Adam tidak tahu kenapa tangannya gemetar saat membaca pesan itu.
"Gue dan Nadine udah selesai. Lo bisa tenang sekarang."
Pesan dari Reza. Pendek, tanpa emosi, seolah semuanya tidak pernah benar-benar berarti. Tapi Adam tahu lebih baik. Dia tahu betapa dalamnya Reza mencintai Nadine. Sama seperti dia tahu betapa hancurnya Nadine saat akhirnya memilih Reza—dan bukan dirinya.
Seharusnya ini kabar baik. Seharusnya.
Adam tidak pernah merasa ingin menghajar seseorang seburuk ini.
Tangannya terkepal, rahangnya mengatup rapat. Napasnya berat, dadanya naik-turun seiring dengan kemarahan yang membakar dalam dirinya.
Reza. b******n itu.
Bagaimana mungkin dia melakukan ini pada Nadine? Pada perempuan yang mencintainya tanpa ragu? Pada seseorang yang selalu menaruh kepercayaan penuh kepadanya, bahkan ketika dia tidak pantas menerimanya?
Adam tidak pernah menyukai hubungan mereka. Bukan hanya karena dia mencintai Nadine, tapi karena dia melihat sesuatu yang bahkan Nadine sendiri pura-pura tidak lihat. Reza tidak pernah benar-benar menghargai perempuan itu. Tidak seperti seharusnya. Tidak seperti yang pantas Nadine dapatkan.
Dan sekarang, setelah semuanya hancur, setelah Nadine terluka begitu dalam, Reza bisa dengan mudahnya berkata "Lo bisa tenang sekarang." Seolah ini hanya permainan. Seolah Nadine hanya sesuatu yang bisa dia buang begitu saja.
Adam mencengkeram ponselnya erat, jari-jarinya bergetar. Dia harus menemukan Reza. Harus memberinya satu pukulan yang akan membuatnya sadar bahwa tidak semua hal bisa dia perlakukan semudah itu.
Namun sebelum dia bisa melakukan sesuatu, ponselnya bergetar di tangannya. Sebuah notifikasi baru muncul di layar.
Nadine.
Adam menatap layar ponselnya, melihat pesan-pesan Nadine yang belum terbaca yang selama ini sengaja ia abaikan. Dia pikir, jika dia berhenti merespons, jika dia menjauh, bayangan Nadine akan perlahan memudar dari kepalanya.
Nyatanya, itu tidak semudah itu.
Tangannya bergetar saat akhirnya dia membuka pesannya.
"Adam, aku memilih kamu".
Pesan itu dikirim berminggu-minggu lalu. Dan dia tidak pernah membacanya.
Napasnya tersengal. Jantungnya terasa seperti diremas kuat-kuat.
Nadine memilihnya.
Sementara dia menghabiskan waktu dengan kebenciannya pada Reza, dengan mengurung dirinya dalam pikirannya sendiri, dengan menghindari kenyataan—Nadine sudah mengambil keputusan. Nadine sudah siap untuk meninggalkan semua ketidakpastian itu, untuk memilihnya.
Dan dia, bodohnya, tidak ada di sana saat Nadine membutuhkannya.
Amarahnya pada Reza langsung padam. Tidak ada gunanya marah sekarang. Tidak ada gunanya menyalahkan siapa pun. Karena yang sebenarnya harus dia salahkan adalah dirinya sendiri.
Tanpa ragu, dia menekan tombol panggilan.
Nada sambung pertama.
Kedua.
Ketiga.
"Nadine."
Suara di ujung sana terdengar pelan, hampir seperti bisikan.
"Adam?"
Dadanya terasa semakin sesak. Dia bisa mendengar kelelahannya, bisa merasakan betapa banyak luka yang dia simpan seorang diri.
"Aku bodoh," katanya, suaranya bergetar. "Aku seharusnya baca pesan itu sejak dulu. Aku seharusnya datang ke kamu sejak dulu. Aku seharusnya—"
"Adam."
Satu kata itu cukup untuk membuatnya terdiam.
Hening.
Lalu, suara napas Nadine terdengar.
"Kamu masih bisa datang sekarang."
Adam menutup matanya, mengambil napas dalam, dan tanpa berpikir dua kali, dia berbalik menuju mobilnya.
Dia tidak akan membuat kesalahan yang sama dua kali.
Adam tertawa kecil, menutup matanya, seolah suara itu saja sudah cukup untuk menghapus segala keraguannya. “Aku i***t, ya?”
“Banget.” Nadine tertawa, tapi suaranya terdengar bergetar. “Aku pikir kamu nggak akan pernah menghubungi ku lagi.”
“Aku juga mikir gitu.” Adam mengusap wajahnya, menenangkan degup jantungnya. “Tapi aku rindu.”
Ada jeda, lalu suara isakan kecil dari Nadine. “Aku juga.”
“Dimana kamu sekarang?”
Nadine menyebutkan lokasinya, dan tanpa pikir panjang, Adam langsung bergegas menjemputnya. Saat dia tiba, Nadine berdiri di tepi trotoar, masih dengan wajah yang sama seperti terakhir kali dia melihatnya. Wajah yang selama ini selalu ada dalam pikirannya.
Saat Nadine melihatnya, dia tersenyum. “Kamu datang.”
“Selalu.” Adam menarik Nadine ke dalam pelukannya. Tanpa ragu. Tanpa takut.
“Apa kita… mulai lagi dari awal?” tanya Nadine pelan.
Adam menggeleng. “Aku nggak mau mulai dari awal.”
Nadine menatapnya bingung. “Lalu?”
Adam mengusap pipinya, menatapnya lekat-lekat. “Menikah denganku.”
Nadine terdiam. “Dasar gila, Kita bahkan baru mulai, Dam.”
“Aku nggak butuh waktu buat tahu kalau aku hanya mau kamu.” Adam tersenyum kecil, mencubit hidung Nadine. “Kamu, Nadine. Selalu kamu.”
Nadine tertawa di tengah air matanya. “Kamu serius?”
“Banget.”
Nadine menggeleng pasrah, lalu terkekeh. “Kamu ini…”
“Terlalu mencintaimu?”
Nadine menatapnya lama, lalu mengangguk. “Ya.”
Adam menariknya kembali ke dalam pelukan. Kali ini, dia tidak akan melepaskan.