Adam duduk di dalam mobilnya, menatap kosong ke depan. Matanya tidak fokus, pikirannya berkelana ke tempat lain—ke rumah sakit tempat Nadine sekarang dirawat.
Sebuah kabar dari Raka siang tadi mengguncang dunianya yang selama seratus hari terakhir ia coba tata kembali.
"Nadine sakit. Masuk rumah sakit, tempat aku bekerja" kata Raka singkat.
Hanya itu.
Tidak ada detail tentang seberapa parah keadaannya. Tidak ada penjelasan lebih lanjut.
Tapi itu saja sudah cukup membuat pertahanan Adam runtuh.
Ia tidak bisa mengabaikannya. Tidak bisa berpura-pura bahwa kabar ini tidak berpengaruh padanya. Tidak bisa menekan instingnya untuk datang dan memastikan sendiri bahwa Nadine baik-baik saja.
Seratus hari.
Selama seratus hari terakhir, Adam berpikir ia sudah cukup kuat. Bahwa dengan menjaga jarak, perasaannya akan perlahan memudar.
Tapi ternyata tidak.
Ia masih Adam yang sama—sahabat kecil Nadine yang menyimpan cinta sepihak.
---
Adam tidak tahu kapan tepatnya langkah kakinya membawanya masuk ke rumah sakit itu.
Ia hanya sadar bahwa kini ia sudah berdiri di depan kamar rawat Nadine. Tangannya terangkat, siap mengetuk pintu, tapi sesuatu menghentikannya.
Melalui kaca pintu, ia bisa melihat ke dalam ruangan.
Di sana, Nadine duduk bersandar di ranjang, wajahnya masih sedikit pucat. Tapi bukan itu yang membuat Adam terpaku.
Di sampingnya, Reza sedang menuangkan bubur ke dalam mangkuk, mengaduknya pelan sebelum menyodorkannya ke Nadine.
Adam bisa melihat Nadine ragu sesaat sebelum akhirnya membuka mulutnya. Ia menerima suapan pertama, lalu tersenyum kecil.
Reza mengatakan sesuatu—mungkin lelucon—dan Nadine tertawa pelan.
Saat itu juga, Adam merasa dadanya dihantam sesuatu yang berat.
Langkahnya terhenti.
Ia tidak perlu masuk ke dalam. Tidak perlu bertanya bagaimana keadaan Nadine.
Karena jelas, Nadine tidak sendiri.
Ada seseorang di sisinya.
Dan orang itu bukan dirinya.
---
Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya.
Adam menekan dahinya ke jendela mobil, mengembuskan napas panjang.
Ia merasa bodoh.
Bodoh karena tidak bisa menahan dirinya untuk datang.
Bodoh karena berharap masih memiliki tempat di sisi Nadine.
Bodoh karena berpikir bahwa ia masih bisa menjadi seseorang yang berarti dalam hidupnya.
Nyatanya, tidak ada yang berubah.
Dari dulu, Reza selalu ada untuk Nadine.
Dan Adam?
Adam hanya seseorang yang selalu menunggu di kejauhan.
---
Di antara rasa sesaknya, ingatan lama muncul.
Saat mereka masih SMA.
Hari itu, hujan turun deras. Adam sedang berjalan di koridor sekolah ketika seorang teman memberitahunya bahwa Nadine pingsan di dalam kelas.
Tanpa berpikir panjang, ia berlari ke ruang kesehatan.
Nadine terbaring di ranjang kecil, wajahnya pucat.
"Kenapa lo bisa sampai segininya?" Adam bertanya dengan nada kesal, tapi matanya penuh kekhawatiran.
Nadine tersenyum lemah. "Kayaknya kecapekan…"
Adam mendesah, mengambil tisu dan mulai mengelap keringat di pelipisnya.
Ia tetap berada di sana selama berjam-jam, memastikan Nadine baik-baik saja.
Namun, saat ia keluar sebentar untuk membeli minuman, ia kembali dan menemukan Reza sudah ada di sana.
Duduk di kursi yang tadi ia tempati.
Nadine sedang berbicara dengan Reza, senyumnya tampak sedikit lebih cerah.
Saat itu, Adam tidak terlalu memikirkannya.
Tapi sekarang, melihat Nadine dan Reza di rumah sakit—dengan situasi yang hampir sama—Adam sadar.
Tidak ada yang berubah sejak dulu.
Nadine tidak pernah membutuhkan Adam seperti cara ia membutuhkannya.
Dan mungkin, ia harus berhenti berharap bahwa suatu hari itu akan berubah.
Pergolakan Adam: Bayang-Bayang yang Kembali
Adam berdiri di sudut lorong rumah sakit, jantungnya berdebar keras. Tangannya mengepal di saku jaket, kuku-kuku jarinya menekan kuat ke dalam telapak tangan.
Ia tidak tahu apa yang membawanya ke sini lagi.
Sejak terakhir kali berdiri di balik kaca jendela kamar perawatan Nadine, ia sudah bersumpah tidak akan kembali. Melihatnya dalam keadaan lemah di tempat tidur rumah sakit sudah cukup menyiksa batinnya. Ia tidak ingin membuat segalanya lebih sulit, tidak untuk Nadine, tidak untuk dirinya sendiri.
Tapi nyatanya, dua hari sejak itu, langkahnya kembali membawanya ke tempat yang sama.
Hanya untuk memastikan.
Ia tidak ingin Nadine tahu. Tidak ingin siapapun tahu. Ia hanya ingin memastikan bahwa Nadine baik-baik saja.
Namun, di dalam dirinya, ada perang yang tak kunjung usai.
---
Hari Pertama: Melihatnya dari Jauh
Ketika pertama kali mendengar bahwa Nadine jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit, Adam tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatap layar ponselnya kosong, membaca ulang pesan dari temannya yang kebetulan bekerja di rumah sakit itu.
"Nadine masuk rumah sakit. Katanya dia pingsan."
Sekilas, jari-jarinya bergetar. Ada dorongan insting yang hampir membuatnya bergegas pergi.
Tapi ia menahan diri.
Ia bukan siapa-siapa lagi.
Ia tidak punya hak untuk datang, tidak punya hak untuk cemas.
Namun, malam itu, tanpa sadar, ia tetap berdiri di depan rumah sakit. Tidak masuk. Tidak bertanya. Hanya diam di bawah cahaya lampu jalan, menatap gedung tinggi itu dengan perasaan campur aduk.
Ia membayangkan Nadine di dalam sana, tubuhnya lemah, mungkin sedang tidur dengan selang infus di tangannya.
Dan yang lebih membuat dadanya terasa sesak—ia membayangkan seseorang di samping Nadine.
Reza.
Pikirannya berkecamuk. Apakah Reza yang membawanya ke rumah sakit? Apakah Reza yang menjaganya sekarang?
Seharusnya bukan itu yang membuat Adam merasa berat. Nadine sudah bukan miliknya, sudah lama tidak. Ia tidak boleh merasa memiliki.
Namun, malam itu, ia tidak bisa menepis rasa perih yang menyelinap begitu saja.
---
Hari Kedua: Langkah yang Goyah
Hari berikutnya, Adam kembali berdiri di depan rumah sakit. Kali ini, ia melangkah lebih jauh, masuk ke dalam gedung.
Ia tidak langsung menuju kamar Nadine. Ia hanya berjalan melewati lorong, seolah hanya seseorang yang kebetulan berada di sana. Matanya melirik daftar nama di papan informasi. Nama Nadine ada di sana, di lantai tiga.
Adam menggigit bibirnya.
Hanya satu lantai. Hanya satu belokan. Ia bisa saja pergi ke sana, melihat keadaannya sebentar.
Tapi apakah Nadine ingin melihatnya?
Ia tidak yakin.
Namun, pada akhirnya, kakinya tetap melangkah. Hatinya tetap membawanya ke sana.
Saat akhirnya ia sampai di depan kamar Nadine, langkahnya terhenti.
Pintu kaca bening memisahkan mereka.
Di dalam, Nadine bersandar di ranjang rumah sakit, wajahnya lebih pucat dari biasanya, matanya sedikit sayu. Namun, bibirnya bergerak, berbicara dengan seseorang yang duduk di sampingnya.
Reza.
Adam merasa dadanya diremas.
Tentu saja Reza ada di sana. Itu wajar. Itu seharusnya bukan sesuatu yang mengejutkan.
Namun, melihat kenyataan itu secara langsung tetap terasa seperti pukulan telak baginya.
Tanpa sadar, jemarinya mengepal di sisi tubuh. Ia ingin masuk. Ingin berbicara dengan Nadine. Ingin memastikan sendiri bahwa Nadine baik-baik saja, bahwa ia tidak merasa kesepian atau sakit.
Tapi, apakah kehadirannya akan membuat segalanya lebih baik?
Atau justru semakin buruk?
Adam tidak tahu.
Namun, sebelum ia bisa memutuskan, Nadine tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah kaca tempat Adam berdiri.
Mata mereka tidak bertemu, tapi Adam bisa merasakan jantungnya melompat.
Apakah Nadine melihatnya?
Ia tidak tahu. Tapi detik berikutnya, ia langsung melangkah pergi, membiarkan keraguan terus menghantui pikirannya.
---
Hari Ketiga: Kembali, Diam-Diam
Adam tidak bisa menahan dirinya lagi.
Sejak kejadian kemarin, bayangan Nadine terus menghantuinya. Pikirannya dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan yang tak bisa ia abaikan.
Apakah Nadine menyadari kehadirannya? Apakah dia berharap Adam masuk? Atau justru merasa lega karena Adam pergi?
Semakin lama, semakin sulit bagi Adam untuk berpura-pura tidak peduli.
Malam ini, ia kembali ke rumah sakit.
Kali ini, ia lebih berhati-hati. Tidak ingin membuat Nadine sadar, tidak ingin siapapun menyadari kehadirannya.
Ia berjalan perlahan di lorong, mendekati kamar Nadine dengan langkah ragu. Ketika akhirnya ia sampai di sana, ia tidak berdiri tepat di depan pintu seperti sebelumnya.
Ia berdiri agak jauh, di sudut yang lebih gelap, cukup untuk mengintip ke dalam tanpa mudah terlihat.
Nadine sedang tidur.
Tubuhnya tampak lebih rileks dibanding kemarin, meskipun wajahnya masih sedikit pucat. Selang infus masih menempel di tangannya, tapi napasnya terdengar tenang.
Adam tidak tahu kenapa melihatnya seperti itu membuat perasaannya sedikit lega.
Namun, di saat yang sama, ada bagian dalam dirinya yang terluka.
Ia seharusnya ada di sana. Seharusnya bisa menjaga Nadine seperti dulu. Tapi, seharusnya bukan berarti bisa. Kenyataannya, ia sudah kehilangan tempat itu sejak lama.
Adam menatap Nadine lebih lama.
Tanpa sadar, ia ingin mengulurkan tangan, meskipun dari tempatnya berdiri, mustahil ia bisa menjangkaunya.
"Nadine…" gumamnya pelan, hampir seperti angin yang berbisik.
Ia tidak tahu berapa lama ia berdiri di sana, hanya mengamati dalam diam.
Namun, saat Nadine bergerak sedikit dalam tidurnya, Adam langsung tersentak dan melangkah mundur.
Ia tidak bisa tetap di sini lebih lama.
Sebelum siapa pun melihatnya, sebelum Nadine sadar dan mungkin akan mengusirnya—atau lebih buruk, mengabaikannya—ia memilih pergi.
Namun, ketika ia berjalan keluar dari lorong rumah sakit, satu hal kembali menghantui pikirannya.
Ia tidak bisa menjauh begitu saja.
Besok, ia mungkin akan kembali lagi.
Tanpa suara.
Tanpa sepengetahuan Nadine.
Ia hanya ingin memastikan.