Reza duduk di dalam mobilnya, mengetukkan jari di setir dengan gusar. Hujan turun perlahan, menciptakan ritme monoton di kaca depan. Pikirannya berkecamuk, memikirkan bagaimana semua ini berawal.
Saat SMP, Nadine, Adam, dan dia selalu bersama. Mereka bertemu di OSIS, dan sejak itu, kebersamaan mereka terasa alami. Namun, seiring waktu, segalanya berubah. Reza dan Nadine semakin dekat, hingga akhirnya mereka berpacaran. Tapi Adam tetap ada di sana—selalu hadir di antara mereka, seperti bayangan yang tak bisa dihindari.
Reza menghela napas panjang. Ini bukan pertama kalinya ia merasa kesal. Setiap kali ia dan Nadine punya janji temu, Adam selalu muncul dengan ajakan mendadaknya, dan Nadine selalu mengiyakan. Itu selalu terjadi, berkali-kali, hingga membuatnya bertanya-tanya apakah ia benar-benar yang utama dalam hidup Nadine.
Ponselnya dulu sering bergetar dengan pesan yang sama. "Reza, maaf ya. Aku nggak bisa datang. Adam ngajak pergi duluan tadi, dan aku lupa kasih tahu kamu."
Reza mengepalkan tangannya saat mengingatnya. Lagi-lagi Adam. Lagi-lagi Nadine lebih memilih pria itu.
"Nadine," suaranya dingin dalam ingatannya. "Kita kan sudah janji dari kemarin. Kenapa kamu selalu mendahulukan Adam?"
Nadine tertawa kecil, seakan tidak menganggap ini serius. "Ya ampun, kamu cemburu? Reza, ini Adam, sahabat kita loh, Za"
Cemburu? Reza tidak tahu lagi harus menjelaskan bagaimana. Setiap kali ia menunjukkan rasa tidak nyaman, Nadine selalu menganggapnya berlebihan.
Akhirnya, ia memutuskan untuk bicara langsung dengan Adam. Ia menelepon dan mengatur pertemuan di sebuah kafe.
Saat mereka duduk berhadapan, Reza menatap Adam dengan tajam. "Aku tahu kau menyukai Nadine. Aku tahu sejak lama."
Adam terdiam, ekspresinya sulit dibaca. "Aku nggak tahu harus jawab apa, Reza."
"Jangan pura-pura bodoh." Reza mencondongkan tubuhnya. "Aku tidak mau persahabatan kita berantakan, dan aku tidak mau menyakiti Nadine. Jadi, aku ingin kau berhenti."
Adam mengangguk pelan. "Aku akan mencoba."
Tapi janji itu hanya sekadar kata-kata. Waktu berlalu, dan Reza semakin menyadari satu hal: setiap kali ia dan Nadine bertengkar, Nadine tidak datang kepadanya. Nadine selalu mencari Adam. Bahkan, ketika mereka sedang bersama, ponsel Nadine lebih sering berbunyi karena pesan Adam. Nadine akan tertawa, membacakan isi pesannya, tanpa menyadari betapa sakitnya perasaan Reza.
Hari demi hari, kemarahan dan kecewa semakin menumpuk. Hingga akhirnya, pertengkaran besar pun pecah. Nadine menangis dan pergi meninggalkannya. Reza mengejarnya, tetapi yang ia temukan justru Nadine dalam pelukan Adam.
Saat itu, sesuatu dalam dirinya hancur.
Reza menghela napas berat. Mungkin sejak dulu, ia sudah kalah. Mungkin, sejak awal, Nadine dan Adam memang lebih cocok bersama.
Ia mulai mencari pelarian. Dan di situlah ia bertemu Risa. Gadis yang berbeda jauh dari Nadine. Bersama Risa, Reza merasa bebas. Tidak ada bayang-bayang Adam, tidak ada perasaan terancam. Tapi seiring waktu, ia sadar bahwa Risa bukan hanya pelarian—dia adalah selingkuhan. Gadis yang selama ini menjadi tempat pelariannya dari rasa sakit yang tidak bisa ia akui.
Dan kini, saat Nadine akhirnya mengucapkan kata putus, Reza tahu satu hal: Nadine akan mencari Adam.
Tapi kali ini, Reza tidak peduli lagi. Ia sudah lelah. Mungkin sudah waktunya berhenti berlari. Mungkin sudah waktunya memberi kepastian pada Risa—gadis yang selama ini selalu menunggunya.