Beberapa minggu setelah bazar, Bia mendapat pesan dari panitia kegiatan warga. Mereka akan mengadakan pasar kecil lagi dan bertanya apakah ia ingin membuka meja kerajinan. Bia senang mendapat undangan, tetapi ia tidak langsung menyetujuinya. Kali ini ia menghitung jumlah pesanan yang sedang dikerjakan dan melihat jadwal kelasnya.
Ia membicarakan tawaran itu dengan Mamak dan Riska. Mereka menyarankan Bia menentukan jumlah barang yang sanggup dibuat. Bia memutuskan ikut dengan koleksi kecil, bukan menerima pesanan khusus terlalu banyak. Ia menjawab panitia bahwa ia bersedia membuka meja selama satu hari.
Sanah membantu Bia memilih warna dan membuat label harga. Mereka berdiskusi tentang cara menampilkan barang agar mudah dilihat. Bia ingin meja itu mencerminkan gaya sederhana yang ia sukai, bukan terlihat seperti toko besar. Sanah menyetujui dan membantu membuat kartu kecil yang menjelaskan bahan serta cara perawatan.
Nunu menghubungi Bia untuk menanyakan kabar. Saat Bia bercerita tentang pasar itu, Nunu menawarkan bantuan mengangkat barang. Bia berkata ia menerima bantuan jika ia dan Noval memang datang ke acara tersebut, tetapi ia tidak ingin Nunu merasa harus hadir. Nunu menjawab ia akan datang sebagai pengunjung bersama keluarganya.
Bia merasa lega karena Nunu tidak menjadikan dukungan sebagai alasan untuk selalu dekat. Mereka membicarakan jadwal acara dan mengakhiri percakapan. Bia melanjutkan pekerjaannya, membuat dua tempat pensil dan beberapa kantong kecil.
Pada hari pasar, Bia datang lebih awal bersama Sanah dan Riska. Mereka menata barang dan memeriksa harga. Beberapa pengunjung berhenti melihat, bertanya tentang kain, lalu melanjutkan berjalan. Bia mencoba menyapa tanpa memaksa orang membeli.
Menjelang siang, seorang pembeli meminta kantong dengan ukuran khusus. Bia mencatat ukurannya dan mengatakan ia perlu beberapa hari untuk memastikan bahan tersedia. Pembeli itu mengapresiasi jawaban jelasnya. Bia merasa semakin percaya diri menjelaskan batas waktu dan kemampuan.
Nunu datang kemudian bersama Noval. Ia membantu membawa satu kotak kecil dari mobil, lalu pergi melihat meja lain. Ia tidak berdiri di dekat Bia sepanjang waktu. Saat Bia sempat beristirahat, mereka bertukar kabar singkat. Nunu bercerita tentang pekerjaan, Bia tentang pesanan baru.
Bia melihat Nunu berbicara dengan orang lain dan tertawa. Ia menyadari bahwa ia senang melihatnya nyaman, tanpa perlu menjadi pusat perhatian Nunu. Perasaan itu berbeda dari cemburu atau rasa memiliki. Ia ingin Nunu bahagia dalam hidupnya sendiri.
Satu pengunjung kembali ke meja setelah melihat barang-barang Bia. Ia tertarik memesan kantong dengan ukuran berbeda, tetapi meminta barangnya selesai dalam dua hari. Bia menjelaskan bahwa ia tidak dapat menjanjikan waktu secepat itu karena ada pesanan lain. Pengunjung itu tampak kecewa dan bertanya apakah Bia bisa bekerja lebih cepat.
Bia merasa gugup menolak. Ia menawarkan waktu yang lebih lama atau pilihan barang yang sudah tersedia. Pengunjung itu memilih salah satu barang yang ada. Bia membungkusnya dan menghitung kembalian sebelum melayani orang berikutnya.
Pasar berlangsung ramai. Bia menjual beberapa barang dan mendapat tiga pesanan tambahan yang masih sesuai jadwalnya. Ia mencatat semuanya dengan teliti. Sanah memuji cara Bia melayani pembeli. Bia merasa bangga, tetapi juga lelah.
Saat acara selesai, Nunu menawarkan bantuan membawa barang ke rumah. Bia menerima, lalu berterima kasih. Mereka pulang bersama keluarga dan berbicara ringan. Bia merasa hari itu berjalan baik karena ia berani mencoba, bukan karena seseorang datang untuk menyelamatkannya.
Pesanan dari pasar kecil mulai dikerjakan Bia satu per satu. Ia membagi waktu antara kegiatan rumah, kelas, dan kerajinannya. Kali ini ia tidak menerima permintaan mendadak. Ia belajar bahwa kemampuan menyelesaikan pekerjaan dengan baik lebih penting daripada jumlah pesanan.
Sanah datang pada sore hari untuk membantu memotret beberapa produk. Mereka menggunakan halaman rumah dan kain polos sebagai latar. Bia mengatur barang, sementara Sanah mencoba beberapa sudut. Setelah mengambil foto, mereka memilih gambar yang paling jelas dan tidak terlalu banyak hiasan.
Malamnya Bia menyusun katalog sederhana dari foto-foto itu. Ia menuliskan ukuran serta harga, dan Riska membantu mengecek salah ketik. Katalog tersebut kemudian ia kirim ke grup warga dengan keterangan bahwa jumlah pesanan dibatasi.
Ketika seorang pembeli meminta perubahan ukuran setelah kain dipotong, Bia tidak langsung menjanjikan selesai pada tanggal semula. Ia menjelaskan tambahan waktu serta bahan yang diperlukan. Pembeli menyetujuinya sebelum pola diubah. Setelah barang selesai, Bia memeriksa ukurannya bersama pembeli yang datang mengambil. Ia menyimpan catatan perubahan itu, supaya pesanan serupa kelak tidak dihitung dengan harga dan waktu yang keliru.
Nunu mengirim pesan setelah melihat unggahan itu. Ia berkata foto produknya terlihat rapi. Bia berterima kasih. Nunu tidak langsung menawarkan bantuan; ia bertanya apakah Bia ingin pendapat tentang keterangan atau harga. Bia menjawab ia sudah mendapat masukan dari Bapak dan Sanah, tetapi ia menghargai tawarannya.
Mereka sepakat bertemu bersama keluarga pada akhir pekan untuk makan siang. Nunu datang bersama Noval. Bia bercerita tentang pesanan, sementara Nunu berbagi kabar bahwa ia mulai diberi tanggung jawab mengatur sebagian kegiatan di tempat kerjanya. Ia merasa gugup menerima tugas itu, tetapi senang atas kepercayaan yang diberikan.
Bia bertanya apa yang membuatnya gugup. Nunu menjawab ia takut membuat kesalahan dan mengecewakan rekan kerjanya. Bia mengatakan ia bisa meminta arahan jika belum tahu, lalu mengingatkan bahwa ia tidak harus menguasai semuanya sejak awal. Nunu mengangguk dan berkata ia sedang belajar.
Setelah makan, Bia dan Nunu membantu Riska memindahkan beberapa barang ke ruang tengah. Mereka bekerja bersama dengan ringan. Nunu tidak menyelipkan rayuan atau memanfaatkan waktu berdua. Bia memperhatikan perubahan itu dan merasa nyaman.
Malamnya Bia berbicara dengan Sanah. Ia bercerita bahwa Nunu tampak lebih matang dan ia senang melihatnya berkembang. Sanah bertanya apakah Bia mulai menyukainya. Bia tidak langsung menjawab. Ia berkata ia menyukai Nunu sebagai teman, tetapi belum tahu apakah perasaan itu berubah.
Sanah mengingatkan bahwa Bia tidak harus segera mengartikan semua kehangatan sebagai cinta. Bia setuju. Ia ingin menikmati hubungan mereka sekarang, tanpa janji yang belum siap ia berikan.
Beberapa hari kemudian, Nunu mengirim pesan bahwa ia berhasil menyelesaikan tugas pertamanya. Bia mengucapkan selamat. Nunu berkata ia merasa lebih percaya diri dan mengucapkan terima kasih atas dukungan Bia. Bia menjawab ia senang bisa mendukung sebagai teman.
Nunu membalas bahwa ia menghargai batas itu. Bia membaca pesannya dengan perasaan hangat. Ia merasa persahabatan mereka mulai dibangun dari pilihan yang sadar, bukan dari harapan yang tersembunyi.
Pada pertemuan mengaji sore berikutnya, Bia datang ke musala membawa buku dan kantong kecil untuk alat tulis. Pesanan kain ia tinggalkan di meja rumah. Ada yang belum selesai, tetapi waktu mengajar sudah ia tulis di buku jauh sebelum jadwal penyerahan disepakati.
Seorang murid berhenti pada baris yang sama dua kali. Teman di sebelahnya hendak membetulkan dengan suara keras. Bia meminta anak itu menunggu, lalu mendekat dan menunjukkan bagian yang tertukar. Mereka mengulangnya pelan-pelan. Ketika akhirnya terbaca, murid itu tersenyum begitu lebar sampai Bia ikut tertawa.
Sepulang mengajar, ia mendapati Nunu dan Noval berkunjung ke rumah. Nunu belum sempat mengucapkan salam kedua ketika Nur muncul menuntut diajak bermain. Bia menyerahkan buku kepada Riska dan duduk sebentar.
'Capek?' tanya Nunu.
'Ada yang dari tadi ingin cepat selesai supaya bisa main. Aku juga pernah begitu.'
Nunu melirik Nur yang sudah menarik ujung bajunya. 'Yang ini bahkan enggak pakai pemanasan.'
Bia tertawa. Ketika Nunu kemudian bertanya apakah jadwal mengaji akan tetap dilanjutkan jika pesanannya bertambah, ia menjawab iya. Ia boleh membatasi jumlah barang yang diterima atau bertanya kepada pengajar lain jika suatu hari perlu bertukar jadwal. Ia tidak ingin menghilang begitu saja dari kelas.
Ia mengambil buku rencananya dan memindahkan satu waktu menjahit ke malam lain. Di halaman setelahnya masih ada daftar program kuliah yang belum lengkap. Nunu tidak mengisinya untuk Bia. Ia hanya menawarkan mengirim informasi jika kelak Bia menyebutkan yang sedang dicari. Bia mengangguk, lalu pergi mencuci tangan sebelum membantu menyiapkan makan.
Bia menyadari ia mulai memikirkan Nunu lebih sering, terutama setelah mereka bertemu dalam suasana santai. Ia tidak tahu apakah itu tanda perasaan baru atau hanya rasa nyaman karena hubungan mereka lebih sehat. Ia tidak ingin terburu-buru menafsirkan.
Ia membicarakannya dengan Mamak saat mereka mengemas pesanan. Mamak bertanya apa yang Bia rasakan ketika bersama Nunu. Bia menjawab ia merasa aman, bisa tertawa, dan tidak merasa didesak. Namun ia belum merasakan dorongan untuk segera menjadi pasangan.
Mamak berkata Bia tidak perlu mengejar perasaan yang belum ada. Ia bisa mengenal Nunu kembali sebagai orang dewasa yang berbeda dari dulu. Jika rasa itu tumbuh, Bia akan menyadarinya. Jika tidak, ia juga boleh mengatakannya.
Nunu sendiri sedang sibuk dengan tanggung jawab baru. Ia mengabari Bia bahwa ia perlu memimpin satu kegiatan di tempat kerja. Ia meminta saran tentang cara membagi tugas, tetapi menegaskan ia sudah menyiapkan rencana awal. Bia membaca susunannya dan memberi beberapa catatan. Nunu menerima masukan dan memperbaiki drafnya.
Setelah kegiatan berlangsung, Nunu bercerita bahwa timnya berhasil menyelesaikannya. Ia merasa lega dan bangga. Bia mengucapkan selamat, lalu bertanya apa yang ia pelajari. Nunu menjawab ia belajar mendelegasikan dan tidak berusaha mengerjakan semuanya sendiri.
Bia menyukai cara Nunu berbicara tentang keberhasilannya tanpa mengaitkannya dengan dirinya. Ia merasa Nunu sedang tumbuh untuk dirinya sendiri. Hal itu membuat Bia semakin menghormatinya.
Pada akhir pekan, mereka bertemu bersama keluarga untuk merayakan keberhasilan Nunu. Tidak ada pesta besar, hanya makan siang dan kue sederhana. Bia membawa satu kantong kecil buatannya sebagai hadiah. Nunu menerimanya dengan senang dan berkata ia akan menggunakannya untuk menyimpan alat tulis di dalam tas kerjanya.
Bia berkata itu hadiah. Nunu sempat meraih dompet, lalu berhenti dan menutupnya lagi. Ia mengucapkan terima kasih, memindahkan beberapa alat tulis ke kantong itu, dan menyimpannya di tas. Bia tersenyum melihat pilihannya. Hadiah tersebut tidak ia tukar menjadi kewajiban membeli atau janji tentang hubungan mereka.
Momen tersebut terasa ringan. Bia melihat bahwa mereka bisa saling mendukung dalam pekerjaan masing-masing tanpa mencampuradukkan hubungan. Ia tidak perlu menolak kebaikan Nunu karena takut memberi harapan.
Malamnya, Bia menulis tentang pertanyaannya sendiri: apakah ia ingin berkencan dengan Nunu, atau ia hanya bahagia sebagai teman? Ia tidak menemukan jawaban. Namun ia tidak panik. Ia memutuskan untuk tidak memberi jawaban sampai ia benar-benar tahu.
Keesokan harinya, ia melanjutkan pesanan. Hidupnya terasa penuh, bukan karena semua persoalan selesai, tetapi karena ia memiliki hal-hal yang ia pilih sendiri.