"Kau egois, Rey!" Lirih Kanaya dengan tatapan nanar serta tak percayanya. Bahkan air matanya telah mengalir begitu derasnya.
Sang pria menatap tajam ke arah wanitanya. Dengan lantang ia berseru, "Ya, kau benar. Aku memang pria egois. Karena tak ingin, tidak. Bahkan tak pernah mau kau pergi dariku. Apapun akan aku lakukan untuk membuatmu tetap berada dan tinggal disisiku. Termasuk mengikatmu dengan pernikahan." Tegas, jelas dan serius.
###
Cinta memang sebodoh dan sejahat itu. Saat aku ingin mengalah dan mundur. Ia datang dengan segala bujuk rayunya. Bahkan dengan ke-egoisannya. Ia mengikatku dengan sebuah pernikahan yang suci.
Salahkah cintaku padamu?
- Kanaya Prameswari
Aku tahu keputusan yang aku ambil ini akan menyakitinya. Namun, aku pun tak sanggup hidup tanpanya. Dialah duniaku, jiwaku, dan bahagiaku.
Semoga dia bisa mengerti, bahwa ini semua aku lakukan demi dirinya. Demi kita.
- Reynand Pratama
###
Malam itu hujan turun begitu derasnya. Air yang jatuh dari langit seolah ikut menangisi apa yang terjadi di dalam ruangan itu.
Kanaya masih berdiri di tempatnya. Kedua kakinya terasa lemas, hampir tak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Di depannya, Reynand menggenggam sebuah map cokelat yang isinya sudah ia baca berulang kali sejak tadi.
“Aku sudah mengurus semuanya, Na. Kamu tinggal datang, duduk, dan mengucapkan iya,” ucap Reynand pelan, jauh berbeda dari nada tingginya beberapa detik lalu.
“Dan setelah itu apa, Rey?” Suara Kanaya bergetar hebat. “Setelah itu aku jadi apa? Istri kedua? Perempuan yang harus sembunyi setiap kali kamu pulang ke rumah yang satunya?”
Reynand terdiam. Rahangnya mengeras. Ia melangkah maju, hendak meraih tangan Kanaya, namun perempuan itu mundur satu langkah.
“Jangan sentuh aku.”
“Na....”
“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?” Kanaya menghapus air matanya dengan punggung tangan, kasar sekali, seakan ingin menghapus juga seluruh perasaannya. “Bukan karena kamu menikah. Tapi karena kamu tak pernah sekalipun memberitahuku. Dua tahun, Rey. Dua tahun aku mencintaimu dengan seluruh yang aku punya, dan selama itu pula aku tak tahu sedang berdiri di mana.”
Reynand memejamkan matanya. Ada begitu banyak kalimat yang ingin ia ucapkan, tapi semuanya tertahan di kerongkongan. Karena ia tahu, apapun yang keluar dari mulutnya malam ini, tak akan mampu menghapus luka yang telah ia buat.
“Aku salah,” akhirnya hanya itu yang mampu ia katakan. “Aku salah, Na. Tapi aku tidak akan melepaskanmu. Tidak akan pernah.”
“Kalau begitu kamu bukan mencintai aku, Rey. Kamu cuma tidak mau kehilangan.” Kanaya menatap pria itu lekat-lekat. “Dua hal itu beda jauh.”
Reynand meletakkan map cokelat tadi di atas meja, lalu menekannya dengan telapak tangannya sendiri.
“Terserah kamu mau menyebutnya apa,” ucapnya serak. “Aku sudah tidak peduli lagi orang mau bilang aku egois, jahat, atau apapun itu. Aku cuma tidak sanggup membayangkan besok pagi bangun dan kamu sudah tidak ada.”
Petir menyambar di luar jendela. Cahayanya sesaat menerangi wajah keduanya yang sama-sama basah oleh air mata.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Kanaya sadar bahwa dicintai oleh Reynand Pratama sama menyakitkannya dengan kehilangan pria itu.
###
Namun untuk sampai ke malam itu, ada satu hari yang tak akan pernah bisa Kanaya lupakan seumur hidupnya.
Hari saat ia memutuskan untuk pergi.
Pagi itu langit Jakarta mendung. Kanaya duduk di lantai kamarnya dengan sebuah koper terbuka di hadapannya. Sudah hampir satu jam ia di sana, tetapi isi koper itu belum juga bertambah banyak.
Bukan karena ia tak punya banyak barang. Melainkan karena hampir semua yang ada di rumah ini bukan miliknya.
Gaun-gaun di lemari itu, Reynand yang membelikan. Sepatu-sepatu di rak itu, Reynand yang memilihkan. Bahkan rumah yang ia tempati selama ini pun bukan hasil keringatnya sendiri.
Kanaya tersenyum getir. Selama ini ia merasa memiliki segalanya. Nyatanya, ia tak memiliki apa-apa.
Ia hanya memasukkan beberapa potong pakaian yang ia beli dengan gajinya sendiri, satu buah dompet, ijazah, dan sebuah foto lusuh dirinya bersama Bunda dan adik-adik panti saat ia diwisuda dulu.
Tangannya berhenti sejenak saat menyentuh sesuatu di dasar laci. Sebuah kotak beludru berwarna biru.
Kanaya membukanya perlahan. Di dalamnya tersimpan sebuah kalung berliontin huruf ‘R’ yang Reynand berikan tepat di hari jadi mereka yang pertama.
“Ini janji aku, Na. Suatu hari nanti, aku ganti kalung ini dengan cincin,” ucap Reynand waktu itu, sambil memasangkan kalung tersebut di lehernya.
Janji.
Kanaya menutup kotak itu dan meletakkannya di atas meja rias. Tidak ia bawa. Biarlah janji itu tinggal di rumah ini, bersama semua kenangan yang tak sanggup lagi ia pikul.
Ponsel di sampingnya bergetar untuk kesekian kalinya pagi ini. Nama yang tertera di layar membuat perutnya seperti diremas.
My Love.
Kanaya menatap layar itu lama sekali. Jarinya sempat bergerak hendak menekan tombol hijau, namun ia menariknya kembali.
Untuk apa?
Untuk mendengar penjelasan yang sudah terlambat? Untuk mendengar suara pria itu, lalu luluh lagi seperti biasa, lalu kembali menjadi perempuan yang menunggu tanpa pernah tahu ditunggu atau tidak?
Getaran itu akhirnya berhenti dengan sendirinya. Lalu muncul lagi. Berhenti lagi. Muncul lagi.
Kanaya membiarkannya. Ia justru membuka aplikasi surel di ponselnya, membaca sekali lagi surat pengunduran diri yang ia kirim ke bagian personalia dini hari tadi.
Dua tahun bekerja sebagai sekretaris CEO ARTHA GROUP. Berakhir hanya dengan satu lampiran dan satu kali sentuhan jari.
“Maaf, Bunda. Kanaya belum bisa jadi anak yang membanggakan,” lirihnya pada foto di tangannya.
Kanaya menutup kopernya, lalu berdiri. Untuk terakhir kalinya ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar. Ranjang tempat mereka biasa menonton film sampai ketiduran. Balkon kecil tempat Reynand pernah memasak mie instan tengah malam untuknya, dan gosong. Dinding tempat pria itu menempelkan foto-foto mereka satu per satu.
Semua masih di sana. Hanya perempuan yang tinggal di dalamnya yang harus pergi.
Air matanya kembali jatuh. Kali ini ia tak repot-repot menghapusnya.
Kemarin sore, di lobi hotel tempat Kanaya seharusnya mengantar berkas kliennya, ia melihat pria itu. Reynand Pratama, atasannya, kekasihnya, pria yang selama ini ia yakini sebagai miliknya, berjalan berdampingan dengan seorang perempuan bergaun putih. Tangan mereka bertaut. Dan dari mulut para karyawan yang berdiri di sekitarnya, Kanaya mendengar satu kalimat yang meruntuhkan seluruh dunianya.
“Itu istrinya Pak Reynand.”
Kanaya menoleh cepat ke arah suara itu. Dua orang karyawan dari divisi lain berdiri tak jauh darinya sambil berbisik-bisik.
“Serius? Bukannya Pak Rey masih single?”
“Ya ampun, kamu ketinggalan berita. Mereka nikah dua tahun lalu. Dijodohin sama keluarga. Cuma memang nggak pernah diumumin di kantor.”
Berkas di tangan Kanaya jatuh berhamburan ke lantai lobi. Beberapa orang menoleh, ada yang membantu memungutnya, tetapi Kanaya tak mendengar apapun lagi.
Telinganya berdenging. Pandangannya kabur. Yang tersisa hanya pemandangan di seberang sana, punggung tegap yang selama dua tahun ini selalu ia peluk dari belakang, kini berjalan pelan sambil menyesuaikan langkah dengan perempuan bergaun putih di sisinya.
Reynand sempat menoleh. Sepersekian detik, mata mereka bertemu.
Dan pria itu, pria yang selalu berkata tak sanggup hidup tanpanya, justru buru-buru memalingkan wajah.
Hanya itu.
Tidak ada penjelasan, tidak ada langkah mendekat. Hanya wajah yang dipalingkan, seolah Kanaya adalah orang asing yang kebetulan berdiri di lobi yang sama.
Malam harinya, Kanaya duduk sendirian di ruang tengah rumah itu sampai pukul tiga pagi. Tidak menangis, tidak menelepon siapa-siapa. Hanya duduk, menatap pintu depan yang tak kunjung terbuka.
Saat langit mulai membiru, ia bangkit, menyalakan laptop, dan mengetik surat pengunduran dirinya.
Istri.
Satu kata. Lima huruf. Tapi cukup untuk menghancurkan dua tahun yang ia bangun dengan susah payah.
Kanaya menyeret kopernya menuruni tangga. Roda koper itu berbunyi kasar di setiap anak tangga, memenuhi rumah yang mendadak terasa terlalu besar dan terlalu sunyi.
Di ruang tengah, ia berhenti sebentar. Diletakkannya kunci rumah di atas meja, tepat di samping vas bunga yang selalu Reynand isi dengan mawar putih setiap hari Jumat.
Diliriknya sekali lagi kotak beludru biru yang tadi ia tinggalkan di atas meja rias lantai atas. Ada dorongan kuat untuk kembali naik dan mengambilnya. Kanaya menggigit bibir, menahan diri, lalu mengeratkan pegangannya pada gagang koper.
Tak ada surat. Tak ada pesan perpisahan.
Karena Kanaya tahu, kalau ia sampai menulis satu kalimat saja, ia tak akan sanggup melangkah keluar dari pintu itu.
Sebuah taksi daring sudah menunggu di depan pagar. Sopirnya turun dan membantu memasukkan koper ke bagasi.
“Ke mana, Mbak?”
Kanaya menoleh sekali lagi ke arah rumah itu. Pintu depannya masih terbuka sedikit, seolah menunggu seseorang kembali masuk.
“Stasiun Gambir, Pak,” jawabnya pelan.
Mobil itu bergerak meninggalkan halaman. Kanaya tidak menoleh lagi.
Ponselnya masih terus bergetar di dalam genggamannya sepanjang perjalanan. Puluhan panggilan tak terjawab. Puluhan pesan yang bahkan tak sanggup ia buka.
Ia menatap layar itu, lalu berbisik pada nama yang terus muncul di sana.
“Kalau kamu benar mencariku, cari aku sampai ketemu, Rey. Tapi jangan pernah temukan aku dengan alasan yang sama.”
Hujan mulai turun rintik-rintik saat taksi itu berbelok meninggalkan kompleks perumahan.
Dan di saat yang sama, di ujung jalan yang berlawanan, sebuah mobil hitam melaju dengan kecepatan yang jauh di atas batas wajar.