan Mike pada dadanya. Mike diam, hatinya berkecamuk saat mendengarkan detak jantung Sean. Detak jantung istrinya yang tercinta.
Mike menangis dalam diam. Ia merasakan Sean yang memeluknya dan juga membelai kepalanya. Hal yang pernah ia rasakan saat bersama mending istrinya. Rasa yang familiar namun terasa asing. Aroma Sean bukan parfum mahal, mungkin aroma detergen pakaian, Mike tidak yakin, tapi Mike merasa tenang setiap menghirup nya. Jadi tanpa Sean sadari, Mike sesekali akan mengambil napas dalam-dalam. Gerakan mengelus kepalanya juga berbeda, tangan mendiang istrinya kecil dan mengelus dari atas ke bawah, atas ke bawah dengan lembut, sedangkan ia merasakan tangan Sean lebih besar dengan gerakan atas ke bawah, bawah ke atas, ia merasakan bagaimana jari tangan Sean yang masuk ke sela-sela rambutnya menyentuh kulit kepalanya, memberi kesan baru dan asing.
Mike tidak protes, ia merasa nyaman, elusan di punggungnya juga terasa sangat berbeda karena Sean menepuk punggung Mike pelan, bukan mengelus nya. Hal yang ayah Sean sering lakukan saat menemani Sean tertidur, atau saat sedang menenangkan sang istri, ibu Sean.
Mike merasa nyaman dan hangat. Perlahan tangisan Mike mereda, Mike tidur dengan nyenyak, tangannya tanpa sadar memeluk erat Sean. Sedangkan Sean juga menikmati kehangatan Mike, lalu perlahan juga tertidur tidak lama setelah Mike. Mereka tidur dengan nyenyak dan nyaman.
Sean terbangun setelah tidur nyenyak selama 2 jam, sadar dengan Mike yang masih terlelap dan memeluknya, Sean berusaha bangkit dengan perlahan. Membenarkan letak selimut Mike, Sean memutuskan untuk ke dapur dan membuat kue sekaligus makan siang. Sean tidak tau setelah ia keluar kamar, Mike terbangun.
Mike yang melihat Sean menghilang dari sisinya, membuat suasana hatinya menjadi buruk, terlebih karena tidur Mike terganggu, ia mencoba kembali tidur tapi tidak bisa. Suasana hati Mike semakin memburuk, ia mengambil bingkai foto yang berada di sebelah meja tempat tidurnya, foto pernikahan nya dengan Bella. Bella terlihat begitu cantik dan bahagia di sana, bahkan Mike dengan setelan putihnya juga tersenyum lebar. Mike membelai bingkai foto lembut, tangannya bergetar menahan air mata yang hendak kembali turun. Mike tidak tau jika kehilangan seseorang bisa begitu menyakitinya. Tidak heran banyak yang menghabisi nyawa mereka saat putus cinta.
Tidak sadar sudah berapa lama ia melamun, Mike bangkit perlahan ke kamar mandi dan di saat yang bersamaan Sean datang dengan makan siang hendak membangunkan Mike. Melihat kamar yang kosong dengan suara air di kamar mandi, Sean meletakkan nampan di meja dekat sofa lalu memilih untuk membereskan kamar tidur. Melihat foto di atas kasur, Sean mengambilnya hendak memindahkan, namun sejenak berhenti memandangnya.
‘Mike pasti sangat merindukan sang istri’ batin Sean merasa simpati kepada Mike. Tangan Sean tanpa sadar mengelus bingkai foto.
"APA YANG KAU LAKUKAN!" hardik Mike keras, jelas tidak suka melihat orang lain menyentuh foto ia dan istrinya.
‘PRANK.…’ Sean yang terkejut tidak sengaja melepaskan foto di tangannya.
"maafkan ak-"
"KAU!!!" Mike melihat itu marah luar biasa, melihat bingkai foto yang pecah. Sean yang hendak mengambil foto dihentikan Mike, ia mencengkeram bahu Sean kuat membuat Sean mengerang sakit, lalu menarik Sean dan mendorongnya kasar. Sean yang terkejut jatuh dengan punggungnya yang membentur lantai kuat.
Sean mendesis, punggungnya sakit luar biasa, tapi ia tidak berani mengeluarkan suara. Ia sadar sudah membuat kesalahan dan membuat Mike marah. Sean bangkit dengan cepat, menghiraukan sakit di punggungnya.
"Mike... maafkan aku. Aku tidak sengaja. Aku akan menggantinya" ujar Sean cepat
"keluar!" ujar Mike dingin, ia menatap Sean marah
"kau..."
"AKU BILANG KELUAR!!"
Sean terkejut dan takut, jantungnya berdetak sangat cepat. Tanpa sadar ia menyentuh dadanya yang merasa mulai sakit. Mike merasa tubuhnya seketika lemas, sakit kepalanya semakin menjadi-jadi. Kondisi tubuhnya yang masih lemah tidak mampu menahan emosi nya membuat Mike hampir terjatuh, Beruntung Sean segera menangkap Mike.
"Mike!!"
Sean yang segera menangkap Mike agar tidak terjatuh. Ia dengan segera mendudukkan Mike di kasur, namun lengannya di cengkeram Mike erat membuat Sean memeringis kesakitan.
"akh.... Mike" erang Sean
"kau!! jangan pernah sekali lagi menyentuh barang-barang istriku" desis Mike dingin penuh kebencian
"aa... aku mengerti, kau... maafkan aku" ujar Sean masih menahan sakit, punggung dan bahunya sudah sakit, ditambah lengannya juga.
"Pergi!"
"Tapi Mi-"
Mike memandang Sean marah. Sean takut bukan main, ia tidak pernah di posisi seperti ini sebelumnya, bahkan orang tuanya tidak perah membentak Sean karena jantung Sean yang lemah. Tubuh Sean bergetar, menganggukkan kepalanya cepat, Sean segera pergi dari kamar Mike.
"Aa aakuu….su su..dah.. menyiapkan ma..makan s..siang. Aku akan ke...kembali nan...nanti" ujar Sean gagap.
Sean segera keluar, menutup pintu lalu jatuh terduduk lemas. Ia meremas bajunya, dadanya berdetak sangat cepat, Sean tidak sadar air mata mulai jatuh menghias wajahnya. Berusaha bangkit, ia segera menuju kamarnya untuk meminum obat.
Sean perlu usaha keras untuk sampai ke kamarnya yang terletak sangat dekat dengan kamar Mike. Tangannya gemetar hebat dan napasnya berat, wajah Sean begitu pucat. Sean berhasil sampai di kamarnya dengan bantuan tembok saat berjalan. Ia segera meminum obat nya, Sean meminum air berusaha menelan obat dengan cepat, namun itu justru membuatnya terbatuk. Sean merasakan dadanya yang semakin sakit. Kakinya yang sudah lemas sudah tidak mampu menopang tubuhnya.
Sean terjatuh dan masih berusaha mengambil obat yang berserakan dilantai untuk ia minum. Tubuhnya lemas, wajahnya pucat dengan keringat dingin yang mulai mengalir. Sean meringkuk, sembari memegang dadanya sedangkan, tangannya yang memegang gelas sudah melepaskan pegangannya, menghiraukan gelas yang terjatuh di lantai.
Sean mulai merasakan kegelapan mulai menyelimuti pandangannya, Sean berharap ia tidak mati. Hanya itu.