Luna berjalan sendiri karena Sarah masih berbincang dengan temannya.
Brukk. Prang!
"Awww..!! Panas.. Panas... " Luna mengaduh sambil mencoba untuk berdiri dan mencerna apa yang sebenarnya terjadi . " Ya ampunnn.. Maaf Pak.. Saya ngga sengaja nabrak Bapak. "
Abram melihat dan menatap Luna tajam. " Kamu ini teledor sekali. Kalau melakukan sesuatu itu harus fokus. Bagaimana nanti di pekerjaan kamu? Rugi dong Brightvision punya pegawai kayak kamu. ".
" Kopi saya sampai tumpah semua dan lantai kantor jadi kotor.
Abram melihat Luna yang hanya diam dan tertunduk. Pasti sebentar lagi dia akan menangis batin Abram.
Namun ternyata Abram salah. Luna mengangkat kepalanya dan menatap Abram dengan wajah polosnya. Lihatlah kondisi kemeja putih di bagian d**a yang sudah basah dan kotor akibat tumpahan kopi. Pasti perih di kulit sensitif itu.
"Sudah selesai marahnya Pak? Saya akui Saya memang salah karena tidak berhati-hati tadi. Itu semua karena Saya sudah tidak sabar mengabarkan berita penempatan Saya ini pada orang tua di rumah. Saya minta maaf Pak. Saya akan membersihkan lantai ini sebelum Saya pulang. " Ketika Luna mengambil tas nya yang terjatuh tadi, Luna refleks meringis sambil memegang kemeja nya.
Perih. Panas banget rasanya batin Luna. Abram yang melihat itu langsung menarik tangan Luna.
"Ayo kita ke ruangan ku".